NovelToon NovelToon
OH MY LORD

OH MY LORD

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:153.2k
Nilai: 5
Nama Author: laplusbelle

Summer Rindu Mahawira adalah bungsu dari empat bersaudara. Meninggalkan Indonesia menjadi pemberontak di keluarga Mahawira. Melepaskan impian Adyuta Mahawira, papanya dan menjalani hidup sebagai seniman.

Sementara ada Jason Cyrus Udayana sahabat kakak ketiganya Sean Alexi Mahawira yang tidak lelah mengejar Summer.

Kemudian di New York Summer bertetangga dengan pria berwajah mirip dengan Nicholas Saputra.

Selalu ada drama !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laplusbelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Little Girl

“Hiver, sapi itu warnanya coklat bukan pink.” ucap Summer lembut kepada gadis kecil berusia 3 tahun sebulan yang lalu. Hiver mewarisi bakatnya,

yakni melukis. Hanya saja Hiver suka bereksperimen dengan warna.

“Cantik, ma. Sapi berwarna pink.” Hiver terus menggoreskan pencil warnanya. Tidak menggubris protes sang mama.

Summer hanya mengelengkan kepala namun tetap berada di samping putrinya.

Membesarkan Marjorie Hiver sebagai single parent tidaklah susah bagi Summer. Ia menikmati setiap proses tumbuh anak gadis yang memiliki manik mata seperti Finlay. Hiver juga tidak cengeng seperti anak lainnya, dia jarang

menangis, merengek. Kemungkinan besar karena darah bangsawan mengalir dalam tubuh gadis kecil itu.

Pembawaannya tenang seperti Finlay, namun ketika tertawa persis sang ayah. Hidup dan terkadang jahil.

“Ma, biarkan Hiver ikut dengan River ke Lyon.” Pinta anaknya dengan mata memelas sembari menyodorkan gambarnya kepada Summer.

Ibu muda itu pura-pura memeriksa gambar Hiver, sapi berwarna pink di perkebunan.

“Mama, tolong dengarkan Hiver.” Gadis kecil itu menarik dress mamanya.

Summer memberikan nilai 80 di sudut bawah gambar sapi berwarna merah jambu lalu melirik anaknya.

“Bukankah mama sudah katakan jika Hiver ingin berkunjung ke rumah kakak River, mama tidak ikut. Hanya Hiver yang pergi. Mama tidak masalah

jika Hiver benar-benar bisa hidup tanpa mama. Hiver harus  mandiri, bisa mandi, ganti baju tanpa dibantu orang lain. Apalagi dengan Mami Isla.”

Hiver mengangguk dengan antusias, mata hijaunya melebar senang “Iya ma. Hiver bisa mandiri. Hiver tidak nangis cari mama.”

Summer memegang pipi anaknya “Tapi mama pasti kesepian.” Ucapnya pelan

Hiver memeluk tubuh Summer dengan tangan kecilnya, ia lalu mendongak “Ada Louie, Ines dan Solange menemani mama. Please mama, Hiver ingin ke kebun binatang dengan River. Di telepon River sudah berjanji, ma.”

Summer menatap anaknya penuh kasih, ia tahu jika bukan hanya sekali ini saja River mengajak Hiver ke Lyon. Hampir setiap kali anaknya berbicara di telepon dengan triplet.

Kaia sendiri hanya selisih kurang setahun

dengan Hiver. 2 bulan setelah kelahiran Hiver, sahabatnya kembali hamil anak yang keempat.

Triplet beserta Kaia sering berkunjung ke Pulau

Porquerolles, tentu saja bersama kedua orang tuanya. Demi persahabatan mereka, Adrien membuat hellipad untuk helicopter yang tak jauh dari kediaman Summer. Tidak perlu menggunakan ferry untuk sampai di pulau layaknya para penduduk maupun wisatawan yang datang berkunjung.

Summer mengembuskan napas dengan bibir terlipat.

“Sekali lagi berjanjilah kepada mama, jika Hiver tidak akan merepotkan Mami Isla dan Papi Rien. Tidak bertengkar dengan kakak Orion, River,

Autumm dan adek Kaia.” Summer menaikkan kelingkingnya.

Sambil memamerkan gigi rapi dan kecil Hiver kemudian menautkan tangan kecilnya “Hiver janji mama.” ucapnya lalu naik ke pangkuan Summer. Tangannya melingkar di leher sang mama.

