NovelToon NovelToon
RANJANG BALAS DENDAM

RANJANG BALAS DENDAM

Status: tamat
Genre:Misteri / Patahhati / Balas Dendam / Duda / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Menikah dengan Musuhku / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Dinikahi karena ingin membalaskan dendam kematian sang kakak yang meninggal karena bunuh diri.

Mahendra Addison Wijaya, duda anak satu yang tampan, kaya dan berkuasa. Menyimpan dendam pada seorang gadis muda cantik bernama Alisia.

Kakaknya, Brahmana. Ditemukan meninggal di apartemennya gantung diri. Dan semua bukti yang ada mengarah pada Alisia sebagai penyebabnya.

Akankah cinta bersemi di hati Mahendra yang sudah terlampau benci pada Alisia, dan apakah cinta Alisia tetap singgah dalam hati setelah menerima kekejaman demi kekejaman dari Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMORI

Bukti. Hanya itu yang bisa menyatakan suatu kebenaran. Apapun membutuhkan bukti, cinta, kesetiaan, hingga pada hal-hal kriminal seperti pembunuhan. Semua harus ada bukti.

Itulah yang kini tengah diusahakan oleh Tom. Sebuah bukti agar Siya dapat terlepas dari genggaman Mahendra.

Tom tengah berada pada suatu ruangan yang penuh dengan benda-benda elektronik yang tak sepenuhnya ia mengerti, semuanya teknologi canggih, hanya beberapa yang ia tahu, seperti komputer, monitoring, dan selebihnya, Tom tidak lagi tahu benda-benda itu.

Tom tengah melakukan pertemuan dengan seorang pakar, yang akan membantunya membuka jam canggih milik Bram. Dan mereka harus hati-hati. Karena jika salah langkah, maka memory di dalamnya akan hangus.

Hanya butuh kurang dari 5 detik, jam milik Bram terbuka setelah berada di tangan ahlinya. Tom mendongak saling pandang dengan pria itu yang tersenyum sombong di depan Tom. Seakan mengatakan pada Tom. '*It's really easy for me*!' Tom pun mengangguk mengapresiasi.

Mereka lalu kembali fokus pada jam milik Bram, Pria Ahli menggerakkan benda kecil di tangannya yang ia gunakan untuk membuka satu lagi layer alumunium yang menjadi penutup card. Berhasil, layer alumunium penutup card itu terbuka.

"Mana memorinya?"

Pria Ahli dan Tom sama-sama terkejut. Mereka saling menatap tajam. Tom mengambil alih jam milik Bram, dan benar saja. Memori itu tidak ada.

...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

Siya menemani Al mengerjakan tugas dari sekolah. Membuat sebuah lukisan pohon keluarga lengkap dengan ceritanya.

"Siya, aku ingin menggambar tangan papah dan mamah bergandengan, tapi papah sama mamah tidak pernah bergandengan." Al terlihat lemas saat mengatakan itu. Membuat Siya merasa kasihan. Siya mengelus lembut rambut Al.

"Tidak apa-apa, kalau kamu mau gambarnya seperti itu, gambar saja." Siya mengatakannya agar Al tidak sedih.

"Siya? Kenapa papah dan mamahku tidak tinggal serumah? Papah mamah teman-temanku semuanya tinggal serumah?" kini Al menanyakan hal pada Siya yang sudah sering ia tanyakan pada Mahend, Lim, bahkan Sabrina dan tak pernah ada yang memberi jawaban.

"Em? Itu?" Siya berpikir. '*Berarti Al selama ini tidak tahu jika Papah mamahnya sudah berpisah*.'

Tanpa mereka sadari, Mahend sudah berdiri bersandar pada pintu kamar Al yang sedari tadi terbuka. Mahend terus mendengarkan obrolan mereka yang tengah telungkup menghadap dipan ranjang sehingga membelakangi pintu kamar.

"Al pernah bertanya sama Mamah. Kata mamah, itu karena papah sama mamah sudah bercerai. Artinya apa?" Al kembali bertanya setelah Siya tak juga memberi jawaban.

Siya mengelus wajah Al, lalu mengecup keningnya lembut. Al selalu senang dengan perlakuan Siya padanya yang penuh kasih sayang. Seseorang yang ia tahu hanya sebagai perawat, namun rasa sayangnya pada Siya lebih dari itu, seperti Al yang menyayangi Mahend. Al juga merasakan hal yang sama pada Siya.

"Dengar, Jagoan! Beberapa orang yang pernah bersama, terpaksa harus berpisah. Dan itu adalah keadaan yang terjadi pada Papah, dan Mamah. Tapi Al tak perlu khawatir, karena bersama atau tidak, dan dimanapun mereka berada, mereka berdua sama-sama sayang sama Al. Selamanya."

"Selamanya?" tanya Al meminta kepastian.

"Selamanya." jawab Siya yakin.

"Kau juga akan menyayangiku selamanya, Siya?" pertanyaan Al menggetarkan hati Siya maupun Mahend yang terus memperhatikan mereka. Mata Siya sudah berkaca-kaca. Anak kecil itu telah mencuri hati Siya sejak melihat fotonya dulu saat berpacaran dengan mahend. Bahkan sebelum Siya bertemu dengannya.

"Siya juga akan menyayangi Al sang Jagoan. Untuk selamanya." air mata Siya sudah menetes. Hatinya terasa perih. Karena nanti, cepat atau lambat. Ia pasti akan berpisah dengan Al.

"Siya? Jangan menangis? Karena Al sang Jagoan, juga akan menyayangi Siya selamanya? Al janji, selamanya!" ucap Al sambil mengusap air mata Siya lantas kedua tangannya yang kecil itu memeluk tubuh Siya yang kurus.

