sinopsis :
Mendadak Nisa harus Menikah menggantikan posisi kakak'Nya yang membatalkan pernikahannya seminggu sebelum hari pernikahan,
Akankah pernikahan Nisa berjalan lancar"..?
akankah kakak'Nya menyesali keputusannya"..?
ikuti Terus Novel "Menikahi Calon Suami kakak'ku" untuk mengetahui cerita selengkapnya 🤗❤️
🖋️ Noor Hidayati 💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pernikahan Rani
Bagas sudah menunggu Suraya di tempat yang sudah mereka sepakati.
Tanpa terasa ia sudah menunggu Suraya hampir satu jam lamanya.
"Kemana Suraya," ucap Bagas yang mulai merasa bosan.
Bagas pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubunginya.
Deringan ponsel terdengar di sekitarnya, Bagas pun menurunkan Polsel dari telinganya dan melihat ke arah sekitarnya, Bagas pun melihat Suraya yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
"Suraya," lirih Bagas lalu menutup ponselnya.
Bagas pun menghampiri Suraya.
"Kamu sudah datang?"
Suraya hanya mengangguk pelan.
"Duduklah," Bagas menuntun Suraya ke meja yang sudah ia pesan.
"Kamu mau makan sesuatu?"
"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin tau, kemana saja kau selama ini!" triak Suraya hingga membuat pengunjung lainnya menatap ke arahnya.
"Tenanglah Suraya," lirih Bagas yang tidak ingin semua orang melihat mereka.
"Pelayanan," Bagas memanggil pelayan untuk memesan minum untuk Suraya.
"Aku akan jelaskan semua, kamu tenanglah," bujuk Bagas.
Tak butuh waktu lama, pelayan pun kembali membawa orange juice pesanan Bagas.
"Terimakasih," ucap Bagas pada pelayan.
Pelayan pun mengangguk dan pergi.
"Sekarang minumlah, ini akan membuatmu lebih tenang,"
Suraya pun langsung menenggak minuman dingin itu.
"Sekarang dengarkan aku, aku butuh waktu yang sangat lama untuk mengambil keputusan ini, ada beberapa hal yang harus ku pertimbangan, jadi aku mencoba menghilang darimu, tapi percayalah selama 4th ini, aku sangat tersiksa, aku tidak bisa berhenti memikirkan mu, aku memikirkan bagaimana saat kamu mengandung dan melahirkan seorang diri, aku juga selalu membayangkan bagaimana wajah putri kita, bagaimana keadaanya, bagaimana kalau ia sedang sakit, bagaimana jika dia menanyakan ayahnya dan..."
"Dan ayahnya tidak ada untuknya," ucap Suraya memotong pembicaraan Bagas.
"Yah.. maafkan aku" ucap Bagas menundukkan kepalanya.
"Apa kamu fikir dengan kata maaf bisa menghapus penderitaan yang kualami selama 4th?"
"Ya, aku tau itu tidak akan menghapusnya, tapi aku akan memperbaikinya, menikahlah denganku dan kita mulai lembaran baru dengan putri kita," Bagas memegang tangan Suraya.
"Lalu bagaimana dpengan istri dan anak-anak mu?"
Pertanyaan Suraya sontak membuat Bagas kaget dan melepas kan tangan Suraya.
Seketika Wajahnya langsung berubah.
"Katakan bagaimana Bagas!"
"Bagaimana kamu tau itu?" tanya Bagas yang tak berani menatap wajah Suraya.
"Heh, berarti ucapan Rudi benar," ucap Suraya kesal.
"Aku dan dia sudah tidak ada kecocokan, " ucap Bagas singkat.
"Tapi kamu belum bercerai darinya kan?"
Bagas menggelengkan kepalanya.
Suraya langsung bangun dari duduknya.
"Mau kemana kita belum selesai bicara," Bagas meraih tangan Suraya.
"Apa kamu akan menjadikanmu istri kedua?"
"Itu lebih baik daripada kamu hanya menjadi selingkuhan ku,"
"Kamu selingkuh dari istrimu, siapa yang bisa menjamin jamu tidak selingkuh dariku?"
"Aku tidak akan selingkuh darinya jika dia tidak selingkuh lebih dulu dariku,"
Suraya yang mendengarnya langsung terdiam.
Bagas kembali membuat Suraya duduk.
"Ya, aku melihatnya tidur dengan laki-laki lain, awalnya aku sudah berusaha memaafkannya demi anak-anak, tapi bayangan laki-laki itu selalu muncul setiap aku ingin menyentuhnya, aku merasa jijik padanya setiap kali aku ingin nenyentuhnya, aku jijik dia pernah berhubungan dengan laki-laki lain, hingga aku bertemu denganmu, dan aku jatuh cinta padamu, hasrat yang selama ini terpendam aku tidak lagi bisa menahannya," jelas Bagas menundukkan kepalanya.
"Jika itu benar, kenapa kalian masih belum bercerai?"
"Kami mempertahankan hubungan ini hanya demi perkembangan anak kami yang masih kecil-kecil, itu saja,"
Suraya menghelai nafas panjang.
