Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.
Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.
Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.
~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
Suasana semakin panas ....
"Kok TV-nya mati, Mas?"
"Listrik padam, tuh AC-nya juga mati."
"Pantesan panas, gerah."
"Nah, kamu ganti baju aja dulu. Di rumah ga usah pake jilbab kan ga apa-apa."
"Hehehe, iya lupa."
***
Selain sebuah restoran di kota, Tante Ruri punya banyak properti rumah dan kebun bahkan ada yang di luar pulau. Dia tinggal berpindah-pindah. Kebetulan saat Dharma telepon dengan alasan ingin mengunjungi tempat tinggalnya saat kecil dulu, Tante Ruri sedang berada di sana.
Setelah mengantarkan Nirmala ke rumah orangtuanya, Dharma memulai perjalanan menuju ke rumah Tante Ruri dari stasiun pukul 21:56 WIB. Dengan menggunakan kereta Jayabaya, sepanjang perjalanan dia lebih banyak tidur dengan bersandar tasnya hingga tiba di Stasiun Gubeng sekitar pukul 00:35 WIB.
Transit beberapa jam menunggu jadwal kereta, selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menggunakan kereta Probowangi. Kali ini perjalanan diiringi hujan deras, sesekali Dharma mengerdipkan mata saat memperhatikan gumpalan air menetes di kaca yang mulai berwarna abu-abu sebelahnya.
Dharma tiba di kota tujuan jam enam pagi, tetapi rumah tantenya masih jauh. Berbeda dengan dulu, biasanya Dharma meneruskan perjalanan dengan kereta api dan turun di stasiun yang sudah dekat dengan rumah Tante Ruri. Namun sayang, karena stasiun tersebut sudah tidak aktif maka pilihan transportasi berikutnya hanyalah ojek online. Lokasi rumah tante berada di sekitar hutan di Gunung G*m*t*r sudah jarang sekali dilewati oleh transportasi umum, apalagi pada jam seperti ini. Sebuah keberuntungan bagi Dharma, sepagi ini dengan mudah mendapatkan mobil transportasi online untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi setelah negosiasi ulang dengan sopir akhirnya disepakati biaya tambahan karena sopir tersebut tidak mau rugi jika perjalanan pulangnya nanti tanpa penumpang. Hal ini berarti Dharma harus menambahkan biaya lagi.
"Sejak kapan stasiunnya tidak aktif, Mas?" tanya Dharma setelah beberapa menit mobil berjalan.
"Sejak 2014, Pak. Kalau tidak salah bulan Juni. Tidak ada lagi kereta api reguler yang berhenti normal di stasiun itu, kecuali jika terjadi persilangan."
"Sayang sekali ya." Membuka tas ransel kecilnya untuk mencari powerbank.
"Sekarang hanya melayani pemberhentian lori wisata, biasanya beroperasi setiap akhir pekan dan hari libur nasional."
Din!
Din!
Beberapa kali sang sopir menyalip kendaraan di depan. Meski jauh dari perumahan penduduk, sepanjang jalan ini cukup padat dengan kendaraan besar, seperti bus antar kota dan truk-truk angkutan barang.
"Oh, begitu. Berarti terowongannya masih ya?"
"Iya, Pak. Dua-duanya masih. Memang bangunan zaman dulu kuat-kuat."
"Panjang sekali lho itu. Hampir 700 meter kan yang di sebelah timur?"
"Betul, yang barat cuma 113 meter."
"Lintasan kereta dan terowongan menembus gunung. Warisan Belanda sejak 1902 itu memang luar biasa. Pantas saja sekarang dipakai wisata."
"Iya, Staatsspoorwegen. Termasuk jalan raya ini lho, Pak. Dulu buatan penjajah itu."
"Tapi tenaganya orang Indonesia."
"Yaaa, itulah kejamnya jaman penjajahan. Kerja rodi."
"Ini nanti lewat tikungan Watu Gudang berarti?" tanya Dharma.
"Tentu, belum ada jalur lain. Pembangunan Jalur Lintas Selatan belum sampai ke sini."
"Hat-hati ya, Mas."
"Tenang saja, Pak. Sudah terbiasa."
Dharma bisa merasa tenang melihat sang sopir sudah sangat lincah berkelok-kelok menyusuri tepian gunung. Puncak teratas dari jalan raya ini dikenal dengan nama Watu Gudang. Dinamai demikian karena di sini terdapat batu raksasa --diibaratkan ukurannya sebesar gudang-- yang harus dihancurkan bagian tengahnya agar batu tersebut dapat dilewati oleh jalan raya.
Walaupun jalannya terbilang mulus jalur ini cukup rawan karena memiliki banyak tikungan tajam dan tanjakan sedangkan di kanan kiri jalan adalah hutan belukar dan kawasan perkebunan. Gunung G*m*t*r sendiri sejak zaman baheula dipilih sebagai jalur pintas penghubung antar kabupaten karena memiliki ketinggian paling rendah di antara deretan pegunungan lain yang ada di sisi utara dan selatan. Selain itu jalur ini juga terpendek meski medannya berbahaya.
