Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius. Jose, anak lelaki keempat dari keluarga Argent memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah pelayan di keluarganya mati mendadak. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Zwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Ruang makan didesain dengan gaya klasik. Rolan ada di kursi makan yang menghadap langsung ke jendela taman. Dia mengangkat cangkir teh di tangannya dan membuat gerakan bersulang ketika melihat kedatangan Marco.
"Kupikir sarapan sudah siap, ternyata aku kepagian. Kau belum lapar, Marco?"
“Mana Jose?”
“Entahlah. Bermain, mungkin. Dia sudah lulus universitas, kan?"
“Dengan gelar terbaik," sahut Marco puas, meski Rolan sebenarnya sudah tahu. "Mau jalan-jalan sebentar? Di luar ada tanaman baru yang datang dari Afrika.”
“Aku sedang minum teh,” tolak Rolan dengan halus, membaca bahwa yang ditawarkan padanya bukan sekadar ajakan jalan-jalan.
“Bawa saja gelas tehmu,” sahut Marco tak mau kalah. “Melihat taman sambil minum teh pasti akan menyenangkan.”
“Wow, dan selama ini kupikir kau tipe orang yang taat pada aturan!”
Marco tidak menanggapi, hanya berbalik luwes dan berjalan duluan melewati koridor samping yang berdinding kaca. Rolan ada sepuluh langkah di belakangnya, benar-benar mengikuti sambil membawa cangkir tehnya.
Mereka melangkah ke taman di samping rumah. Rolan menapak turun melalui tangga batu warna hitam, langkahnya bergemerisik melindas rerumputan yang masih basah.
“Dayang yang satu sudah bisa bicara sedikit, yang berambut merah terang dan bermuka bintik itu,” katanya sambil menjajari langkah Marco. Dia menyesap pelan-pelan teh hitamnya, kemudian berkata lagi dengan cengiran di wajah, “Yang satu masih belum sadar.”
“Yang rambut merah itu Anna, yang belum sadar Linda. Kupikir dokter seharusnya mengetahui nama-nama pasien.”
Rolan mengabaikan celaan itu. Ia meniup lembut sisa tehnya yang masih panas, tetapi belum menyesapnya. Mata cokelatnya yang lembut menatap pada deretan pakis hias yang memenuhi dinding batu buatan. “Sepertinya kau bicara banyak pada Jose.”
Marco berbalik, mata elangnya memberi tatapan tajam. “Apa yang dia katakan kepadamu?”
“Tidak, aku yang bertanya di sini. Apa yang kau katakan kepadanya?”
“Bukan hal yang besar,” sahut Marco setelah diam beberapa saat. Nada suara dan sikap tubuhnya masih seangkuh biasa. Ia menggeleng pelan, kemudian mengulang kembali, “Bukan hal yang besar. Aku cuma tidak mau dia menyelidiki sendiri tanpa bersikap waspada.”
“Kau membiarkannya menyelidiki soal ini?” Rolan tidak menyebunyikan kekagetannya.
“Aku bukan membiarkannya, tapi jelas sekali dia sangat ingin mengetahui apa yang terjadi. Daripada membiarkannya mengendus dalam ketidaktahuan, bukankah lebih baik memberitahu sedikit dari hal yang penting? Lagi pula, Renata juga tahu hal itu. Aku cuma memberitahu apa yang perlu mereka berdua tahu.”
Rolan mengangguk pelan, menuang sisa tehnya ke atas rumput. Teh itu sudah tidak panas lagi, tidak nikmat. “Yang penting jauhkan saja dia dari Sir William itu.”
“Kau juga curiga padanya?” Marco mengerutkan kening.
“Cuma orang bodoh yang tidak bisa mencium bau darah darinya.” Rolan mendecakkan lidah. Ia mengusap ujung hidungnya pelan-pelan, seperti berusaha mengusir bau. “Begitu pekat, rasa-rasanya mirip dengan ... kau lebih tahu.”
“Kau pernah bertemu dengannya?”
"Kan pernah, bersamamu."
"Maksudku, Sir William yang ini."
“Tiga atau empat kali. Dia mengundangku ke pesta yang pertama." Rolan tertawa agak sumbang. "Mengundangku! Aku bukan bangsawan! Aneh, bukan? Atau mungkin dia tidak tahu kondisi keluargaku? Yah, kemudian kami berpapasan biasa di jalan ketika aku tiba di Bjork.”
Marco menoleh cepat, tangannya bergerak kasar menarik kerah kemeja Rolan. “Kau yakin tidak apa-apa?!”
“Tidak, hey, jangan kasar begitu! Kalau ada yang lewat, kita bisa-bisa dikira sedang berkelahi!” Rolan menepis tangan Marco, kemudian menepuk-nepuk pakaiannya sambil menyisir kondisi sekitar dengan waspada.
Hanya ada tumbuh-tumbuhan, bunga, kaktus hias, bonsai, serta tanaman hias lain. Suara gemericik kolam buatan terdengar merdu, bersambut dengan cericit burung. Setelah yakin bahwa tidak ada orang di sekitar mereka, Rolan memalingkan wajahnya kembali ke depan dan kembali bicara dengan gaya santai, “Seharusnya kita tidak membicarakan hal semacam ini di taman, kan?”
“Aku harus memastikan apakah yang sedang bicara denganku sekarang memang manusia atau bukan.” Marco mengulurkan tangannya seakan hendak menangkap cahaya matahari.
“Tentu saja manusia, bahkan seandainya makhluk itu sudah mengincarku pun, aku akan tetap jadi manusia. Manusia kering.”
Rolan tertawa, kedengarannya seperti baru saja menceritakan lelucon yang sangat lucu dan hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri. Marco tidak tertawa. Begitu pula dengan Jose.
Jose berada di tikungan tembok, bersandar merapat ke tanaman rambat yang menjalar ke dinding, tidak sengaja mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua pamannya tersebut. Ia memisahkan diri dari pamannya untuk kembali ke jembatan dan memeriksa lebih detail struktur tanah di sana. Sayangnya polisi patroli sedang mondar-mandir di perbatasan Bjork.
Jose ingat dua polisi yang berpatroli adalah para petugas yang membawanya pulang kemarin. Untuk menghindari rasa malu, Jose berbalik pulang dulu, berpikir ingin mencuri makanan kecil dari dapur dan membawanya untuk bekal penelusuran. Toko-toko makanan dan restoran tidak akan buka atau menyediakan makanan sampai pukul sebelas nanti. Bjork adalah tempat yang terlalu taat pada aturan—berkat Marco.
Ia tidak pernah membayangkan justru akan mendengar pembicaraan dua pamannya saat sedang berjalan menuju belakang dapur.
Soal Sir William?
Apa maksud Paman?
Dia memang ada hubungannya dengan semua ini?
Paman Rolan juga mencium bau mawar dan darah!
Jadi, memang ada lebih banyak hal yang mereka sembunyikan dariku!
Berbagai pertanyaan datang mengusik kepala Jose. Ia masih berdiam dan mendengarkan agak lama, menunggu informasi lain muncul atau didiskusikan.
Namun, Rolan malah membahas soal angin dan juga cuaca panas yang semakin membakar. Kemudian gemerisik langkah dua orang tersebut jadi makin dekat.
kak Nara gk ada niatan nerbitin karyamu kah?
pengen punya versi buku fisiknya😔
dari baca sambil nunggu kaka up sampe baca ulang karna kangen😞😞