Serenada Senja, seorang gadis di penghujung 30. Dia ingin melarikan diri dari situasi kantor yang membuatnya stress sekaligus menghindari satu orang yang selalu mengejarnya. Juga desakan orang tuanya untuk segera menikah.
Nada mendapatkan keinginannya itu aetelah beasiswa S2-nya disetujui. Namun, pelariannya kali ini malah membuat Nada bertemu masalah baru.
Narendra, teman dekat yang sekaligus naksir Nada, membuat situasi semakin sulit untuk gadis itu. Dia pun harus berhadapan dengan Agam Alfiansyah, dosennya yang killer.
Situasi itu dimanfaatkan oleh Agam untuk mendekati Nada. Walau gadis itu terang-terangan menolak. Sampai akhirnya satu kejadian mengubah seluruh persepsi Nada. Bahwa takdir itu yang menentukan sisa cerita.
***
Season 2
Setelah Serenada mau membuka hatinya untuk Agam Alfiansyah, apakah akhirnya di bisa mendapat gelar sebagai Nyonya Agam?
***
Season 3
Setelah menikah, kesibukan Agam dan Nada makin bertambah. Apalagi mereka terpisah jarak. Akankah mereka segera menimang buah hati? Atau malah tersibukkan oleh aktivitas masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Forgive
Aku lega Mas Alfian menepati janji untuk tidak memberi tahu Ayah tentang kejadian ini. Hanya Mbak Milla yang kukabari dan berjanji akhir minggu ini akan menjengukku. Setelah dokter menyatakan kondisiku baik dan tidak gegar otak, akhirnya aku boleh pulang.
Selama tiga hari di rumah sakit, Mas Fian selalu menemaniku saat tidak mengajar. Bahkan ia memaksaku tinggal di rumahnya, setelah keluar dari rumah sakit. Jelas saja kutolak mentah-mentah. Gila apa?
Walau ada pembantu yang datang pagi pulang sore, tapi tetap saja aneh. Sebagai konsekuensi, setiap hari ia mengecek keadaanku di rumah Neva, yang ternyata satu kompleks dengan rumahnya.
“Habis ini aku langsung pulang saja, Nev. Mbak Milla WA katanya mau datang,” kataku ke Neva yang sedang membereskan buku-bukunya.
Mata kuliah pilihan Ekonomi Pembangunan, adalah satu-satunya kelas di hari jumat. Dosennya sudah keluar lima menit yang lalu. Biasanya setelah kuliah ini berakhir, kami langsung ke perpus mencari tambahan literatur untuk bahan thesis.
“Yaudah, kalo gitu biar Mario anter lu dulu pulang,” balasnya santai.
“Nggak usah! Kalian langsung aja, aku pengen pulang jalan kaki. Sudah lama aku nggak jalan-jalan,” ujarku beralasan.
Rasanya aku memang butuh udara segar. Dua minggu ini diantar jemput Mario dan Pak Agam bergantian, rasanya sumpek dalam mobil terus. Tidak dapat kutepis kerinduan pada semilir angin serta menikmati jalan kaki di udara terbuka.
“Beneran elu yakin mau pulang sendiri?” Ada sedikit kekhawatiran dalam nada suaranya.
“Iya, Nev, beneran nggak apa-apa kok,” ujarku meyakinkan.
Gadis mungil itu menatapku lekat-lekat. Entah harus berapa kali kuyakinkan dia bahwa aku akan baik-baik saja. Toh jarak kampus ke rumah cuma dua kilometer saja, lewat gang tembusan.
“Pokoknya elu harus ngabarin gue begitu nyampe rumah! Kalo nggak, ntar langsung gue samperin,” pesannya dengan sedikit mengancam.
“Iya-iya, jangan kuatir. Aku duluan ya!” Aku tersenyum padanya seraya melambaikan tangan.
Aku maklum pada kekhawatiran orang-orang di sekitarku. Mereka takut jika Narendra kembali membuat ulah. Namun rasanya tidak mungkin dia seceroboh itu. Buktinya setelah kejadian di kelas tempo hari, tidak pernah lagi terlihat batang hidungnya di kampus.
