Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kekhawatiran Laila
Setelah puas menangis dalam pelukan suaminya, Laila berhenti menangis dan kini dia sedang menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Yusuf terus mengusap rambut dan mencium kening istrinya.
” Laila khawatir, kalau mang Sanusi kabur dari penjara terus nyakitin Laila, berusaha melecehkan Laila lagi gimana? Laila takut" lirih Laila dan Yusuf diam mendengarkan aduan istrinya.
” Dia sudah ditahan, Laila jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan yang belum tentu terjadi. Istighfar, dzikir, berdoa. Ada Allah, ada Abi ada semua orang yang akan menjaga umi. Jangan banyak pikiran, jangan terus menangis. Abi juga khawatir kalau umi demam begini, pokoknya besok ke Puskesmas” tutur Yusuf berusaha menenangkan istri sekaligus kekasih dan cinta pertamanya itu, Laila memang meledak-ledak ketika marah dan kesal. Tapi bukan hal sulit untuk membuat Laila paham dan diam.
” Laila gak mau, Laila takut di suntik." Laila akhirnya jujur dan mendongak menatap suaminya, Yusuf tersenyum tipis.
” Abi gak mau mendengar penolakan lagi, besok ke puskesmas sambil ngabuburit gimana?" Yusuf membujuk, dan Laila tersenyum lalu mengangguk.
” Umi jangan mengkhawatirkan laki-laki itu lagi, itu urusan Abi. Umi do'akan aja semoga dia mendapatkan hidayah dan bertaubat dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Itu hanya di dunia, belum di akhirat. Jangan takut, Laila gak salah Abi tahu itu” Yusuf tersenyum dan Laila mengangguk-anggukkan kepalanya.
” Abi geli” Laila menahan bibir suaminya. Bekas kumis yang baru di cukur membuat Laila geli. Yusuf tersenyum dan malah sengaja. Laila terus tertawa kecil sampai dia lelah dan suaminya berhenti.
****
Keesokan harinya, Laila sedang menyapu halaman rumahnya. Sambil mendengarkan suaminya yang sedang mengaji di masjid, bergantian dengan ustadz dan santri lain.
” Umi, assalamualaikum” Asila datang.
” Waalaikumsalam” Laila berhenti dan menoleh.
” Umi mau ikut gak? aku mau warung depan" ajak Husna.
Laila senang dan bahagia melihat Husna dan Asila sudah berteman seperti biasa lagi.
” Aku gak bisa, ada acara majelis taklim di kampung sebelah. Harus siap-siap” Laila tersenyum, terlihat kedua matanya menjadi sipit saat tersenyum. Laila memang selalu tersenyum, senyuman yang selalu membuat Yusuf candu.
” Oh iya ya, ya udah umi mau nitip apa?” kata Husna lagi.
” Enggak ada, kalian sebaiknya pergi sekarang. Hati-hati nyeberang nya”
” Oh ya umi, assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Laila kembali melanjutkan pekerjaannya, dan setelah selesai dia masuk ke rumah untuk bersiap-siap.
” Umi Laila susah di ajak kemana-mana sekarang, ke pacuan kuda aja harus sama aa terus” Husna berbisik.
” Bukannya itu karena ibu Maryam yang tidak berbicara sama aa, kalau umi pergi sama kita-kita ke pasar malam waktu itu. Umi Laila sampai bertengkar kan katanya sama ibu Maryam, soalnya ibu gak ngasih tahu sama aa kalau umi pergi” Asila berbisik.
” Ya ibu yang salah kenapa gak ngomong sama aa, aa jadi salah paham. Gak ngerti deh sama jalan pikir ibu" Husna menggeleng kepala.
” Jangan gibah, dosa" tegur Aam.
” Astaghfirullah kan puasa, Astaghfirullah hal adzim. Gara-gara kamu” Asila kesal kepada Husna dan Husna tersenyum.
****
Sore hari, sesuai janji Yusuf akan mengajak Laila ke puskesmas. Walaupun demamnya sudah turun, Yusuf tetap saja khawatir. Saat ini dia sedang mengajar mengaji para santri terlebih dahulu. Yusuf diam-diam memperhatikan Iqbal yang sama sekali tidak mau mendengarkan apapun yang dia jelaskan.
brak brak brak
Yusuf memukul papan tulis dengan kapur dan semuanya panik. Jika Yusuf sudah seperti itu, sudah jelas dia sangat marah. Satu salah, semuanya kena.
” Yang tidak berniat untuk belajar keluar, dari pada menganggu yang lain" tegas Yusuf dan semuanya diam.
” Saya tidak memaksa siapapun untuk masuk ke dalam pesantren ini, jika kalian tidak berniat belajar kenapa harus datang? banyak orang-orang tidak seberuntung kalian. Tapi mereka belajar dengan baik, walaupun terbatas. Sementara kalian?" Yusuf menggeleng kepala. Lalu mengusap wajahnya kasar.
