Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Hujan
"Kak Aluna, masuklah!" ucap Yama dari dalam mobil, membuka sedikit jendela mobilnya agar Aluna bisa mendengar teriakannya.
Tanpa menunggu lagi, Aluna membuka pintu mobil dan lenyap ke dalamnya.
Yama melihat tubuh kakaknya itu menggigil setelah diguyur hujan dua kali.
"Di belakang ada pakaianku, kau bisa menggunakannya!" ucap Yama tak tega.
"Tidak perlu Yama, sebentar lagi kita juga akan sampai rumah!" katanya seakan tak peduli dengan kesehatan dirinya. Ia lebih memikirkan masalahnya dengan Alee. Dan kenapa dia sangat peduli?
Yama melajukan kendaraannya dengan hati-hati karena kabut sempat menjadi penghalang penglihatannya.
Titik-titik air hujan yang cukup deras membuat kaca bagian depan mobil berembun, sesekali Yama mengambil kanebo dan mengelap kaca itu berharap embun tak menghalau pandangannya lagi.
Perjalanan mereka ke rumah Aluna sekitar satu jam karena terhalang hujan. Kini Yama mengambil payung di belakang dan hendak mengantar Aluna masuk ke dalam.
"Aku sudah terlanjur basah, kau pakai saja payungnya, ayo masuk ke dalam. Cuaca sedikit buruk jika kau berkendara di jalanan lagi, biarkan hujan reda dulu!"
"Hm."
Aluna dengan cepat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh Vannya yang begitu khawatir melihat Aluna basah kuyup.
"Kau bisa masuk angin kenapa tidak pakai payung?" menyodorkan handuk ke arah Aluna.
"Sudah terlanjur basah ma, Aluna ke atas dulu!"
Aluna berlalu begitu saja tanpa menunggu tanggapan dari Vannya, membuat wanita yang melahirkan Aluna itu bertanya-tanya.
"Bibi," sapa Yama setelah dirinya mendekati Vannya.
"Hei Yama, kenapa dengan Aluna? Sepertinya dia tidak seceria biasanya?"
"Ada masalah sedikit Bibi, nanti kalau sudah tenang, Luna pasti akan cerita!" ujar Yama sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Hmmm, pasti masalah anak muda. Aku buatkan teh hangat dulu, tunggu di sini!"
Yama mengangguk sebelum Vannya pergi ke dapur untuk membuat teh.
Di dalam kamar, Aluna menangis tergugu mengingat ucapan Alee tadi. Tak di sangka pria itu juga menyalahkan dirinya bahkan menuduh kakaknya melakukan hal buruk yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Davian.
Ponselnya berdering. Aluna segera melihat siapa yang menelponnya di saat yang seperti ini.
"Alee," ucapnya lirih.
Ia tak langsung mengangkatnya, melainkan mengira-ngira apa yang akan Alee katakan sekarang. Mungkinkah dia menyesali apa yang diucapkannya tadi? Atau mungkin dia malah mengatakan hal lebih buruk lagi yang ditujukan pada kakaknya?
Aluna enggan mengangkat telepon itu, tapi nyatanya ia mengangkatnya.
"Ada apa?" ucapnya malas.
"Maafkan aku, aku sudah emosi tadi!" suara Alee terdengar memohon.
"Hmmm,"
Mereka larut dalam keheningan.
"Bisakah kita kembali berteman seperti sebelumnya? Aku harap kau masih mau melakukannya!" kata Alee kemudian.
"Tidak jika kau masih menuduh kakakku sembarangan. Aku mengenal dia lebih lama daripada dirimu, aku tahu betul siapa kakakku!" Aluna memperingatkan.
"Iya, aku tidak akan menuduhnya lagi. Sekali lagi maafkan aku!"
Tanpa Alee melihat, Aluna mengangguk sembari mengusap air matanya yang terjatuh di atas pipi." Iya," ucapnya kemudian.
"Tadi kau basah kuyup, apa kau sudah mengganti pakaianmu dan meminum air hangat?"
"Aku sudah berganti pakaian. Tenang saja, aku tidak apa-apa, Lee!"
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mentraktirmu makan lain kali sebagai permintaan maafku. Aku harap kau tidak menolaknya!"
