Anna tau bahwa ayahnya adalah orang kaya, dan semua kakaknya tampan tapi ia tak pernah menyangka jika keluarganya cukup populer bahkan ia di sebut-sebut sebagai putri yang di sembunyikan sampai ia pindah ke sekolah baru yang terkenal.
Bukan hanya itu saja, ia juga baru tahu bahwa dia bukan manusia biasa dan cinta pertamanya juga bukanlah manusia.
Siapakah keluarga Anna sesungguhnya?
Misteri apa saja yang baru di ketahui Anna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
" Baiklah Jack akhirnya kita mencapai kesepakatan, aku pasti akan membuatkan pakaian yang tiada duanya " ujar Janet.
Mereka sudah berkutat selama tiga jam hanya untuk memutuskan pakaian seperti apa yang akan di kenakan keluarga Hermes pada acara penting tersebut. Biasanya Jack akan menyerahkan tugas ini kepada Ryu, namun karena Ryu sudah menangani hal yang lebih penting jadi ia memutuskan untuk meminta bantuan Janet.
Tentu ia juga sudah membicarakan hal dengan Ryu dan Ryu menyetujuinya, pada akhirnya Jack mengambil tema pesta topeng. Seperti acara yang belum lama ini Janet gelar.
" Terimakasih kau sudah mau membantu " ujar Jack.
" Suatu kehormatan bagiku bisa melayani keluarga Hermes "
" Baiklah Anna sampai jumpa di sekolah besok " ujar pula Mina berpamitan.
" Ya, hati-hati di jalan " .
Ibu dan anak itu pun memberi salam terakhir dan pergi meninggalkan kediaman Hermes. Kini Anna sendiri lagi, sedangkan Jack harus kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.
" Sepertinya aku bisa datang mengunjunginya lagi " gumam Anna.
Teringat pada pertanyaan Rocky waktu itu berhubung ia sendiri di rumah akhirnya Anna memutuskan untuk menemui Rocky. Seperti biasa Anna memakai jaket dan maskernya, membeli sepotong roti dan pergi ke taman.
Hari masih siang, tapi nampak di kursi yang biasa mereka duduki Rocky sudah ada dan memberi makan kawanan burung seperti biasanya.
" Ku pikir kau belum datang " ujar Anna menghampiri.
" Kau... sudah datang " balas Rocky.
Anna mengangguk dan duduk di samping Rocky, ia mengeluarkan sepotong roti dan mulai melakukan kebiasaan barunya.
" Apa hari ini terjadi sesuatu? " tanya Anna.
" Tidak ada, hari ku biasa seperti biasanya "
" Begitu ya, soalnya kau datang lebih awal dari biasanya "
" Kau juga, datang lebih awal dari biasanya " balas Rocky.
" Keluarga ku sedang sibuk, mereka tidak ada di rumah. Jadi... karena kesepian aku memutuskan datang lebih awal " jawab Anna.
" Begitu ya ".
Mereka kembali terdiam, menikmati suasana sepi yang damai. Hingga habis roti di genggaman tangan mereka, Rocky bangkit dan berkata.
" Yosh kita kehabisan roti, bagaimana jika kita jalan-jalan di sekitar sini? "
" Ide yang bagus ".
Anna ikut bangkit dan berjalan di samping Rocky, mereka tak banyak bicara tapi tak ada kecanggungan juga. Anna merasa seolah sudah kenal lama sehingga tanpa bicara pun Rocky akan mengerti.
" Di taman ini... tak banyak orang ya, sejak pertama kali ke sini hingga hari ini aku hanya menemui beberapa orang saja itu pun yang sudah tua " komentar Rocky menyelidiki keadaan.
" Taman ini terletak di pinggir pemukim, jarang ada anak muda yang mau kemari karena memang tempatnya membosankan. Meski di hari libur pun biasanya orang-orang akan menghabiskan waktu pergi ke pusat kota "
" Begitu ya, jadi bisa di katakan tempat ini hanya untuk orang-orang yang mencari ketenangan saja "
" Seperti itulah " jawab Anna.
" Apa kau bosan? " tanya Rocky.
" Tidak juga, kenapa? "
" Tidak apa-apa, aku hanya bertanya ".
Mereka kembali membisu, menyusuri jalan di hari yang semakin senja. Memang di tempat itu tak ada yang menarik, wajar jika anak muda lebih memilih pusat kota yang ramai.
" Hei lihat itu! " ujar Rocky.
Anna mengikuti jari Rocky yang menunjuk, nampak oleh matanya seorang pria tengah duduk dengan lukisan-lukisan yang terpajang di dekatnya.
" Pelukis jalanan? " tanya Anna.
Rocky mengangguk dan tersenyum.
" Jika boleh, maukah kau ikut bersama ku untuk di lukis oleh pria itu? " pinta Rocky.