” Tidak menghormati saya, tidak menyukai saya tidak masalah. Tapi saya mohon, jangan remehkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, jangan remehkan ilmu agama. Jangan sia-siakan kesempatan kalian” lirih Yusuf dengan suara serak dan Iqbal mendelik sebal, entah kenapa tidak ada yang bisa membuat Iqbal luluh. Dia hanya bertahan di pesantren hanya karena ingin melihat Laila, padahal Laila sendiri sedetikpun tidak pernah memikirkannya.
” Silahkan keluar jika tidak berniat untuk belajar, jika saya terus berbicara tapi kalian semua tidak mau berusaha untuk menerima sangat susah. Benar-benar susah.” Yusuf merapihkan peci dan kain sorbannya. Semuanya menunduk merasa bersalah tapi tidak dengan Iqbal.
” Kita akhiri sampai disini, hafalkan yang tadi dan setorkan besok subuh. Tidak ada yang boleh kabur, menghindar ataupun pura-pura sakit" tegas Yusuf dan semuanya mengangguk, Iqbal menggigit bibir bawahnya kelu saat mendengar hal tersebut dan tatapan Yusuf tertuju padanya.
” assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
” Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
Yusuf keluar setelah mendengar jawaban semua santri, dia melangkah keluar dari madrasah dan tatapannya terus tertuju pada Iqbal. Yusuf terus melangkah sampai beberapa santriwati datang menghampirinya.
” Assalamualaikum Ustadz”
” Waalaikumsalam”
” Aa, kita mau minta tanda tangan. Semalam gak sempet” kata Fatma dan memberikan bukunya, dari sekolah memang mengharuskan semuanya untuk mendapatkan tanda tangan dari penceramah atau imam tarawih selama bulan Ramadhan. Yusuf mengeluarkan pena dari saku dan menandatangani buku Fatma lalu buku santriwati yang lain, Fatma menggigit pensilnya sambil memperhatikan wajah tampan Yusuf. Tidak terlihat komedo ataupun bintik-bintik hitam di wajahnya, hanya tahi lalat di hidung dan di bawah mata kiri. Sangat kecil menambah kesan manis di wajah Yusuf.
” Ustadz saya mau tanya" seru Fatma karena melihat Yusuf akan segera pergi.
” Iya sok" kata Yusuf dan mundur menjauh, karena Fatma berdiri terlalu dekat dengannya.
Meong... Meong... Mouza terus mengeong karena Laila tak sengaja memeluknya terlalu kuat karena kesal melihat cara Fatma berbicara kepada suaminya, Maryam juga kesal dan menyiram bunga sambil memperhatikan Fatma dan santriwati yang lain.
” Mouza, Astaghfirullah. Maafin aku ya Mouza” Laila merasa bersalah.
” Kalau bulan puasa pakai skincare, batal gak ya ustadz puasanya?” tanya Fatma dan Yusuf mengernyit heran.
” Skincare ada yang cair, padat dan kental. Hati-hati saat menggunakannya, karena memang bisa membatalkan puasa kalau di makan. Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Fatma cemberut mendengar jawaban Yusuf, mana mungkin dia akan mendapatkan pujian hanya karena memberi tahu bahwa dia memakai skincare sementara istri kecilnya Laila tidak pernah memakai apapun di wajahnya.
” Bu, Abi pamit. Nanti Abi belikan sop buah” kata Yusuf dan Maryam mengangguk.” Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Laila melangkah pergi dan Yusuf memperhatikannya, Laila tidak bisa naik ke atas motor di depan mata Maryam. Dia memilih pergi dan menunggu di luar gerbang pesantren. Laila berdiri dan menunggu, Laila menoleh saat Yusuf menekan klakson motor nya.
” Umi kenapa nunggu disini?"
” Malu, banyak orang" Laila melangkah dan naik perlahan-lahan. Laila memeluk pinggang suaminya, tangannya menempel di perut six pack suaminya.
” Bismillah” motor pun melaju dengan kecepatan sedang dan Laila sangat merasa senang. Yusuf mengarahkan kaca spion tepat ke belakang, ke wajah Laila. Laila menyenderkan pipinya ke punggung Yusuf dan Yusuf tersenyum, apalagi saat Laila mengeratkan pelukannya.
****
Di kota, di sebuah restoran Rizky bekerja dengan kerabatnya. Ternyata, mencari uang itu susah. Yang halal saja tidak mudah apalagi yang haram. Rizky bekerja dengan sungguh-sungguh, walaupun dia mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari pelayan yang sudah lama bekerja di restoran tersebut.
” Meja nomor tiga" kata temannya dan Rizky mengangguk seraya meraih nampan dan membawanya menuju meja nomor 3.
” Silahkan" seru Rizky, kata-kata tersebut sudah menjadi hal yang diwajibkan agar para pengunjung senang dengan pelayanan restoran tersebut. Gadis yang sedang duduk sendirian itu mengangguk dan menarik tas nya supaya Rizky bisa meletakkan makanan dan minuman yang dia pesan dengan leluasa. Diam-diam gadis itupun memperhatikan Rizky.