"Jam segini masih berkabut ya?"
"Iya, tadi malam kan hujan deras. Biasanya ada yang longsor, tapi sepertinya lalu lintas pagi ini lancar."
Dharma menikmati pemandangan bukit-bukit hijau yang tertutupi kabut tebal mulai tampak tersinari matahari. Dia merasa sangat familiar dengan pemandangan ini, seakan memutar kembali kenangan masa kecilnya.
"Gunung Ini ketinggiannya berapa ya?"
"Sekitar 620 mpdl."
"Yang katanya ada gua Jepang mana sih? Aku lupa."
"Wah, sudah terlewat barusan. Dulu serdadu Dai Nippon membangunnya untuk mengawasi jalur kereta api. Ukurannya cuma 8x6 meter kok," tutur sang sopir tanpa kehilangan konsentrasi mengemudinya.
"Wah, udah kelewat ya."
"Oh, iya. Daerah yang Bapak tuju ini dulu terkenal tempat pembuangan jenazah anggota PKI lho, tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Kadang sampai bertumpuk-tumpuk."
"Sering dengar juga sih cerita itu waktu saya SD."
Keluar dari jalan raya utama yang menurun sebelum memasuki perbatasan ke Banyuwangi sekarang mobil itu melewati akses menuju perkebunan kopi. Jalannya cukup becek dan tampak beberapa sisa aspal yang rusak parah dan bercampur tanah.
"Sebentar lagi sampai, Pak. Daerah ini sepi sekali ...."
"Iya. Itu yang ada gerbang di sebelah sana," ucap Dharma setelah memperhatikan sekeliling.
Mobil itu kemudian memasuki gerbang yang tampak kurang terawat dan banyak ditumbuhi tanaman rambat yang liar. Beberapa puluh meter kemudian mulai tampak sebuah rumah.
Dak!
"Simpan saja kembaliannya, Mas Litho!" kata Dharma melalui celah kaca mobil yang terbuka.
"Wah ... terima kasih, Pak! Nomor saya sudah disimpan?"
"Sudah, nanti kalau saya mau pulang pasti saya hubungi."
"Baik, saya permisi dulu."
Din!
Din!
Dharma melambaikan tangan kepada Litho yang telah memutar mobilnya kembali. Seketika hawa dingin pegunungan menyergap. Pemandangan di sekitar rumah pun masih terselimuti kabut.
"Selamat datang anakku ...," sambut Tante Ruri di teras.
Dharma hanya membalasnya dengan senyum, terbersit kengerian jika benar perkataan Obi bahwa tantenya ini terlibat pembunuhan berantai di beberapa kota. Terlebih lagi tentang usia tantenya yang mungkin sudah 100 tahunan, tetapi penampilannya tampak masih seperti wanita 30 tahun. Seandainya saja gaya rambut dan pakaian yang dikenakannya adalah tren saat ini pasti semua orang yang melihatnya akan tertipu.
Tante Ruri memeluknya seakan kekasih yang lama tak berjumpa. Dikecupnya pipi Dharma kanan dan kiri. Berdiri di pintu yang terbuka seorang pemuda bongsor berkacamata sedang menatap Dharma sambil mengelus cambang dan jenggotnya yang tak rapi. Tak salah lagi, dia pasti Tomi yang menemani Tante Ruri saat datang ke pernikahan Dharma.
"Ayo masuk ...." Menggandeng Dharma.
Dharma masih bernostalgia dengan rumah ini ketika Tante Ruri membawa Dharma masuk lebih dalam melewati ruang tamu.
"Wah, sudah datang. Pas banget masakannya baru matang," kata seorang wanita yang sedang menyiapkan berdiri dekat meja makan.
"Mika?" tanya Dharma keheranan.
"Kenapa, Mas? Lupa ya?"
"Ah, bukan begitu. Sepertinya waktu kecil dulu kamu gendut kok."
"Hmm gitu ya, baru ketemu udah ngejekin," protes Mika.
"Masih ingat kamarmu, kan? Apa perlu tante antar?"
"Masih kok, Tante. Saya taruh tas saya dulu ...."
"Iya, biar Mika siapin sarapan dulu."
Dharma memasuki sebuah kamar yang ditempatinya saat kecil dulu. Dilihatnya gambar-gambar coretan tangannya puluhan tahun lalu, ada secuil kenangan tentang kesepiannya selama ini. Dipandanginya seluruh sudut kamar tersebut. Tercium semerbak aroma pengharum ruangan. Tampaknya Tante Ruri sudah merapikan dan membersihkan kamar sebelum Dharma datang.
Dharma mengirim pesan ke gawai Nirmala bahwa sejak bertemu kembali dengan Tante Ruri dan anak-anaknya semua tampak normal, demikian juga dengan rumah ini, tak ada yang aneh. Sepertinya Obi telah salah sangka terhadap Tante Ruri. Tidak mungkin tante yang baik itu seorang pembunuh berantai.
(Bersambung)
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.