Setelah aku keluar rumah sakit, Mas Alfian berencana untuk mengajukan tuntutan pada Rendra atas kejadian itu. Namun sebelum niat itu terlaksana, aku melarangnya. Bahnyak hal yang akan dipertaruhkan jika membawa masalah ini pada ranah hukum.
Sanksi terhadap penerima beasiswa yang melanggar kode etik, bukan hanya beasiswanya yang dicabut. Selain harus mengembalikan semua biaya kuliah, ia juga akan mendapat black list dari kampus. Belum lagi sanksi dari dinas yang entah bagaimana bentuknya.
Memang uang tidak masalah bagi keluarga Rendra, tapi aku takut membuatnya semakin terpukul. Selain itu, nama baik kami, instansi, juga kampus akan ikut terkena imbasnya. Minimal aku jua akan terseret dalam masalah ini, jika diperpanjang. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi.
Mas Alfian mewakiliku berunding dengan keluarga Rendra. Aku masih tidak sanggup menghadapi mereka secara mental. Akhirnya, keluarga Rendra bersedia membuat surat pernyataan menanggung semua biaya perawatan dan permohonan maaf tertulis padaku.
Bukan itu saja, Rendra juga diwajibkan mengikuti konseling serta terapi. Sementara waktu ia harus cuti kuliah dan menyelesaikan ‘urusan’ tersebut. Tentu saja, aku lega semua sudah berakhir.
Lima menit berjalan melewati beberapa fakultas lain, cukup membuat suasana hatiku membaik. Sampa di gerbang samping kampus, tiba-tiba ringtone-ku berbunyi. Telepon dari Neva.
“Udah sampai, Nad?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Belooom. Aku masih di sebelah gedung sastra, sengaja nyari jalan muter.”
“Yaudah, kabari kalau sampai,” perintahnya.
Aku tersenyum. ”Iya, Bu,” jawabku menggodanya. Belum selesai kami bicara ada panggilan masuk lain. “Udah dulu, Nev. Ada telepon masuk,” tukasku.
“Oke, Nad. Ati-ati,” balasnya sebelum menutup telepon.
Kualihkan panggilan ke nomor Mbak Milla.
“Kamu di mana? Aku di pos satpam,” katanya dari seberang.
“Aku masih di jalan, lima menit lagi nyampe,” jawabku.
“Yaudah, kutunggu di sini.” Tanpa menunggu jawabanku, diputuskannya sambungan.
Dasar emak-emak gak sabaran!
Kakiku melangkah dengan sedikit tergesa-gesa. Kalau begini caranya mana bisa menikmati pemandangan dan jalan santai. Selain ditunggu Mbak Milla, si Neva juga menunggu teleponku saat sampai di rumah. Hufffttt, mirip anak pingitan saja aku ini.
Di pertigaan jalan, sebuah motor merah yang tidak asing menyalipku. Motor itu melewatiku dan berhenti di Pos Satpam kompleks perumahan. Dari jauh, kulihat mobil Mbak Milla terparkir di sebelah Pos Satpam. Dia sedang berbincang dengan Pak satpam ketika motor merah itu berhenti di sana.
Aku tidak lagi terburu-buru berjalan menuju pos satpam. Kuamati pemilik motor itu yang turun kemudian ikut berbincang dengan Pak satpam. Tidak kusangka, pria itu kenal dengan Mbak Milla. Mereka terlibat pembicaraan ketika pak Satpam masuk ke posnya.
Siapa pria itu?
Langkahku terhenti di tikungan yang cukup dekat dengan portal. Jantungku juga hampir berhenti. Nomor plat motor itu, tidak salah lagi. N 4123 NDR. Berarti ... dia ada di sini. Bagaimana dia menemukanku? Lalu apa hubungannya dengan Mbak Milla?
“... kamu banyak berubah.” Sayup kudengar Mbak Milla mengatakannya pada Rendra.
“Semua orang berubah, La,” sahut Rendra.
Keheningan itu tak berlangsung lama. Bunyi ringtone Senorita dari hape yang belum sempat kumasukkan tas, membuatku tertangkap basah sedang menguping.
“Serena!” panggil Mbak Milla seraya berjalan mendekat.
“Hehehe, bentar ada telepon dari Neva,” ujarku menghindar tatapan sadis wanita itu. Sekilas Rendra memandangku lalu menunduk.
