Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
(6 tahun yang lalu)
Seperti muda-mudi pada umumnya saat menduduki bangku sekolah tingkat atas, Raka terpikat oleh Santy teman sekelasnya. Tiga tahun lamanya mereka menjalin hubungan pacaran, hingga lulus sekolah mereka memutuskan untuk menikah.
Pernikahan itu berlangsung secara agama, ini karena Raka akan meneruskan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka menikah hanya sekedar mengikat dan supaya tidak terjerumus pada kemaksiatan. Namun, siapa sangka jika pernikahan itu kandas setelah tiga bulan bersama.
Kata talak itu terucap dari mulut Raka saat ia mendapati Santy, istrinya, sedang berduaan dengan pria lain di rumahnya sendiri. Tanpa mendengar penjelasan dari mereka, Raka meninggalkan istrinya dan tak kembali.
Sebelumnya, sebagai lelaki normal yang telah memperistri wanitanya itu, sudah barang tentu pernah menjamah istrinya berkali-kali. Walau menggunakan metode 'KB alami' siapa sangka benih yang di tanam Raka tumbuh menjadi janin di rahim istrinya.
Setelah tiga tahun mereka berpisah, Raka mulai mengetahui bahwa yang dilihatnya saat itu tak seperti dugaannya. Pria yang datang menemui Santy merupakan sahabatnya yang tengah meminta bantuan Santy atas masalah hidupnya. Setelah Raka meninggalkan Santy, jadilah dia yang bertanggung jawab selama ini mendampingi Santy juga anaknya.
Bertahun-tahun Raka mencari keberadaan mereka untuk mencari tahu kebenaran tentang buah hatinya. Namun saat bertemu, Raka ditolak mentah-mentah oleh Santy. Luka yang ditoreh oleh Raka membuat Santy enggan kembali memiliki hubungan apa-apa di antara mereka.
Dengan segenap rasa bersalahnya Raka mulai menyerah, membuka hati untuk wanita lain. Hingga suatu saat dia bertemu wanita muda yang tengah hamil, Raka bermaksud untuk melindunginya untuk menebus rasa bersalahnya pada masa lalu. Namun siapa sangka, Raka justru semakin terpikat oleh wanita itu hingga merasakan kembali rasa cinta.
Cobaan pasti datang di setiap hal, termasuk percintaan. Saat Raka hendak menjalani hubungan serius bersama Nia, tiba-tiba dia bertemu kembali masa lalunya bersama anaknya. Membuat niat yang sudah bulat kembali terpecah.
***
Raka mengetik pesan membalas pesan Febi.
[Kamu punya waktu luang? Bisa kita bertemu?]
Tak perlu menunggu lama, pesan balasan diterima.
[Sore ini aku ada waktu. Boleh, mau dimana?]
[Aku tunggu di cafe biasa, ya, jam 04.00 sore]
Tepat jam 04.00 sore mereka telah duduk di sebuah meja di salah satu cafe yang biasa mereka kunjungi. Febi merasa heran dengan permintaan pertemuan ini yang tiba-tiba. Sedangkan Raka sendiri sejak menuju tempat ini hatinya diliputi rasa gundah dan dilema.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Febi memulai pembicaraan.
Raka hanya menjawab dengan anggukkan.
"Bukankah kamu baru saja diterima Nia? Harusnya kamu senang 'kan?"
"Itu dia masalahnya," ujar Raka.
"Coba katakan dengan jelas, aku gak ngerti!"
"Feb, kamu tahu 'kan Santy mantanku itu?"
"Lalu? Kamu belum bisa lupain dia?"
"Enggak bukan gitu, Feb, aku belum cerita semuanya sama kamu."
Febi mengernyitkan dahinya keheranan.
"Jadi gimana?" tanya Febi penasaran.
Sebelumnya, yang Febi tahu hanya sebatas Santy masa lalu Raka yang tak bisa Raka lupakan, sehingga Febilah yang merencanakan kedekatan Raka dan Nia demi kebaikan mereka. Lalu Raka menceritakan semuanya secara detail. Febi tak menyangka jika masalahnya sejauh ini.
"Begitu, Feb. Jadi menurutmu apa yang harus aku katakan pada Nia?"
Febi menyeruput kopinya yang kini sudah tak panas lagi.
"Ya, ini cukup sulit. Aku takut hati Nia terguncang mendengar hal ini, padahal baru saja dia merasakan kebahagiaan," jawab Febi.