**
Di meja makan, tak ada pembicaraan sama sekali antara Aina dan Davian.
Antara malu dan canggung setelah kejadian mereka satu kamar. Davian lebih menikmati sarapan yang sudah di sediakan bi Inah, sedangkan Aina juga menikmatinya walaupun tak senikmat cara Davian menikmati sarapannya.
Di sini Aina yang merasa begitu malu lantaran dirinyalah yang masuk ke dalam kamar Davian, apalagi bi Inah memergoki dirinya saat keluar kamar Davian.
"Bibi, bisa kau buatkan aku minuman jahe?!" pinta Dav.
"Baik Tuan!"
Aina hanya melirik saja tanpa berucap apapun.
"Antar ke kamarku Bi!" ucap Dav setelah ia berdiri dan meninggalkan dapur menuju ke dalam kamarnya.
Kedua bola mata Aina mengikuti gerak tubuh Dav yang mulai menghilang.
"Lebih baik jika kalian sering berkomunikasi," seru bi Inah sembari memberikan cangkir berisi air jahe pada Aina." Berikan! Tidak baik jika aku yang masuk ke dalam kamar Tuan Dav, bukan?!"
Seringai bi Inah membuat Aina seperti terpeleset pada tempatnya.
Ia mengambil cangkir itu kemudian membawanya ke lantai atas.
Sebelum masuk ke dalam kamar Davian, terlebih dulu Aina mengambil napas dalam-dalam, menyimpannya di dalam paru-paru.
Ia melangkah membuka pintu kamar Davian dan mendekati nakas yang ada di sebelah tempat tidur Davian.
"Aku ingin membicarakan sesuatu!" seru Aina setelah ia menaruh cangkir dengan sempurna di atas nakas.
"Bicara apa?" tanya Davian memandang lekat mata Aina dan memberi isyarat pada wanita itu untuk duduk di sebelahnya.
"Emmm, aku ... ingin mencari tahu pelaku yang menculik Alee dan membuyarkan pesta pernikahan kami!" Aina menunduk. Davian pasti berpikir bahwa Aina masih memikirkan pria itu, walau sebenarnya memang iya.
Aina tidak bisa tinggal diam. Ia harus bisa menemukan orang yang telah membolak-balikkan fakta, membuat semuanya menjadi salah paham tak berujung.
"Itu berarti kau tidak menuduhku melakukannya bukan? Aku cukup senang!" Davian tersenyum puas karena Aina sudah mulai percaya padanya.
"Aku berharap aku tidak salah."
"Tidak tidak, kau benar. Aku memang tidak pernah melakukan pekerjaan se hina itu," Davian lebih mendekat pada Aina." Lalu apa yang akan istriku ini lakukan?"
'Istri?' kata itu seakan membuat Aina semakin bersalah saja.
"A-aku tidak tahu darimana memulainya. Aku tidak pernah mencoba menjadi seorang detektif."
"Tidak usah melakukan apapun. Anak buahku sudah bekerja cukup baik untuk menyelidiki semua ini!"
Aina sedikit terkejut. Ia mendongak seakan tak percaya Dav telah membantunya tanpa kata sebelumnya.
"Cukup jadilah istri yang sesungguhnya untukku. Apa permintaanku ini sulit?" imbuh Davian.
Aina tak mengerti apa maksud dari Davian.
Entah siapa yang memulai lebih dulu, wajah mereka semakin dekat dan tanpa mereka sadari bibir mereka saling bertautan. Semakin dalam dan semakin lama mereka menyalurkan gairah yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Tangan Dav memegang pinggang Aina dan menariknya lebih mendekat padanya.
Suara hujan yang berjatuhan di atas rumah ditambah suara gemuruh petir yang menggelegar di atas sana nyatanya tak membuat mereka mengalihkan aktifitas panas mereka.
Aina tiba-tiba tersadar sebelum ia mendorong dada Davian membuat ciuman itu terhenti.
"Kenapa?" tanya Davian mengerutkan keningnya.
"A-aku, aku," sebelum Aina menyelesaikan ucapannya, Davian sudah memasuki kembali bibir merah itu dan tak peduli bagaimana ekspresi Aina sekarang. Yang jelas apa yang mereka lakukan adalah sah, tiada yang perlu disesali jika itu harus terjadi.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..