NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Bencana

Pesan masuk itu terdengar sederhana. Namun, bagi Kemala, bunyi notifikasi dari ponselnya terasa seperti pertanda buruk.

Pagi itu, Kemala sedang duduk di alas piknik menggendong Nathan di halaman belakang mansion Rothmere. Cahaya matahari yang hangat menyelimuti kulit Nathan. Bocah kecil itu tertawa riang saat meraih bayangan daun yang bergoyang tertiup angin.

Kemala tersenyum tipis.

"Pelan-pelan, Tuan Kecil. Nanti jatuh."

Nathan malah tertawa semakin keras. Ponsel yang Kemala letakkan di sampingnya itu bergetar. Kemala mengambilnya sambil tetap menggendong Nathan. Senyum wanita ayu itu langsung menghilang. Nama yang muncul di layar membuat dada Kemala menegang.

[Reza]

Jari Kemala gemetar saat membuka pesan itu.

[Kemala, aku dengar kamu dapat pekerjaan bagus di Jakarta. Kebetulan aku butuh banyak uang untuk menggelar pesta pernikahan. Aku pinjam uangmu ya, 50 juta. Kirim saja ke rekening yang biasa.]

Untuk beberapa saat, Kemala hanya menatap layar tanpa berkedip. Lima puluh juta? Orang yang menghancurkan hidup wanita desa itu sekarang datang meminta uang? Dengan tangan dingin, Kemala mengetik balasan.

[Aku gak punya uang sebanyak itu.]

Balasan datang hanya beberapa detik kemudian.

[Jangan bohong. Aku dengar kamu kerja di Jakarta.]

Kemala mengembuskan napas panjang. [Aku tetap gak punya uang segitu.]

[Kamu kerja apa? ASN juga? Biar udik begitu, aku tahu kamu pintar.] 

Pesan itu masuk begitu saja dari Reza. Mata Kemala memanas. Wanita yang masih menggendong bayi itu hampir mengabaikannya. Namun pesan berikutnya terus berdatangan.

[Jawab!]

[Kerja apa?]

[Kemala!]

Dengan kesal, Kemala akhirnya membalas. [Aku pengasuh bayi.]

Hening beberapa saat. Lalu muncul balasan baru.

[Pengasuh bayi?]

[Bayi siapa?]

Kemala menatap Nathan yang sedang memainkan teether berbentuk kelinci. Bocah itu tertawa polos. Sama sekali tidak tahu betapa rumit dunia orang dewasa.

[Bukan urusanmu.]

[Kamu juga gak akan dapat uang dariku.]

[Kalau pun aku punya, aku gak akan meminjamkannya.]

[Cari dulu Arkana. Meski kamu menolaknya, dia juga darah dagingmu.]

Lama sekali tak ada balasan. Kemala berharap percakapan itu berakhir. Namun harapan Kemala salah.

[Arkana siapa?]

[Aku tidak ada urusan dengan Arkana.]

[Aku cuma mau 50 juta.]

[Aku tahu kamu punya uang segitu.]

[Kamu menjaga bayi konglomerat di Jakarta, kan?]

Jantung Kemala berdegup keras. Tangan wanita ayu itu mulai berkeringat. Pesan terakhir membuat darah Kemala membeku.

[Siapkan uangnya.]

[Kalau gak, aku akan muncul di depan rumah bosmu.]

Wajah Kemala pucat. "Astaga …."

Pikiran Kemala sangat kacau. Bagaimana kalau Reza benar-benar datang? Bagaimana kalau pria brengsek itu membuat keributan? Bagaimana kalau Madam mengetahui semua masa lalu wanita desa itu?

Kemala masih terpaku pada layar. Pesan baru kembali masuk.

[Kemala!]

Kemala tak menyadari, tangannya menjadi begitu lemas. Pikiran wanita itu begitu berkecamuk memikirkan semua kemungkinan terburuk yang akan dilakukan oleh Reza. Bahkan pencarian Arkana, anak Kemala belum menampakkan titik terang. 

Tatapan Kemala masih begitu kosong. Ponsel wanita itu yang bahkan sudah terjatuh dari tangan kanannya, tidak Kemala sadari. Bahkan gerakan Nathan yang cukup banyak tak juga menyadarkan Kemala dari kegelisahannya. Karena dekapan Kemala yang melemas terhadap Nathan, bayi kecil itu meluncur perlahan.