“Iya, Neeeek. Aku sudah sampai pos satpam,” cerocosku tanpa mengucap salam.
“Syukurlah, Nad. Gue udah gemes dari tadi nggak lu telepon,” sahutnya lega. “Oh, iya. Pak Agam otewe ke sana juga, barusan dia nyamperin gue ama Mario nyariin elu. Ehem,” tambahnya.
“Heh? Waduh, gawat.”
“Ada apa Nad?”
“Nggak apa-apa Nev. Udah dulu ya, makasih infonya.” Segera kututup telepon dari Neva. Bagaimana ini? Jika sampai Pak Agam tahu ada Rendra di sini, bisa gawat. Lebih baik segera kuajak mereka keluar.
“Mbak Milla, sini ...” Kubisikkan sesuatu pada wanita itu. Ia mengangguk paham dan mengerti apa yang kumaksud.
Aku mendekati Rendra. Meski sebenarnya ribuan alasan bisa kugunakan untuk mengusirnya, tapi sepertinya aku tidak tega.
“Maaf, Ndra. Aku ... aku ...”
Laki-laki di hadapanku ini sama sekali tidak berani mendongakkan kepalanya. Entah apa yang dia pikirkan, tangannya meraih tanganku.
“Serenada, aku cuma datang untuk minta maaf dan berterima kasih. Seharusnya kau tidak perlu berbuat sebaik itu padaku. Aku layak masuk penjara, Nad.”
Ucapannya yang jelas dan tegas, menandakan kesadarannya telah pulih seperti sedia kala. Walau begitu, dia tidak lagi seperti Beruang kutub yang pernah kurindukan. Sosok imut dan lucu yang suka usil itu telah berubah menjadi dingin dan menjaga jarak. Ada sesuatu yang tiba-tiba saja mencubit sudut hatiku. Nyeri.
“Nggak, Ndra. Aku tahu kamu hanya sedang putus asa. Kamu bukan orang jahat, aku tahu itu,” jawabku.
“Terima kasih, Nada atas segalanya. Aku tidak akan mengganggumu lagi.” Ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, lalu mengecupnya sekilas. Sesuatu yang basah menyentuh punggung tanganku yang dikecupnya.
Ia ... menangis?
“Aku pamit dulu, assalamualaikum.” Setelah mengatakan itu ia melepaskan tanganku dan segera berbalik menuju motornya. Tanpa kata, distarternya motor itu dan melaju pelan tanpa menoleh lagi.
Kepergian orang yang pernah mengisi hatiku itu membuat memoriku memutar kembali saat-saat menyenangkan bersamanya. Mataku panas.
Mbak Milla menyentuh pundakku. “Ternyata dia Narendra yang sama, Nad.”
Aku menoleh tak mengerti.
“Sepertinya, aku juga harus menyelesaikan urusanku dengannya,” katanya lagi. Mbak Milla tersenyum padaku.
“Nanti aku hubungi kamu lagi. Aku harus buru-buru menyusulnya. Helm Rendra ketinggalan,” ujarnya sambil menunjuk helm warna merah yang masih tergeletak di bangku Pos satpam.
Tanpa menunggu responku, Mbak Milla menuju mobilnya sambil membawa helm merah Rendra. Ia mengklakson sekali sebelum melaju menyusul motor merah yang baru saja menghilang di tikungan.
Tak ingin menimbulkan pertanyaan oleh Pak Stapam yang sedari tadi menjadi saksi, aku buru-buru masuk ke kompleks perumahan. Ingin berbaring rasanya, lelah sekali jiwaku mengalami semua peristiwa ini. Kupercepat langkah menuju Blok 2 nomor 25 yang hanya berjarak 100 meter dari pos satpam. Rumah bercat kuning gading itu menjadi tempat tinggalku bersama Neva.
*
Selepas salat Ashar, kutumpahkan segala kegalauan hatiku pada-Nya. Entah bagaimana pun skenario-Nya, pasti adalah takdir terbaik bagiku. Hatiku kembali tenteram. Kulirik jam dinding, 16.15. Neva masih belum juga pulang, mungkin sekalian habis magrib nanti.
