Hai, hai!
Cerita cinta romantis, action, memperjuangakan cinta sejati,
memiliki bisnis yang sama, kisah cinta diantara dua pilihan abang dan adik tiri.
Pertikaian kedua mafia pemilik kasino Internasional, penuh drama keluarga,
sanggupkah Adrian memperjuangkan hatinya untuk Fene?
setelah kepergian Bram yang menyayat hati keluarga...
mampukah Jasmine mengahadapi permintaan Adrian untuk menikahi sahabatnya sendiri Fene?
sangat memilukan, saat Adrian harus kehilangan Jasmine istri pertamanya!
melanjutkan kehidupan membesarkan putri mereka Jasmine Moreno Lim sebagai artis cilik hollywood.
Bagaimana pertemuan Fene dan Samuel Hu?
bagaimana hubungan Adrian dengan Adik kandungnya Michel Leonard Kind?
dimana cinta Aliandra Leonard Kind akan berlabuh? karena Alea sangat mengidolakan Adrian.
simak kisahnya,
nikmati ceritanya Part by part, penuh haru, dan bahagia memperjuangkan perusahaan sekaligus cinta sejati.
terimakasih,
tya calysta
🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29. Kesepian hati
Kesepian Hati...
Bram, Kevin tidak pernah menghubungi Fene lagi, semenjak perpisahan mereka.
Mereka fokus pada pemulihan Adrian.
"Fene dimana Bram?"
tanya Adrian.
"Fene di Jakarta."
jawab Edward ringan tanpa expresi.
Bram dan Kevin terkejut mendengar keberadaan Fene.
"Daddy, apa daddy menyembunyikan Fene?"
desak Bram.
"hmmmm."
Edward tersenyum.
Beberapa minggu Bram uring-uringan memikirkan Fene.
"Bucin lo."
kesal Kevin pada Bram.
"Ya, gue emang bucin."
Bram keluar dari kamar Adrian, menghubungi Fene, tidak ada jawaban.
"Shiiiiiit."
Bram menggeram kesal.
Gebrakan...
Fene melakukan perubahan nama, tanpa nama keluarga.
Melalui proses panjang selama di Swiss.
Mengubah data pribadi.
Fene tidak mau di pusingkan dengan perasaan.
Kecemburuan Bram sangat mengganggunya.
Fene mengalihkan saham Adrian menjadi milik pribadi dibantu pengacara.
Mengeluarkan nama Adrian, mengeluarkan hak sesuai kesepakan mereka.
Fene menjual seluruh aset Adrian kecuali apartmen.
Mengganti nama perusahaan.
Fene menyelesaikan, tanpa meminta persetujuan siapapun.
Di Jakarta Fene menghabiskan waktu dikantor dan rumah.
Fene mengalihkan kepemilikan apartemen Mark menjadi milik dia pribadi atas izin Marisa, menurunkan semua fhoto Mark.
Fene bernafas lega, jika menghadapi perperangan suatu hari nanti.
Beberapa bulan kemudian...
Fene teringat sesuatu.
Petter,
kartu nama Petter.
Fene mengalihkan beberapa asetnya, untuk membangun rumah sakit spesialis syaraf.
"Haloo,"
Suara Petter terdengar lembut.
"Petter,"
"ya,"
"Fene "
"oooh ya, kamu dmana?"
tanya Petter.
"Aku di Jakarta, tapi besok akan ke Singapura, bisakah kita bertemu?" tanya Fene.
"Waaaah, kebetulan saya hari ini ke Singapura, baiklah, besok kabari, aku akan menjemputmu."
"Fene menyetujuinya."
Fene menarik nafas dalam merasa lega.
Misi memulai sesuatu yang baru berhasil.
Fene merebahkan bada ke sofa,
Bram hadir dihadapannya.
Fene lupa mengganti password apartemennya.
"Bram, what are you doing here."
teriak Fene.
Bram mendekatinya ingin memeluk,
Fene menolak pelukan Bram.
"no, no, no, silahkan keluar, aku ingin sendiri."
"You oke fen?"
Bram bertahan dihadapan Fene.
"Jangan ganggu aku, aku lelah."
jelas Fene.
Bram memeluk tubuh Fene, tak peduli.
Fene mematung.
"Ada apa denganmu, kenapa kamu menghindari ku."
Bram menunduk, mencium bahu Fene.
"Aku ingin melepaskan sejenak permasalahan ku Bram, menenangkan pikiran, tanpa ingin menyakiti aku atau kamu."
jelas Fene.
"Berbulan-bulan Fen, bukan berhari-hari."
rundung Bram.
"Adrian dan Kevin ada di bawah, aku berlari menemuimu, aku sangat merindukanmu."
lanjut Bram.
tiiiiing,
pintu lift Adrian, Kevin terbuka.
Fene dan Adrian saling tatap.
Adrian mendekap Fene.
"Apa yang lo lakukan sama gue?"
geram Adrian.
