shanum gadis 25 tahun yang terjebak dalam pernikahan bak neraka baginya. sanggupkah shanum menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
Jam menunjukkan pukul 8 Wildan tengah siap-siap untuk berangkat ke kampus. Terlambat bangun membuat ia terburu-buru dan pergi tanpa sarapan. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju garasi dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tak lebih dari 10 menit ia sudah sampai di kampus. Ia berjalan ke kelasnya dengan sedikit santai lantaran masih ada waktu 5 menit lagi sebelum kelas mulai. Ditengah jalan ia melihat seorang gadis yang ia kenal.
"Kemoceng wartek bukan sih itu?" gumam Wildan.
Ia berjalan dengan cepat menyusul gadis yang diperkirakan oleh Wildan adalah Aina. Ia ingin memastikan apakah penglihatannya itu benar atau tidak.
"Kemoceng wartek, lu udah sehat?" tanya Wildan begitu berjalan sejajar dengan Aina.
"Iya kenapa? Oh ya by the way makasih banyak ya lu udah mulangin gue tanpa ada yang kurang sedikit pun," ucap Aina tulus.
"Iya sama-sama. Nggak usah dibahas udah lewat."
"Sebagai ucapan terimakasih gue mau traktir lu makan mau nggak?"
Wildan berpikir sejenak
"Wih kebetulan gue belum sarapan, bolehlah ntar ya kelar kelas aja. Gue udah telat duluan ya bye,x ucap Wildan lalu berlari pergi menuju Aina.
Aina merasa ada yang berbeda, jika biasanya setiap bertemu dengan Wildan mereka akan selalu berdebat namun kali ini tidak.
"Kayak ada yang kurang kalau nggak berantem sama kaleng biskuit," batin Aina.
Wildan masuk kelas tepat waktu. Tak lama setelah kedatangannya kelas dimulai. Wildan mengikuti kelas kelas dengan perut yang sudah konser. Ia tak fokus mengikuti kelas kali ini. Namun ia berusaha mendengar apa yang dijelaskan oleh dosen meskipun ia tak sepenuhnya mengerti.
1 jam kemudian kelas usai, ia langsung berjalan menuju kantin untuk makan. Di tengah perjalanan ia teringat jika Aina akan mentraktir nya.
"Kemana tu bocah ya? Apa masih ada kelas?" batin Wildan seraya celingukan
"Bodo amatlah. Laper banget, besok aja minta traktir," ucap Wildan lalu berjalan menuju kantin.
Saat sampai kantin ia langsung memesan makanan dan minuman lalu memilih tempat duduk yang dekat pintu. Ia menunggu seraya memainkan ponselnya. Nampak kantin tak terlalu ramai karena banyak mahasiswa mahasiswi yang masih ada kelas. Saat ia melihat ke arah keluar pintu ia melihat Aina yang nampak berjalan dengan temannya.
"Woy kemoceng wartek sini," teriak Wildan.
Aina menoleh ke arah sumber suara, tak lama kemudian ia berjalan menghampiri Wildan.
"Lu bisa nggak sih nggak usah manggil gue kayak gitu depan temen gue," ucap Aina kesal.
"Oh lu maunya gue manggil kemoceng wartek pas kita berdua aja?"
"Ya nggak gitu juga, ngapain lu manggil gue kesini?"
"Lah lu kan janji mau traktir gue, noh gue udah pesen makan tinggal lu bayar ntar."
"Disini? Lu mau makan disini?"
"Iyalah masak masak di WC."
"Ish bukan itu maksud gue. Biasanya orang yang di traktir itu pasti mintanya di traktir di restoran mewah, elit, makanannya mahal enak. Lah lu masak disini?"
"Udah laper banget gue. Pingsan gue kalau harus cari restoran yang lu sebut. Lu masih ada kelas?"
"Nggak cuman satu aja, kenapa?"
"Ya udah duduk, makan barenglah."