"Maka dari itu Suraya, menikahlah denganku demi Hafizah," Bagas kembali memegang tangan Suraya.
"Bagaimana kamu tau namanya?" Suraya merasa bingung.
"Ee..." Bagas terlihat gugup.
"Apa Andi yang memberitahumu?"
"Ee.. ya, dia yang memberitahukannya, dia selalu menghubungimu atas perintahku, waktu itu aku belum siap bertemu dengan mu, tapi aku selalu berusaha untuk mengikuti setiap perkembangan Hafizah melalui Andi," Jelas Bagas.
"Kamu benar-benar pengecut," Suraya kesal dan meninggalkan Bagas.
"Suraya.. Suraya..." Bagas berlari mengejarnya dan menarik tangan Suraya.
"Aku tau kesalahanku begitu banyak padamu, dan aku tidak meminta kamu memaafkanku sekarang, tapi ku mohon, pikirkanlah putri kita, pikirkanlah masa depannya, apa Hafizah akan terus tinggal bersama Nisa dan Rudi? Bagaimana jika mereka memiliki anak sendiri? Apa mereka bisa tetap menyayangi putri kita sama seperti rasa sayang mereka terhadap anak kandung mereka?"
Suraya mulai berfikir.
"Suraya, sebaik-baiknya orang tua angkat, anak akan lebih baik tinggal bersama orang tua kandungnya,"
"Bagas ada bebernya juga" batin Suraya.
"Ayolah Suraya, beri aku kesempatan menebus kesalahanku," bujuk Bagas.
Suraya masih terlihat berfikir.
Suraya masih bingung keputusan apa yang harus ia ambil.
*****
Rani dan Irfan pulang untuk menemui ibu.
Tidak lupa Rani juga meminta Nisa dan Rudi datang,
Rani pun mengumpulkan mereka di ruang tamu.
"Ada apa nih sepertinya ada yang penting?" tanya Nisa.
"Ya, begini ibu, Mbak Nisa dan Mas Rudi.. maksud kedatangan saya kemari adalah untuk menunjukkan keseriusan saya kepada Rani," jelas Irfan.
"Alhamdulillah kalau kamu benar-benar serius," ucap ibu senang.
"Jangan kelamaan pacaran, nanti kebanyakan Dosa," celah Rudi.
"Ya tergantung pacarannya kaya gimana kali Mas," saut Rani.
"Mau bagimana pun yang namanya pacaran tetep lebih banyak mudharat nya, ini seperti penjelasan Dari Ibnu Abbas RA, Ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw berkhutbah,
Rasulullah Saw bersabda : Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya” (muttafaq alaihi) Rasulullah saw secara tidak langsung, memberikan rambu-rambu kepada umatnya mengenai model hubungan laki-laki dan perempuan yang terlarang," jelas Mas Rudi.
"Nggak Mas, insyaAllah bulan November pas ulang tahun Rani saya akan menikahinya, makanya saya kesini ingin menunjukkan keseriusan saya, kalau masalah lamaran nanti sesuai permintaan Rani yang ingin menyelesaikan kontrak kerjanya dulu," jelas Irfan.
"Baguslah, lebih cepat lebih baik, meskipun kalian masih muda tapi kalau sudah ada keseriusan, jadi apa lagi yang di tunda? yang penting kalian harus saling memahami sifat masing-masing, kalau yang satu lagi marah, yang satu ngalah, jangan saling meninggikan ego masing-masing, biar rumah tangganya awet yah," ucap ibu tersenyum.
"Insya Allah Bu," ucap Irfan sambil manggut-manggut.
"Baiklah, semoga niat kalian dipermudah oleh Allah," ucap ibu.
Irfanpun berpamitan kepada seluruh keluarga, untuk pulang kerumahnya.
"Jadi rencana kamu gimana setelah ini?" tanya Nisa pada Rani.
"Ya niatnya besok berangkat lagi, lumayan lah masih ada 5 bulan lagi habis kontraknya," jelas Rani.
"Lalu Irfan?" tanya ibu menyela pembicaraan.
"Irfan kerja di kampung aja Bu, lagian di Cikarang kerjaannya lagi sepi," jelas Rani.
"Itu bagus,berarti kalian tidak bisa bertemu sebelum pernikahan, jadi itu bisa menghindari dosa-dosa pacaran," ucap Rudi tersenyum.
"Kan kita masih bisa Video call," ucap Rani menjulurkan lidahnya.
"Video call juga gak boleh yang aneh-aneh loh ya," ucap Rudi
"Ih Mas kenapa jadi posesif banget sih, namanya anak muda wajarlah kalau kangen-kangenan," ucap Nisa.
"Bukan posesif, tapi ini rasa sayang Mas kepada adiknya, Mas tidak ingin kejadian yang menimpa Mbak Suraya, terjadi pada Rani juga, Nauzubillah min dzalik,"
"Insya Allah Rani bisa menjaga diri Mas," ucap Rani.
Bersambung...
itu adus apa namah?