Zyta. Sherlyzyta Mezzaluna menyukai Adam. Kakak kelasnya sejak menengah pertama. Zyta yang termasuk gadis pendiam tak tau apa yang harus dilakukannya saat perasaan asing dan baru pertama kali dirasakannya kepada Adam.
Ingin mendekat tapi tak tau caranya dan hanya dapat melihat dari kejauhan.
Bertahun-tahun berlalu, rasa itu masih ada. Melekat kuat bagaikan prangko pada kertas surat.Waktu yang lalu dan waktu yang sekarang telah berubah. Kata orang bagai langit dan bumi. Terlihat dekat namun jauh. Seolah mudah tergapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 : Not Important Explanation
Happay Raeadiang~~
! : Be care the typo
📋Not Important Explanation
Sejak kepergian Zyta dari ruangan yang diperuntukan untuk mendiskusikan masalah keluarga. Nenek terus menundukkan kepalanya dan menangis.
Eldan dan beberapa pelayan yang mengikuti nenek berusaha menenangkan nenek dan saat akan memanggil anggota keluarga yang lain nenek menolaknya.
"Nenek, sudah. Jangan menangis lagi. Eldan tak suka melihatnya,"
Nenek tersenyum mendengarnya. Mendengar Eldan mengkhawatirkannya membuat hatinya menjadi sedikit tenang.
"Terima kasih, Eldan. Untung saja tadi Zyta tak membawamu pergi juga," ujar nenek memegang tangan Eldan yang menangkup salah satu tangannya.
"Nenek,"
"Aku tidak apa-apa. Zyta yang seperti itu sudah kuduga sebelumnya jadi kau tak perlu khawatir,"
"Apa nenek mau aku yang berbicara pada mbak Zyta," nenek menggelengkan kepalanya menolak.
"Benar apa yang dikatakan tuan muda Eldan, nyonya. Bukankah lebih baik tuan muda Eldan membantu anda menjelaskan pada nona muda?"
Nenek kembali menggelengkan kepalanya dan menghapus airmatanya yang terus keluar. Hatinya kembali berdenyut tak nyaman ketika mengingat Zyta.
"Tidak perlu. Ini masalahku dengannya. Lebih baik sekarang kalian membantuku kembali ke kamar," ujar nenek berdiri dari duduknya dibantu Eldan yang pelayan jika dilihat dari wajahnya adalah orang Jepang dan cara bicaranya yang masih kaku.
Mereka memapah nenek keluar dari ruangan dan Eldan terkejut saat melihat paman dan bibi Zyta sudah berada didepan pintu.
"Bagaimana?" tanya kakek Zyta membuat Eldan meneguk ludahnya saat kakek Zyta melihatnya.
"Iya, ibu. Kami mendengar teriakan Zyta dan keluar dengan wajah marahnya," ujar paman Zyta yang Eldan ingat adalah paman pertama Zyta artinya adik pertama ayah Zyta.
Nenek menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, "Aku ingin kembali ke kamarku dan beristirahat,"
Mereka mengangguk dan mengambil alih tubuh nenek lalu memapahnya kembali ke kamarnya.
Eldan diam ditempatnya karena itu sudah bukan urusannya jadi ia tidak bisa dengan sembarang ikut campur. Eldan bingung sebenarnya ada apa dengan keluarga Zyta.
Terlihat sangat harmonis tapi sebenarnya tidak, begitukah? Dan kakek Zyta tadi juga tidak terlihat sekejam biasanya. Sebenarnya ada ada?
"Tuan muda Eldan. Terima kasih sudah membantu menenangkan nyonya besar," ujar pelayan tersebut yang ternyata belum pergi dan membungkukkan badan hormat.
"Akh! Jangan memanggilku tuan muda. Aku bukan anggota keluarga. Paggil saja Eldan dan tidak perlu membungkuk seperti itu, bibi," pelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Nyonya besar sudah memberikan anda pin phoenix, itu artinya tuan muda sudah menjadi anggota keluarga,"
Eldan mengerutkan dahinya bingung. Menjadi anggota keluarga? "Maksudnya?"
Pelayan itu hanya tersenyum dan pamit undur diri. Eldan tak berani mencegah pelayan itu pergi dan memberikannya penjelasan tapi biarlah. Jika ada waktu ia akan menanyakannya.
📋📋📋📋📋
Zyta sudah mengganti gaunnya dengan pakaian yang baru. Ia duduk termenung diatas kasur. Bertunangan dengan Eldan lalu menikahi pria itu. Menikah dengan Eldan dan hidup bahagia dengan pria itu adalah mimpi Zyta selama ini.
Tapi, ini berbeda dengan cerita yang selalu Zyta impikan. Ia tidak bisa menikah dengan Eldan. Kakek dan keluarganya pasti akan menentangnya jika mereka tau siapa Eldan sebenarnya.
Dan jika mereka tau maka Zyta tidak akan segera dikirim ke Jepang dan untuk selamanya akan tinggal disana. Lebih parahnya ia akan dinikahkan paksa dengan pria yang tak dikenalnya.
