NovelToon NovelToon
Modern God Of War

Modern God Of War

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:98.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anni Cewexsmaniz

Pada zaman Dinasti Han. Tepat di abad 202 SM terjadi peperangan yang disebut dengan pertempuran Gaixia. Pertempuran tersebut menjadi awal mula kekuasaan Dinasti Han.


Namun keajaiban terjadi. Putri dari panglima perang yang ikut andil dalam perang, justru berteleportasi ke zaman masa kini. Sebuah kejutan untuk seorang gadis bernama Yoona Larasati. Putri panglima perang tersebut, menjadikan tubuh asli Yoona Larasati untuk membalaskan dendam kepada orang-orang yang dulu menindas pemilik tubuh asli Yoona Larasati.


Seorang pria bernama Lee Anggara Davidson, begitu tertarik dengan Yoona Larasati yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Akankah keduanya bisa bersatu? Seorang putri panglima perang, bersama dengan seorang raja film yang begitu terkenal. Simak kisahnya, hanya disini😂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anni Cewexsmaniz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.

Aaron Atalarik menatap Airi Cyntia dengan sorot mata dingin. Wanita itu terus menempel padanya layaknya perangko. Aaron ingin sekali menghindar, tetapi permainan adalah permainan. Dia harus profesional.

"Tuan Aaron, saya tidak menyangka kita akan berpasangan," ujar Airi Cyntia dengan nada manja. Jemari lentiknya bermain di lengan Aaron.

"Permainan selanjutnya apa?" tanya Aaron tanpa menanggapi ucapan Airi. Matanya mencari-cari ke arah lain, berharap menemukan sosok Yoona.

Samuel Jo muncul dengan pengeras suara. "Permainan selanjutnya adalah tantangan menaiki wahana ekstrem! Setiap pasangan harus menaiki minimal tiga wahana yang berbeda. Kalian akan dinilai dari keberanian dan kekompakan!"

Airi Cyntia memekik kegirangan. "Ah, ini kesempatan untuk berdekatan dengan Tuan Aaron!"

Aaron hanya bisa menghela napas panjang. Dia melirik ke arah Yoona dan Lee Anggara yang kini berjalan bersama menuju roller coaster.

***

Yoona dan Lee Anggara sudah mengantri di barisan paling depan untuk menaiki roller coaster. Yoona tampak antusias, matanya berbinar menatap lintasan roller coaster yang berliku dan menukik tajam.

"Apakah ini aman?" tanya Yoona sambil mengamati rangkaian kereta yang bergerak cepat diiringi teriakan para penumpangnya.

Lee Anggara tersenyum. "Tentu saja aman. Atau Nona takut?"

Yoona mendengus. "Takut? Aku sudah menghadapi situasi yang jauh lebih berbahaya dari ini."

Lee Anggara mengernyitkan dahi, penasaran dengan maksud perkataan Yoona. Namun, sebelum ia sempat bertanya, giliran mereka sudah tiba.

"Silakan, Nona dan Tuan," kata petugas wahana sambil membukakan pintu.

Mereka duduk berdampingan. Lee Anggara membantu Yoona memasang sabuk pengaman.

"Pegangan yang kuat," bisik Lee Anggara. Tangannya secara naluriah memegang tangan Yoona.

Yoona tersentak merasakan sentuhan tangan Lee Anggara, tapi dia tidak menepisnya. Entah mengapa, sentuhan ini terasa berbeda.

Kereta mulai bergerak perlahan mendaki lintasan pertama. Yoona merasakan jantungnya berdegup kencang, antara penasaran dan antisipasi. Ketika kereta mencapai puncak tertinggi, ia bisa melihat seluruh area taman bermain.

"Bersiaplah…" Lee Anggara tersenyum penuh arti.

Detik berikutnya, kereta meluncur dengan kecepatan tinggi. Angin kencang menerpa wajah mereka. Yoona secara refleks menjerit, bukan karena takut, melainkan karena sensasi menggelitik di perutnya. Lee Anggara tertawa melihat ekspresi Yoona yang bercampur aduk.

"Bagaimana?" tanya Lee Anggara di tengah-tengah lintasan yang berkelok-kelok.

"Luar biasa!" teriak Yoona dengan penuh semangat. Tangannya yang semula menggenggam erat pegangan, kini diangkat tinggi-tinggi, menikmati sensasi terbang.

