NovelToon NovelToon
Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Romansa-Tata susila / Janda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:155.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Noormy Aliansyah

'Jangan ada boom like di antara kita, kalau kamu tidak mau dapat balasan boom like yang bertubi-tubi dari saya.' 🙏😊

Cerita ini murni imajinasi Author. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dll. itu hanya kebetulan saja! 🙏😁

Akibat hubungan kontrak antara Adinda dan Aditya, membuat keduanya terlibat dalam perasaan yang serius. Namun, kedatangan orang lain membuat hubungan mereka sulit bersatu.

"Lihat Mas! Kamu tidak perlu merasa bersalah dan kasihan sama wanita ini, karena sudah menceraikannya! Sekarang sepertinya dia sudah punya pengganti yang baru."

Adit dan Dinda tersentak kecil, kerena kedua pasang manusia itu berdiri tepat di hadapan mereka. Dinda melirik mereka sinis, sementara Adit sedikit bingung. Akan tetapi, dia mengeriti arti dari kata menceraikan, dan Adit menyimpulkan bahwa lelaki itu adalah mantan suami Dinda.

"Ya, Anda benar! Saya tidak mungkin menyia-nyiakan janda secantik Dinda, jadi saya sedang melakukan pendekatan," Dinda melotot kepadanya atas penga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noormy Aliansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Ingin Melupakan Masalah

...'Berusahalah dengan sebuah harapan yang kamu impikan dan dampingi-lah usaha tersebut bersama kesabaran juga keikhlasan.'...

...🌹🌹🌹🌹🌹...

Setelah kejadian yang menimpa Dinda tanpa seorang pun yang mengetahuinya, membuatnya selalu melamun.

Sudah beberapa hari ini Kaamil menegur Dinda jika kedapatan melamun. "Melamun mulu. Kangen sama Cowoknya ya?" sindir Kaamil yang tak sengaja melihatnya sedang menatap kosong ke bawah, sedang televisi sedang menyala.

"Apaan, sih," ujarnya puru-pura kesal langsung melihat layar di hadapan mereka.

"Ya, kali aja!" ucap Kaamil sambil tersenyum dan menaik turun 'kan alisnya melirik Dinda, ikut duduk di samping sang Kakak.

"Jangan ngaco." Dinda melayangkan bantal sofa pada punggung Kaamil.

"Habisnya, melamun mulu. Tadi ... pas Aku tinggal ke masjid, melamun. Aku datang, melamun lagi. Emang kenapa sih?" tanya Kaamil, tangannya bergerak mengambil keripik singkong dalam toples kecil yang Dia bawa dari dapur.

"Ehh ... gimana sama Mara?" tanya Dinda mengabaikan pertanyaan Kaamil dan mengalihkan pembicaraan, tiba-tiba saja Dia teringat Wanita berlesung pipi itu.

"Yeee, ditanya malah balik tanya," ujar Kaamil kesal.

"Serius ... gimana kabarnya?" desak Dinda agar Kaamil lupa tendang Dia yang melamun.

"Nggak tau," jawab Kaamil cuek. Matanya fokus menonton televisi di depan mereka, tapi tangan terus bergerak mengambil keripik dan memasukkannya ke mulut.

"Kok, nggak tahu? Bukannya satu kantor?" tanya Dinda heran.

Sejenak Dinda lupa dengan masalah yang menimpa dirinya dan lebih tertarik dengan wajah datar sang Adik, ketika membahas Mara.

"Iya, satu kantor ... tapi kalau ngebahas itu, pasti ngeles," sahut Kaamil kesal.

"Jadi, Mara masih tunangan, apa putus?"

"Udah dibilangin, nggak tau. Gimana sih," sungut Kaamil.

Dinda mengerucut 'kan bibirnya, merasa tidak puas dengan jawaban Kaamil.

Hening ....

Diam-diam Kaamil melirik Dinda. Menghela nafas panjang, ketika lagi-lagi melihat Kakaknya melamun.

Kaamil yakin, ada sesuatu yang disembunyikan Dinda dari dirinya.

"Kakak, ada masalah ya?" tanya Kaamil sambil merangkul Dinda.

"Hah," pekik Dinda tersentak kecil.

"Masalah, apaan?"

Kaamil berdecak. "Kalau ada masalah, Kakak cerita aja," ucap Kaamil.

"Nggak ada," elak Dinda.

"Nggak mungkin, nggak ada! Ini pasti, ada!" kata Kaamil sambil melepas dekapannya dan menatap Dinda curiga.

"Beneran ... emang nggak ada."

Kaamil tidak percaya, tapi Dia juga tidak lagi bertanya.

"Mama tadi, telepon," ujar Kaamil sambil kembali mengambil keripik singkong.

"Kata Mama, keadaan Kakek semakin membaik," lanjutnya disela-sela kunyahan nya.

"Alhamdulillah," balas Dinda mengucap syukur.

"Bentar lagi lebaran. Kita, nyusul Mama nggak?" tanya Kaamil.

"Menurut Kamu? Kita susul, nggak?"

"Ck, kebiasaan. Ditanya, malah balik tanya."

Dinda nyengir, Dia juga bingung karena terlalu banyak yang dipikirkan.

"Kakak sih, terserah Kamu aja."

"Gimana, kalau habis lebaran dua hari?"

"Boleh." Dinda mengangguk setuju.

"Lebaran pertama, kita di rumah Bunda," usul Dinda.

"Oke."

"Ya udah, Aku mau tidur." Kaamil menutup toples keripik dan menyimpannya di atas meja.

"Mending, Kakak tidur juga. Besok puasa 'kan?" tanya Kaamil sambil lalu, melirik sedikit dengan ekor matanya.

"Hmmm," gumam Dinda sambil mematikan televisi yang sebenarnya sama sekali tidak mereka tonton secara serius.

Dinda mengikuti Kaamil yang naik ke lantai atas dengan langkah gontai.

"Selamat malam," kata Kaamil sebelum menutup pintu kamarnya.

"Malam, juga," sahut Dinda masuk ke dalam kamarnya.

Membanting 'kan tubuhnya ke kasur, Dinda menatap langit-langit kamarnya kosong. Lagi, untuk yang kesekian kalinya Dia memikirkan kejadian yang terjadi beberapa hari lalu.

Tidak mudah bagi Dinda bisa melupakannya begitu saja. Ini adalah hal yang paling serius dan sangat membekas.

Bertanya-tanya dalam pikirannya, siapa gerangan orang yang sudah melakukan hal tidak senonoh padanya.

Larut dalam pikiran yang berkelana, Dinda akhirnya tertidur tanpa menemukan jawabannya.

...🌹🌹🌹🌹🌹...

Usai sahur dan sholat subuh, Dinda tidak bisa tidur lagi. Dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan, agar bisa melupakan masalah.

Tujuan Dinda adalah taman kota. Walau terlalu pagi dan sedang berpuasa, tapi tidak sedikit orang yang berolah raga di sekitar sana.

"Mau ke mana?" tanya Kaamil yang berbarengan keluar kamar.

"Jalan-jalan," jawab Dinda pendek.

"Ikut," ucap Kaamil cepat langsung berbalik masuk kamar lagi. Tidak lama, Dia sudah kembali dengan jaket yang terpasang.

Mereka pun pergi bersama dengan Kaamil sebagai driving.

Hanya memerlukan waktu setengah jam, mereka sudah sampai pada tujuan yang diinginkan Dinda dan sudah terlihat orang-orang di sekitar sana. Tidak hanya orang tua, para remaja juga meramaikan suasana taman kota.

Berjalan-jalan santai, sambil mengedarkan pandang menelisik orang-orang seperti guru meng'absen muridnya.

