Khalisa, harus rela bekerja pada keluarga kaya. Bukan sebagai pembantu rumah tangga melainkan merawat seorang pria yang bernama Adrian. Adrian adalah seorang pria muda yang di nyatakan stroke.
Meski pun Adrian sangat keras kepala dan memperlakukan Khalisa dengan sangat kasar. Khalisa tetap sabar menjalankan pekerjaan nya demi sang adik yang sedang sakit keras.
Dari rasa benci berubah ke rasa suka lalu berubah lagi pada rasa benci hingga pada akhirnya mereka saling mencintai. Banyak hal yang terjadi dalam hidup Khalisa, namun diri nya dengan sabar melewati kesedihan yang selalu datang dalam hidup nya.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Silahkan baca dan Jangan lupa Like, Rate, Vote and Coment 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.Khalisa Kenapa?
"Khalisa kenapa?" tanya Areta yang baru saja masuk.
"Adrian bilang Khalisa pingsan dan di temukan di wilayah xxxx." ujar Orland.
"Kok bisa? jauh banget." ujar David.
"Apa yang di cari Khalisa di sana?" tanya Areta.
"Aku tidak tahu, aku sedang meninjau proyek di sana dan gak sengaja ketemu Lisa di emperan toko." jawab Adrian.
Tak berapa lama Khalisa sadar, wanita itu memegang kepala nya yang masih sakit. Khlisa melihat Areta, ia langsung memeluk Areta dan menumpahkan tangis nya di pelukan istri David.
Semua saling pandang, banyak pertanyaan yang ada di benak mereka. Areta masih mencoba menenangkan Khalisa tanpa bertanya apa-apa.
Cukup lama, akhir nya Khalisa mulai tenang. "Minum dulu!" ujar Orland sambil menyodorkan satu gelas air.
"Terimakasih." balas wanita itu.
"Makan dulu, Fattan sudah membelikan makanan untuk mu." ujar Adrian lalu menyuruh Areta untuk menyuapi nya.
Tak habis, makanan itu tak habis. Mata nya sembab namun wanita itu masih tak mau bercerita.
"Khalisa, apa benar Adrian yang menemukan mu?" tanya Orland. Awas saja jika Adrian bohong, habis lah dia!!
"Iya, terimakasih Adrian." ucap nya lirih.
"Apa yang kau lakukan di sana? kenapa kau berkendara sejauh itu?" tanya Adrian penasaran.
"Aku ada urusan." jawab nya singkat membuat semua orang saling pandang.
"Kau pulanglah! biar aku yang menjaga Khalisa." ujar Orland pada Adrian.
Ingin menolak karena pria itu tidak tega meninggalkan Khalisa yang masih sakit.
Namun sorot mata dari ke tiga manusia yang ada di ruangan itu seakan menyuruh nya pergi.
"Khalisa, aku pulang dulu ya." ucap Adrian lalu pamit. Khalisa menatap punggung lelaki yang baru saja keluar. Ada perasaan lain yang ia rasakan ketika Adrian bersikap baik pada nya
"Kalian juga pulang lah, sudah malam." ujar Orland pada David dan istri nya.
"Lisa, kami pulang dulu. Besok kami ke sini lagi." ujar Areta.
"Jangan lupa istirahat." sambung David kemudian mereka pulang.
Hening, hanya ada Khalisa dan Orland. "Jika kau ada masalah, sebaiknya kau cerita. Siapa tahu aku bisa membantu."
"Tidak ada..." jawab singkat Khalisa namun sorot mata nya menggambarkan tidak.
Orland tidak mau memaksa, mungkin saja Khalisa belum siap untuk bercerita. "Istirahat lah, jika kau butuh sesuatu panggil aku." ujar Orland lalu berpindah tempat duduk di sofa panjang yang tak jauh dari brankar.
Tak bisa memejamkan mata meski mata nya sudah sangat berat. Wanita itu hanya menatap kosong langit ruangan itu. Banyak pertanyaan di kepala nya yang satu pun belum terjawab. Kekecewaan kepada takdir yang mempermainkan sungguh menyayat hati wanita itu.
Keesokan pagi nya, Orland bangun lalu menghampiri Khalisa yang masih tertidur. Tak berapa lama Adrian datang.
"Aku membawakan makanan untuk Khalisa, apa dia sudah bangun?"
"Belum, tolong jaga Lisa sebentar. Aku ada meeting pagi ini. Nanti Areta akan kesini." ujar Orland lalu di iyakan oleh Adrian.
Adrian kemudian duduk di kursi tepat di samping brankar. Mata nya terus menatap ke wajah yang sudah lama tak ia pandang dengan jarak sedekat ini.
Mata hitam dan sembab tak bisa di sembunyikan Khalisa. Jam masih menunjukan pukul setengah enam pagi, tapi entah kenapa Adrian sudah kegatalan kaki nya untuk pergi ke rumah sakit.
Tak berapa lama Khalisa membuka mata dan orang pertama yang ia lihat adalah Adrian. Wanita itu sebenarnya kaget dan bingung ingin bicara apa.
"Kau sudah bangun?" ujar Adrian lalu membenarkan bantal agar Khalisa bisa duduk bersandar. "Minum dulu." Adrian menyodorkan gelas berisi air putih.
"Terimakasih." ucap nya malu-malu.
"Aku membawakan mu sarapan, makanlah setelah itu minum obat mu." ujar Adrian lalu membuka tupperware.
Aneh bukan, Adrian tak mengizinkan Khalisa makan sendiri. Pria itu menyuapi Khalisa meski Khalisa menolak namun Adrian tetap menyuapi nya.
Jantung ke dua nya berdetak sangat hebat, mulut mereka tak bicara namun hati mereka saling bicara dan bertanya. Sesekali Khalisa melirik ke arah Adrian. Wajah tampan nya dapat memikat hati wanita mana pun apalagi dengan sikap Adrian yang sekarang.