Lee Anggara terperangah. Wanita di sampingnya ini benar-benar berbeda. Di saat kebanyakan orang, terutama wanita, akan ketakutan dan menjerit histeris, Yoona justru tampak menikmatinya. Ada keberanian yang luar biasa dalam diri gadis itu.

Ketika roller coaster akhirnya berhenti, wajah Yoona berseri-seri. Rambutnya sedikit berantakan, tapi tidak mengurangi kecantikannya.

"Itu tadi sangat menyenangkan! Ayo kita coba lagi!" seru Yoona dengan antusias.

Lee Anggara terkekeh. "Kita masih harus mencoba wahana lain, Nona Yoona. Bagaimana dengan tornado? Itu wahana yang berputar-putar di udara."

Mata Yoona semakin berbinar. "Ayo!"

Sementara mereka berjalan menuju wahana berikutnya, kamera tim variety show terus mengikuti. Samuel Jo tersenyum puas melihat chemistry yang muncul di antara kedua bintang tamunya.

***

Di tempat lain, Aaron Atalarik terpaksa mengikuti keinginan Airi Cyntia untuk menaiki wahana kincir ria terlebih dahulu.

"Aku tidak suka wahana yang terlalu menantang, Tuan Aaron. Kincir ria lebih romantis, bukan?" rengek Airi.

Aaron hanya tersenyum tipis, berusaha tetap profesional. "Terserah Anda saja, Nona Airi."

Mereka menaiki bilik kincir ria. Pemandangan dari atas memang indah, tapi Aaron merasa tidak nyaman dengan segala tingkah laku Airi yang terus berusaha menarik perhatiannya.

"Ah, lihat itu! Yoona dan Lee Anggara sedang menaiki tornado!" seru Aaron secara tidak sadar saat melihat ke bawah.

Airi Cyntia langsung merengut. "Kenapa Tuan Aaron memperhatikan mereka? Apakah Tuan tertarik dengan gadis biasa seperti Yoona?"

Aaron menoleh, menatap Airi dengan tatapan datar. "Nona Yoona bukanlah gadis biasa. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya."

"Berbeda bagaimana? Dia hanya beruntung mendapatkan kesempatan di variety show ini," ucap Airi dengan nada mencibir.

Aaron menggeleng pelan. "Justru keberadaan Andalah yang membuktikan bahwa dia istimewa. Nona Yoona tidak memerlukan gaun mewah atau make up tebal untuk menarik perhatian. Kepribadiannya lah yang membuat semua orang tertarik."

Airi terdiam, matanya menyipit tidak suka. "Jadi Tuan Aaron juga tertarik padanya?"

"Saya hanya mengatakan fakta," jawab Aaron diplomatis.

Bilik kincir ria bergerak turun secara perlahan. Aaron merasa lega karena segera terbebas dari situasi canggung ini.

***

Setelah menaiki tornado, Yoona dan Lee Anggara beristirahat sejenak di sebuah bangku taman. Wajah Yoona berseri-seri, tampak sangat menikmati permainan.

"Nona Yoona, Anda sangat menyukai wahana ekstrem ya?" tanya Lee Anggara sambil menyodorkan sebotol air mineral.

Yoona menerima botol itu dengan senyuman. "Terima kasih. Ya, ini pertama kalinya saya mencoba wahana-wahana seperti ini. Rasanya... bebas."

"Pertama kali? Anda belum pernah ke taman bermain sebelumnya?"

Yoona terdiam sejenak. "Saya... tidak memiliki banyak kesempatan untuk bersenang-senang seperti ini."

Lee Anggara menatap Yoona lekat-lekat. Ada kesedihan yang tersirat di balik kata-katanya. Dia ingin bertanya lebih jauh, namun urung karena merasa belum waktunya.

"Nona Yoona, boleh saya tahu mengapa Anda bisa begitu ahli dalam bela diri? Tadi Anda memelintir tangan Tuan Aaron dengan sangat profesional."

Yoona tersenyum tipis. "Saya harus bisa melindungi diri, Tuan Lee. Dunia tidak selalu ramah pada wanita."

"Siapa yang mengajari Anda?"

"Kakek saya. Dia seorang mantan tentara," jawab Yoona singkat.

Lee Anggara mengangguk paham. "Anda gadis yang luar biasa, Nona Yoona."

Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang tersalur dalam pandangan itu. Keduanya tersenyum.

"Ayo kita coba wahana yang terakhir," ajak Lee Anggara sambil bangkit dari bangku.

"Wahana apa lagi yang menarik?" tanya Yoona.