"Duduk situ, Kak," tunjuk Kaamil pada sebuah kursi yang kosong.

Dinda mengangguk setuju dan berjalan beriringan.

Baru mendudukkan b0k0ngnya, Kaamil sudah berseru. "Itu Bang Candra, 'kan?" kata Kaamil memperhatikan seseorang yang berjalan santai.

Tanpa menunggu jawaban Dinda, dan secara tiba-tiba Kaamil malah memanggilnya.

"Bang Candra!" teriak Kaamil mengangkat satu tangan agar orang yang dipanggil menyadari keberadaannya.

Pandangan Dinda sempat beradu, dalam jarak yang cukup jauh.

"Sini Bang!" panggil Kaamil.

"Ngapain sih, pakai dipanggil segala?" protes Dinda memukul lengan Kaamil kesal, tapi tak dihiraukan sang empuhnya.

Candra yang dipanggil, mau tidak mau mendekat.

"Kebetulan banget ketemu di sini," seru Kaamil senang.

"Ya, kebetulan," jawab Candra melirik Dinda sekilas.

Mereka sudah lama tidak bertemu, dan baru sekarang bertemu.

"Gimana Bang, sama kerjaan lu? Capek nggak?"

"Lumayan," jawab Candra pendek ikut duduk di samping Kaamil, membuat Adik Dinda itu berada ditengah-tengah.

Dinda mengerutkan kening tidak mengerti dengan pertanyaan Kaamil yang ambigu. Sudah tau kerjaan Candra adalah seorang pelatih taekwondo, itu jelaslah membuat orang capek.

'Dasar Kaamil.'

"Capek mana? Jadi pelatih, apa jadi Bos?" tanya Kaamil lagi yang membuat Dinda tambah tidak mengerti.

'Bos?'

"Enakan, jadi pelatih."

Seketika Kaamil tertawa mendengar jawaban Candra yang tidak bersemangat.

"Tapi, lu 'kan nggak melatih lagi, Bang," kata Kaamil sambil tertawa.

"Emm," gumam Candra.

Dari samping, Dinda dapat melihat anggukan kepala Candra. Dia tidak berani ikut menimpali, karena tidak terlalu akrab. Berbeda dengan Kaamil yang langsung akrab setelah berkenaan di rumah sakit.

"Nanti, habis lebaran ... ajari gw ya, Bang?" pinta Kaamil penuh harap.

Kaamil memang bisa bela diri, tapi menurutnya Dia merasa perlu mengasah nya lagi pada ahlinya.

"Boleh. Maaf, karena belum sempat mengajari."

"Nggak masalah, gw ngerti Bang."

Kaamil dan Candra terlibat percakapan yang masih membuat Dinda bingung, karena tidak mengerti apa yang sedang mereka bahas. Dia menjadi pendengar tanpa ikut berkomentar.

Hari pun mulai meninggi dan semakin terang. Akibat berfokus dengan kedua orang di sampingnya, rencana Dinda untuk melupakan sejenak masalahnya pun kini berhasil tanpa Dia sadari.

Bosan karena Dinda masih tidak mengerti, Dia pun memotong percakapan kedua pria itu. "Mil, kita pulang yuk!" ajak Dinda.

"Sudah hilang suntuk nya?" tanya Kaamil.

Ingin sekali Dinda menjitak Adiknya itu. Sekarang Dia mengerti kenapa Kaamil ikut jalan-jalan dengannya, pasti karena masih memikirkannya yang selalu melamun.

"Apa sih, buruan." Dinda beranjak dan pergi meninggalkan mereka lebih dulu.

"Gw, balik duan Bang," pamit Kaamil dan dibalas anggukan Candra.

Candra menatap punggung keduanya, lebih tepatnya menatap Dinda.

'Tidak seperti biasanya, apa Dia ada masalah?'

BERSAMBUNG ....