Belum juga selesai aku melepas mukena, terdengar bel pintu depan. Jelas itu bukan Neva, si Nenek tidak pernah membunyikan bel. Mungkin Mbak Milla, buru-buru aku ke depan untuk membuka pintu.
“Mbak ...”
“Assalamualaikum.”
Suara bariton itu seketika membungkam mulutku. Mas Alfian ternyata.
“Eh, waalaikum salam.”
“Kamu menunggu orang lain?” tanyanya.
“Eh, anu Mbak Milla janji datang hari ini,” jawabku kikuk.
“Masuk, Pak. Eh Mas.” Masih saja aku belum terbiasa dengan panggilan khusus untuknya. Pipiku terasa panas, begitu sekelebat bayangan ketika aku memeluknya di rumah sakit hadir kembali. Kutundukkan mukaku dalam-dalam sambil mundur.
“Neva sudah balik?” tanyanya lagi.
Kesadaran menghantamku. Kami hanya berdua sekarang.
“Oh, iya lupa. Dia masih di perpus sama Mario. Maaf.”
Tanpa bicara Pak Agam melangkah kembali ke teras. Ia duduk di kursi teras. Aku mengikutinya, lalu duduk di sebelahnya. Entah bagaimana, atasan mukena yang belum sempat kulepas ini cukup membuatku merasa aman.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, seperti biasa.
“Alhamdulillah sudah tidak pernah pusing lagi.”
“Baguslah kalau begitu. Aku cuma mau ngasih martabak telor, kamu makan sama Neva nanti.”
Tidak kuperhatikan ada kotak kardus putih di meja teras jika ia tidak menyebutnya. Aku sibuk memandangi halaman depan, berusaha mengalihkan perhatian.
“Terima kasih, Mas. Tidak usah repot-repot. Saya sudah terlalu banyak dibantu. Semoga Allah membalas semua kebaikan Mas Fian,” ucapku tanpa sadar.
“Bagaimana kalau aku sebenarnya tidak ikhlas membantumu? Tapi minta imbalan,” tanyanya tiba-tiba.
Aku mengerti arah pembicaraanya. Sampai kapan dia mau mengusikku? Apakah dia tidak tertarik pada gadis lain? Apakah aku harus menyerah, setelah semua yang dilakukannya untukku?
“Nada. Aku ingin kamu membantuku mendapatkan Neva.”
Aku spontan menoleh. Apa? Apa aku tidak salah dengar?
“Kamu bermain hard to get padaku. Oke, kamu menang. Setelah semuanya yang terjadi, rupanya aku tidak bisa memenangkan hatimu seperti Rendra. Jadi, tidak ada salahnya kan, kalau aku tertarik pada Neva? Dan karena kamu sudah banyak berhutang budi padaku, sudah selayaknya kamu bersedia membantuku.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Pak Agam kembali serius seperti waktu mengajar di depan kelas. Ia mengatakan itu sebagai perintah padaku, bukan meminta tolong.
“Baik, Mas. Saya mengerti,” jawabku akhirnya.
“Assalamualaikum.”
Aku sampai tidak tahu jika Neva sudah datang.
“Waalaikum salam,” jawab Pak Agam seraya berdiri.
“Ya sudah, Nada. Saya pamit. Jangan lupa pesanku,” ucapnya sambil tersenyum manis pada dua wanita yang baru datang.
“Loh, kok Pak Agam langsung balik?” tanya Neva.
“Iya, ada sedikit urusan sama Nada tadi. Besok saya tunggu di kampus ya, jangan lupa. Assalamualaikum,” ucapnya ramah pada gadis itu.
“Siap, Pak. Waalaikum salam. Saya antar ke depan, ya,” ujar Neva seraya mengikuti pria itu menuju gerbang depan.
Aku terpaku melihat punggung Mas Alfian yang semakin menjauh. Mungkin inilah takdir yang terbaik untukku. Namun, cubitan dalam benakku kembali mengirimkan rasa sakit yang sama. Persis seperti saat Rendra meninggalkanku tadi.
***
jadinya menggantung ...
Aku aja yg cm reader suka bgt sm mas Fian mu Nada....😍🤭
masa sm cwo mentah model ridwan aja gk keukur Nad😔
Qadarullaah....membuatku lbh kuat,lbh shabar&lbh ikhlash menjalani kehidupan....