"Bagaimana dengan rumah hantu? Itu tidak ekstrem, tapi cukup menantang dengan cara yang berbeda."

Yoona tertawa kecil. "Hantu? Apakah itu bisa lebih menakutkan dari manusia?"

Lee Anggara terkekeh. "Nona Yoona, Anda benar-benar berbeda."

Mereka berjalan bersama menuju rumah hantu. Tanpa mereka sadari, Aaron Atalarik memperhatikan mereka dari kejauhan, dengan sorot mata yang sulit diartikan.

***

Di rumah hantu, situasi menjadi gelap dan mencekam. Suara-suara menyeramkan terdengar dari berbagai penjuru. Yoona berjalan dengan tenang, sementara Lee Anggara berjaga di sampingnya.

"Anda tidak takut, Nona Yoona?" tanya Lee Anggara saat mereka melewati lorong dengan pencahayaan minim.

"Kenapa harus takut pada sesuatu yang tidak nyata?" jawab Yoona.

Tiba-tiba, sosok menyeramkan muncul dari balik tembok. Lee Anggara tersentak kaget, sementara Yoona hanya mengangkat alisnya.

"Kostumnya bagus," komentar Yoona datar, membuat pemeran hantu tersebut terlihat kecewa.

Lee Anggara tertawa. "Anda benar-benar tidak bisa ditakuti, ya?"

Mereka melanjutkan perjalanan. Di salah satu tikungan, Yoona tidak sengaja menabrak seseorang.

"Maaf," ucap Yoona.

"Nona Yoona?" Suara yang familiar terdengar.

"Tuan Aaron?" Yoona mencoba memastikan dalam kegelapan.

Aaron Atalarik berdiri di hadapannya, tanpa kehadiran Airi Cyntia.

"Di mana pasangan Anda?" tanya Lee Anggara dengan nada curiga.

Aaron menghela napas. "Nona Airi ketakutan dan berlari keluar."

"Dan Anda membiarkannya?" Yoona bertanya dengan nada tidak percaya.

"Dia yang meminta saya untuk tetap melanjutkan. Dia bilang akan menunggu di luar. Bagaimana jika kita keluar bersama?" jawab Aaron.

Lee Anggara melirik Yoona, meminta pendapatnya. Yoona mengangguk setuju. Mereka bertiga berjalan bersama menuju pintu keluar. Sepanjang jalan, Aaron mencoba memulai percakapan dengan Yoona.

"Nona Yoona, saya minta maaf atas kejadian tadi. Saya tidak bermaksud bersikap tidak sopan," ucap Aaron dengan tulus.

"Tidak apa-apa, Tuan Aaron. Saya juga minta maaf telah melukai Anda," balas Yoona.

"Sebaliknya, saya yang harus berterima kasih. Anda mengajarkan saya pelajaran berharga tentang menghormati batasan orang lain."

Lee Anggara menyimak percakapan mereka dengan seksama. Dia bisa merasakan ketertarikan Aaron pada Yoona, dan entah mengapa, hal itu membuatnya merasa tidak nyaman.

Ketika mereka sampai di pintu keluar, Airi Cyntia sudah menunggu dengan wajah masam. Matanya melebar melihat Aaron bersama Yoona dan Lee Anggara.

"Tuan Aaron! Mengapa Anda bersama mereka?" protes Airi.

"Kami tidak sengaja bertemu di dalam, Nona Airi," jawab Aaron tenang.

Sutradara Samuel Jo menghampiri mereka dengan kamera yang menyala. "Ah, semuanya sudah berkumpul! Bagaimana permainannya? Menyenangkan?"

"Sangat menyenangkan!" jawab Yoona dengan tulus. Lee Anggara mengangguk setuju.

"Tuan Aaron, bagaimana menurut Anda?" tanya Samuel Jo.

Aaron tersenyum tipis. "Pengalaman yang tidak terlupakan."

"Baiklah, sekarang kita akan melanjutkan dengan permainan terakhir untuk hari ini," umumnya Samuel Jo. "Permainan terakhir adalah dinner date! Kalian akan makan malam bersama pasangan kalian sambil menjawab beberapa pertanyaan dari kartu yang kami sediakan."

"Dinner date dengan Tuan Aaron! Sempurna!" Airi Cyntia membatin. Wajahnya langsung cerah.

Lee Anggara melirik Yoona yang tampak tenang menerima pengumuman tersebut. "Siap untuk makan malam bersama saya, Nona Yoona?"

