Warning 21+
Sekuel Virgin
Harap bijak dalam membaca..
Valerie Angelina Putri merupakan seorang gadis yang terlahir dari kalangan keluarga berada, dengan semua fasilitas yang ia miliki ia bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Dulu Valerie adalah gadis yang begitu lugu dan polos namun setelah mendapatkan kekecewaan yang begitu mendalam kini ia berubah menjadi sosok yang bertolak belakang dengan sebelumnya.
Sampai suatu hari ia di pertemukan kembali dengan sosok pria yang selama ini ia rindukan, namun situasi dan kondisi yang telah berubah membuat gadis itu membenci sosok yang ia rindukan itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah semua nya berubah?
Sambungan dari novel Virgin (true love)
#Slow update
#banyak typo
#alur sesuai isi otak othor
salam othor kecil 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah mengantarkan Friska, Alan melanjutkan perjalanannya menuju sebuah perusahaan atas perintah dari Ernan.
"Daddy.. untuk apa kau memanggil ku kesini?"
"Duduklah dulu, ada hal penting yang ingin Daddy bicarakan dengan mu."
Gadis itu menuruti apa yang di katakan Ernan, ia duduk di sebuah sofa dan menyilangkan kakinya sambil memainkan kuku jarinya. Seorang karyawan datang membawakan secangkir teh untuk Vale dan menaruhnya di atas meja.
"Masa kuliah mu akan segera berakhir, dan sudah saatnya untuk kamu terjun ke dunia bisnis." Ernan berjalan menghampiri putrinya.
"What? maksud Daddy aku harus ngikutin jejak Daddy gitu?"
"Hm, karena kamu putri satu-satunya Daddy jadi gak ada pilihan lain, dengan seiring berjalannya waktu Daddy pasti menua dan saatnya kamu mengambil alih semuanya."
"Haha.. jangan bercanda dadd, aku bahkan masih seorang hadis kecil yang gak tau apa-apa di tambah aku punya cafe yang harus aku kelola bagaimana bisa...." Ucapan Valeri terpotong.
"Masalah cafe itu bisa di atur, Daddy hanya ingin kamu meneruskan hasil jerih payah daddy selama ini."
"No.. itu salah aku gak bisa melakukannya."
"Jika kamu menolak dengan terpaksa Daddy akan menikahkan mu dengan Alan."
"Uhukkk..." Vale yang sedang meneguk teh nya langsung tersedak mendengar pernyataan itu.
"Itu bahkan lebih gila, aku hanya mencintai Elang dan hanya ingin menikah dengannya gak mau pria lain termasuk Alan."
"Itu artinya kamu menyetujui permintaan pertama Daddy, setelah lulus kuliah langsung terjun ke perusahaan, Alan sendiri yang akan mengajari mu."
"Terserah lah!"
Valeri beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan Ernan yang di susul langsung oleh Alan. "Bisa-bisanya Daddy melakukan ini sama anaknya sendiri, ini bahkan lebih kejam dari mommy yang menyuruhku hidup mandiri." Gumam Valeri yang kini telah duduk di sebuah mobil, ia menyuruh Alan untuk mengantarkan nya ke perusahaan El yang jarak nya memang tidak begitu jauh dari perusahaan Addison group.
Tap... tap... tap... langkah Valeri yang cukup cepat terdengar begitu jelas, beberapa orang karyawan membungkuk melihat kedatangan Vale ke perusahaan itu. Ceklek... sebuah pintu ruangan terbuka dan gadis itu pun bergegas masuk menghampiri pria yang cukup sibuk dengan pekerjaannya.
"Baby... kenapa gak bilang mau kesini? aku bisa menyuruh Beichen untuk menjemputmu."
"Aku hanya merindukan mu." Vale memeluk Elang dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang El.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi dengan mu?"
"Hm, Daddy selalu menekan ku untuk melakukan ini itu, kenapa rasanya sudah sekali untuk aku hidup dengan bebas?"
"Percayalah, apa yang dilakukan Daddy kamu pasti itu yang terbaik untuk kamu." Elang menangkup kedua pipi Vale dan melemparkan senyumannya.
"Duduklah, ayo ceritakan apa yang Daddy kamu bicarakan."
"Daddy menyuruhku untuk belajar mengelola perusahaan, dan kamu tau sendiri itu sangatlah tidak mudah aku masih kecil dan jika aku menolak Daddy akan menikahkan aku dengan Alan."
"Apa? menikah dengan Alan?" El membulatkan matanya tersentak kaget dengan apa yang di katakan gadisnya.
Vale hanya mengangguk.