Entah mengapa ketika Wildan memintanya untuk makan bersama Aina menurut begitu saja. Aina pun memesan makanan dan minuman favoritnya.
"Eh kemoceng wartek, kalau kita akur gini enak juga kayaknya," ucap Wildan di sela-sela makannya.
Uhuk uhuk
"Kenapa lu?" tanya Wildan
"Kata-kata lu bikin gue keselek," protes Aina
"Ada yang salah sama kata-kata gue?"
"Nggak."
"Kita temenan aja yuk, nggak usah berantem-berantem mulu tiap ketemu. Gue takutnya lu jatuh cinta sama gue ntar kalau kita keseringan berantem."
"Enak aja jatuh cinta sama model kayak lu. Ogah."
Mereka makan dengan perdebatan panjang yang tak pernah usai. Namun sesekali mereka juga tertawa bersama. Entah tertawa karena apa, mungkin mereka saling mengolok sehingga timbul tawa renyah dari mereka.
"Eh kemoceng wartek lu mau nggak gue ajak ke rumah mbak Shanum? Dia baru pindah ke rumah baru," ajak Wildan
"Kenapa lu ngajak gue?"
"Ya lu kan akrab sama dia. Kita main kesana biar nggak kesepian dia. Siapa tahu dengan hadirnya kita dia terhibur kan."
"Tapi gue nggak bawa motor."
"Bareng gue aja kalau gitu, ayo berangkat sekarang."
"Motor lu sport nggak mau ah gue. Ngambil kesempatan lagi lu ntar."
"Astaghfirullah eh kemoceng wartek kalau gue mau ambil kesempatan ya pas lu pingsan waktu itu udah gue ubek-ubek lu."
"Awas aja lu ya main-main sama gue."
"Bawel," ucap Wildan lalu berjalan pergi lebih dulu.
Aina setengah berlari mengejar Wildan yang sudah nampak jauh. Tak lama kemudian mereka sampai di parkiran. Namun Aina nampak ragu untuk ikut dengan Wildan, jantungnya berdetak dengan cepat. Pasalnya ini baru pertama kali untuk Aina mengendarai sepeda motor dengan seorang pria.
"Astaga jantung gue rasanya mau keluar dari tempatnya, mau taruh mana muka gue kalau kaleng biskuit denger detak jantung gue," batin Aina gugup.
"Gue cuman bawa helm satu, nih lu pakai," ucap Wildan menyerahkan helm pada Aina.
"Nggak lu aja yang pakai, kan lu yang bonceng gue. Lu ngeyel gue balik pulang nih," ancam Aina.
"Ya udah iya gue yang pakai. Naik," ucap Wildan.
Aina bingung bagaimana caranya naik tanpa berpegangan Wildan. Ia terlalu gengsi untuk melakukan hal itu. Wildan yang sadar dengan kebingungan Aina pun berkomentar
"Udah nggak usah gengsi. Cepetan naik," titah Wildan.
Dengan ragu ia berpegangan di pundak Wildan dan jleb akhirnya Aina terduduk di atas motor Wildan. Selesai sudah drama gengsi naik motor dengan kecepatan sedang Wildan meninggalkan parkiran kampusnya. Para mahasiswi yang melihat pemandangan tersebut nampak heran lantaran selama kuliah tak pernah sekalipun seorang Wildan membonceng seorang gadis. Banyak yang berpikiran bahwa Wildan dan Aina tengah menjalin hubungan asmara.
Sementara itu Aina nampak tak bisa mengendalikan dirinya, ia sangat gugup duduk berdekatan dengan seorang pria. Hal yang sama dirasakan oleh Wildan, jantungnya pun berpacu dengan cepat. Berkali kali ia mengatur nafas untuk mengembalikan detak jantung yang tak normal itu. Tak mau berlama lama dijalan dalam situasi ini ia menambahkan sedikit kecepatan motornya. Karena terkejut dengan kecepatan motor Wildan, Aina refleks merangkul perut Wildan dengan erat.