” Ganteng banget ya, sopan lagi" gumam gadis tersebut sambil terus memperhatikan Rizky. Rizky tersenyum dan mengangguk lalu pergi meninggalkannya.
” Risky cuci" tegas rekan kerjanya meminta Rizky mencuci piring padahal itu bukan bagiannya.
” Jangan seenaknya lu ya" tegas Maulana, kerabat Rizky dan tidak suka dengan sikap pelayan itu.
” Rizky anak baru dia harus banyak belajar”
” Iya semua orang juga tahu, tapi elu gak bisa seenaknya” tegas Maulana. Rizky menahan Maulana dan menahan pria itu agar tidak berkelahi.
” Maul, diam. Aku bisa mengerjakannya, daripada kita berdua dipecat. Udah diem” Rizky berbisik dan Maulana mendengus sebal, pria itupun pergi setelah berhasil memerintah Rizky agar menuruti keinginannya. Mentang-mentang tidak ada manager, semuanya berprilaku tidak baik kepada Rizky.
****
Buka puasa tiba, Laila dan Yusuf meraih satu kurma dan memakannya perlahan. Yusuf meraih segelas air, meminum setengahnya dan Laila yang menghabiskan sisanya. Laila harus banyak istirahat dan minum obat dengan teratur, dia sangat ketakutan dengan kejadian itu sampai membuatnya stress.
” Abi, Laila mau di suapi sama abi” pinta Laila dan Yusuf tersenyum.
” Abi mau makan sendiri" goda Yusuf dan Laila cemberut.
” Aaa... Bismilah” Yusuf menyuapi Laila dan Laila tersenyum sambil mengunyah makanannya lembut. Laila memegang tepian piring dan dia juga menyuapi suaminya. Keduanya saling menyuapi menggunakan tangan, Laila menjewer telinga suaminya karena Yusuf menggigit jemarinya.
” Abi kayak Mouza” Laila tersenyum.
” Lebih lucu Abi atau mouza?" seorang Yusuf yang cemburu pada kucing, karena selalu tidur di pangkuan istri kecilnya.
” Lucu mouza tapi Abi lebih manis” puji Laila sambil tersenyum lebar dan Yusuf terkekeh-kekeh. Laila menerima suapan dari suaminya kembali dan dia juga mengigit jemari suaminya. Yusuf hanya tersenyum tipis.
****
Keesokan harinya, Laila kebingungan karena Asila terus menangis. Asila mendapatkan telepon, memintanya untuk meminta izin pulang selama dua hari. Ada seorang pemuda yang ingin bertemu dengan Asila, dengan maksud serius dan diterima dengan baik oleh keluarga Asila. Tapi Asila tidak bisa, dia tidak tahu pemuda itu siapa dan seperti apa.
” Teteh jangan nangis terus” Laila menatap Asila lekat.
” Udah kayak di jaman Siti Nurbaya, main jodohkan seenaknya. Aku juga bisa mencari laki-laki yang sesuai dengan keinginan ku, umi” Asila sangat sedih, tanpa perlu orang tuanya menjelaskan secara langsung dia pun sudah paham. Asila dan Rizky seumuran, baru lulus SMA.
” Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, teh. Istighfar, emang teteh pikir ustadz Yusuf juga seseorang yang Laila mau, yang Laila inginkan? Laila juga mau yang masih muda, gak jauh-jauh dari Laila umurnya. Tapi Allah punya rencana lain, Allah datangkan dan hadirkan ustadz Yusuf dalam kehidupan Laila. Dari segi umur dan kedewasaan tidak perlu di jelaskan lagi, semua orang sudah bisa melihat. Alhamdulillah, Laila sama ustadz Yusuf bahagia. Walaupun pertemuan kami sangat-sangat menyedihkan” tutur Laila panjang lebar dan tangisan Asila semakin menjadi.
” Aa kan baik, seorang ustadz. Kalau pemuda yang dipilihkan orang tua saya gimana? kalau dia jahat dan gak baik gimana umi hiks....?" Asila terus menangis.
” Semua orang memiliki kekurangan, pasangan terkadang menjadi sebuah ujian ataupun berkah untuk kita, teh. Sok teteh pulang dulu, kenali dulu, ya tes aja dia bisa ngaji apa enggak, cara bicaranya dia gimana. Sedikitnya teteh bisa menilai, walaupun hanya satu dua” Laila memberikan saran dan Asila menatapnya tajam.
” Kang Rizky gimana? kang Rizky udah bilang kalau dia mau melamar saya. Umi"
” Manusia hanya bisa berencana, teteh jangan mikirin a Rizky dulu. Sok sekarang lihat baik-baik pemuda yang datang ke rumah teteh secara baik-baik. Misalkan teteh nungguin a Rizky, tapi jodoh a Rizky sama gadis lain. Mau gimana? kita manusia gak bisa mengatur rencana supaya berjalan seperti yang kita inginkan” Laila merasa frustasi menjelaskan kepada Asila.
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