Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJELANG MALAM PERTAMA
Malam yang dingin itu Pelangi lewatkan bersama dengan Andrew di sebuah kafe cake yang terkenal di tengah kota. Setelah menghabiskan dua potong croissant dan dua cangkir cokelat panas, Pelangi akhirnya mengaku pada Andrew tentang pernikahan yang baru saja Gilang lakukan.
Rasanya sulit sekali menyimpan rahasia besar itu seorang diri. apalagi saat ini hatinya sedang terluka, ia butuh bicara pada seseorang agar beban yang mengimpit dadanya tidak terlalu berat.
Pelangi menatap keluar kafe melalui jendela kaca besar yang ada di sampingnya. Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Membuat Pelangi mau tidak mau memikirkan malam pertama yang Gilang lakukan dengan Gisel.
"Cuacanya bagus sekali untuk pengantin baru," ucap Pelangi.
Andrew mengaduk cokelat panasnya, lalu menyeruputnya sedikit. "Malam ini bukan malam pertama mereka. Mereka sudah sering melakukannya."
Pelangi beralih memandang Andrew. "Aku tahu. Tapi, kenapa Anda tidak terkejut mendengar kabar dariku bahwa mereka telah menikah."
Andrew mengedikkan bahu. "Entahlah. Mereka berdua pasangan yang keras kepala. Sebenarnya aku sudah menduga hal itu sebelumnya."
"Oh, begitu. Jadi, apa pendapat Anda? Haruskah kita memberitahu Pak Farhan?"
"Tidak usah. Karena biar bagaimanapun, kamu tetap menantu resmi di keluarga Andreas. Terserah Gisel mau berbuat apa." Andrew mengakhiri ucapannya, lalu berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Sudah mau pulang?" tanya Pelangi.
"Kamu tidak mau pulang? Mau di sini terus bersamaku? Atau kita ke hotel saja." Andrew menggoda Pelangi seperti biasanya.
Wajah Pelangi merona saat mendengar ucapan Andrew. Ia segera bangkit berdiri dan berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
Andrew tertawa, lalu menyusul Pelangi yang sekarang sudah berada di luar kafe.
***
Gilang membanting satu per satu pintu kamar yang ada di lantai atas rumah ayahnya saat ia tidak dapat menemukan Pelangi di mana pun.
Beberapa waktu lalu, ketika Pelangi memilih untuk pulang seorang diri, Gilang memutuskan untuk menyusul Pelangi ke lobi. Ia lupa memberi Pelangi ongkos untuk membayar taksi. Akan tetapi, Gilang tidak menemukan Pelangi di lobi, sementara saat itu hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
Gilang menjadi khawatir, takut jika sesuatu yang buruk menimpa Pelangi. Bukan karena ia peduli, tetapi karena Pelangi adalah kesayangan ayahnya. Jika Pelangi sampai kenapa-kenapa, Gilang pasti akan menjadi sasaran amukan Farhan Andreas.
Gilang kembali ke apartemen Gisel untuk mengambil kunci mobil. Walaupun Gisel sempat melarang dan marah padanya, Gilang tidak peduli. Baginya keselamatan Pelangi adalah hal yang utama saat itu. Maka, dengan terburu-buru ia berlari menuju basement dan mengendarai mobilnya menuju halte terdekat. Namun, lagi-lagi ia tidak menemukan Pelangi di sana. Maka, ia melanjutkan perjalanan menuju rumah ayahnya, barangkali Pelangi sudah tiba di sana.
"Apa yang kamu cari, Gilang?" tanya Toni yang sejak tadi mengekor di belakang Gilang.
Beberapa jam yang lalu, Toni memang datang ke kediaman Farhan Andreas untuk mengecek keadaan Pelangi sesuai permintaan sang pemilik rumah, karena pria tua itu sedang tidak berada di rumah. Akan tetapi, saat Toni tidak menemukan Pelangi di dalam kamarnya, ia mulai berpikir mungkin Pelangi sedang keluar dengan Gilang.
Itulah sebabnya ia terlihat bingung melihat kekalutan Gilang.