"Aku pengen mastiin dulu anak Santy itu anakku atau bukan. Jika memang anakku, aku bakal kasih biaya hidup untuknya."
"Oke, gini aja, kamu tenang aja soal Nia. Kamu selesaikan masalahmu dengn Santy, baru setelah semuanya selesai kita kasih tahu Nia yang sebenarnya."
"Hhmmm, baiklah. Terima kasih, Feb, udah mau bantu aku."
"Oke, sip."
Febi kembali ke rumahnya. Saat sampai dia mendapati Nia sedang sibuk masak di dapur. Raut wajah Nia terus menyunggingkan senyuman, terlihat jelas bahwa kini dia benar-benar bahagia.
'Hmmm, apakah kenyataan bahwa Raka seorang duda akan menyakiti hatinya?' gumam Febi.
"Eh, Mbak udah pulang?" sapa Nia mengagetkan Febi.
"I-iya, Dek. Baru saja."
"Sekarang Mbak mandi dulu, nanti kita makan bareng. Aku sengaja masakin opor ayam khusus buat Mbak."
"Untuk apa?"
"Bukan untuk apa-apa, sekedar ucapan terima kasih untuk segala hal yang telah Mbak lakukan buat aku."
"Oke, Mbak mandi dulu, ya."
Selepas Febi membersihkan diri mereka menyantap makan bersama. Di tengah-tengah makan Febi memulai pembicaraan.
"Dek, kamu udah yakin sama Raka?"
"Insyaallah, Mbak. Aku lihat ketulusan dari dia, terlebih dalam keadaanku yang sedang hamil seperti ini siapa coba yang mau menerimaku?"
"Tapi kamu sendiri mencintainya?"
"Aku mencoba membuka hati, Mbak. Bagiku mencintai seseorang bukan hal yang mudah, tapi seiring berjalannya waktu aku pasti mencintai dia melebihi cintanya."
"Jika kamu yang di posisi Raka bagaimana?"
"Maksud Mbak?"
"Ya, mendapati kenyataan bahwa pasangan yang dicintainya telah ternodai oleh pria lain?"
"Entahlah, aku tak sebaik dia. Tapi aku rasa dengan cinta semua bukan apa-apa. Memangnya kenapa Mbak?"
"Ah, emmm, gak apa-apa," kilah Febi.
"Emang sih, aku sedikit merasa aneh ketika dia menerima kehamilanku begitu saja. Tapi sepertinya memang rasa cintanya itu yang menutupi matanya dari keburukanku."
"Semoga rasa cintamu juga menutup matamu dari keburukan Raka, ya," ujar Febi.
"Ya, memang semua manusia tak luput dari kesalahan dan dosa, aku pun akan belajar mencintainya seperti dia mencintaiku."
"Mbak harap hubungan kamu dengan dia gak sebatas pacaran biasa yang saat bosan putus begitu saja. Semoga hubungan kalian bisa sampai ke jenjang serius."
"Aamiin, Mbak."
"Oh, iya, Mbak sendiri gimana?"
"Maksudnya?"
"Perasaan belum pernah deh dengaer tentang kisah asmara Mbak?"
"Hehe, lain kali Mbak cerita deh!"
"Ya ampun, saking sibuknya kita jarang-jarang ya bisa ngobrol kayak gini," ujar Nia.
"Iya nih, besok Mbak shift pagi jadi baru sore ini bisa makan santai kayak gini."
"Emmmm, bisa berangkat bareng dong?"
"Boleh juga!"
"Oh, iya, Mbak jangan dulu kasi tahu Mbak Tari, ya, mengenai hubungan aku sama Dokter Raka."
"Kenapa?"
"Ya, setidaknya kan Mbak Tari baru aja ngelepasin Raka."
"Iya, juga sih. Oke, deh kalo gitu."
"Oh, iya kamu kapan ambil cuti?" tanya Febi.
"Nanti aja Mbak kalo udah deket HPL."
"Kamu udah susun rencana buat lahiran dimana?"
"Belum, Mbak, hehe."
"Jangan dinanti-nanti harus fikirkan dari sekarang. Oh, iya, peralatan bayi pun kamu belum beli 'kan?"
Nia menggeleng memamerkan gigi putihnya.
"Duh, dasar kamu! Lusa kan hari minggu, nanti kita belanja bareng, ya!"
"Oke sip, Mbak!"
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