"Kau begitu angkuh dan dingin, tapi aku menyukaimu."
Sebuah kisah cinta antara gadis yang merupakan pengawal dan seorang pria pewaris tunggal generasi ketiga perusahaan terbesar di Asia, Edzardians Group.
Siapa sangka Selita akan tergila-gila dengan Alvaro Edzard yang dijulukinya sebagai iblis tampan yang juga ternyata merupakan pria angkuh, kasar dan arogan!
Apakah Alvaro yang dingin itu akan membalas cinta Selita? Ataukah dia memiliki gadis di masa lalunya yang akan menjadi penghalang bagi Selita untuk mendapatkan hati Alvaro?
Penasaran? Kuyyy mampir ✨
©Copyright by Stivani, April 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : Ketahuan
Seorang pria paruh baya sedang asyik meneguk kopi di depan teras rumah. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi kusut saat mengingat ucapan Reyhan barusan. Haris sangat tidak percaya jika Alvaro menyakiti hati Letisya.
"Apa aku tanya Letisya saja? Tapi nanti saja. Kelihatannya Letisya sangat lelah," getutu Haris.
Haris mengurungkan niatnya untuk menghampiri Letisya, dia menunggu waktu yang tepat untuk mengajak anaknya berbicara. Sementara di kamar Letisya, sedang terjadi perang dengan barang-barangnya. Gadis itu melempar segala benda yang di taruh di atas meja riasnya. Dengan wajah yang kesal di ikuti juga dengan cairan air mata yang sedari tadi berjatuhan di wajahnya yang cantik.
"Kau jahat Al! Aku membencimu!" melemparkan vas bunga di kaca riasnya.
Seorang pelayan mengetuk pintu dari luar, memastikan nona mudanya baik-baik saja. "Non, apa Nona baik-baik saja?" tanya seorang pelayan.
"Aku baik-baik saja. Tinggalkan aku sendirian!" teriak Letisya.
Letisya hendak mengiris pergelangan tangannya dengan serpihan vas bunga yang dilemparnya tadi namun tiba-tiba gawainya berbunyi. Dia melihat siapa yang menghubunginya. Dan ternyata itu adalah Alvaro. Letisya mengurungkan niatnya untuk mengiris pergelangan tangannya dan segera mengangkat telepon dari Al.
Setelah berbincang dengan Al, perasaannya kembali tenang. Dia memanggil seluruh pelayannya untuk membersihkan kamar akibat perbuatannya sendiri. Letisya menghampiri Haris yang sedang menikmati kopi.
"Ayah."
"Oh sayang, kemarilah," ajak Haris.
Letisya duduk di sebelah Haris. Dia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. "Ayah, aku mau menikah!"
Ucapan Letisya menyambar wajah Haris sehingga membentuk lekukan heran di wajahnya.
"Menikah? Dengan siapa? Reyhan?"
"Bukan Yah. Tapi dengan Al,"
Haris mengernyitkan dahinya merasa aneh dengan ucapan anaknya. "Apa Al sudah melamarmu? Apa kau sudah balikan dengan Al?"
Letisya menggelengkan kepala dan melemparkan pandangan ke arah bunga-bunga yang menghiasi teras itu. "Sama sekali belum Yah. Aku pikir setelah Al memaafkanku, dan dengan semudah itu aku bisa kembali bersamanya. Tapi ternyata dugaanku salah! Sepertinya Al sudah mulai menyukai gadis itu," ucap Letisya dengan murung.
"Gadis yang mana? Bukannya Al sangat mencintaimu? Al bahkan memaafkanmu setelah apa yang kita lakukan padanya."
"Gadis yang selalu bersamanya mampu menggantikanku di hati Al,"
"Maksud kau? Pengawal yang selalu bersamanya?"
"Hmmm."
"Mana mungkin sayang. Dia itu tidak ada bandingannya dengan kamu. Dia hanya pengawal biasa yang bahkan sama sekali tidak masuk dalam listnya seorang Alvaro Edzard," jelas Haris menekankan nadanya.
"Iya memang, dia sangat jauh berbeda denganku. Dia cantik, apa adanya dan selalu ceria. Itu yang membuat Al tertarik!"
Haris menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ucapan Letisya. "Letisya, dengar! Kau sangat cantik, anggun dan mempesona. Beda jauh dengan gadis itu! Apa yang membuatmu berkata seperti itu?" mengelus lembut pundak Letisya.
Apa benar yang di katakan Reyhan?
"Sudahlah Ayah, aku hanya ingin menikah dengan Al. Aku mohon Ayah mengatur semuanya untukku. Demi anak satu-satunya Ayah," memandangi Haris dengan wajah memelas.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nak? Ceritakan semuanya pada Ayah, maka Ayah akan berusaha membantumu."
Mata gadis itu kembali berkaca-kaca karena menahan sesak. Dia ingin sekali menangis kuat memeluk ayahnya. Karena hanya Harislah yang mengerti tentang perasaan anaknya itu.
"Ayah. Hiks,,, hiks" memeluk Haris dengan erat.
"Tidak apa-apa sayang, ceritakanlah. Ayah akan selalu mendengarkanmu. Menangislah dan lepaskan segala kepenatan hatimu." Haris mengelus lembut punggung Letisya.
Haris merasa sangat iba melihat anaknya yang menderita. Haris mencoba menenangkan Letisya dengan semampunya. Jika Letisya menangis karena merasakan sakit hati, bisa-bisa satu hari dia berhenti menangis. Dan Haris sangat tahu sifatnya. Andai kau masih hidup. Pasti anak kita tidak akan semenderita ini.
Setelah Letisya menenangkan diri, dia mulai menceritakan segala yang terjadi saat dia menghampiri Al di kota Q.
***
Di ruang kerja, Al merasa bosan dengan apa yang dia lakukan. Dia memutuskan untuk menghampiri Julian.
Al mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam ruangan.
"Masuk."
Al menarik gagang pintu dan berjalan memasuki ruangan. Dilihatnya Julian sedang membaca majalah.
"Kakek, ini aku Al."
"Ya kakek tahu. Kau pikir kakek sudah pikun?" terbahak dengan perkataannya sendiri.
Al tersenyum dan mendudukan tubuhnya di sofa. Julian melepaskan majalah di atas meja. "Bagaimana perjalanan bisnis kamu untuk pertama kalinya?"
"Semuanya berjalan lancar. Kolega kita menerima penerapan proyek di kota Q. Hanya saja dana yang dia minta cukup besar."
"Dan kau menyetujuinya?"
"Iya. Aku menyetujuinya. Karena dari sekian banyak perusahaan yang mencoba membangun proyek di kota Q tidak mampu membayar dana yang di minta kolega. Jadi aku memutuskan untuk menyetujui sesuai dengan permintaan rekan," jelas Al.
"Bagus! Kakek yakin pasti kau bisa. Kakek selalu mengandalkanmu Al. Bekerjalah dengan tekun dan adil. Tuhan pasti membukakan jalan bagimu."
"Iya, pasti Kek."
"Bagaimana hubunganmu dengan Letisya?"
"Baik-baik saja Kek."
"Kemarin dia mengunjungi Kakek. Dia membawa bunga-bunga ini," menunjuk vas bunga cantik yang tertata di meja kerja Julian.
"Ohya? Apa yang Kakek dan Letisya bicarakan?"
"Kami tidak berbicara banyak. Kau tahu kan sebenarnya Kakek masih marah padanya. Tapi karena kau sudah memaafkannya, Kakek berpikir juga untuk menerimanya kembali. Toh tidak ada gunanya menyimpan dendam selama bertahun-tahun,"
"Hmmm," menganggukan kepalanya.
"Letisya meminta ijin untuk merestui kembali hubungan kalian."
"Terus Kakek bilang apa?"
"Ya Kakek hanya bilang tergantung perasaanmu. Kalau kau masih mencintainya, Kakek akan mendukung pilihan cucu Kakek. Katanya dia juga menyusulmu. Apa kalian bertemu di sana?"
Al memegang dagunya. Kecurigaannya pun ternyata benar. Letisya memang mengunjunginya ke kota Q. Tapi gadis itu tidak memberitahu Al saat mereka berbicara di telepon.
"Al," memanggil Al yang sedang menghayal.
"Oh, iya Kek. Ada apa?"
"Apa kau bertemu dengannya di sana?"
"Tidak Kek. Kata Letisya dia tidak menyusulku, tapi aneh sih," mengernyitkan dahi.
"Aneh kenapa?" tanya Julian penasaran.
"Bukan apa-apa Kek. Tapi sepertinya aku sudah tidak mencintai Letisya lagi. Aku hanya ingin menjaganya saja karena dia adalah teman masa kecilku yang selalu ada saat masa-masa terburukku," ketus Al.
"Ohya? apa kamu sudah mencintai seseorang?"
Al terperanjat, wajahnya memerah setelah mendengar pertanyaan Julian. "Tidak Kek. Bukan begitu," jawab Al malu-malu.
"Jangan sungkan Al untuk menceritakannya pada Kakek. Siapa pun pilihanmu, pasti Kakek akan selalu mendukungmu. Hmmm, memangnya siapa gadis itu? gadis yang berhasil menggeserkan posisi Letisya di hatimu? Apakah dia Selita? Pengawal pribadimu?"
Lagi-lagi Al terbelalak dibuat Julian. Al mendehem dengan kaku saat nama itu hinggap di pikirannya. Al menjadi salah tingkah dan tidak bisa duduk dengan tenang. Dia menepuk-nepuk kakinya di lantai. Julian memperhatikan tingkah aneh cucu kesayangannya itu. Gelak tawa julian meledak memenuhi ruangan.
"Berarti ramalan Kakek benar. Haha,"
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan vote 😘