"Al?" lirih Siya terharu, rasa bahagia dan sedih itu datang secara bersama.

Mahend keluar dari kamar Al. Ia merasa hatinya sakit. Bahkan putranya pun mencintai Siya. Dan Mahend juga merasa kalah. Karena pembalasan dendamnya telah berubah menjadi cinta. Dimana setiap Mahend melakukan kekerasan dan hukuman pada Siya. Maka batinnya pun ikut tersiksa.

...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

**Malam**.

Tom berbaring di ranjang kamar sambil memperhatikan jam milik Bram yang kini ada ditangannya.

'*Dimana memorinya? Tidak mungkin Kak Bram memakai jam ini tanpa memori. Siya mengatakan hari itu Kak Bram naik ke pesawat, Dan esok harinya Kak Bram ditemukan sudah dalam keadaan gantung diri di apartemennya. Tak ada seorang pun yang tahu kecuali Siya jika Kak Bram akan ke Paris. Apa yang sebenarnya terjadi*?'

Tom terus berpikir. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Tapi tak ada rasa kantuk sama sekali yang menyerangnya, pikiran Tom seluruhnya tertuju pada misteri kematian Bram. Ia mempercayai ucapan Siya jika Bram memang naik pesawat dan akan pergi ke Paris.

Tom semakin yakin untuk bisa membuktikan jika Kak Bram tidak mati bunuh diri. Karena tak ada nama Kak Bram dalam list penumpang penerbangan, jadi pasti ada orang yang bukan sembarangan bermain cantik atas semua ini. '*Mungkinkah Kak Bram mati karena dibunuh*?'

"Tunggu, pintu ruang kerja Kak Bram tak pernah dibuka semenjak kematiannya, karena tak ada seorang pun yang tahu kode sandinya. Dan Paman Wijaya melarang jika pintu itu dihancurkan. Hanya Siya yang selama ini akhirnya bisa membuka pintu terkunci itu dengan sandi ulang tahunnya. Dan Paman Wijaya adalah satu-satu nya orang yang tahu mengenai hubungan Kak Bram dengan Siya, apa Paman Wijaya juga tahu jika pintu ruang kerja Kak Bram sandinya adalah ulang tahun Siya?"

Tom terus berpikir. Bahkan jarum jam sudah bergerak menunjuk pada angka 2.

"Saat Kak Bram ditemukan gantung diri. Bahkan dia masih memakai jam ini, iya. Aku ingat hari itu. Jam ini masih berada di tangannya saat ia di turunkan dari gantungan, lantas siapa yang menyimpan jam ini di ruang kerjanya? sedangkan tak ada orang yang bisa membuka pintunya?."

Jantung Tom berdegup semakin kencang, desiran darahnya sampai bisa ia rasakan. Tom memulai merangkai pecahan puzzle yang berserakan.

"Apa mungkin, jika Paman Wijaya yang akhirnya mengambil Jam ini dari Mahendra, dan dia menyimpan jam ini di ruangan Kak Bram, karena tak akan ada orang yang bisa membuka ruangannya?" Semua barang bukti yang ditemukan waktu itu memang semua Lim yang mengamankan sebagai tangan kanan Mahend.

"Dan jika itu memang benar, berarti Paman Wijaya yang telah mengambil memori dan juga memindahkannya." entah kenapa perasaan Tom sangat yakin dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang ia pikirkan.

"Tapi kenapa paman melakukannya? Apa yang terjadi? Kenapa Paman Wijaya harus menyembunyikan satu bukti penting dari semua orang? Sebenarnya apa yang kau lakukan, Paman Wijaya?"

Tom menggenggam erat jam tangan Bram. Tubuhnya bergetar takut akan kebenaran-kebenaran yang mungkin jika terungkap, semua mengarah pada Paman Wijaya. Lantas bagaimana keluarganya? Tante Sabrina? Mahendra? Bukankah itu akan sangat menyakitkan?

"Aku harus ke rumah Tante Brina besok. Dan meminta untuk masuk ke dalam ruang kerja Paman. Apapun alasannya. Aku harus bisa memasuki ruang itu. Mungkin saja ada petunjuk yang akan aku dapatkan."

...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

1
Eka Pramesti
suka
Mischa Chantika
Luar biasa
Cis Siu
y
Rimayanti Ismaya
meteor garden
Rasmiati Nur
seru..aku suka ceritax
Rasmiati Nur
seru aku suka ceritax
Erni Zalukhu
bisa jd Al bukan anak kandung mahen,kan Anita wanita jalang
Ririn Nursisminingsih
mama sabrinalah yg ikut andil.mnghancurkan semuanya
Ririn Nursisminingsih
iyaa thor mkin penasaran
Ririn Nursisminingsih
jg2 al anaknya anita sama ayahnya
Ririn Nursisminingsih
ayoo tom bantu sya
Ririn Nursisminingsih
ayoo sya temukan buktinya kmu tak bersalah
Ririn Nursisminingsih
kabur aja sya jg bodoh
Ririn Nursisminingsih
ayoo sya jg lemah kmu
Rastika Ima
waduuuh,pasti Anita
Diankeren
👍🏻👏🏻👏🏻
Diankeren
lano sirik aja deh, tggl peluk tuh yg dsmping lu klo pngen
tng ca w bla'in
Diankeren
klo dsitu ada Rangga bisa d lmpar pulpen lu lano 😝 aduuh knpe w trbyg² trus ama ayang Nico wktu muda ye 🙈 uh gmez
anjirr... anjirr... w bnci otak w sndri 🤦🏻‍♀️
🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻💨
Diankeren
bubur woii... eh slah bubar bkn buyar malih.... 🤣
Diankeren
maen kcok²an Mak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!