"Bukannya dia pergi denganmu?" tanya Toni, masih mengekor langkah Gilang yang sekarang menuju lantai bawah.
"Iya memang tadi dia bersamaku. Tapi dia pergi dan--"
Gilang menghentikan ucapannya saat tiba di lantai bawah. Pelangi terlihat berdiri di ambang pintu bersama dengan Andrew. Rambut gadis itu basah, dan ia mengenakan sweater milik Andrew yang terlihat longgar di tubuh langsingnya.
Pelangi menatap Gilang untuk sesaat, lalu membuang muka dan kembali menatap Andrew yang berdiri di sampingnya. "Trims, Pak, sudah mengantarkanku pulang dan mentraktirku cokelat panas."
Andrew mengangguk. "Tidak masalah, mari kita lakukan lagi kapan-kapan. Tentu saja jika kamu tidak keberatan."
"Tentu. Aku tidak keberatan." Pelangi tersenyum.
"Oh, iya, aku hampir lupa. Tunggu sebentar." Andrew memukul dahinya, lalu berlari ke halaman di mana mobilnya terparkir. Tidak lama kemudian, pria itu kembali dengan membawa pakaian Pelangi yang basah di tangannya. Tidak ketinggalan bra milik Pelangi.
Gilang yang melihat tali bra Pelangi menjuntai dari tangan Andrew seketika menjadi kesal. Apa yang sudah mereka lakukan, batin Gilang.
Sementara itu Pelangi terlihat malu, karena Andrew membawakan pakaiannya. "Maaf, merepotkan Anda," ujar Pelangi, sambil mengambil pakaiannya dari tangan Andrew.
Andrew tersenyum, senyum memikat seperti yang biasa ia tunjukan pada Pelangi. "Tidak masalah. Aku pulang dulu kalau begitu, Bye." Andrew mengusap puncak kepala Pelangi sebelum keluar dari rumah mewah itu.
Tanpa sadar, Pelangi melambai dan menatap kepergian Andrew hingga mobil pria itu menghilang di balik pagar.
Gilang yang sejak tadi berusaha untuk menahan emosi, langsung menghampiri Pelangi dan menarik lengan gadis itu dengan kasar. "Apa yang barusan? Adegan romance dari pasangan selingkuh?"
"Selingkuh?" Pelangi menepis tangan Gilang dari lengannya. "Apa tidak salah?" Pelangi balik bertanya dengan nada sengit.
Gilang mundur selangkah menjauhi Pelangi, ia sadar bahwa dirinya sudah keterlaluan. Pelangi bukan siapa-siapa baginya, untuk apa ia peduli pada apa yang gadis itu lakukan. Hanya saja ia sedikit kesal, kenapa harus Andrew!
"Oke, sori, lakukan sesukamu." Gilang kemudian melangkah keluar dari rumah megah itu, menghampiri mobilnya yang terparkir di garasi, dan kemudian melaju dengan cepat menuju rumahnya sendiri.
***
Sinar matahari yang hangat menyapa Pelangi melalui jendela kamar yang tirainya tidak tertutup rapat. Ia menggeliat sejenak, lalu bangkit sambil mengucek mata.
"Hola, Nona, happy wedding day," teriak seorang desainer yang semalam membantu Pelangi saat melakukan fitting gaun pernikahan.
"Memangnya ini sudah pagi?" tanya Pelangi sambil celingukan, kesadarannya masih belum sepenuhnya kembali.
"Tentu, Nona. Pengantin pria bahkan sudah siap. Hanya Anda yang belum siap sama sekali." Si desainer menggerutu, lalu menarik selimut yang masih bergelung di bawah kaki Pelangi. "Bergegaslah mandi, sebentar lagi MUA-nya datang."
Pelangi mengangguk dan buru-buru turun dari ranjang. Namun ia kemudian terpaku di tempat saat melihat Gilang tengah duduk di sofa yang ada di tengah ruangan.
