Arabella Pramudita harus terjebak dengan seorang Duda Ganteng yang selama ini mengikuti dan mencintai nya.
"Menikahlah dengan ku sayank, aku akan memberikan apapun yang kamu mau."
"Cihh....aku tidak sudi menikah dengan laki laki seperti kamu."
"Bagaimana kalau kamu hamil??"
Moreno Suryapradika sengaja menjebak seorang gadis kecil yang sudah mencuri hatinya, hanya dengan cara inilah Reno bisa menikahi gadis yang belakangan ini mengobrak abrik jiwa raganya.
Bagaimana Reno sang Duteng menaklukan hati Abel, gadis remaja yang masih sekolah itu??
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedua
Ketiga orang masih saja diam, dengan Mami Yuna dan Papi Tian di dalam kamar, sedangkan Abel di luar, masih saja setia menanti hingga episode terakhir, supaya tau jalan keluar nya seperti bagaimana dan ending nya akan diajak ke mana.
"Itu tidak mungkin Papi lakukan kan??"
Papi Tian tersenyum, sembari menggeleng, beliau tau apa yang dipikirkan oleh istrinya, dan sama dengan apa yang dipikirkan nya.
"Maka dari itu Mi, Papi kali ini kecewa dengan diri Papi sendiri yang tidak bisa membantu Perusahaan Kakek, padahal dengan adanya Perusahaan itu, Papi bisa sekolah sampai ke luar negeri dan akhirnya bisa bertemu Mami."
Ucap Papi Tian yang malahan mengingat ingat momen pertemuan manis dengan istrinya, padahal saat ini keadaan sedang genting genting nya.
"Lalu yang kedua??"
"Pinjam uang dengan nominal yang sangatlah besar, bahkan mungkin nilai nya bisa mencapai ratusan milyar rupiah bahkan bisa lebih. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Perusahaan Surya Group."
"Kenapa Papi tidak melakukan itu?? Surya Group?? sebentar... sebentar, Mami perasaan pernah dengar Perusahaan itu."
Mami Yuna berpikir sejenak, tetapi beliau menggeleng karena tidak menemukan apa yang diinginkan.
"Tidak mungkin Papi melakukan itu, karena Perusahaan kita baru saja bekerja sama dengan Surya Group dan dana yang yang sudah dikucurkan juga sangat lah banyak, tidak mungkin lagi Papi meminta bantuan kepada Surya Group."
"Ya ya ya Mami paham Pi, tapi apa Papi tidak coba dulu untuk menawarkan atau sekedar basa basi.?"
Papi menggeleng, "Tidak bisa Mi, dan tidak akan pernah Papi lakukan, nanti kesannya Papi memanfaatkan mereka, karena sudah ditolong malahan mau minta tolong lagi.", ucapnya penuh dengan ketegasan.
"Apalagi yang mempunyai Perusahaan itu adalah anak dari teman Papi, apa enggak nanti kita dikira manfaatin, karena dekat dengan keluarga nya??"
Mami Yuna mengangguk, beliau paham dan mengerti setalah suaminya menjelaskan, memang serba sulit jika kondisi nya seperti ini, apalagi sudah sama sama saling kenal baik, bisa bisa malahan pertemanan nya akan hancur berantakan hanya gara gara sebuah uang.
Mami Yuna berdiri, kemudian mengambil kan minum lagi untuk suaminya, dan memberikan nya langsung.
"Minum dulu Pi, biar adem....nanti adem lagi kalau sudah bobok sama Mami." , ujarnya menggoda, biar suaminya tidak stres mikirin perusahaan yang memang sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
"Pasti Mi, setelah ini .... siap siap saja bikin adeknya Abel, mungkin kalau dia punya adek, nakalnya bisa berkurang. Papi tidak minta untuk di hilangkan dengan cepat, karena Papi juga pernah muda, apalagi sifat Abel itu sama persis seperti Papi. Papi hanya minta sedikit saja dikurangi, karena mau ujian, sayang juga kalau tidak lulus."
"Bukan sayang lagi tetapi malu maluin in Pi, cantik cantik gak lulus sekolah."
Kedua orang tua Abel bercanda ria, dan itu bisa sedikit untuk meredam penat dan masalah yang kini sedang di hadapi mereka.
"Bikin adek buat aku? hemm jangan harap ya? gimana malunya aku kalau benar benar ada sosok bayi di rumah ini . Papi....Mami ... jangan.....", gumam Abel pelan dan masih setia berdiri di balik pintu.
"Lalu yang ketiga??"
"Kalau obsi pertama dan kedua sama sama tidak mungkin untuk di lakukan, yang ketiga apa Pi?? Mami jadi penasaran."
Papi mengambil nafas lagi, kemudian menghembuskan, ambil nafas hembuskan ambil nafas hembuskan, sudah persis seperti orang yang mau lahiran.