Bruk!

Disusul tangisan keras.

Darah Kemala langsung surut. "Nathan!"

Nathan terjatuh dari pelukan Kemala. Kepalanya sedikit membentur boks susu dan peralatan kesehatan yang selalu Kemala siapkan untuk Nathan.

Tangisan bocah itu pecah. Di kepala bayi itu terlihat memar kemerahan.

"Nathan ....”

Kemala mengangkat Nathan dengan panik. Tangisan Nathan semakin keras. Pintu belakang mansion mendadak terbuka. Madam Eleanora muncul lebih dulu. Di belakang wanita tua itu, Raline menyusul.

"Apa yang terjadi?" suara Madam membelah udara.

Kemala langsung pucat. "Saya ... saya lengah, Madam ...."

"Lengah?" Madam menatap Nathan yang menangis histeris.

Wajah wanita tua itu berubah gelap. "Kau dibayar untuk apa?"

"Saya minta maaf ...."

"Permintaan maaf tidak menghilangkan luka di kepala cucuku!"

Nathan menangis semakin keras. Madam segera merebut bocah itu dari pelukan Kemala.

"Cepat siapkan mobil!"

Dalam hitungan menit, suasana berubah kacau. Mobil sudah menunggu di depan. Madam membawa Nathan masuk. Namun saat Kemala hendak mengikuti, suara dingin Madam menghentikan Kemala.

"Tidak perlu."

Kemala membeku. "M-Madam ...."

"Kau tetap di sini!"

Pintu mobil tertutup. Nathan terus menangis di dalam. Mobil melaju meninggalkan halaman. Kemala berdiri sendirian. Tatapan mata wanita desa itu kosong. Lutut Kemala perlahan melemas. Terlihat jelas rasa bersalah yang begitu dalam di wajah Kemala. Kalau saja Kemala tak membaca pesan Reza. Kemala merasa seharusnya dia fokus dengan Nathan.

Air mata mulai jatuh satu per satu. Tepat saat itulah suara tepuk tangan pelan terdengar.

"Ternyata benar."

Kemala menoleh.

Raline berdiri sambil tersenyum tipis. Tatapan wanita itu penuh kemenangan.

"Aku tahu dari awal kamu memang tidak becus!" cemooh Raline.

"Saya memang salah." Kemala menunduk.

"Salah?" Raline tertawa sinis. "Mencederai pewaris Rothmere itu lebih dari kesalahan!"

"Saya tidak sengaja."

"Alasan paling murahan!"

Kemala menggigit bibir. Raline melangkah mendekat.

"Sebenarnya aku penasaran." Tatapan wanita itu turun ke rambut panjang Kemala. "Kenapa semua pria selalu melihatmu?"

"Apa maksud Ibu?" Kemala mengernyit.

"Jangan pura-pura tidak tahu." Raline tiba-tiba menarik rambut Kemala.

"Akh!"

"Kamu menikmati perhatian Bastian, ya?!"

"Saya tidak–"

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah ayu wanita desa itu. Raline masih mencengkram rambut Kemala sangat kuat. Tangan kanan Raline meminta sesuatu kepada Mira yang sedari tadi berada di belakang Raline. Mira menyerahkan sebuah gunting besar kepada Raline.

Kemala membelalak. "Apa yang Ibu lakukan?"

"Memberi pelajaran, tentu saja!"

Crat!

Rambut panjang Kemala jatuh ke tanah. Kemala tertegun.

Crat!

Potongan kedua menyusul. Raline menggunting asal-asalan. Sangat tak beraturan dan begitu memalukan. Air mata Kemala kembali jatuh. Beberapa pelayan lain yang menyaksikan tak berani melakukan apa-apa. Namun Raline justru tersenyum puas.

"Nah …" Wanita dengan gaun mewah itu melempar gunting ke tanah. "Lebih cocok seperti ini!"

Menjelang sore. Mobil yang membawa Nathan ke rumah sakit akhirnya kembali. Madam turun lebih dulu. Nathan berada dalam gendongan wanita tua itu. Tangisan bocah itu sudah reda.

Di belakang Madam, Bastian berjalan cepat. Tatapan pria itu langsung mencari seseorang.

"Kemala di mana?"

Madam tak menjawab.

Raline malah menyahut santai. "Mungkin sedang menangisi kesalahannya."

Alis Bastian mengernyit. Ada sesuatu yang tak pria itu sukai dari nada suara Raline. Tanpa berkata apa-apa, Bastian langsung melangkah menuju area belakang.

Kemala duduk di lantai kamarnya. Rambut wanita desa yang hitam panjang dan lurus itu sangat berantakan. Terlihat potongan rambut wanita desa itu tak rata. Mata wanita desa itu bengkak karena menangis. Saat pintu terbuka, Kemala langsung berdiri kaget.

"P-Pak Bastian ...."

Tatapan Bastian membeku. Sesaat pria itu bahkan tak mengenali wanita di depannya.

"Apa yang terjadi dengan rambutmu?"

Kemala menunduk. Air mata wanita itu kembali mengalir.

"Saya minta maaf ..." Kemala langsung berlutut, menunduk begitu dalam. "Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja. Saya lalai menjaga Nathan. Saya mohon jangan marah pada saya."

Bastian terdiam. Dada pria tegap itu terasa sesak melihat keadaan Kemala. Wanita itu terlihat gemetar begitu hebat. Menangis seperti anak kecil dan penuh rasa bersalah.

"Kemala."

"Saya minta maaf."

"Kemala."

"Saya siap menerima hukuman apa pun."

Bastian akhirnya berjongkok. Tangannya menyentuh bahu Kemala.

"Bangun," pinta Bastian.

Kemala menggeleng.

"Bangun." Suara Bastian kali ini lebih tegas.

Pria itu menarik tubuh Kemala perlahan hingga berdiri. Kemala masih terisak.

"Saya gagal menjaga Nathan."

"Tidak."

Kemala menatap pria itu lekat-lekat. Mata mereka bertemu.

"Nathan tidak apa-apa."

Kemala membeku. "Apa?"

"Dokter bilang hanya benturan ringan."

Air mata Kemala kembali jatuh. Namun kali ini karena lega. "Benarkah?"

Bastian mengangguk. "Nathan hanya kaget."

Tubuh Kemala langsung lemas. Bastian refleks menahannya. Sesaat kemudian, pria itu menarik Kemala ke dalam pelukannya. Kemala membeku. Seluruh tubuh wanita desa itu menegang. Kemala bahkan lupa bernapas.

"Tidak apa-apa," suara Bastian terdengar rendah. "Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri seperti ini."

Kemala memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Kemala merasa sedikit tenang. Namun ketenangan itu hanya berlangsung beberapa detik. Karena suara tajam tiba-tiba memecah suasana.

"Bastian!"

Mereka sama-sama menoleh. Raline berdiri di ambang pintu. Wajah wanita dengan gaun mewah itu pucat oleh amarah.

"Kamu memeluk seorang pengasuh?"

Bastian langsung melepaskan Kemala. Tatapan pria itu dingin. "Jaga bicaramu."

"Jaga bicaraku?" Raline tertawa sinis. "Dia hampir mencederai Nathan!"

"Dia sedang terpukul,” ucap Bastian.

"Dan itu alasanmu untuk memeluknya?"

Bastian menghela napas panjang. "Sudah cukup."

"Tidak!" Raline melangkah masuk. Tatapan Raline menusuk Kemala. "Mulai hari ini, kamu dipecat!"

Kemala membelalak. "B-Bu Raline ...."

"Keluar dari rumah ini!" bentak Raline begitu lantang sambil menunjuk pintu keluar.

"Kau tak bisa memecatnya."

Suara baru itu muncul dari belakang. Semua orang menoleh. Madam Eleanora berdiri di depan pintu. Wajah wanita tua itu sangat dingin. Raline tertegun.

"Ma ...."

"Sejak kapan kamu punya wewenang memecat orang yang aku pekerjakan?"

Raline membuka mulut. Namun belum sempat bicara, sesuatu mengejutkannya.

Plak!

Tamparan keras menggema di seluruh ruangan. Kepala Raline tertoleh ke samping. Semua orang membeku. Bekas lima jari langsung terlihat di pipi wanita itu. Madam Eleanora menatap menantunya tanpa sedikit pun belas kasihan.

"Aku belum selesai menghitung kesalahanmu, Raline."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!