Pria itu terlihat luar biasa dengan setelan formalnya. Tuxedo berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja berwarna putih dan dasi kupu-kupu membuat penampilan Gilang seperti pangeran-pangeran di dalam buku dongeng. Rambut cokelatnya disisir rapi ke belakang, terlihat mengilap dan elegan.
Gilang yang menyadari bahwa Pelangi sedang memperhatikan nya, mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang sejak tadi ia pandangi. "Ada apa? Cepat mandi sana!" titah Gilang, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Pelangi menghela napas, berusaha kembali berpijak pada kenyataan bahwa Gilang adalah sesuatu yang paling tidak mungkin untuk ia miliki.
Setelah satu jam lebih bergumul dengan gaun, tudung pengantin, Make-up, sepatu dan lainnya, akhirnya Pelangi siap.
Kali ini giliran Gilang yang terpesona pada penampilan Pelangi. Namun, ia segera menghalau perasaan itu. Bagaimanapun juga Gisel adalah cinta sejatinya, sedangkan Pelangi hanyalah alat yang ia gunakan agar ayahnya berhenti memojokkan Gisel. Lagi pula, ia sudah berjanji pada warga di daerah tempat Pelangi tinggal, bahwa ia akan mempertanggungjawabkan apa yang telah ia dan Pelangi lakukan di rumah gadis itu beberapa minggu yang lalu. Walaupun hingga sekarang, Gilang merasa tidak pernah menyentuh apalagi menggoda gadis itu.
***
Pesta yang dipersiapkan oleh Farhan Andreas bukanlah pesta sederhana. Melainkan pesta besar yang dihadiri oleh tamu-tamu terhormat dari kalangan menengah atas.
Pelangi merasa beruntung, karena tidak ada satu pun rekan kerjanya yang menghadiri pesta meriah itu, sehingga ia merasa sedikit lebih rileks. Padahal sejak tadi ia merasa tegang. Takut jika ada yang mengenali dirinya.
Suasana hatinya yang mendadak bagus, membuat Pelangi tanpa sadar menyunggingkan senyuman. Senyum manis itu pun tidak luput dari perhatian Gilang.
"Sedang merencanakan sesuatu?" bisik Gilang, membuat Pelangi terkejut.
"Tidak," jawab Pelangi, singkat.
"Senyum licikmu itu menandakan bahwa kamu sedang merencanakan sesuatu, Merah kuning hijau di langit yang biru!" Gilang sengaja ingin membuat Pelangi kesal, karena semalam Pelangi telah berani bepergian dengan Andrew tanpa sepengetahuannya.
Pelangi memiringkan kepalanya dan mendongak agar dapat menatap langsung ke dalam mata Gilang. "Aku hanya tersenyum. Apa itu salah?"
Gilang mengedikkan bahu. "Tentu salah. Aku sedang menderita di sini, dan kamu malah tersenyum. Apa kamu puas sekarang, karena telah berhasil menikah denganku?" Lagi, Gilang melontarkan kata-kata yang dapat membuat Pelangi kesal.
Saat Pelangi tidak menjawab, Gilang melanjutkan. "Tunggu saja setelah pesta ini usai. Aku akan memberikan semuanya yang kamu inginkan."
"Maksudnya?" tanya Pelangi, dengan bingung.
"Apa yang membuatmu menjebakku selain hartaku?"
"Menjebak! Aku tidak menjebak Anda!" Wajah Pelangi merah karena amarah sekarang , tidak peduli saat itu mereka sedang berada di pelaminan. Enak saja Gilang menuduhnya yang bukan-bukan.
Gilang berdecak kesal, mengabaikan perkataan Pelangi. "Aku tahu kalau kamu tertarik padaku bukan hanya karena hartaku, tetapi karena aku, karena parasku. Kamu menyukai parasku, Pelangi, benar kan? Maka, akan kuizinkan kamu menguasai tubuhku sepenuhnya setelah pesta ini." Bisikan Gilang terdengar parau di telinga Pelangi. Membuat gadis itu merinding dan mulai membayangkan hal yang tidak-tidak, termasuk malam pertamanya dengan Gilang.
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️