Yoona tersenyum. "Tentu, Tuan Lee."

Samuel Jo mengumpulkan semua pasangan. "Mari kita pindah ke restoran yang sudah kami siapkan. Disana kalian akan menjalani dinner date yang romantis!"

Mereka semua berjalan menuju restoran yang berada tidak jauh dari taman bermain. Restoran itu telah dihias dengan nuansa romantis. Lilin-lilin kecil, bunga segar, dan pencahayaan yang temaram menciptakan suasana intim.

"Silakan duduk di meja yang telah kami siapkan," instruksi Samuel Jo.

Setiap pasangan menempati meja masing-masing. Yoona dan Lee Anggara mendapat meja di dekat jendela dengan pemandangan taman bermain yang gemerlap di malam hari.

"Pemandangannya indah," komentar Yoona saat melihat keluar jendela.

"Tidak seindah orang yang duduk di hadapan saya saat ini," balas Lee Anggara dengan suara pelan.

Yoona tersentak, tidak menyangka akan mendapat pujian semacam itu. Rona merah tipis menyapu pipinya.

Di meja lain, Aaron dan Airi duduk dalam keheningan yang canggung. Aaron terus melirik ke arah Yoona dan Lee Anggara.

"Tuan Aaron, apakah Anda mendengarkan saya?" Airi merengut, merasa diabaikan.

"Ah, maaf. Anda mengatakan apa tadi, Nona Airi?" Aaron kembali fokus pada lawan bicaranya.

Samuel Jo membagikan kartu pertanyaan pada setiap meja. "Silakan ambil kartu-kartu ini secara bergantian dan jawab pertanyaannya dengan jujur."

Yoona mengambil kartu pertama. "Apa hal pertama yang Anda perhatikan dari pasangan Anda?"

Lee Anggara tersenyum. "Mata Anda. Ada ketegasan dan keberanian di sana, tapi juga ada kelembutan yang tersembunyi."

Yoona terdiam, terkejut dengan jawaban yang dalam.

"Bagaimana dengan Anda, Nona Yoona?" tanya Lee Anggara.

"Senyuman Anda," jawab Yoona. "Tulus dan menenangkan."

Lee Anggara mengambil kartu berikutnya. "Apa yang paling Anda takuti dalam hidup?"

Yoona terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. "Saya takut... tidak bisa melindungi orang-orang yang saya sayangi."

Lee Anggara menatap Yoona dengan tatapan penuh arti. Ada kisah di balik jawaban itu.

"Saya takut kehilangan kebebasan. "Kebebasan untuk memilih jalan hidup saya sendiri," jawab Lee Anggara.

Mereka saling menatap, menemukan kesamaan dalam ketakutan masing-masing. Di meja Aaron dan Airi, suasana tidak seharmonis itu.

"Apa yang membuat Anda tertarik pada lawan jenis?" Airi membaca pertanyaan di kartu.

"Kemandirian dan ketulusan," jawab Aaron singkat.

"Ah, saya pikir Anda akan mengatakan kecantikan," komentar Airi.

"Kecantikan fisik akan memudar seiring waktu, Nona Airi. Yang bertahan adalah karakter."

Airi terdiam, tidak tahu harus merespons bagaimana. Malam semakin larut. Setelah sesi tanya jawab selesai, Samuel Jo kembali mengumpulkan semua pasangan.

"Terima kasih atas partisipasi kalian hari ini! Syuting untuk hari ini selesai. Besok kita akan melanjutkan dengan tantangan baru. Selamat beristirahat!"

Para bintang tamu mulai bersiap untuk pulang. Lee Anggara menawarkan diri untuk mengantar Yoona.

"Nona Yoona, boleh saya mengantar Anda pulang?"

Sebelum Yoona sempat menjawab, Aaron Atalarik mendekati mereka.

"Nona Yoona, bisa kita bicara sebentar?" tanya Aaron.

Lee Anggara menatap Aaron dengan tatapan tajam. "Nona Yoona akan pulang bersamaku."

"Saya hanya ingin bicara sebentar, Tuan Lee. Tidak akan lama," Aaron berusaha meyakinkan.

Yoona melihat ketegangan di antara kedua pria itu. "Baiklah, Tuan Aaron. Lima menit."

Lee Anggara mengangguk, meskipun tidak rela. "Saya akan menunggu di luar."

Aaron membawa Yoona ke sudut restoran yang lebih privat.