Deg deg deg
Saking eratnya Wildan bisa merasakan detak jantung Aina yang berdetak tak normal seperti dirinya. Wildan melirik Aina dari kaca spion ia nampak menunduk karena ketakutan.
"Manis," batin Wildan seraya tersenyum.
15 menit kemudian mereka sampai di rumah Shanum. Aina masih saja memeluk Wildan.
"Kheem," wildan berdehem agar Aina sadar bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Tak lama kemudian Aina sadar dengan posisinya langsung melepas pelukannya denga Wildan dan segera turun dari motor.
"Lu ya ambil kesempatan dalam kesempitan. Mau mati lu bawa motor sekencang itu?" protes Aina seraya menoyor kepala wildan
"Tapi lu seneng kan."
Mendengar ada keributan diluar Shanum berjalan menuju pintu utama. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan Wildan dan Aina. Shanum menghampiri mereka yang masih berdebat.
"Cie udah jadian nih ye," ucap Shanum menggoda.
Mereka menoleh kearah sumber suara dengan cepat mereka kompak menggelengkan kepala.
"Ih siapa yang jadian sama dia sih mbak. Ogahx ucap Wildan seraya menghampiri Shanum dan bersalaman
"Eh lu pikir gue mau sama lu," ucap Aina yang mengikuti gerakan Wildan.
"Udah.. udah kalian masih aja kayak tikus sama kucing. Eh tapi kok datengnya barengan. Pakai motor Wildan lagi," ucap Shanum seraya mengajak mereka masuk.
"Dia maksa," uUcap Aina seraya mengarahkan pandangan ke arah Wildan.
"Nggak maksa gue. Gue kan cuman nawarin lu mau nggak ke rumah mbak Shanum yang baru. nggak ada penolakan apapun dari lu, maksanya dibagian mana?"
"Udah ah, heran deh selalu berantem tiap ketemu. Hati-hati jangan terlalu benci takutnya nanti jatuh hati," ucap Shanum
"Nggak akan," jawab Aina cepat.
Mereka ngobrol bertiga dengan hangat. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Aina dan Wildan pun tak henti saling mengolok satu sama lain. Hingga tiba-tiba Shanum merasa mual dan ia lari ke kamar mandi untuk menuntaskan ritualnya. Wildan dan Aina nampak bingung. Aina beranjak dari duduknya ingin melihat kondisi Shanum. Namun ia urungkan karena Shanum nampak berjalan kembali ke arah mereka.
"Kakak sakit?" Tmtanya Aina
"Ah nggak biasa lah kalau hamil muda ya begini," jawab Shanum
Aina dan Wildan terkejut dengan penuturan Shanum
"Serius mbak hamil?" yanya Wildan tak percaya.
"Iyalah masak mbak bohong. Jangan kasih tau mama sama mbak Lena dulu ya. Biar mbak sama mas Davin kesana ngasih tahu mereka sendiri. Biar surprise," ucap Shanum bahagia.
"Selamat ya kak, sebentar lagi udah jadi ibu," ucap Aina dengan tulus.
Tak lama kemudian dering telpon Aina berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Aina pamit sebentar untuk menjawab panggilan.
"Mbak bahagia dengan kehamilan mbak?" tanya Wildan.
"Iya Wil. Mas Davin sudah berjanji sama mbak kalau nggak akan misahin mbak sama anak ini."
"Itu artinya mbak akan jadi madu selamanya
begitu?"
"Kalau itu mbak nggak tahu wil. Mbak nggak tahu lagi harus bagaimana. Mas Davin sudah menyatakan perasaannya ke mbak. Tapi mbak sendiri juga belum yakin dengan kata-katanya. Mbak juga nggak mau Wil jadi madu selamanya, tapi mbak harus bagaimana? Mbak nggak mungkin untuk bisa miliki mas Davin seutuhnya, biar bagaimanapun mbak adalah orang ketiga dalam kehidupan mereka."