“Mama juga harus berjanji akan mengurus Coco dan Mersia.” Rayu Hiver dengan wajah sangat menggemaskan

Summer tertawa kecil “Iya, mama janji akan mengurus Coco dan Mersia. Sekarang kita lihat mereka.”

Hiver berteriak girang lalu bergegas turun dari pangkuan mamanya. Gadis kecil itu pun menarik tangan Summer menuju bagian belakang

rumah. Satu ruangan dibangun khusus untuk Coco dan Mersia.

“Halo Coco, Mersia.” Seru Hiver kepada kedua kelincinya.

Melihat kedatangan majikan cantiknya, dua peliharaan gemuk Hiver mendekat demi dua wortel yang sangat menggoda.

“Ma, boleh tidak aku membawa Coco dan Mersia ?” tanya Hiver mendongak menatap mamanya. Summer menelengkan kepala.

“Tidak boleh, sayang. kau akan asyik bermain dengan Kakak River. Biar mama yang mengurus Coco dan Mersia.”

Manik hijau itu menyipit “Hiver sedih meninggalkan Coco dan Mersia.” Lirihnya memeluk Coco.

Summer tersenyum geli akan perubahan mood anaknya.

“Adik Coco dan Mersia akan sehat di sini, kakak Hiver bermain sampai puas di Lyon.” bujuknya penuh kasih

Bayi berusia 15 bulan itu sangat menggemaskan di mata Finlay. Prince Philip of Mersia. Anak dari Riley dan Nadine. Sebelum melaksanakan tugasnya sebagai raja dari Mersia, ia selalu menyempatkan diri untuk singgah di kastil

adiknya.

Philip menjadi alasan utama, bermain selama setengah jam sudah memberikan semangat tersendiri bagi raja muda itu. King Robert Finlay

of Mersia telah menduduki tahta selama 25 bulan. Menentang tradisi.

Ya, sang raja masih sendiri dan tetap setia kepada istrinya yang telah menghilang selama 3 tahun 7 bulan. Pun rakyat bisa menerima kekurangan

Finlay malah makin mencintai sang raja karena kesetiaannya yang tidak terbatas.

Kesendirian membuatnya sebagai raja yang paling diminati oleh putri dari kerajaan- kerajaan di Eropa. Finlay tidak goyah, walau dewan kehormatan kerajaan tidak hentinya untuk menghelat pesta dalam rangka mempertemukan dengan putri-putri itu.

Hubungan dengan Madgalena berujung tidak baik, setelah Finlay memberikan keterangan di depan

media bahwa tidak ada yang spesial di antara mereka. Selang tiga bulan setelah itu, Magdalena menikah. Finlay tidak hadir ke pesta teman kuliahnya.

“Yang Mulia sudah sarapan ?” tanya Riley kepada kakaknya yang sedang asyik bermain dengan Philip. Sekilas Finlay memandang Riley. Adik

satu-satunya telah rapi dengan suit berwarna navy.

“Apa kau tidak punya pertanyaan yang lain, Iley ? Tiap aku datang kau selalu menanyakan hal itu. Tentu saja aku sudah sarapan. Bangun jam 5

pagi, olahraga sejam. Kemudian membersihkan tubuh, berpakaian dan sarapan.”

Riley tertawa “Seluruh anggota kerajaan pun tahu jadwalmu, Finnie. Aku hanya ingin memastikan lagi, sebagai adikmu dan ya orang terdekat yang bisa berbicara dengan Yang Mulia”

Finlay mengecup pipi montok Philip lalu menggendong bayi itu.

“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Iley. Aku tidak mungkin menjadi raja jika tidak bisa mengurus diriku. Sekarang jutaan rakyat hidup berkecukupan dan tidur nyenyak setiap malamnya berkatku.”

Riley menganggukkan kepala setuju akan perkataan kakaknya “Itu mengapa menjadi raja adalah Yang Terpilih sejak kandungan dan lahir. Seperti Philip, anakku ini akan meneruskan bisnis keluarga. Tapi yang kelak menjadi pewarismu

adalah dari keturunan Yang Mulia.”

Dua ibu muda yang cantik sedang berdiri mengamati tiga anak yang sejak bermain di bibir pantai. Mereka tak lain adalah Summer dan Isla.

Orion dan River datang bersama dengan sang mama untuk menjemput Hiver. Autumm dan Kaia memilih tinggal bersama Adrien di Lyon, walau waktu tempuh tidak sampai sejam dari kediaman mereka di Lyon ke Pulau Porquerolles.

