Sebuah kisah tentang seorang anak yang sejak lahir sudah merenggut banyak nyawa. Kisah tersebut dijulukki dengan sebutan Malam Berdarah kota Ling.
Bagaimanakah cara anak tersebut mencari teman yang akan selalu menemaninya sehidup srmati?
Penasaran dengan kisah ceritanya?, Mari ikuti dengan membaca bersama!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerry Napukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.Setengah Puncak
Di ujung kota Wengsang sebelah barat, ada beberapa sosok yang sedang berkumpul menjadi satu. Mereka adalah biang keladi dalam peperangan kali ini.
"Tuan Jhi, kenapa pihak mu belum ada yang datang?", tanya tuan tertinggi. Dia adalah perdana menteri kerajaan Wu. Bernama Wu Han.
Enam sosok sudah dapat dipastikan dalang sebenarnya. Sedangkan yang lainnya adalah bangsawan kekaisaran Hong yang berkhianat. Salah satunya Sang Fanho.
"Sepertinya, pihak kami telah di hadang oleh asosiasi LoB tuan", jawabnya.
"Hmm, entah kenapa aku merasa bahwa kita sedang dipermainkan oleh pihak musuh", ucapnya dengan geram.
"Itu tidak mungkin Perdana menteri Wu. Kita telah memastikan bahwa tidak ada mata-mata yang mengetahui rencana kita", ucap salah satu petinggi lainnya.
"Kalian berlima cepatlah ke pesisir dan bantu orang-orang dari asosiasi. Biar aku dan tuan Jhi yang memantau disini", perintahnya kepada petinggi lainnya.
"Baik perdana menteri!", mereka berlima menghilang melaksanakan tugas yang telah diberikan.
Tinggal beberapa orang saja di tempat tersebut. Keheningan terjadi diantara mereka. Namun tetap saja, teriakan demi teriakan terdengar hingga ke tempat tersebut.
"Tuan Sang, apakah kau yakin bahwa pihak kekaisaran tidak akan membantu?", Sang yang ditanya bergetar ketakutan.
"Ti-tidak tuan, saya sudah memastikannya".
"Bagus ka-, tunggu. Pasukan dariana itu?", perdana menteri Wu terkejut saat melihat pasukan berzirah mendekati benteng kota Wengsang. Mereka berjumlah hampir sama dengan pasukannya.
"Sialan kau Sang, apa kau berkhianat!", bentaknya.
Saat ini Sang Fanho sedang dalam cengkeraman Wu Han. Ia meronta ketika tak bisa bernafas.
"Tu-tuan Wu", ucapnya terbata. Melihat Sang yang hampir mati, Wu Han melepaskan cengkeramannya.
"Jelaskan!"
"Hah, hah, sa-saya tak berkhianat tu-tuan. Saya juga tidak tahu siapa yang dapat memberikan informasi tersebut ke-", Sang menghentikan ucapannya membuat semua orang penasaran.
"Sepertinya saya lupa memberitahu anda hal penting Tuan Wu. Bahwa, tuan muda asosiasi LoB adalah anak angkat dari Yang Mulia Hong", Sang terkejut sekaligus ketakutan karena lupa memberitahu hal sepenting ini kepada Perdana menteri Wu.
"Bodoh!, Jhi mari kita ikut kesana. Lalu untuk kalian, bawa semua prajurit yang kalian punya ke benteng pertahanan. Kita gempur dua arah", perintahnya dengan marah.
"Baik!"
*****
(Di Atas Langit)
"Xixixi, sepertinya mereka sudah menyadari kesalahannya. Tapi sayangnya itu semua terlambat. Hahahah!", Ling Ro Bai sangat bahagia malam ini.
Melihat banyak sekali orang pusing akan kejadian demi kejadian yang menimpa mereka. Walaupun tak ikut andil secara langsung, tetap saja ia merasakan perasaan berdebar yang begitu hebat.
"Kak Yei, perintahkan divisimu untuk menarik diri dari pesisir. Kak Nue, suruh semua pengawal untuk segera menggempur dari arah belakang musuh. Lalu untuk kak Fei Yi, suruh salah satu anggota mu untuk memberitahu kepada para bangsawan dan orang-orang guild petualang untuk bergerak menahan para pengkhianat itu", Ling Ro Bai menyeringai melihat semuanya.
Perasaan yang tak pernah ia rasakan selama di realm milik Shen Goldy, sekarang dapat ia rasakan di realm rendah ini. Walaupun ia tak bisa bertarung, namun dengan akalnya. Ia bisa mempermainkan musuh-musuhnya.
Ketiga orang yang mendapat perintah saat ini sedang melakukan tugasnya. Meninggalkan Ling Ro Bai bersama Ling Mei dan Ling Yui.
*****
(Di Pesisir)
Asosiasi Nuta terkejut karena tiba-tiba pihak lawan mundur tanpa alasan. Namun mereka menghiraukannya. Memilih bergegas ke arah kota Wengsang.
Lima orang dengan pakaian mewah baru sampai dan heran karena tidak adanya musuh di tempat tersebut. Salah satu dari mereka pun bertanya.
"Kemana mereka?", tanya salah satu petinggi.
"Musuh tiba-tiba saja menarik diri dari pertarungan tuan. Kami tidak mengejarnya karena memilih untuk pergi ke kota", jelas kapten yang memimpin.
"Hmm, walaupun aneh biarkan saja. Mari cepat ke kota. Karena bantuan kekaisaran telah datang untuk membantu", mereka semua kaget. Namun dengan cekatan terus bergerak menuju kota Wengsang.
*****
"Entah siapa yang bodoh kak Mei, mereka dengan mudahnya terperangkap dalam jaring yang sama. Hahaha!", Tawa Ling Ro Bai hanya di tanggapi dengan gelengan kepala oleh kedua perempuan disisinya.
Mereka sadar bahwa ini adalah pencapaian terbesar pertama Ling Ro Bai dalam masalah bisnis. Sehingga keduanya memakluminya.
Tiba-tiba dari ruang kosong muncul tiga sosok perempuan. Mereka berdiri di belakang Ling Ro bai dan sejajar dengan Ling Mei dan Liang Yui.
"Semua sudah beres Ro'er, apakah aku bisa ikut berperang. Agar tak terlalu membosankan", ujar Ling Nue.
"Aku sudah memikirkan itu Kak Nue, tapi kakak harus sedikit bersabar karena aku ingin mempersembahkan ikan besar untukmu", ucap Ling Ro Bai dengan seringai lebar.
*****
Peperangan terus terjadi, pedang saling beradu. Berbagai teknik terus dikeluarkan. Jurus-jurus andalan yang mereka miliki dikeluarkan untuk membabat musuh.
Kedua belah pihak masih saling berbentrokan, lebih dari 3 jam mereka berperang. Namun belum ada tanda-tanda pihak yang menang.
Boommm!
Hingga suara ledakan sedikit menghentikan perang. Suara tersebut timbul dari efek turunnya Tuan Wu dan Tuan Jhi. Keduanya tanpa pandang bulu terus membabat musuhnya.
Para prajurit kekaisaran langsung tersadar begitu kepala jatuh ke tanah.
"Itu Tuan Jhi dan perdana menteri!, Serang!", kapten mereka berteriak menambah semangat untuk menggempur prajurit kekaisaran.
Hanya bertambah dua sosok saja telah membalikkan keadaan yang semulanya berimbang.
Sedikit demi sedikit korban jiwa dari pihak kekaisaran bertambah. Setelah setengah jam berlalu, pihak kekaisaran kembali dibuat gemetaran karena bala bantuan musuh yang begitu banyak telah muncul.
Padahal di pihak mereka saat ini saja hanya tinggala 2 ribuan orang saja.
Whoaa!
Whoaa!
Teriakan serentak membuat mental prajurit down. Apalagi melihat lautan musuh yang datang seperti.ombak.
Peperangan kembali terjadi walaupun tidak berimbang. Korban jiwa terus berjatuhan sampai pada saat semua hampir menyerah.
Pasukan berjumlah hampir 5 ribu orang datang dengan pakaian serba putih. Di dada sebelah kiri mereka ada sebuah gambar naga hitam yang melingkar.
Kekaisaran tahu siapa mereka, membuat mental yang tadinya menurun kembali semangat saat bantuan tiba. Dengan gencar prajurit kekaisaran yang tadinya bertahan menjadi menyerang.
Moral yang tinggi dalam pertempuran memang sangat dibutuhkan untuk membalikkan kead\n. Pertarungan menuju setengah puncak pun dimulai.
Kultivator dari asosiasi sungguh menakutkan karena dapat membunuh lawannya dengan mudah.
"Tuan Wu, jika begini terus kita yang akan kalah", ucap tuan Jhi yang saat ini sedang menghalau pedang dari musuhnya.
Tuan Wu tak menjawab, ia lebih fokus ke pertempuran di depannya. Setelah berhasil membunuh beberapa musuhnya, ia pun berkata.
"Kita tak bisa mundur lagi, lihatlah sekelilingmu", ujarnya. Tuan jhi pun kaget ketika semua pihaknya telah dikepung tanpa celah sedikitpun.
"Sial!, kita telah ditipu oleh bocah sialan itu. Semoga para bangsawan bodoh itu cepat sampai kesini", kata Tuan Jhi dengan marah.
keren... bener keren