"Kamu tenang ya, aku akan membantu mu." El mengusap kepala Vale dan menyandarkan nya di bahunya sesekali ia mengecup pucuk kepala gadis itu.
**
"Mama... pokoknya aku ingin kembali, sudah cukup lama kita disini." Rengek seorang gadis kecil pada sang mama.
"Ian.. lihatlah kelakuan anak mu sungguh pusing aku di buatnya." Carla memijat keningnya.
"Kenapa lagi dengan kalian hm?" Ian duduk di samping putrinya.
"Aku mau kembali ke Beijing, bukankah urusan papa disini sudah selesai?" Xena memanyunkan bibirnya.
"Baiklah, besok kita kembali tapi ingat jangan buat masalah dengan siapapun disana, papa sudah bosan mengurus perpindahan sekolah kamu."
"Siap tuan Ian, Xena yang imut ini berjanji dengan sepenuh hati akan menjadi gadis baik."
Hari dimana perpindahan keluarga Ian dan Carla pun tiba, kini mereka telah sampai di sebuah bandara di kota asalnya. Sebelum tiba di rumahnya, dengan sengaja mereka mampir ke rumah Ernan untuk melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu terlebih Xena yang begitu merindukan Valeri dan satu orang lainnya.
Secara kebetulan mobil yang di kemudikan sopir Ian bertemu dengan mobil yang di kemudikan olah Alan, keduanya memarkirkan mobil di depan rumah Ernan secara bersampingan.
Alan keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Valeri, begitu juga dengan Xena yang keluar dari mobilnya. Melihat orang yang ia rindukan membuat Xena berteriak dan berlari ke arah Vale dan juga Alan.
"Kak Vale...." Xena langsung memeluk Vale dengan begitu erat sampai terasa sesak.
"Hey kau! lepaskan, kau bisa membunuh ku." Vale mencoba melepaskan pelukan Xena yang menempel di tubuhnya.
"Hoho... maafin aku kakak." Xena melepaskan pelukannya sambil cengengesan.
"Eehhh... apa kau kak Alan? si handsome boy itu?"
"Hm, kau masih mengingat ku?"
"Woahh tentu saja, aku bahkan merindukan mu." Xena kini bergantian memeluk Alan.
Di dalam sebuah ruangan tamu terlihat dua keluarga yang sedang berkumpul dan berbincang dengan begitu asik dan melepas rindu satu sama lain.
"Ma, pa, bolehkan aku tinggal disini untuk beberapa hari? aku ingin bermain dengan kak Vale dan juga kak Alan."
"Besok kau harus sekolah di sekolah baru mu, gak ada main-main."
"Oh ayolah ma, hanya dua hari aja ok? setelah itu aku sekolah janji deh." Xena mengacungkan jari telunjuk dan jadi tengahnya.
"Ayo kak kita jalan-jalan." Xena menarik tangan Alan dan masuk kedalam sebuah mobil.
"Hey Xena!! dasar gadis itu selalu berbuat seenaknya." Carla yang telah pusing dengan kelakuan putri nya hanya bisa pasrah.
"Gak beda jauh sama kelakuan kakak nya." Sambung Vanya melirik Vale.
"Hehe.. aku ke kamar dulu bye semua." Vale melarikan diri masuk kedalam kamarnya.
Didalam sebuah mall, Xena berjalan dengan menggandeng tangan Alan layaknya orang pacaran, satu demi satu ia masuki dan akhirnya terhenti di sebuah arena permainan, dengan lincah Xena memainkan semua permainan di temani oleh Alan sampai yang terakhir Alan memainkan sebuah boneka capit hingga akhirnya ia berhasil mendapatkannya dan memberikan pada Xena.
"Uwaahhh kakak hebat." Xena berteriak kegirangan dan bertepuk tangan.
"Ah iya kak, aku lapar boleh kita makan?"
"Oke, mau makan apa?"
"Apa aja yang menurut kakak enak."
"Baiklah ayo."
Di sebuah tempat makan ponsel Alan berdering, ia segera menerima panggilan tersebut yang tak lain adalah dari sang kekasih.
"Kamu dimana?" Tanya Friska dalam sambungan telponnya.
"Aku lagi diluar, kenapa?"
"Dengan siapa? bisakah kita bertemu?"
"Maaf sepertinya tidak bisa sekarang, aku cukup sibuk."
"Baiklah, aku tutup dulu telponnya maaf sudah menganggu."
Friska yang berada di tempat yang sama hanya bisa melihat keberadaan Alan dari jauh, "sibuk ya?" ia tersenyum miris dan segera pergi dari tempat itu.
***
Bersambung. . .
sukses
semangat
mksh