“Hiver anak yang pintar, babe.” Isla menatap anak-anaknya yang akan berusia 5 tahun asyik bermain dengan Hiver. Mereka saling mengenal sejak Hiver masih bayi.

Summer mendesah pelan “Ini perpisahan kami yang pertama. Aku sangat berat melepasnya tapi anak itu terus memohon ingin mengunjungi rumah

kalian. Katanya jangan cuma River yang datang kesini. Aku juga kasihan dengan Hiver, hidupnya hanya seputaran pulau ini. Dia tidak pernah melihat kota.”

Isla merangkul sahabatnya “Selama lima hari ke depan Hiver akan melihat dan merasakan kehidupan kota.”

“Jangan lupa kebun binatang.” Sergah Summer melirik Isla

“Tentu saja itu, babe.” sahut Isla terkekeh.

Helaan napas panjang dari indera Isla ketika menatap Hiver. Ada iba muncul setiap melihat gadis kecil yang sebenarnya putri dari sebuah kerajaan.

“Dia harus mengenal Finlay, babe. Maksudku, alasanmu mengatakan papanya pergi berperang sangar tidak masuk akal. Berpura-pura mengirimkannya surat yang ditulis oleh supirmu, nanti juga akan ketahuan. Seperti aku katakan tadi, Hiver anak yang sangat cerdas. Lambat laun dengan bertambah usianya, Hiver akan tahu

jika mamanya selama ini berbohong.”

Summer termenung sesaat  “Aku tidak tahu, babe.”

Isla membalikkan badan hingga mereka berhadapan “Tidak tahu memulai ?”

“Sungguh aku tidak tahu. Aku telah memutus informasi tentang dirinya dan Mersia. Kau pun telah aku larang menceritakan kehidupan Lord

Finlay. Sangat aneh jika tiba-tiba aku datang setelah menghilang sekian lama dan menjulurkan Hiver. Ini anakmu, aku mengatakan seperti itu kepada seorang pewaris tahta..”

“Raja. Robert Finlay adalah raja Mersia, babe. Maaf aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menceritakan ini kepadamu.”

Tubuh Summer tersentak kaget “Raja.” Sahutnya membeo, suaranya parau bergetar.

“Ya. Beliau raja bijaksana dengan usianya yang masih sangat muda. Raja sebelumnya telah turun tahta dan memilih berpetualang dengan istrinya.”

Summer meraih tangan Isla “Tolong, jangan sampai Yang Mulia Raja Mersia tahu tentang Hiver. Aku tidak mau anakku dianggap rendah.” Ucap Summer dengan mata berkaca, wajahnya sendu.

“Aku bingung dengan pemikiranmu, Summer Rindu. Kau tidak bersama dengan mantan suamimu. Tidak pula memilih kembali kepada Finlay. Sekarang kau tidak mau Hiver kenal dengan ayah kandungnya. Robert Finlay adalah raja yang sangat bijaksana, tidak mungkin memungkiri Hiver. Darah dagingnya sendiri.”

Genggaman Summer menguat pada jemari Isla “Tolong, babe.”

Isla menelengkan kepala tidak percaya akan sifat keras kepala Summer “Pikirkan. Sebelum semuanya semakin kusut. Hiver akan tumbuh besar dan semakin banyak pula pertanyaan dilemparkan kepadamu. Bayangkan jika dia beranjak dewasa lalu mengetahui ayahnya adalah seorang raja dan selama usianya berbohong

tentang ayah palsu lewat surat. Hiver akan membencimu, babe. Dia bisa saja membuang diri, tidak pergi kepada Finlay pun tidak kembali kepadamu.”

“Oh Tuhan, babe. Jangan membebaniku dengan pemikiran seperti itu.”

Isla mengembuskan napas panjang dan menatap wajah sahabatnya.

“Tidak mungkin seorang tentara puluhan tahun di medan perang. Atau kau ingin bersandiwara ayahnya meninggal di Timur Tengah ? Jahat,

babe. Jika kau sedang menghukum dirimu, tolong jangan ikut menghancurkan hati anak secantik Hiver.”

Wajah berseri dari pria berambut keemasan menyambut tamu yang turun dari mobil sedan yang mengkilap. Sosok pria mengenakan suit beledu berwarna coklat, kemeja putih berkanji lengkap dengan dasi kupu-kupu dan bawahan senada.

