NovelToon NovelToon
SAHABAT YANG MENCINTAI

SAHABAT YANG MENCINTAI

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:50.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tania22

Aku mencintai sahabat ku sendiri memang Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini apakah aku hanya bisa mempertahankan perasaan ini atau mungkin membuang perasaan ini jauh-jauh


Apakah ini perasaan salah atau Mungkin takdir Tuhan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Acara Prom night

Bianca melambaikan tangan ketika melihat Senja dengan semangkuk bakso di tangan nya.Senja tersenyum kecut lalu bergegas untuk bergabung dengan Tiara dan kawan-kawan nya

Sejak tadi Senja menghindari di tempat mana Raga berada Raga sendiri menangkap pandangan mata Bianca dan menggeleng lesu tanda pembicaraan bersama Senja tidak berhasil seperti yang dibicarakan pada malam itu

" Senja itu Orangnya nggak Bisa berpura-pura " Raga mengeluh masih dengan intonasi lesu yang sama " apa yang di rasakan Pasti muncul dengan jelas di Wajah nya gue kenal Senja itu dari kecil

Bianca menepuk pundak Raga untuk menyemangati nya " kasih Senja sedikit Waktu Mungkin Raga Senja hanya nggak tahu gimana harus bersikap didepan kamu"

" tapi Gue nggak mau dia nganggep gue sebagai Orang asing kita kan udah temenan terlalu lama untuk saling Canggung seperti ini ! Raga menggeleng kepala nya dengan kesal Gue bener-bener nggak ngerti sama jalan pikiran Cewek kayak gimana

Sepulang sekolah Bara mengantarkan Senja pulang seperti biasa ia membuka percakapan mengenai permainan basket hari ini Tapi Senja tidak terlalu mendengarkan bahkan tidak sadar ketika mobil nya sudah berhenti di depan rumah nya

" Senja ! Bara memperhatikan Raut wajahnya Senja pucat " kita udah sampai

Senja menggeleng dengan seulas senyuman " bye Bara

Bara hanya tersenyum lalu mengucapkan selamat tinggal senja baru saja menginjakkan kaki Senja melihat sebuah bungkusan yang di letakkan di atas meja.Namanya tercetak besar-besar di permukaan kertas dengan tinta hitam dalam tulisan nya Raga

Senja menghela nafas lalu menyelipkan bungkusan itu di dalam tasnya

Senja tidak bisa tidur jam weker di meja di samping nya tempat tidurnya menunjukkan angka lewat lima menit dalam beberapa jam Senja harus menghadiri seisi ujianya bahasa Indonesia ujian pertama dalam semester ini yang belum siap di hadapinya Sama sekali kemudian Minggu-minggu liburan semester yang menyenangkan akan di mulai dikuti dengan hari pertama mereka akan jadi mahasiswa

Senja meraih ranselnya dan meraba-raba isi tasnya mencoba menemukan sesuatu yang sudah lama tersimpan di sana " Nah ini dia" Senja mengeluarkan kotak kertas yang sedikit penyok itu menyisihkan pembungkusnya yang koyak Di dalamnya ia menemukan sebentuk kaset dan tanpa banyak pikir senja memasukkan nya kedalam tape milik nya

lalu terdengar suara deheman yang tidak asing tidak Lama kemudian bunyi petikan gitar yang mulai lembut yang terdengar agak samar lama-kelamaan semakin jelas setelah beberapa kali mengulang nada yang sama suara Raga mengisi ruangan kamar Senja

Senja duduk di tepi tempat tidur nya sambil memeluk bantal memejamkan mata nya dan mendengarkan lagu - lagu Raga yang perlahan-lahan membuat Senja jauh lebih tenang

inilah perasaan Raga selama ini senja tahu dia akhirnya mengerti untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan senja dapat tertidur pulas dengan seulas senyuman.

...acara prom night...

Senja baru saja menyemprotkan parfum di pergelangan tangan nya ketika telepon berbunyi sambil memasang sepatu ia menyambar telepon nya yang tergeletak di atas tempat tidur nya

"Senja"

Suara Bara terdengar lemas

" Bara kamu kenapa ! tanya Senja yang agak panik

" seperti nya aku nggak enak badan kepala ku pusing"

" kamu nggak apa-apa ! kamu udah minum obat belum

" Udah tapi aku masih lemas Tunggu sebentar ia ? kalua udah baikan aku bakal segera jemput kamu

" lebih baik kamu istirahat aja deh dari pada tambah parah"

" tapi kamu pasti udah siap kan ? nggak apa-apa kayaknya aku bisa tahan kok

Bara terdiam " tapi Prom night kan cuma sekali seumur hidup kamu

Senja tak langsung menjawab tapi dia tersenyum saat mengatakan " yang penting bukan prom night tapi kamu

" maaf iya"

Senja berusaha mengabaikan perasaan kecewa yang menggerogoti hatinya sesungguhnya senja menantikan malam ini merayakan akhir masa SMA mengenakan pakaian cantik bersama orang yang ia sayangi tapi senja tidak ingin Bara datang dengan keadaan sakit dia agak boleh egois lagi pula bukankah Bara pasti lebih kecewa ? ini adalah pesta prom night sekolah nya sesuatu yang hanya terjadi sekali seumur hidup

Pandang senja jatuh pada papan monopoli yang menyembul dari tumpukan majalah nya tiba-tiba Senja mendapatkan ide berlian senja pun harus langsung bergegas untuk berangkat

...Di rumah Bara...

Senja menekan bel rumah Bara seorang laki-laki paruh baya dalam seragam satpam muncul dengan tergopoh-gopoh

" maaf non cari siapa"

" saya mau jenguk Bara "

satpam itu tampak bingung " tuan Bara baru saja pergi non

" Pergi ? senja tampak tak percaya ! kan Bara lagi sakit

" Ndak non tuan Bara baik-baik saja kok barusan dia pergi

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit berdebat dengan satpam tersebut.Senja menyerah dan berdiri di depan pagar dengan perasaan tidak enak jelas-jelas tadi dia tidak salah dengar seandainya mereka pergi pun Bara akan menelpon nya.Senja berusaha menghubungi Bara tapi tidak jawaban sama sekali

Senja baru saja ingin memutar arah dan kembali pulang ke rumahnya namun entah apa yang Senja berubah pikiran ketika ia memberitahukan definisi selanjutnya kepada pengemudi taksi

" SMA harapan pak"

Senja menoleh menarik nafas lega saat angel melambai dari sisi meja penerima tamu Jenny menggandeng pacarnya

Senja menghampiri mereka masih celingukan mencari Bara " hai kalian lihat Bara "

mendadak Wajah jenny dan pacarnya memucat mereka saling pandang

" Senja...Lo belum tahu"

" tahu apa ! sahut senja

" Bara ada di dalam dia datang sama...!

jenny tidak perlu menyelesaikan kalimatnya Senja sudah melihat Bara diantara kerumunan temen-temennya tampak gagah megenakan jas hitam yang sangat pas di tubuh nya Di samping berdiri seorang wanita dalam barutan dress biru yang serasi dengan pakaian Bara lalu wanita itu mendongak ke arah Senja dan bibir nya perlahan menarik seulas senyuman yang menandakan ia mengerti segalanya

...Wanita itu adalah Clara...

Bara mengangkat wajah dan menghindari pandangan nya senja ingin menyerukan namanya dan meminta penjelasan Clara mengandeng laki-laki itu menghampiri Senja yang masih terpaku di pintu masuk dengan tubuhnya yang gemetar

" hai Senja kok sendirian "

Senja ingin melenyapkan senyum puas dari Wajah cantik nya tapi kedua tangan nya yang bergetar terdiam bagai lumpuh di kedua sisi tubuhnya

" kalian"

Bara berjalan menjauh dari sana untuk menerima telepon yang mendadak berdering meninggalkan Clara dan Senja

" Gue nggak nyangka Lo tetap punya nyali untuk datang " Clara berkata dengan tenang senyum itu tidak pernah meninggalkan wajahnya tapi harus Gue akui lebih menyenangkan ngeliat Lo di sini dari pada Lo harus meratap di rumah Karena Bara meninggalkan Lo Senja

" ini semua rencana kamu ! suara Senja yang gemetar

" ini bukan apa-apa di banding dengan apa yang lo ambil dari gue gue mau Lo merasakan kehilangan ketika apa yang berarti bagi Lo di rampas begitu saja"

" aku nggak ngerti maksud apa "

Clara mendengus untuk pertama kalinya memperhatikan rasa benci dalam ekspresi nya " jangan pura-pura bodoh sejak Lo gabung tim cheerleader kita gue bagaikan nggak punya muka bahkan beberapa orang sempet mempertimbangkan Lo jadi kandidat pengganti tim ketua kita...dan memang itu tujuan Lo kan Semua orang suka Lo temen-temen gue guru-guru Raga Bianca Gue nggak ngerti apa yang menarik dari Lo kan biasa aja.lo ngambil semua yang harus nya jadi milik gue sampai Bara juga padahal gue yang kenal duluan

Clara ingin berteman dengan Raga dan Bianca ! Clara menyukai Erick ? Senja mengerjakan mata sudah beberapa lama Bianca menyimpan perasaan ini dan diam-diam sedangkan senja tidak tahu apa-apa mengenai

“Tapi, kan kita teman....”