"Ada apa, Tuan Aaron?" tanya Yoona langsung.

"Saya ingin meminta maaf sekali lagi atas kejadian tadi," ucap Aaron. "Dan saya ingin bertanya... apakah Anda dan Tuan Lee..."

"Kami hanya rekan kerja," potong Yoona cepat.

Aaron tersenyum. "Begitu rupanya. Nona Yoona, saya tertarik pada Anda. Bolehkah saya mengenal Anda lebih dekat?"

Yoona terkejut dengan pengakuan blak-blakan itu. "Tuan Aaron, saya..."

"Anda tidak perlu menjawab sekarang," Aaron tersenyum. "Saya hanya ingin Anda tahu."

Yoona mengangguk pelan. "Saya harus pergi sekarang. Tuan Lee menunggu."

"Tentu. Sampai jumpa besok, Nona Yoona."

Yoona berjalan keluar restoran dan menemui Lee Anggara yang sudah menunggu dengan mobil sportnya.

"Apa yang dia inginkan?" tanya Lee Anggara begitu Yoona masuk ke dalam mobil.

"Tidak ada. Hanya meminta maaf," jawab Yoona, memutuskan untuk tidak menceritakan seluruhnya.

Lee Anggara memandang Yoona sejenak sebelum menyalakan mesin mobilnya. "Nona Yoona, Anda wanita yang luar biasa. Hari ini sangat menyenangkan bagi saya."

Yoona tersenyum. "Bagi saya juga, Tuan Lee."

Mobil melaju meninggalkan area taman bermain. Di kejauhan, Aaron Atalarik memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan penuh tekad.

"Nona Yoona Larasati," gumam Aaron. "Kita akan bertemu lagi besok."

Sementara itu, di dalam mobil mewahnya, Airi Cyntia meremas-remas saputangannya dengan kesal.

"Apa yang dilihat mereka dari gadis biasa seperti Yoona?" gerutunya. "Aku harus melakukan sesuatu."

Mobil-mobil itu menghilang di kegelapan malam, masing-masing dengan pemikiran dan perasaan yang berbeda. Minggu kedua syuting variety show telah usai, tapi kisah di antara mereka baru saja dimulai.

1
Al^Grizzly🐨
Maaf baru baca..tapi yang aku tahu dan semua orang di dunia pastinya juga tahu...termasuk authornya...kalau nama tiongkok kuno itu tdak ada nama larasati...yoona memang ada sih...tapi ada nama Klan di depan...contohnya Han Yoona....
Sun Yoona...Cheng Yoona...Song Yoona...bukan Yoona Larasati...apa itu..walaupun hanya cerita fantasy...tapi sesuaikan juga nama nya thor...hahah...Yg aku tahu kalau yg mengubah nama itu hanya nama artis atau aktor film atau penyanyi...aneh dan kurang berkesan.
Amar arjuna
ke nya seru ni
Seranita Nyit Nyit
🤣🤣🤣
Sri Aisyah
dewaperang suruh sembunyi biasanya ada di garis depan saat perang jiwa perang yoona meronta ronta😂😂😂😋
amelco
dewa perang suruh nyanyi apa kata anak buah nya dialam sana ☺️☺️☺️
AbC Home
sebenarnya lebih bagus klo negara dan kota di buat inisial aja.
entah bagaimana ini jd berasa ngk sreg gitu maaf cuman komen tp alur sampe sini ok
R@3f@d lov3😘
seruuuu 😁😁 dan menarik 😍😍
R@3f@d lov3😘
menarik 🤨🤨
Maya 😇
crazy up thor ☝️💪🥳
Putri Arista
krezy up thor
Erlan Toraja
sering sering up ya thor cerita.x sru😁
Emyl Ros Telaumbanua
aku jg sampai lupa akak ini cerita terakhir bacanya gmn 🤣🤣🤣😂
Siti Sukma
sampek lupa thor ak sama ceritanya😅
Ryani
akhirnya up jg
Numa_ni😊
semoga lancar updatean nya🤗🤗
Erlan Toraja
lanjut up🤩
Emyl Ros Telaumbanua
mampus kau satria Hermawan rasain itu sombong sih.itu akibatnya klo dah keterlaluan
Emyl Ros Telaumbanua
itu pasti si Sintya yg lakuin itu Krn cmn dia yg GK suka sama Yoona dan juga satria Hermawan.
siti fatimah
bagus yoona
Ryani
crazy up donk ka'
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!