Anna sedikit ragu, tapi pada akhirnya ia menyetujui. Mereka pergi menghampiri sang pelukis dan dengan senang hati pelukis itu pun meminta mereka duduk agar bisa ia lukis.
" Maaf tuan bisakah kalian berpegangan tangan? rasanya sangat kaku jika kalian duduk seperti itu, lukisannya tidak akan bagus " ujar si pelukis.
Anna dan Rocky saling bertatapan, Anna yang merasakan sedikit kecanggungan hanya bisa diam. Tiba-tiba Rocky merangkul pundaknya dan tersenyum lebar.
" Bagaimana jika seperti ini? " tanya Rocky.
" Itu lebih baik tuan, tolong pertahankan ini tidak akan lama " jawab si pelukis.
Dug Dug Dug
Anna merasakan jantungnya yang berdegup sangat cepat, keringat dingin timbul dari keningnya khawatir Rocky akan mendengar degup jantungnya dan sadar bahwa Anna tengah gugup.
Ia tak menyangka di sentuh oleh seorang laki-laki akan menyebabkan hal hebat seperti ini, untuk pertama kalinya ia merasa sisi femininnya muncul ke permukaan. Meski begitu ia tetap mencoba menutupinya dengan diam dan tersenyum.
" Sudah selesai tuan " ujar sang pelukis memberitahu, setelah beberapa saat yang di rasa cukup lama.
" Akhirnya... " ucap Rocky yang merasakan tangannya kesemutan.
Sang pelukis memberikan hasil lukisannya kepada mereka untuk di lihat, Rocky terlihat senang dengan hasil lukisan itu dan membayar dengan harga yang sesuai.
" Tidak sia-sia tanganku kesemutan " ujar Rocky.
" Apa... tanganmu masih sakit? " tanya Anna.
" Tidak, sudah lebih baik "
" Syukurlah " .
Mereka memutuskan untuk duduk di sebuah kursi, menikmati lukisan wajah mereka sendiri.
" Rocky aku harus segera pulang, ini sudah hampir malam " ujar Anna yang melihat cahaya mentari semakin redup.
" Begitu ya " jawab Rocky terlihat seperti kecewa.
" Lukisan ini sebaiknya kau saja yang menyimpannya " kata Anna.
" Apa? tidak bisa, dalam lukisan ini ada wajah mu juga "
" Tidak apa, kau bisa menyimpannya "
" Tidak bisa begitu, begini saja " Rocky mengambil lukisan itu dan merobeknya menjadi dua bagian.
" Kau bisa menyimpan lukisan wajahku dan aku bisa menyimpan lukisan wajahmu, ini cukup adil kan? " tanyanya.
Anna tersenyum dan mengangguk, dengan mengucapkan salam perpisahan akhirnya Anna pergi.
* * *
Makan malam di kediaman Hermes kurang lengkap dengan ketidakhadiran Ryu, rupanya Ryu pergi ke pulau pribadi Hermes untuk mengurus beberapa pekerjaan di sana.
" Apa ada yang salah dengan wajahku? " tanya Anna kepada Reinner yang duduk di depannya.
Sejak dari tadi Anna merasa tidak nyaman dengan tatapan Reinner yang seolah meneliti wajahnya.
" Tidak ada, tapi.... aku rasa ada yang berubah darimu " jawab Reinner masih memperhatikan Anna.
" Apa yang berubah dariku? " tanya Anna.
Reinner mengangkat kedua bahunya, tapi ia tetap melihat Anna dengan seksama sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.
" Benar juga, payudaramu lebih besar dari biasanya apa kau memakai bra yang kencang? "
PELETAK
" Dasar mesum, aku adikmu bodoh " teriak Anna melempar sendok yang tepat mengenai jidat Reinner.
Aaaaarrhhhh
" Sakit sakit sakit, adik kurang ajar! " teriak Reinner mengusap jidatnya.
" Kau yang mulai duluan, sudahlah aku sudah kenyang aku akan kembali ke kamar ku " ucap Anna.
Ia mulai bangkit dan berjalan keluar ruangan tapi pada saat itu pun Reinner kembali melihat sesuatu yang tak biasa.
" Anna... apa kau juga menambahkan busa di bokong mu? "
Prraaannggg
Kali ini Reinner bisa menghindar dari vas bunga yang melayang ke arahnya sehingga vas itu pecah di bawah lantai, Anna nampak emosi dengan wajah yang merah dan cepat berlari ke kamarnya.
Tiba di kamar tujuan utamanya adalah kaca, ia melihat pantulan tubuhnya di cermin mencaritahu apakah Reinner berkata benar.
" Astaga, apa yang terjadi pada tubuh ku? " gumam Ana menyadari hal yang berbeda.
Two Worlds