“Teman, lo bilang?” Clara tertawa kecil. Di dunia ini nggak ada yang namanya

teman sejati, Senja Lo yang terlalu naif. Teman-teman Cuma ada kalau mereka butuh pertolongan kita, kalau kita punya sesuatu yang bisa jadi alasan mereka untuk tetap tinggal. Clara mengibaskan tangan dan melayangkan pandangan pada Bara “Lo inget Zahra? Cewek yang nggak bisa dilupain Bara? Zahra itu sepupu gue. Bara rela melakukan apa aja demi ketemu lagi sama dia, termasuk mutusin lo dan muncul di pesta ini sebagai pasangan gue.”

Tatapan Clara saat itu sangat dingin. Senja tidak lagi merasa marah, tapi sedih. Ternyata, selama ini dia tidak cukup mengenal Clara maupun Bara dengan baik.Mereka pun tidak mengenal dirinya, tidak menerima dirinya apa adanya. Dia tidak diinginkan di sini.

Bara berbalik dan menghampiri mereka. Dia terlihat serba salah.

“Senja gue....”

Senja memberanikan diri menatap langsung ke arah mata Cowok itu, mencoba mencari sisa-sisa perlakuan gentleman yang selama ini lekat pada diri Bara, juga permintaan maaf yang tidak kunjung keluar. Entah mendapat keberanian dari mana, ia mengangkat sebelah tangan dan melayangkan tamparan keras pada pipi kanan Bara

Senja tidak memperhatikan seruan kaget entah siapa yang berteriak barusan, tidak juga menyadari betapa keras hak sepatunya berdentum di lantai marmer ketika ia berlari keluar, keluar sekarang juga. Dan ketika ia berhenti dan terengah-engah di depan pagar sekolah yang kini sepi, ia berjongkok, menyembunyikan wajah dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya.

Kring kring

Senja tidak sadar sudah berapa lama bunyi yang tidak asing itu terdengar. Ketika mendongak, dia melihat sosok seseorang dengan senyum pengertian yang membuatnya Raga.ingin menangis lagi.

“Pulang yuk.”

Cowok itu menepuk-nepuk bagian belakang sepedanya dengan raut jenaka. Ia bangkit dari sepedanya dan berjalan ke arah Senja lalu mengulurkan sebelah tangan untuk membantunya berdiri.

“Ayo.”

Senja menatapnya dengan mata basah. Mengapa Raga ada di sini? Bagaimana Raga bisa tahu ? Tapi, dia merasa begitu lega melihatnya. Melihat sahabatnya datang untuk menyelamatkannya.

Tadinya, Raga mengayuh sepedanya menuju SMA Harapan sekuat mungkin, berdoa dalam hati supaya dia belum terlambat. Ketika dilihatnya gadis itu terduduk di luar pagar, sendirian dengan bahu mungil yang berguncang oleh tangis, Raga merasa hatinya terenyuh. Ia ingin memeluknya dan melindunginya sepenuh hati, tapi untuk sesaat dia hanya bisa memandang dan menunggu.

Kenangan perlahan-lahan muncul di benaknya seperti rekaman video. Tangan kecil yang menarik ujung bajunya, sosok yang mengikutinya ke mana pun dia pergi. Wajah anak perempuan yang tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang ompong. Ucapan menghibur yang keluar dari mulutnya setiap kali Raga sedang menghadapi

masalah—dan ia selalu bisa mengetahuinya bahkan sebelum Raga berkata apa-apa. Belaian lembut di pundaknya ketika anak itu menemukan Raga bersembunyi di balik

lemari, malu ketahuan sedang menangis. Sejak kecil, Senja selalu bisa menemukannya. Kali ini, adalah gilirannya menemukan dan melindungi Senja. Senja menatapnya dengan air mata masih mengaliri kedua sisi wajahnya, bibirnya bergetar dan matanya sembab. Raga Tersenyum, lalu menarik gadis itu berdiri.

Awalnya tangan Senja masih dengan tentatif berpegangan pada tempat duduknya, lalu lama-kelamaan, melingkari pinggang Raga seperti yang selama ini selalu dilakukannya.Tidak ada yang berusaha memulai percakapan, hanya keheningan yang mengisi perjalanan pulang mereka. Raga mengayuh lambat-lambat, angin menerpa wajahnya dan temaram lampu menerangi jalannya. Ia merasakan punggungnya basah, dan pelukan pada pinggangnya mengerat Raga mencengkeram setang sepedanya erat-erat, mencoba menahan gejolak emosi yang meluap dan membuatnya ingin melampiaskannya kepada siapa pun yang sudah melukai Senja

" Lo aman di sini Senja, bersama gue.

