“Apa yang ada di dalam fikiran kamu, dia itu adikmu?”
Sakti menundukkan kepalanya saat bentakan itu datang dari sang Bunda. Tak pernah sekalipun ia mendapat hal seperti ini dari kedua orang tuanya. Ia adalah seorang pemuda yang patuh, tak sekalipun ia membantah perintah dan keinginan orang tuanya. Termasuk memilih jalan hidupnya, ia pasrahkan pada kedua malaikat tak bersayapnya itu. Tetapi untuk masalah jodoh, entah kenapa ia sendiri pun tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada Ayra. Gadis yang menyandang predikat resmi sebagai adik kandungnya sendiri.
Apakah yang Sakti fikirkan sehingga ia mencintai adiknya sendiri?
Bagaimanakah kisah cintanya akan berakhir?
Dapatkah semua orang menerima perasaannya yang tak lazim ini?
A story by : Myhani
Ig : Srihani.92
Fb : Srihani
Tg : Srihani.92
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa itu semakin nyata adanya
Pagi ini, sebenarnya Bunda ingin sekali menanyakan tentang kejadian semalam. Tapi Ayah terus menahannya. Walau sebenarnya Ayah pun ingin mengetahui tentang kedekatan mereka. Tapi biiarkan saja dulu waktu yang menjawabnya.
Tidak berapa lama Ayra turun dengan Sakti, bibir mereka tak henti mengembangkan senyum. Tak lupa, tangan mereka yang terus bertautan selama menuruni tangga. Sakti menarikkan kursi untuk Ayra, setelah itu ia berputar menarik kursi untuk dirinya sendiri.
“Makasih, Bang!” ucap Ayra dengan senyum manisnya. Sakti balas tersenyum tak kalah manis pada Ayra.
Bunda dan Ayah yang sudah lebih dulu berada di sana seakan tak dianggap ada keberadaan mereka. Seakan dunia ini hanya milik berdua dan Bunda dan Ayah cuma ngontrak. Bunda memegang tangan Ayah yang tengah memegang sendok, tatapan mereke bertemu. Bunda mengangguk, menyuruh Ayah bertanya lewat tatapan matanya.
"Ekhmm.. ” deheman Ayah berhasil menyadarkan kedua insan tersebut. “Ini kalian ada apasih, kok kelihatannya lagi seneng banget?" menatap silih berganti Ayra dan Sakti yang duduk du kanan dan kirinya.
“Tidak ada apa-apa kok, Yah. Kita cuma lagi seneng aja, karena sekarang kita sudah baikkan.” jawab Ayra seraya menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Sakti ikut mengangguk membenarkan ucapan Ayra. Tapi kedua orang tua itu seakan tak yakin dengan jawaban Ayra.
“Sebahagia itu?" tanya Bunda lagi, seakan lebih memastikan.
“Ini Bunda sama Ayah, kok jadi aneh gitu sih? Bukannya sudah biasa, melihat kita seperti inu?" kali ini Sakti yang berucap, sambil melihat kedua orang tuanga bergantian. Bunda dan Ayah hanya tersenyum kaku sebagai respon atas pertanyaan Sakti barusan.
Kali ini Ayra berangkat dengan Sakti lagi, seperti dulu. Bahkan sampai di kampus pun keduanya tak kunjung melepaskan pegangan tangannya. Sakti lebih dulu mengantar Ayra ke kelasnya, seakan tak perduli lagi dengan gosip yang mungkin akan kembali beredar seperti beberapa waktu lalu. Mereka terus saja memamerkan kemesraannya.
“Ay, tumben?” tanya Mita. Ketika Ayra duduk di kursinya.
“Apa?” tanya Ayra balik, ia menatap Mita dengan kening berkerut.
“Tumben kamu diantar Bang Sakti sampai depan kelas?” Ayra hanya mengangkat kedua bahu acuh.
Sejak tadi pagi setiap orang yang dia temui, selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Lebih baik ia menyibukan dirinya dengan buku-bukunya dari pada terus mendengar pertanyaan yang tidak terlalu penting itu.
Siang ini Ayra sudah duduk di kantin bersama Mita dan tidak berapa lama Arsa mulai ikut bergabung seperti biasa. Mereka makan siang sambil membahas apapun yang seru untuk di jadikan topik pembicaraan. Tidak berapa lama, tiga orang dosen muda yang masih terlihat sangat tampan masuk ke kantin tersebut dan diantara mereka Sakti termasuk salah satunya.
Senyum Sakti merekah saat melihat Ayra sudah berada di sana. Laki-laki berkemeja hitam itu mengajak kedua temannya untuk bergabung di meja Ayra.
“Kok, kita duduk di sini, Sak?” tanya Andrean salah satu dosen kimia.
“Kenapa memang?” tanya Sakti seraya duduk di samping Ayra, setelah mengusap kepala Ayra dengan lembut.
“Ya nggak apa-apa sih. Tapi tumben saja iya 'kan, Dre. Biasanya kamu cuma bisa mandangin mahasiswi cantik di sebelah kamu itu dari pojokan sana, tanpa berani menghampirinya.” jelas Erik seraya menunjuk Ayra yang langsung menoleh pada Sakti, Andrean mengangguk setuju.
Sakti menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Ia melihat sekeliling, di mana kini. Ayra, Mita dan Arsa menatap dirinya dengan penuh pertanyaan.
“Apa sih?” Sakti menoleh pada Ayra dan seketika tatapan mereka bertemu dengan senyum dari bibir masing-masing. Dan siapapun yang melihatnya pasti akan mengira jika keduanya adalah sepasang kekasaih yang saling mencintai. Karena cinta itu terlihat begitu jelas dari cara mereka saling menatap.
hubungan sakti sama ayra tu sesungguhnya apa..