NovelToon NovelToon
Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Perjodohan / Anak Genius / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Percintaan Konglomerat / Pelakor / Suami ideal / Istri ideal
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Lhu-Lhu

Perjalanan seorang wanita yang diombang-ambingkan oleh sebuah rasa.

Di sini kalian akan menemukan kisah seorang Wardah yang sesungguhnya. Menyajikan deraian air mata dan bumbu-bumbu keromantisan yang overload di dalamnya ❤️❤️

Ada kejutan tak terduga dari Cak Ibil nantinya. Selain itu terkuaklah siapa gerangan jodoh Wardah yang sebenarnya.

Ehm! Ehm!

Lhu-Lhu sempilin di bagian mananya yaaa?


❤️ Arzan Altezza Raditya Balindra

❤️ Wardah Alisha Khumairah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lhu-Lhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

..

Masuk ke kamar, Cak Ibil sudah berbaring di tempat tidur. Sepertinya sudah tertidur. Wardah mengambil baju ganti untuk tidur malamnya yang masih tersusun rapi di koper.

"Dari mana Wardah?" Tanya Cak Ibil setelah Wardah keluar dari kamar mandi.

"Habis mancing," Jawab Wardah asal sembari membereskan baju kotornya. Esok mereka akan kembali ke Jombang.

Duduk dulu Wardah, saya ingin bicara," Ujar Cak Ibil.

"Huufft.." Helaan napas berat keluar dari pernapasan Wardah. Wardah menurut dan duduk di sofa yang ada di samping tempat tidur.

"Boleh saya mengajukan permohonan Mas?"Tanya Wardah lirih sambil menunduk.

"Silahkan," Jawab Cak Ibil.

"Ceraikan saya," Ujar Wardah.

Sontak Cak Ibil kaget dibuatnya. Tak menyangka jika Wardah akan mengajukan hal itu. Ia tahu, cepat atau lambat sang istri akan mengajukan hal itu, tapi Cak Ibil kelihatannya belum memikirkan hal itu.

"Jangan sekarang Wardah, saya mohon... Beri saya waktu untuk mencoba menata hati lagi," Ujar Cak Ibil dengan berjongkok menggenggam jemari Wardah.

"Berapa lama?" Tanya Wardah.

"5 bulan!"

What! Lima bulan? Gila apa! Selama itu! Itupun belum tentu Cak Ibil luluh. Wardah benar-benar tak mau berharap lebih lagi terhadap Cak Ibil, khawatir akan menyakiti hatinya.

"4 bulan!" Sanggah Wardah.

"5 bulan!" Kekeh Cak Ibil.

"3 bulan!" Tegas Wardah.

"Oke-oke, 4 bulan," Cak Ibil mengalah.

"Fiks 3 bulan!" Tegas Wardah yang langsung berdiri dan keluar dari kamar mereka.

"Ya Allah, luluhkan hatiku untuk istriku ya Allah," Lirih Cak Ibil.

Wardah memilih untuk bermalam di kamar yang ada di lantai 1. Wardah harus bisa meluluhkan hati suaminya sendiri. Dalam waktu 3 bulan.

.

.

.

"Saya akan berusaha mencintai kamu Wardah... Saya tidak akan menyentuh kamu seutuhnya sebelum saya benar-benar mencintai kamu. Jangan buka jilbab kamu sebelum saya menyatakan cinta untuk kamu... Biarkan itu sebagai hadiah jika saya berhasil melunakkan hati saya," Ujar Cak Ibil ketika mereka akan kembali ke Jombang.

Jika biasanya Cak Ibil akan menghindar dari Wardah, kali ini tidak. Cak Ibil makan di rumah mereka, memakai pakaian yang disiapkan Wardah, dan mereka sudah saling berbincang walaupun hanya membahas hal yang sangat penting. Wardah ataupun Cak Ibil sepertinya belum siap untuk saling terbuka.

Jika dahulu Cak Ibil lebih sering keluar rumah, kini ia lebih sering berada di rumah. Walaupun hanya sekedar menonton tv mungil yang sengaja di sediakan untuk asatidz pesantren. Beliau kadang juga lalaran kitab. Sesekali Cak Ibil menyimak Wardah yang lalaran Al-Quran ataupun Wardah yang mendengarkan suaminya membacakan kitab kuning yang ada di tangannya.

Tak terasa, rutinitas penyesuaian diri sudah berlangsung selama 1 bulan. Bahkan malam nanti merupakan universary.

"Assalamu'alaikum Bunda? Tumben telepon duluan, biasanya kan Wardah dulu yang telepon. Hehehe" Ujar Wardah pada wanita paruh baya di seberang sambungan telepon.

"Pulang? Kenapa?" Tanya Wardah bingung.

"Iya Bunda, lusa Wardah akan pulang... Besok Wardah harus izin pada Abah Kyai dan Umi terlebih dahulu," Jawab Wardah.

"Inggih Bunda, Wardah pulang sendiri,"

"Wa'alaikumussalam," Wardah menutup teleponnya.

Suaminya belum pulang dari mengajar, mau tak mau Wardah harus menunggunya untuk izin pulang ke rumah Bunda dan Kak Yusuf. Ntah kenapa Bunda tiba-tiba memintanya pulang. Suaranya juga tampak panik serta sedikit gemetar.

"Pulang besok! Jangan nunggu lusa!" Sebuah notif Whaatsap muncul. Ternyata dari Bunda.

"Nggih Bunda" Jawab Wardah.

Bersambung....

1
Nori
bagus
nacita bella
Luar biasa
Khorirotun Naimah
lanjut kak
Dian Kusmayani
ini kayanya ngga akan lanjut dech😃😃secara udh lama bngt ngga up,,, udh ganti tahun jg
Khorirotun Naimah: lanjut kak
total 1 replies
Desy Putry
bagus
Puji Rakhmanti Hapsari
lanjut
Jumirah
lanjut mba
Jumadin Adin
next
Anisa Siwi
lanjut terus cantik.....💝
Adinda Ayu Syahfitri
lanjut thor
Khorirotun Naimah
lanjut kak
siswati etty
klo mau tamat boleh tp beresin dl siapa yg neror Wardah jg mslh Winda .......jd semangat....semangat
Kiromah
lanjut dong Thor kan yg neror Wardah juga belum ketemu dan Wardah juga belum lahiran
Sati
lanjut kak
Maulana ya_Rohman
lanjut..... lanjut...... lanjut..... lanjut...... lanjut..... lanjut..... lanjut...... lanjut.....
Meili Wardiani
lanjut sampai selesai
Diyan dhe
lanjutkan!!...lanjutkan!!...lanjutkan!!....😂
semangat kakak💪🏻aq setia menanti,meskipun jarang up😁
Putri Rahmahani
di lanjutkan tapi selesaikan masalah yg ada..
Pujiastuti
ngikut aja kak gimana baiknya kalau pun lanjut kakak Lhu-lhu tetap semangat ya upnya 💪💪💪
Pujiastuti
keluarga Eza selalu memberi kenyamanan setiap ada tamu yang datang definisi keluarga yang baik dan hangat ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!