“Selamat datang Yang Mulia.” Seru Adrien menyalami tamu kehormatannya. Sebuah jabat tangan yang erat kemudian keduanya saling berpelukan.

“Terima kasih sudah mengundangku, bro.” Finlay menepuk punggung sahabatnya.

Keduanya tertawa lepas ketika mengurai satu pelukan akrab.

“Aku tidak menyangka kau akan datang ke rumah kami yang sangat sederhana ini.” Adrien merendah dan mengarahkan Finlay memasuki

kediamannya.

Pandangan Finlay menyapu ruang tamu Adrien yang sangat luas “Ya jika boleh jujur, memang sangat sederhana untuk pria terkaya lima besar dunia. Kau harusnya memiliki istana seperti milik kami di Mersia.”

Adrien terbahak tawa lalu meninju lengan sahabatnya “Pestanya di belakang. Kami tidak mengundang siapapun kecuali keluarga besar kami. Seperti tiap tahunnya, ulang tahun triplet kami rayakan yah seperti ini.”

Finlay mengangguk dengan antusias “Pertama kali aku datang ke mansionmu, bro.”

Adrien mendengus ringan lalu tertawa kecil.

“Ya, sangat tidak adil. Aku sudah berkali-kali ke Mersia. Terakhir ketika kau naik tahta. Tapi aku sadar jika temanku seorang pewaris tahta,  dan sekarang adalah seorang raja, sangat sibuk.”

Finlay mengangkat bahu “Tidak ada yang istimewa bagiku. Orang terlahir dengan bermacam tugas di dunia. Ya, aku lahir di keluarga yang memiliki tugas untuk memimpin sebuah kerajaan. Ini adalah pekerjaan mulia.”

Pintu ganda yang terbuka mengarahkan ke taman belakang kediaman Adrien. Tidak lebih dari 30 orang di situ. Sahabatnya berkata jujur jika hanya keluarga inti di pesta ulang tahun anaknya.

Taman itu di hiasi berbagai macam balon dan pita yang semarak. Keluarga Adrien menyalami dan berbincang ala kadarnya, kemudian Finlay

diarahkan Adrien ke bagian meja yang berisi berbagai macam makanan.

“Kau tidak makan sesuatu.” Protes Adrien melihat Finlay memilih mengisi piring kecilnya dengan buah.

Finlay tersenyum tipis menatap Adrien “Jadwal makanku sangat teratur, bro. Kau tahu sendiri, sebagai raja.”

Adrien tertawa ringan “Maafkan aku, Yang Mulia.” Ucapkan melemparkan senyuman lebih lebar.

Keriuhan anak-anak menjadi perhatian Finlay, tampak triplet dan sepupunya berseru riang melihat pertunjukan sang pesulap yang berpakaian superhero.

“Aku dipanggil istriku, Yang Mulia.” Bisik Adrien

“Ya, aku bisa menunggu. Santai saja.” Menganggukkan kepala untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya.

“Ini rumahmu, bro. Jadi nikmatilah.” Adrien mengucap kata itu dan meninggalkan Finlay.

Pria bermanik hijau surai coklat itu kembali melayangkan pandangan kepada anak-anak yang duduk di kursi bercat putih dengan pita terikat

berwarna biru. Pertunjukan sang pesulap sangat menghipnotis para penontonnya.

Mata Finlay terpaku pada bagian kiri belakang. Tenda-tenda mini nan cantik berjumlah 4 buah dilengkapi meja dan karpet di depannya. Seorang gadis kecil, rambut di kepang dua tampak asyik dengan alat gambarnya.

Tanpa sadar tungkai kakinya berjalan mendekat kepada gadis kecil yang sangat cantik dengan dress berwarna merah.

Kedatangan Finlay tidak menganggu konsenstrasi si gadis kecil. Duduk di sebelahnya pun tidak menjeda goresan pencil warna di atas kertas.

“Sudah.” teriak polos itu membuat Finlay tersenyum lebar. Si gadis kecil menoleh menatapnya. Pandangan mata mereka bertemu. Jantung Finlay mendadak berdebar menatap raut si gadis kecil.

“Kenapa gadis cantik sepertimu tidak ikut menonton sulap.” Ucap Finlay melihat si gadis kecil itu dengan hati-hati membersihkan sisa pencil di atas kertas.

“Karena aku ingin memberikan hadiah ulang tahun kepada River. Ini adalah peliharanku, River sangat menyukainya.” Sahutnya riang memamerkan hasil karyanya kepada Finlay.

