(Spin off dari The love story'of Single Parents)
Disarankan membaca novel The love stroy of single parents dulu, agar mengetahui bila Raka dan Jodhi itu tidak bisa terpisahkan.
🌺🌺🌺
Novel ini bergenre Romantis Dewasa, dengan membaca ini, pembaca berarti telah mengerti jika jalan cerita membutuhkan kebijaksanaan yang lebih.
***
Galuh, wanita itu merasa hidupnya hancur kala mengetahui jika suaminya telah menikahi wanita lain secara siri tanpa sepengetahuan dirinya.
Hingga takdir mempertemukan dirinya dengan duda yang notabene merupakan Ayah dari murid tempat dia mengajar. Bisakah mereka bersama? Saat rival masing-masing menghantam tak kenal kasihan?
***
Cintanya yang bertepuk sebelah tangan kepada Lintang membuat Jodhi memiliki sedikit dendam kepada teman semasa SMP- nya itu. Tak di nyana, di masa depan ia bertemu dengan Lintang yang menjadi wanita malam.
Kejadian fatal malam itu membuat Lintang harus mengandung benih dari Jodhi. Sialnya, Jodhi harus kehilangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Getaran itu
Bab 29. Getaran itu
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Entahlah, mendapat tatapan tak ramah dari darah dagingnya itu sontak membuat Raka tak tenang. Ia pikir, ini belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan kepada putri semata wayangnya itu.
Ia kini berniat mengganti pakaian kantornya dengan sebuah celana jeans dan kemeja yang sedikit casual. Acaranya juga pasti tidak resmi- resmi amat kan?
Gerakan mencuci wajahnya juga semakin ia percepat. Raka tak mau pergi dengan wajah kusam, ya...meski ia tak mandi. Tentu ia tak mau Citra akan semakin meradang karena menganggap ayahnya lelet dan menjadi biang kerok keterlambatan.
No way!
" Ayah pakai baju sama kayak Bu guru? Yeaay!!!"
Citra bersorak dan membuat mbak Nining turut senang, saat ia melirik majikanya dan guru Citra itu, secara bergantian. Astaga, iya ya? Kok bisa sih?
Tapi tidak dengan dua manusia yang menjadi sumber ucapan Citra itu, mereka berdua langsung saling melempar tatapan canggung. Sumpah, enggak ada niatan. Suer!
Membuat Galuh malu.
" Emmm, Citra... Ayah kan sekarang sudah ikut. Kalau begitu Bu guru mau ...!"
" No No No!" Citra langsung mengangkat jarinya dengan gerakan menolak. Bocah itu langsung peka dengan ucapan gurunya. Pasti Bu Galuh mau menolak dan mau pulang kan? Begitu pikirnya.
" Citra kan udah janjian mau pergi sama Bu Guru. Ayah biarin aja nunggu di mobil. Kan tadi Ayah enggak mau ikut, biar jadi supir aja hihihi!" Celetuk Citra yang tidak mau tahu, pokonya Bu Guru harus ikut.
Galuh menghembuskan nafasnya pasrah, saat ia menatap wajah Raka yang tak bereaksi. Pria itu terlihat tidak keberatan, dan juga tidak terlihat senang. Semuanya serba tidak jelas. Oh ya ampun!
Di dalam mobil,
" Makasih ya Bu guru, udah pilihin baju princess yang cuantikmm banget buat Citra! Citra seneng banget!" Ucap Citra seraya tersenyum dengan gaya centilnya.
Raka melirik dua perempuan berbeda usia yang tengah duduk di jok belakang itu, dengan teliti. Tanpa sadar, ia juga menyunggingkan senyuman demi mendengar suara anaknya yang bahagia.
" Sama-sama sayang. Ini Bu Guru juga makasih loh udah boleh pinjem bajunya punya Ibu!" Galuh menguap rambut lurus nan berkilau milik Citra. Sungguh, ia merasa senang kala hidupnya berguna buat orang lain.
" Bu Guru cantik! Kayak Ibu yang ada di foto kamar Ayah hihihihi!" Ucap bocah itu yang kini sama sekali tak menyuguhkan kesedihan. Hanya pancaran sinar kebahagiaan saat bersama gurunya.
Dan aat Raka masih tekun mengintip interaksi dua manusia di belakang itu, tanpa sengaja Galuh juga menatap ke arah kaca depan , dan pandangan mereka bertemu beberapa detik.
Satu
dua
tiga
empat
Entah mengapa, jantung mereka sama-sama mendebarkan getaran yang aneh dan tak bisa di artikan. Getaran yang bahkan tam ia rasakan saat bersama Dewi. Raka merasa Galuh memang cantik jika menggerai rambutnya seperti itu.
Astaga, mikir apa aku ini!
" Ayah! Tadi Citra sama Bu guru beli kado mobil-mobilan buat Rio. Bagus deh, Bu guru pinter kalau milih!"
Raka mengulum senyum. Entah mengapa, mulai dari ia datang tadi, ia menjadi sama sekali tidak memikirkan Dewi.
" Oh ya? Semoga Rio suka ya?" Sahut Raka yang masih curi-curi pandang kepada Galuh.
Entah mengapa hati Raka menghangat demi melihat putrinya yang bahagia. Pria itu melakukan mobilnya dengan hati terang. Untuk sejenak, Raka merasa hidupnya normal.
.
.
.
.
.
.
To be continued...