"Sebelum Papi jawab obsi yang ketiga, Papi mau cerita dulu, tetapi Papi harap,... Mami tidak shok ataupun pingsan."
"Cerita?? shok atau pingsan??"
Mami semakin tambah penasaran, sudah penasaran dengan obsi yang ketiga yang tak kunjung di utarakan, kini malahan ada cerita yang seperti nya sangat menarik dan membuat jantungan.
"Tadi siang Reno ke kantor Papi."
"Reno?? apa Reno itu yang di maksud Papi?", ucap Abel lirih. Kali ini ia benar benar tidak akan melewatkan sedikit berita pun mengenai cerita Papi, yang seperti tentang Reno.
"Reno?? Reno siapa Pi??",
Mami Yuna mulai berpikir keras, namun kali ini ia tidak mau menyerah atau hanya sekedar main tebak tebakan saja.
"Moreno, masa' Mami lupa??"
"Moreno?? Moreno Soeprapto, pembalap yang ganteng itu??", Papi Tian langsung menggeleng.
"Bukan ... lagian Mami kalau yang ganteng ganteng pastinya langsung cepat konek, padahal suami nya juga ganteng."
"Hmm narsis dan pede abis. Lalu Moreno siapa??", tanya Mami Yuna menyelidik dan beliau sudah menyerah.
"Reno anak Eko, dan juga yang sudah bekerja sama dengan Perusahaan kita, pemilik Surya Group."
"Eko?? Eko Surya Pradika? teman main golf nya Papi??", Papi Tian mengangguk.
"Oh...pantes, sepertinya Mami gak asing dengan Surya Grup dan pemilik nya, rupanya....lalu kenapa dengan anaknya, siapa itu tadi Moreno Soeprapto??"
"Moreno Suryapradika Mi,, jangan suka ubah ubah nama orang, nanti Mami di suruh bikin selamatan nama.", ucap Papi Tian dengan terkekeh geli, dengan melihat ekspresi istrinya yang cemberut tetapi lucu.
"Iya iya itulah, ada apa dengan anak itu??"
"Reno tadi siang datang ke kantor Papi, Papi kira untuk membicarakan proyek yang baru saja kita kerjakan bersama, tetapi tak tau nya ..dia malah melamar Abel."
"Apa?? melamar Abel?? Abel putri kita yang bandel itu?? tetapi cantik banget seperti Mami??"
"Dan bukannya yang Mami dengar kalau Reno itu seorang duda, sudah empat tahun cerai dengan mantan istri nya? dan juga umurnya yang---......"
"Tiga puluh dua tahun.", sambung Papi Tian.
"Oh...Tuhan, astaga!!!"
Kali ini Mami Yuna yang shok, bener apa yang dikatakan oleh suaminya, harus siap siap mental, tidak boleh shok, apalagi sampai pingsan, tetapi nyatanya....
"Minum Mi....biar adem. Nanti Papi ademin dengan pelukan, tapi nanti saja, setelah Papi selesai bercerita."
Mami mengambil gelas yang ada di tangan suami nya, dan meminum air putih itu hingga habis, persis seperti apa yang dilakukan oleh Papi Tian tadi.
"Papi serius??", Papi Tian mengangguk.
"Tapi Papi menyerah kan semuanya kepada Abel. Karena Abel yang menjalani nya.", ucap Papi Tian dan merangkul pundak istrinya.
"Mami hampir pingsan mendengar cerita dari Papi, tidak menyangka kalau putri kita bisa membuat duda kelabakan dan buat dia resah. Tapi Pi....?"
"Papi sudah tanya detail dengan nya, dan Reno nampaknya serius ingin menjalin hubungan dengan Abel. Awalnya, Papi juga seperti Mami, tapi...setelah anak itu berbicara dan meyakinkan Papi, Papi jadi sedikit percaya, kalau Reno benar benar mencintai putri kita."
"Dan selama Papi kenal Eko, Reno juga bersikap baik, dia juga bukan seorang playboy atupun Casanova, tetapi penyayang wanita, hanya saja nasibnya yang kurang beruntung bertemu dengan mantan istri nya, dan dikhianati."
Sementara di luar kamar.
"Astaga....Om duda...apa yang kamu lakukan?? Oh Tuhan...jangan jangan duda kesepian itu juga bicara macam macam dengan Papi, tentang aku dan dia yang sudah berbagi selimut dan bermalam bersama??. Aduh,...Tamat lah riwayat ku!!"
Hanya di novel2 yg kayak gini, Padahal dulu dia yg sok jual Mahal, sekarang malah sok TERSAKITI,Seolah dia yg paling Benar,Lagian Reno ngapain di ladeni Lelaki kayak Naga dan Rangga sih, Para Cowok yang gak benar..