Fene diam.
Menikmati pelukan Adrian.
"Kenapa kalian mencari ku?"
tanya Fene.
"Kami sangat merindukan lo Fen." jelas Kevin.
"Kenapa lo menghindari kita Fen?"
Kevin merangkul pinggang Fene, berdiri di dekatnya.
"Vin."
tegur Bram sinis.
"Payah gue."
kesal Kevin.
Kevin berlalu, mencari makanan di kulkas Fene.
"Kenapa lo menjual seluruh aset gue Fen? apa menurut lo gue sepicik itu?"
tanya Adrian ketus.
Fene tersenyum.
"Gue ingin menjauh dari kalian."
tunduk Fene.
Mata mereke bertemu.
"Menjauh??"
Kata-kata Bram, Adrian, dan Kevin secara bersamaan.
"Tega lo Fen, emang persahabatan kita seperti apa menurut lo?"
kesal Adrian.
"Bukan gitu,"
Fene tertunduk mendudukkan bokong disofa.
Bram, Adrian dan Kevin mendekati Fene bersimpuh.
Kevin menyentuh paha Fene, Adrian duduk persis di depan lutut Fene, Bram menggenggam erat jemari Fene bersebelahan dengan Adrian.
"Gue menjauhu kelelahan dengan situasi.
Gue rasa, keadaan tidak bersahabat sama gue, gue sedih, ternyata gue lahir dari Irene."
tangis Fene pecah seketika.
"Wooooow, keren dong, kita sodaraan."
jawab Kevin bangga.
"Pantas lo hot darling."
goda Kevin menyentuh dagu Fene.
"Hmm, Fen, mau lo anak Irene, atau siapapun, gue nggak peduli. Lo temen kita, partner kita, sengaja gue diam saat lo ambil alih saham, jual aset, gue diam,
karena gue tau lo.
Bagi gue persahabatan lebih penting dari itu semua, karena kita sudah mendapatkan lebih dari yang lain."
rungut Adrian.
"Gue sempat berfikir lo akan membenci gue karena gue anak Mark dan Adriana, orang yang telah mencelakai kita, tapi saat ini, gue akan menjaga lo sampai kapanpun, apapun keadaannya."
tegas Adrian.
"Gue menghindari Veni dengan alasan gue masih mengurus pekerjaan gue."
"Tapi, beberapa kali gue ada ketemu Veni di resto.
Kami say halo membicarakan perencanaan kami."
lanjut Fene.
"Perencanaan? kamu ada rencana apa?"
Bram memandang Fene penasaran.
"Besok gue ke Singapur.
Persentasi untuk rumah sakit gue."
Fene menatap sahabatnya.
"What. Rumah sakit?"
Adrian, Kevin tidak percaya.
Fene mengangguk.
"Ya, Rumah sakit syaraf."
jelasnya, menyeka kedua pipi dari air mata.
"Rumah sakit syaraf seperti apa maksudmu?"
Bram tidak mengerti.
Fene beranjak, mengambil laptop, memulai persentasi dihadapan sahabatnya.
Fene mengungkapkan akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari menyelesaikan projectnya.
Setelah mendengar persentasi Fene, mata ketiga sahabatnya saling bertatapan takjub.
"Ternyata selama ini kamu mengatur semua sendri?"
tampak rona bahagia di wajah Bram.
Fene tersenyum, memandang sahabatnya.
"Pantes, daddy bilang kamu baik-baik saja, apa kamu pernah meminta pendapat padanya?"
Bram mulai kepo.
"Nggak, aku memikirkan semua dibantu otak Veni sedikit.
Papi Veni menjadi investor utama ku, besok aku menemui Petter."
jelas Fene lagi.
"Petter, Petter dokter itu?"
Bram menunjukkan rasa cemburunya.
"Ya, why not."
senyum Fene.
"Gue akan menjadi investor."
Kevin merangkul bahu Fene.
"Gue juga, gue akan selalu ada."
Adrian tersenyum menatap Fene.
"Aku ikut."
sahut Bram.
"Tapi disini tidak ada perasaan. Aku akan menyiapkan semua perjanjian kita."
tegas Fene sedikit menyindir Bram.
"Gue setuju, "
sambut Kevin, melirik Bram dan Adrian.
"tapi Bram, kamu belum memberi bagian ku."
Fene tertawa, membuka tangan memeluk sahabatnya.
"Wellcome to real bisnis."
Mereka saling berpelukan, berteriak bersama.
"Detik ini juga aku akan menyelesaikan sweety."
rayu Bram.
Persahabatan mereka kembali, walau bebagai permasalahan.
'Komitmen menjadi pondasi.'***
Bram, cintamu ke fene sampai mati ....😭
pusing aku Thor😂😂
kenapa banyak cinta untuk fene, kenapa berjodoh denganx....
bentar tak baca sampai habis biar bisa tau jalan cerita n kisah mereka 🤗🤗🤗