Zyta menggelengkan kepalanya tak ingin. Zyta menutup wajahnya. Hatinya sejak tadi berdenyut sakit. Ia tidak ingin seperti ini. Ini diluar kendalinya.
Seharusnya ia tidak membawa Eldan kemari. Ia benar-benar menyesalinya sekarang. Zyta menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Ia menangis.
Bukan seperti ini keinginannya. Bukan. Ia tak tau harus melakukan apa sekarang. Ia gelisah dan kebingungan.
Tok! Tok!
"Zyta? Kamu didalam? Ini ayah,"
Zyta tak mengacuhkannya dan tetap diam diposisinya.
"Zy...,"
"Tuan, maaf jika saya lancang tapi tadi nona muda berpesan jik tidak ingin ganggu siapapun termasuk anda dan tuan besar dan kemungkinan nona muda sudah tidur sekarang karena sejak kembali ke kamar dan berganti pakain nona muda langsung tidur,"
"Begitukah? Baiklah kalau begitu. Sampaikan padanya kalau aku kemari,"
"Iya, tuan,"
Tok! Tok! Tok!
Sreekk...
"Nona muda, tuan sudah pergi. Seperti dugaan nona, tuan akan kemari," ujar pelayan Zyta.
Zyta menganggukkan kepalanya, "Hmmm...,"
"Apa nona muda membutuhkan sesuatu?"
"Tidak. Kau bisa kembali. Aku ingin benar-benar beristirahat sekarang," ujar Zyta membalikkan tubuhnya membelakangi pintu dan menatap keluar kamarnya.
"Baik, nona muda. Selamat malam," ujar pelayan tersebut undur diri dan mematikan lampu kamar Zyta dan menggantikannya dengan lampu tidur.
"Ya, selamat malam," balas Zyta saat pelayan itu sudah keluar dari kamarnya.
Zyta menutup matanya dan kembali menagis. Ia meringkuk seperti bayi. Hatinya terus berdenyut nyeri. Ia ketakutan dan kebingungan. Ia bingung memikirkan bagaimana nasib Eldan jika mereka ketahuan. Ia takut jika kakeknya akan melakukan hal buruk pada Eldan. Ia tidak ingin Eldan kenapa-kenapa hanya kerena dirinya.
📋📋📋📋📋
Sejak pagi tadi, Zyta terus saja mengurung dirinya didalam kamar. Seluruh anggota keluarga berusaha membuju Zyta untuk keluar kamarnya.
Mereka khawatir dengan Zyta. Bahkan makanan yang diantarkanpun tak disentuh sedikitpun oleh Zyta dan dibiarkan tergeletak utuh didepan kamarnya.
"Zyta, sayang. Ini ibu. Ayo buka keluar dulu. Kamu belum makan sejak pagi tadi bahkan makan siangpun juga. Jadi, ayo Zyta buka pintunya,"
Zyta yang mendengar suara ibunya hanya diam meringkuk diatas kasur. Sejak pagi tadi, Zyta menuggu salah satu anggota keluarga untuk menjelaskan kejadian kemarin tapi tidak ada satupun yang mau menjelaskan padanya.
"Biar aku aja, tante,"
Suara Eldan terdengar dari luar kamar membuat Zyta yang tadi memejamkan matanya kembali membukanya.
"Aduh.. makasih ya Eldan. Tolong bujuk Zyta buat keluar kamar, ya. Dia mengunci kamarnya dari dalam,"
Suara langkah kaki menjauh membuat Zyta menghembuskan napasnya panjang saat ibunya pergi. Sekarang tinggal Eldan yang pasti tengah berdiri didepan kamarnya. Ia hanya perlu diam tak menjawab saat Eldan berbicara nanti dan pasti pria itu akan pergi dengan sendirinya.
Setelah menunggu cukup lama tetapi Zyta tak mendengar suara apapun dari luar membuatnya bangun dari tidur dan melihat kearah pintu. Tidak ada siluet tubuh disana.
Lalu, kemana laki-laki itu pergi? Batin Zyta.
Bruk!!
"Terima kasih,"
Zyta mengerutkan dahinya saat mendengar suara Eldan yang berasal dari taman diluar.
Zyta beranjak dari kasurnya dan sedikit membuka pintu taman. Disana Zyta mendapati Eldan dengan nampan ditangannya. Zyta segera menutup kembali pintu tersebut.
Sialnya! Pintu taman taman disetiap kamar tidak memiliki kunci tak terkecuali kamar Zyta.
"Mbak? Mbak Zyta?"
Sreekk...
Zyta mematung ditempatnya saat Eldan membuka pintu dan tersenyum padanya.
"Aku bawa makanan," ujar Eldan menunjuk makanan yang dibawanya dengan mengangkatnya sedikit.
Zyta hanya melihatnya sekilas lalu kembali menatap Eldan.
Tidak! Tidak! Zyta belum sanggup bertemu dengan Eldan sekarang tetapi laki-laki itu malah datang kekamarnya dengan makanan ditangannya dan senyum tanpa dosanya seolah-olah tak terjadi apapun malam kemarin.
'Sungguh sial!' batin Zyta.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡
5 ⭐⭐⭐⭐⭐
bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA