Raihana seorang gadis dari keluarga yang berada kedua orang tuanya protektif terhadap pergaulan putrinya sehingga dia masukkan kepesantren.setiap bulan kedua orang tuanya selalu datang menyambangi anak bungsunya Raihana biasa disapa Hana memiliki seorang adik laki Haikal namanya mereka saling mengasihani namun kebahagiaan itu tak berjalan lama ketika suatu hari kejadian yang sangat memilukan itu terjadi dimana mobil orang tuanya mengalami kecelakaan yang menyebabkan seluruh keluarganya harus berpulang kepangkuan ilahi dan itu tentu membuat batin Hana sangat terpukul.
Namun sahabat ayahnya Ridwan beserta istrinya datang merangkul Hana yang saat itu sangat terpukul dan kedua sahabat ini dulu pernah berencana menjodohkan anak mereka suatu hari nanti. Bagaimanakah kelanjutan dari perjodohan ini? kita simak cerita selengkapnya. Cerita ini akan sedikit menguras emosi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ichag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ruang kerja ridwan
" sekali lagi terima kasih saya nggak tau apa yang akan terjadi seandainya tidak ada kalian apa jadinya perusahaan dan juga pabrik, saya berjanji akan secepatnya ikut menjaga dan membesarkan perusahaan ayah" kata Hana
" aku janji secepatnya akan ikut mengelola perusahaan tolong bimbingannya dan arahannya" kata Hana lagi
" tentu dengan senang kami akan mengajarkan non Hana tentang perusahaan." kata Pras
" terima kasih sekali lagi" jawab Hana kembali
" baik klo begitu saya rasa cukup sekian dulu pembicaraan kita besok pagi aku harap kamu Lia datang ke kediaman Hana agar kalian bisa lebih leluasa membicarakan masalah perusahaan dan juga pabrik" kata Ridwan sambil melihat jarum jam didinding ruangan kerjanya
kemudian Pras dan Lia pun pamit pulang. dan mereka pun keluar dari ruang kerja ridwan.
sementara di ruang keluarga.tampak Alfin dan Rijal sedang asyik ngobrol. kemudian ibu Fitri datang membawakan nampan berisi tiga mangkuk puding dan meletakkan diatas meja.
"Tante tau nggak ini yang bikin aku betah lama lama disini karena lidahku selalu dimanjakan sama masakan Tante" kata Alfin sambil membetulkan duduknya.
"kamu bisa aja fin" kata Tante Fitri
makanya kamu cepet cari istri biar ada yang masakin kamu tiap hari" Tante Fitri menggoda
" klo kau mau menikah asal calonku kayak Hana ..ha ha ha." Alfin tertawa
Rijal yang mendengar perkataan alfin melotot dan memukul lengan alfin " sialan loe " kata Rijal
"kamu tu jal Hana itu punya Rijal kamu cari cewek lain awas ya klo kamu godain Hana Tante nggak akan segan segan menjewer telinga mu " kata Tante Hana tertawa.
" oh ya ma aku mau nanya tadi mama kemana sama Hana" tanya Rijal
"
" kenapa kok tumben kamu bertanya apa yang mama lakukan sama Hana?
ato jangan jangan pacarmu sudah mengadu tantang kejadian tadi siang ?" kata Fitri
" ya bukan gtu ma tapi kenapa sih Mama nggak bisa bersikap sedikit manis sama siska " kata Rijal
" apa pantas mama bersikap manis sama orang yang tidak bisa menghargai orang lain " kata Fitri lagi
"maksud mama? kan wajar klo dia marah karena kecerobohan pelayan itu" Rijal mencoba membela
" tapi tidak perlu berlebihan begitu sampai mendorong orang sampai jatuh dan sambil menghina pula " Fitri mulai kesal.
tiba tiba Hana datang dan mendengar percakapan mereka.
" maaf itu salah aku bukan salah Tante itu karena aku terlalu ikut campur dan aku minta maaf karena tidak tahu kalo itu kekasih mas rijal." kata Hana
" ya jal aku rasa memang Siska yang berlebihan" kata Alfin berusaha menengahi
" jadi kamu lebih percaya omongan kekasihmu dari pada mamamu sendiri?" kata Fitri mulai sedih
" ya bukan gtu ma aku bingung aja jadi aku mohon mama sedikit ramah sama siska " Rijal memohon
" mama nggak janji, dan tolong kamu kasi tau dia untuk belajar etika dan tata Krama yang baik. kata Fitri sambil berlalu meninggalkan mereka dengan perasaan kesal.
Rijal merasa bersalah atas ucapannya tadi kemudian dia mengejar mamanya dan meraih tangan mamanya
" ma maafkan atas ucapanku tadi aku mohon mama jangan marah sama aku" Rijal memeluk mamanya karena ia tak sanggup melihat mamanya mendiamkannya
" ya sudah mama nggak marah sekarang mama mau ke kamar dulu mama capek " Fitri kepada putranya.