"Mbak bukan orang ketiga tapi korban mereka. Apa rencana mbak selanjutnya?"
"Nggak ada Wil. Mbak akan menjalani semua peran mbak. Biarkan semua mengalir seperti air, " ucap Shanum pasrah.
Perbincangan mereka terhenti lantaran Aina tengah berjalan ke arah mereka.
"Kak, aku pulang dulu ya," cap Aina begitu sampai di ruang tamu
"Loh kok buru-buru," ucap Shanum.
"Ya tadi di telpon kak Alsyad katanya dia udah jemput aku di kampus," uap Aina menjelaskan.
"Ya udah ayo gue anter," ucap Wildan.
"Jangan.. jangan. Ntar gue bisa diomelin sama kak Alsyad boncengan sama lu."
"Lah orang gue mapah lu waktu sadar dari pingsan aja dia biasa aja tu. Nggak ngomel atau marah."
"Beda sikon bego," udah ah gue mau pulang udah di tungguin sama ojol."
"Kak aku pamit ya. Lain kali aku main lagi," ucap Aina pamit lalu bersalaman dengan Aina dan tak lupa cipika cipiki.
Wildan masih setia duduk di rumah Shanum. Ia teringat dengan Alsyad yang masih memajang foto mereka berdua waktu SMA. Bahkan memajangnya di ruang tamu yang bisa saja dilihat oleh siapapun yang bertandang ke rumahnya.
"Kayak ada yang dipikirin wil? Mikir apa?" tanya Shanum yang melihat Wildan nampak melamun.
"Ha nggak kok mbak nggak mikir apa-apa."
"Kamu sering ketemu sama Alsyad?"
"Ah nggak mbak. Cuman pas anter Aina pulang. Dia pingsan dijalan vertigonya kumat katanya. Udah sih cuman pas momen itu aja aku ketemu. Kenapa? Kangen ya sama dia?"
"Nggak tahu kenapa mbak nggak bisa lupain dia wil. Mbak setiap ibadah selalu minta sama yang diatas untuk bantu mbak lupain dia. Susah banget. Selalu ada aja momen yang mengingatkan mbak sama dia."
"Jangan-jangan mbak juga cinta sama bang Alsyad tanpa mbak sadari."
"Nggah ah. Mbak udah nganggep dia kayak kakak sendiri. Dia memang ngayomi mbak banget dulu," ucap Shanum seraya mengingat
kebersamaannya dengan Alsyad.
"Emang nggak ada laki-laki lain di hidup mbak selain bang Alsyad dulu?
"Ada beberapa, tapi cuman dia yang bisa buat mbak nyaman pas bareng dia. Bahkan sekarang posisi Alsyad sudah digantikan oleh mas Davin. Kalau boleh jujur, mbak juga sudah mulai merasa nyaman dengan mas Davin. Tapi nggak tau kenapa kayak ada yang beda Wil."
"Mungkin bang Alsyad selalu nyebut mbak dalam doanya. Jadi mbak susah lupa."
"Sok tahu lagi kamu."
"Ya siapa tahu mbak. Kan aku pernah bilang sama mbak waktu mbak masih di rumah sakit kan. Kalau bang Alsyad masih menyimpan rasa itu. Meskipun tahu mbak Shanum udah jadi istri orang. Bang Alsyad simpen sendiri rasa itu, nggak ada niatan buat ngrebut mbak dari mas Davin. Laki-laki the best sih mbak kalau menurutku."
"Ya, dia memang laki-laki yang baik," ucap Shanum seraya menyungging senyum.
"Mbak menyesal menikah dengan mas Davin?"
"Buat apa mbak larut dalam penyesalan wil. Nggak bakal ngrubah keadaan juga kan?"
Wildan merasa Shanum juga mempunyai rasa yang sama terhadap Alsyad, namun nampaknya Shanum tak menyadarinya. Wildan melihat itu dari sorot mata Shanum yang penuh kebahagiaan setiap kali membahas Alsyad.
Bersambung