Entah sudah berapa lama Raga mengayuh, sampai ia berhenti di depan rumahnya. Senja bergerak turun dari sepeda, buru-buru mengeringkan air mata dengan kedua tangannya.

Raga tahu apa yang akan dilakukanny mengucapkan terima kasih sambil

memaksakan senyum. Keesokan harinya, mereka akan kembali menjadi dua orang asing yang berpura-pura seakan kejadian malam ini tidak pernah ada

.

“Boleh duduk di sini lagi kan ?”

Pertanyaan itu mengejutkan Raga. Senja sedang menatapnya penuh harap, menawarkan sesuatu yang tidak berani ditanyakannya sejak mereka berhenti berteman Raga mengangguk.

“Aku dengerin tape kamu, beberapa hari yang lalu.”

Raga mendongak, wajahnya memerah. Isi kaset itu semua lagu yang pernah gue buat Untuk lo.

Senja mengangguk samar. “Lagu-lagu bagus sekali. Kamu memang berbakat.”

Raga memandang Senja tepat di kedua manik matanya, sudah letih berpura pura Sejak kapan kita secanggung ini Senja ? Kenapa kita harus berbasa basi, nggak bisa lagi ngomong

" jujur apa yang ada di pikiran kita?”

Senja yang pertama kali mengalihkan pandangan. Mereka berdua sama-sama tahu jawabannya.

“Gue nggak minta apa-apa dari lo. Gue nggak merasa sakit hati karena lo nggak bisa Terima perasaan gue, gue justru lebih sakit hati karena lo menghindari gue. Gue kecewa lo nganggep gue sepicik itu, bahwa Gue akan menjadi Orang yang berbeda hanya karena perasaan gue berubah. Gue nggak mau kita berhenti berteman gara-gara masalah seperti ini.”

“Semua Orang selalu bilang, Cewek dan Cowok nggak pernah bisa jadi sekedar sahabat. Pada akhirnya, itu bener kan, Raga ?

Raga tersenyum pahit. “Yang Gue tau, persahabatan itu nggak memilih. Persahabatan .bukan di dasari oleh gender, usia, motif, atau apa pun itu. Persahabatan yang tulus gak harus punya alasan.”

Senyum Senja berubah sendu. Kamu benar. Sejak dulu, aku selalu mengharapkan bentuk cinta yang sempurna. Kukira kalau aku berteman dengan murid-murid yang populer dan pacaran dengan cowok yang istimewa, hidupku juga akan sempurna. Aku baru sadar, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Teman sejati adalah orang-orang yang bisa nerima aku apa adanya, seperti kamu dan Bianca Aku yang udah ngecewain kalian, maaf ya

Raga memotong permintaan maaf itu dengan meletakkan kedua tangannya di atas bahu Senja merasakan kulit mereka hangat oleh sentuhan itu. “Gue maafin, asal mulai sekarang, lo nggak pura-pura nggak kenal sama Gue di sekolah

Senja Tertawa kecil di balik air matanya. Raga berusaha tampak tak acuh, tapi dia tahu dia tidak bisa menghentikan senyum yang kini bermain bebas di Wajahnya. Apa pun yang terjadi, jangan pernah memperlakukan kami seperti Orang asing lagi

Senja mengangguk mantap. Untuk pertama kalinya malam ini, Raga memperhatikan Senja dalam balutan gaun yang tidak pernah dilihatnya sebelumny berbahan lutut, dipenuhi dengan potongn renda-renda. Jalinan rambutnya sudah terlepas riasan ringan di wajahnya berantakan dan ada bekas-bekas air mata di sana, namun di matanya Senja terlihat sangat Cantiktik.

“Hari ini lo Cantik banget.”

Senja belum pernah mendengar Raga berkata seperti itu. Raga tidak pernah memuji penampilannya, tidak pernah memperhatikan gaya berpakaian perempuan apalagi berkomentar mengenainya

Wajah Raga merah padam selagi mengatakannya, dan Senja merasakan senyumnya mengembang, perasaannya jauh lebih ringan, seolah-olah beban berat telah terangkat.

“Thanks, Raga.”

Mereka berbaring menatap kerlip bintang yang bertebaran di langit-langit seperti butiran gula-gula. Raga mengalas kepalanya dengan sebelah lengan, dan Senja mengandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu, mengenakan sweatshirt sahabatnya yang kebesaran. Hanya mereka berdua, dan itu saja sudah lebih dari Cukup.

1
Nur LloVve
Di tunggu feedback nya yah kak.Kalo udah feedback komen aja yah,ntar aku kasih vote karya kakak.
#I'm A Special Girl
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!