Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEPENGGAL KISAH
Setelah mendapat pemeriksaan menyeluruh dan dinyatakan membaik, akhirnya Vea diijinkan untuk pindah ke ruang perawatan. Mila dan Takeshi masih menemaninya di sana karena orang tua Vea belum datang.
Drttt... Drttt... Drrrttt...
Ponsel Mila terus bergetar. Sebuah panggilan masuk menanti untuk di angkat.
"Hallo Sayang!" Mila mengangkat telepon di ponselnya.
"Hallo, Ma. Mama di mana. Kita lagi nungguin di meja makan." suara Ken dari seberang membuka ingatannya. Tadi Mila dan Takeshi lupa memberi tahu jika mereka pergi ke rumah sakit.
"Astagfirullah, mama sampai lupa tadi nggak kasih kabar ke kamu Sayang. Mama sekarang masih di rumah sakit. Kalian makan saja duluan," ucap Mila menyadari kealpaannya.
"Ke rumah sakit? Sama papa, ya? Kenapa malem-malem? Nggak besok pagi aja sih, Ma!" seru Kenzo.
"Bukan... Bukan nemenin papa. Tadi Om Richard minta tolong... tut... tut..." panggilan terputus karena batere ponsel Ken habis.
"Yah, mati deh!" seru Mila.
"Siapa Ma?" tanya Takeshi penasaran.
"Ken yang telepon, Pa. Dia nungguin kita untuk makan malam."
"Terus Mama udah bilang kalau suruh mereka makan duluan aja?"
"Udah, Pa. Waktu mama mau bilang kalau kita nungguin Vea di sini, telepon Ken keburu mati. Mungkin habis baterenya."
"Apa sih yang dikerjain anak itu sampai ponsel aja lupa ngecas?" Takeshi menggeleng.
"Kayak Papa enggak gitu juga. Kalau bukan mama yang ngecas juga ponsel Papa habis batere. Mana suka naruh sembarangan." gerutu Mila.
"Iya, juga sih. Untung istriku ini selalu bisa diandalkan." Takeshi mencium kening Mila lembut.
Vea hanya pura-pura tidur. Sebenarnya dari tadi dia mendengar dan melihat semuanya. Kepalanya masih terasa berat sehingga membuatnya malas untuk mengobrol. Tulang belulangnya juga terasa sangat ngilu dan tubuhnya lemas tak bertenaga.
Bayangkan wajah Ken terus menari-nari di pelupuk matanya. Dia semakin tidak bisa melupakannya. Vea merasa sebal dan ingin berteriak ketika dia tidak bisa mendapatkan keinginannya. Tapi dia ragu, apakah Ken bisa memaafkannya dan bersikap manis seperti dulu.
Vea tahu, rasa tertekan dan emosi yang tidak stabil akan memperparah penyakitnya. Dia harus bisa mengendalikan dirinya. Semakin sakit akan membuatnya semakin sulit untuk mendapatkan Ken kembali.
"Uhukk.. uhukk...!" Vea terbatuk. Tenggorokannya terasa kering. Mungkin efek samping obat yang dia minum.
"Kamu mau minum, Sayang?" Mila berjalan menghampirinya.
"Iya, Ma. Maaf Tante, maksud saya." Vea berpura-pura salah menyebut untuk meraih perhatian Mila.
"Kamu boleh kok, panggil tante, mama. Tante nggak keberatan," ucap Mila sambil menuangkan minum untuk Vea.
"Terimakasih, Ma. Kalau tahu mama baik begini mungkin dulu aku nggak akan sembunyi-sembunyi pacaran sama Ken. Maaf, Ma, aku pikir mama dulu itu galak orangnya." Vea menundukkan wajahnya yang memerah.
"Hahaha... Kamu lucu sekali, Sayang. Mana ada mama galak. Jadi kalian dulu pacaran? Pantes Ken dulu seneng banget kalau mau ketemu kamu." Mila terkekeh.
"Iya, Ma. Tapi hanya beberapa bulan saja. Habis itu..." Vea menggantung kalimatnya.
"Apa yang terjadi Sayang? Apa kalian bertengkar?" tanya Mila penasaran dengan kisah masa lalu Vea dan putranya.
Vea menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya. Wajahnya terlihat sedih. Mungkin untuk kali ini dia harus jujur.
"Vea memutuskan Ken secara sepihak, Ma. Itu terpaksa Vea lakukan karena Vea tahu tentang penyakit Vea. Vea benar-benar nggak bisa berpikir jernih saat itu. Yang ada di pikiran Vea hanya pergi jauh dan menikmati sisa umur Vea yang mungkin tidak akan lama lagi." Vea terisak saat mengingat saat-saat terburuk baginya itu. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Vea untuk bangkit dan bersahabat dengan rasa sakitnya.
Mila memeluk Vea erat. Dia berusaha untuk menenangkannya. Mila tidak bisa mengatakan apa-apa untuk masalah ini. Baginya, Ken sudah dewasa. Dia tahu bagaimana harus bersikap dan memecahkan masalahnya.
"Sudah, jangan bersedih. Kamu masih bisa menganggap mama seperti mama kamu meskipun kamu nggak bersama lagi sama Ken. Mungkin kalian nggak ditakdirkan untuk berjodoh."
Mereka masih saling berpelukan. Vea semakin memperdalam tangisannya ketika merasakan belaian lembut Mila. Hatinya terasa sakit oleh siksaan penyesalan yang terus menderanya.
"Hei, momen apa ini? Apa yang sudah aku lewatkan?" suara Dena menghentikan keharuan antara Vea dan Mila.
"Dena! Apa kabar?" Mila melepaskan Vea dan berbalik memeluk Dena.
Di sudut lain Takeshi dan Richard juga berbincang hangat khas pria. Mereka punya cara yang berbeda untuk menyambut teman lama. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, hanya suara tawa mereka yang sesekali terdengar.
"Kabar baik teman. Terimakasih sudah menjaga putriku. Maaf dia sedikit manja dan sangat merepotkan," ucap Dena.
"Siapa bilang? Dia sangat manis. Kamu tahu, dia sekarang memanggilku mama," celoteh Mila merasa senang.
"Hei, jangan senang dulu. Dia banyak maunya. Hati-hati saja, dia akan membuatmu naik darah melihat kenakalan yang dia buat!" seru Dena.
"No... no... no... Anak mama Mila nggak seperti itu. Bener kan Sayang?" Mila mengedipkan sebelah matanya pada Vea.
"Tau tuh, Ma. Mama Dena seperti mama tiri aja sama anaknya!" Vea manyun karena merasa tak terima dengan ucapan Dena.
"Uluh... uluh... Sayangnya mama ngambek." Dena memeluk putri kesayangannya itu dan menghadiahinya dengan ciuman beruntun.
Mereka mengobrol beberapa saat lalu makan malam di sana. Richard membawa beberapa masakan Jepang dan Eropa. Dia tahu Takeshi menyukai masakan negara asalnya dan selalu memakannya setiap hari.
Takeshi dan Mila memutuskan untuk pulang malam itu. Mereka sudah lega setelah melihat keadaan Vea mulai membaik. Ada satu hal yang mengganggu pikiran Mila. Sepertinya Vea masih menyimpan perasaan pada Ken.
"Kenapa Mama melamun?" tanya Takeshi yang sedari tadi mengamati Mila.
"Eh, nggak kok, Pa. Mama hanya kepikiran omongan Vea tadi," ucap Mila.
"Omongan yang mana, Ma?" Takeshi mengerutkan dahinya.
Mila menatap Takeshi dalam. Mungkin dia tidak harus memikirkannya sendiri. Takeshi harus tahu apa yang mengusik hatinya.
"Ternyata sebelum pindah ke Amerika. Vea dan Ken pernah berpacaran. Mama merasa Vea masih menyimpan perasaan pada Ken. Sepertinya hidup Ken akan semakin rumit setelah ini," ungkap Mila.
"Mama jangan terlalu banyak berpikir. Ken sudah dewasa. Kita do'akan saja agar rumah tangganya baik-baik saja. Bea hanya masa lalu. Apapun alasannya, Vea nggak bisa mempermainkan perasaan Ken. Aku nggak akan bersimpati padanya jika dia berbuat salah, meskipun dia anak sahabatku," ucap Takeshi mencoba memberi pengertian pada Mila.
"Tapi Vea sedang sakit, Pa. Aku nggak tega melihatnya bersedih." Mila merasa gelisah mengingat penyakit Vea.
"Jangan karena Mama di panggil 'mama' oleh Vea hati Mama menjadi lemah! Papa nggak setuju Ken berhubungan lagi dengan Vea. Apalagi sering bertemu dengannya," ucap Takeshi tegas.
"Bukannya tadi Papa yang bilang sama Vea kalau Ken harus merawatnya dengan baik?" tanya Mila.
"Itu sebelum papa Tahu kalau mereka pernah berpacaran. Sekarang papa berubah pikiran."
Mila tidak berbicara lagi. Dia tahu bagaimana sifat Takeshi. Di balik kelembutannya dia merupakan pribadi yang tegas.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo