Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merahasiakan
Rania menggulung badannya dengan selimut dan masih berguling di tempat tidur. "Astagaaa...lebay banget sih akuuu. Cuma dapat chat gini aja jugaa." Rania kembali melihat chat dari Hardin di hpnya.
Dia memegang dadanya yang berdegub kencang. Dia mengatur nafas dan degub jantungnya. "Haduuh...aku jawab apa ya. Eh tadi dia chat nanya apa ya?." dia men scroll kembali chat daritadi Hardin.
R : Aku lagi baringan ni mas. Pegel banget tangan aku abis nyalin pelajaran, itu pun belum selesai 😥 (sent)
Rania terus memandangi layar hpnya berharap pesannya segera dibalas. Menunggu selama lima menit membuatnya gusar, padahal masih lima menit. "Kok belum dibalas sih. Apa dia sibuk ya.?" Rania lupa tadi pagi dia mengirim pesan pagi dibalas siang dia gak gusar kayak gini.
R : Mas lagi sibuk ya? maaf ya aku ganggu. Selamat kerja mas 😊(sent)
Setelah itu dia memutuskan untuk tidur.
Ternyata Hardin memang sengaja lama membalas chat dari Rania. Dia mau lihat bagaimana respon Rania kalau dia lama balas chatnya.
Hahaha...pasti sekarang wajah gadisku lagi cemberut. Aaah rasanya pengen liat langsung aja. Hardin senyum senyum membayangkan bagaimana wajah Rania yang sedang cemberut.
H : Kamu gak ganggu kok sayang. Aku tadi lagi dikamar mandi. Yaudah kamu istirahat ya, kalau perlu bantuan bilang aja sama mas ya. ❤ (sent)
...****************...
Hari hari dilalui Rania seperti biasanya. Yang beda hanya dia menjadi lebih sering menghabiskan waktu untuk belajar dan juga mengecek ruko yang sedang di renovasi. Karena rencananya Rania akan mulai jualan kue di ruko setelah selesai sekolahnya.
Hubungannya dengan Hardin pun semakin dekat. Mereka selalu bertukar kabar melalui chat atau telpon. Memang mereka jarang bertemu karena kesibukan masing masing. Rania yang sibuk belajar dan juga mengontrol bundanya sekaligus mengontrol renovasi ruko, sedangkan Hardin disibukkan dengan meeting sana sini mengenai pembangunan hotel yang baru.
Dua hari lagi Rania akan ujian kelulusan membuatnya selalu mengurung diri dikamar dengan buku buku pelajaran. Sesekali dia keluar hanya sekedar untuk melihat atau pun berbincang dengan sang bunda.
Seperti malam ini, Rania masuk kekamar bundanya. "Bunda lagi apa.?" tanya nya saat sudah didalam kamar.
"Eh sayang, kamu gak belajar.?"
"Udah bunda, ni istirahat sebentar setelah itu lanjut belajar lagi. Gimana hasil pengobatan bunda? Ada perubahan gak?" Rania memperhatikan raut wajah sang bunda yang menurutnya makin hari semakin pucat. "Kok kayaknya wajah bunda makin pucat ya bun.? Bunda minum obatnya teratur kan?" tanya Rania karena dia tidak bisa memperhatikan secara langsung apa bu Maya minum obat apa tidak.
Bu Maya terkejut mendengar pertanyaan anaknya. Tapi dengan cepat dia menyembunyikan rasa terkejutnya. "Ya seperti kamu lihat nak, kondisi bunda lebih baik kan. Wajah bunda pucat mungkin karena kondisi bunda kan emang lagi gak sehat." ujar bu Maya sedikit gugup.
"Bunda gak lagi sembunyikan apa apa kan dari Ran?" selidik Rania karena curiga dengan sikap Bu Maya. "Ran bakal sedih banget lho kalo bunda sampai ada nyembunyikan sesuatu lagi dari Ran." sambungnya dan membuat Bu Maya langsung menoleh melihat Rania yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Enggak sayang. Gak ada yang bunda sembunyikan kok dari kamu." bu Maya mencoba menetralkan perasaannya di hadapan Rania.
"Ya sudah. Bunda istirahat ya, Rania juga mau lanjut belajar dikit lagi ni bun." Rania pun beranjak keluar dari kamar bu Maya dan langsung masuk ke kamarnya untuk lanjut belajar.
Triintiing
Triinting
Triinting
Niatnya untuk lanjut belajar tertunda karena suara pesan masuk di hpnya. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat si pengirim pesan.
H : Malam sayang. Kamu lagi ngapain?
H : udah makan malam belum?
H : Mas rindu nih sama sayang nya mas. Besok pulang sekolah mas jeput kamu ya. ❤
Rania merasa beruntung jadi kekasih Hardin. Padahal waktu sebelum jadian mereka baru beberapa kali bertemu, chat juga jarang. Palingan mereka saling kirim chat untuk membahas seputar kerja sama yang biasanya berakhir dengan obrolan santai. Sekarang sudah 1 bulan mereka menjalin hubungan. Rania berharap hubungan mereka bisa langgeng karena dia sudah merasa nyaman dengan Hardin.
R : Malam mas. Ran masih lanjut belajar ni (sent)
R : Ran udah makan. Mas udah belum? (sent)
R : Iya mas. Tapi kayaknya kita gabisa lama ketemuannya karena kan dua hari lagi Ran akan ujian akhir.(sent)
H : Oke sayang, sebentar juga gak apa apa ketemuannya. Kamu jangan tidur terlalu malam ya, gak bagus buat kesehatan.
H : Night sweet. Love you
Balasan chat dari Hardin selalu membuat Rania berguling guling ditempat tidur karena malu sendiri. Bahkan tak jarang dia sampai terjungkang ke lantai. "Bisa mati jantungan aku lama lama ini. Haish." ucapnya sambil mengetik balasan chat untuk kekasihnya.
R : Iaa mas ku tersayang. Love you too 😙😶(sent)
"Aaa..begoook. Ngapai juga mesti pakai emoticon gitu. Haduuh...pasti dia bakal mikir gue genit deh ah begok." Rania memukul kepalanya dilanjut dengan menutup wajahnya dengan bantal.
Puas berguling guling di tempat tidur, Rania pun memilih untuk langsung tidur karena sudah lelah. Besok subuh selesai shalat dia akan lanjut belajar lagi sebentar.
Dikamar Bu Maya
Sepeninggal Rania dari kamarnya, Bu Maya tidak langsung istirahat. Dia berdiri dan berjalan mendekati jendela dan melihat ke atas. Lama dia termenung sambil menatap bulan yang terlihat indah untuknya. Haaah. Terdengar helaan nafas berat dari mulutnya.
"Pah..aku gak kuat untuk memberitahunya pah. Tapi kalau dia tidak ku beritahu, aku takut dia akan kecewa pada ku. Apa yang harus aku lakukan pah. Kenapa dulu papah menyuruhku untuk merahasiakan semua ini dari anak kita pah. Dia bahkan sudah curiga tadi pada bunda. Apa yang harus bunda lakuin pah. Hiks..hiks. Aku butuh kamu paah..hiks.. Kenapa kamu tega ninggali aku secepat ini. Aku gak kuat pah..hiks..aku gak kuat."
Bu Maya menahan isak tangisnya agar tidak di dengar oleh Rania. Dia kembali teringat percakapannya dengan sang suami dulu.
Flashback on
Pak Hendra mengelus punggung bu Maya dengan lembut berharap bisa memberi ketenangan. "Bunda yang sabar ya. Bunda harus kuat, kita pasti bisa menghadapinya. Papah akan selalu mendampingi bunda." Terdengar olehnya isakan tangis bu Maya.
"Hiks..hiks. Kenapa mesti bunda pah. Bunda belum siap nerima ini. Hiks...hiks. Gimana nanti dengan Rania. Dia pasti akan sedih kalau sudah tahu tentang ini semua..hiks..hiks.."
Pak Hendra menghela nafasnya, sejujurnya dia pun bingung bagaimana memberitahu anaknya itu. Karena bisa dibilang Rania sangat dekat dengan mereka dan dia juga anak yang manja. "Kalau begitu kita harus merahasiakan ini dulu dari Rania. Nanti kita coba kasih tahu dia pelan pelan." ujar pak Hendra memberi saran.
"Sampai kapan pah. Dia pasti akan curiga begitu melihat kondisi bunda nanti..hiks.."
"Nanti biar papah aja yang coba ngomong sama dia ya bun. Bunda jangan sedih lagi, bunda harus kuat demi Rania. Ya."
"Papah janji ya akan selalu ada disamping bunda. Bantu bunda menghadapi ini. Janji pah.?"
"Iya bun, papah janji."
Flashback off
Kamu bohong pah. Kamu bohong sama bunda. Hiks...hiks. Papah udah janji kan akan selalu mendampingi bunda, tapi apa? hiks. Papa ninggalin bunda sendiri menghadapi ini. hiks..hiks..
Lelah menangis, bu Maya pun memilih untuk tidur agar besok pagi dia bisa bertemu Rania dalam keadaan segar.
Terima kasih sudah mampir di novel aku. Jangan lupa like,favorite dan komen yang positif ya.