“Kamu pintar menggambar.” Puji Finlay

“Terima kasih.”

Finlay membantu si gadis kecil merapikan alat gambarnya.

“Sepertinya kau melupakan sesuatu gadis cantik.”

Tangan mungil itu berhenti memasukkan pencilnya ke dalam tempat, matanya melebar menatap Finlay.

“Aku melupakan apa ?” tanyanya dengan alis berkerut seolah memikirkan sesuatu yang penting.

Finlay terkekeh “Ini, biasanya seorang pelukis memberikan namanya di bawah. Sebagai bukti itu adalah hasil karyanya. Kau harus menulis

namamu.” tunjuknya di bagian bawah gambar kelinci

Gadis kecil itu menggelengkan kepala dengan kuat “Tidak paman. Aku tidak memberi namaku di gambar.”

“Kenapa ?” tanya Finlay

Gigi kecil itu dipamerkan sambil memandang Finlay “Karena mama juga tidak menulis nama di lukisannya.”

Jantung Finlay seketika berhenti berdetak. Ia lalu meraih tangan mungil si gadis berdress merah.

“Siapa namamu gadis cantik ?” suara Finlay bergetar dan serak.

Gadis kecil itu hanya tersenyum, ia tidak takut tangannya digenggam oleh sosok asing.

“Hiver.” Singkatnya dengan mata mengerjap dan tersenyum polos tanpa beban.

“Le Hiver ?” tanya Finlay menggunakan bahasa Perancis

Hiver menganggukkan kepala “Ya paman, Le Hiver. Musim dingin. Marjorie Hiver.”

“Tuhan !” pekik Finlay menggigit bibirnya dengan manik hijau berkaca.

“Paman ingin tahu kenapa namaku Hiver ?”

Finlay mengangguk “Katakan sayang.” ucapnya ingin memastikan.

“Karena mamaku namanya Summer.”

###

Hiver

and Daddy

1
Zuraida Zuraida
terlalu mencintai tersakiti, nasibmu camie. bersabar atau menjauh
Zuraida Zuraida
jason x sama anaknya summer ye 😁
Zuraida Zuraida
summer maunya palanya tu digeplak biar lurus, kesal akunya
Zuraida Zuraida
rindu dengan tingkah yang menjengkelkan
Zuraida Zuraida
mosok seorang calon raja tidak tahu kalau jason masuk ke negara mereka p, semoga sikei bisa membantu menjelaskan semuanya
Zuraida Zuraida
semoga jason tidak bisa membawa pergi rindu dari lord
Zuraida Zuraida
jangan jangan sadiknya silord ditipu lagi sana ceweknya yang gila
Zuraida Zuraida
ni mah ga sia sia summer dibawa kabur 😁
Nengah Suarni
gantengan jason tp thor buat dong summer bahagia dan sukses klo dg riley berteman aja deh
Yani
sad ending menguras emosi👍👍👍
Mamax Garissa
finney sungguh hatimu bijaksana
Mamax Garissa
KAI...👍
Wied Indah Widyastuti
judul nya mengingat kan sebuah lagu blues lawas dari bill w. salah satu lagu yang saya suka sekali. terima kasih untuk cerita menarik mu,bikin pengen ngebolang lagi☺️
Mamax Garissa
baru mampir Thor
Surati Mangundiharjo
cinta abadi yg butuh pengorbanan. salut sama Jason💕💕💕
L A
novel ini masih ada di favorit....
Tamat baca utk yg kedua kalinya ...
Dan tetap rinci baca dari tiap episode ....


Abis ini baca lagi Jace, Axel, Kai ...
Semangat author .... 🌹
Floleanne
bagooos bgt,,penghargaan tertinggi untuk para penulis brilian yg mmbuat kami para pembaca ,,mrasakan naik turun adrenalin kami smpi terbawa k khidupan nyata ,,,termenung mrasakan cinta yg besar,,ikut hanyut dlm sakit cinta yg mndalam,,mrasa rindu yg tak tergapaaiii❤️❤️
Ayu Axel
ne novel bagus banget gak nyesel aku baca nya... semangat ya thor🤗👍
Hesti Pramuni
D...
who are you..?
D...
D...
D...
mm...
mm...
.....
Hesti Pramuni: yaap..!!
total 2 replies
Hesti Pramuni
mm...
mr. HB is back..!!
...
hiks..hiks..hiks...
huuuwaaa.....aaa...
Hesti Pramuni: ssrrrreetttt....,........
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!