1
Indri Yani
Aluna dalangny
Indri Yani
Adit g dteng, Chandra yg gantiin
Indri Yani
Ada Candra, Din
Indri Yani
Bara n Candra orang yg sm ternyata
Indri Yani
blm ngerti alurny
Lis May Bae
baca ini kok brasa di tampar ya thor 🤦‍♀️🤦‍♀️
Lis May Bae: iya thor masama🙂🙂🙂
total 4 replies
i'm virgo ♍️
maaf Mas Adit, aku dukung Mas Candra nih 😃
Untaian Fiksi(Hiatus): horeee
total 1 replies
Untaian Fiksi(Hiatus)
semoga bisa menghibur di waktu senggang. 🙏😁
mezee
aduh baara itu siapa ?!
masalau dinda pa masa depan,y ya
Untaian Fiksi(Hiatus): semangat bacanya, kak. temukan di bab selanjutnya. 😅
total 1 replies
Ati Susanto
sangat bagus.. sudah ngikutin dari rahman bin rahimah.. suka dengan alur cerita nya yang ringan.. love buat karya mu thor
Untaian Fiksi(Hiatus): masyaallah tabarakallah, terimakasih banyak kak, karena sudah berkenan membaca karyaku. 🙏 aku jadi terharu🤧🤧🤧
total 1 replies
Nia Kurniawati
ayo bara jangan pilih kasih nanti ya kasihan Malik yatim piatu dia tuh jangan di inget emak bapak nya kalo di inget mah ya bikin kesel
Adfazha
Alhamdulillah Dinda pya buku baru hm Bara bere mulai terusik dg khdrn Malik nihh pdhl berkah bgt urus anak yatim piatu Mas... Semongko Akakk
Adfazha: Alhamdulillah udh publish nih kak...
total 4 replies
Adfazha
Berkah ya Din, skli dpt anak lsg 3 mskipun Malik bkn anak kandung 😁tp tar jgn lupain bayi gedemu tar cemburu ngambek lg krg perhatian wkwkwkk🤣🤣
Adfazha
Alhamdulillah akhirnya Baby twin upcoming jg..knp gk launching dsni aj kak tmbh expart lg gpp 😁Congrats ya gk sabar tgu "DiRa Andra "Launching hehee😁....kirain kembaran bara Si Bere trnyta Bari 😁
Untaian Fiksi(Hiatus): lagi tanya sama pihak nt, kak. boleh apa enggak kalau sudah tamat banyak tambah bab. tunggu aja kabarnya ya, kak.🙏
total 1 replies
Ha_liza
di tunggu ya kak🤩
Untaian Fiksi(Hiatus): terimakasih kk😊
total 1 replies
Nia Kurniawati
selamat Dinda mas Chandra akhirnya kalian di percaya sama Alloh di kasih momongan kembar lagi sehat sehat sampai hari lahiran nanti ya🥰
Untaian Fiksi(Hiatus): kata Dinda, makasih kak 😁
total 1 replies
Adfazha
Gpp Anggap aja Naaman jd pancingan smg Dinda nanti bnr2 bs hml baby Twin 😁😁 Masihh ngareep eike 🤭🤭untgnya DaRa hatinya tulus bs maafin mrka dg ikhlas eh dpt bonus baby gemoyy
Untaian Fiksi(Hiatus): lagi catat bahan buat adonannya. wkwkwk
total 1 replies
Nia Kurniawati
tapi kan Dinda katanya telat seminggu kan tadi tuh 😩 musti hamil pokok nya🤭
Nia Kurniawati
enak banget si Angga dan istrinya habis jahat minta maaf pergi deh nitipin anak malah sama Dinda orang yg pernah dia sakitin
Untaian Fiksi(Hiatus): mungkin, satu bab lagi kk😁
total 1 replies
Nia Kurniawati
jadi Dinda gak bakalan punya anak yg terlahir dari rahim nya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!