Carla, gadis berusia 20 tahun harus menerima kenyataan kalau kehidupannya harus berubah 180 derajat setelah kematian kedua orang tuanya. Perusahaan yang bangkrut, sahabat yang menjauh, kerabat yang tak mau menampungnya, juga kekasih yang meninggalkan dirinya di kala jatuh, semakin membuat kehidupan Carla makin terpuruk. Saat itulah hanya Aska Rafasya yang mau berteman dengannya, orang yang selama ini dia rendahkan.
Mampukah Carla menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya?
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang lima-nya.
Follow akun medsos otor.
fb : Samudra Lee
ig : Samudra_Lee_19
Salam sayang Otor ter--KECEH
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JBDC#28
"Kamu." Carla menunjuk orang tersebut, dia nampak terkejut melihat orang yang berdiri di depannya.
Orang itu mengulurkan tangannya kepada Carla. "Refan Rafasya," sebut orang itu memperkenalkan diri.
"Ja ... ja ... jadi kamu adalah ...." Carla menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
"Saya Carla, OB di sini. Terimakasih atas bantuan Pak Refan semalam. Mungkin kalau tidak ada Bapak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Saya," ucap Carla seraya memperkenalkan diri. Dia membalas uluran tangan orang yang ada di hadapannya.
"Tidak perlu sungkan," jawab Refan sambil tersenyum.
"Sebentar ya," ucap Refan saat hapenya berdering. "Iya, As."
Carla sedikit membungkukkan tubuhnya untuk kembali ke tempat kerjanya. Walau dalam hati dia sedikit bertanya-tanya tentang orang yang barusan menelpon bosnya itu.
Refan menjawabnya dengan mengangguk. Carla segera berjalan menuju ketempat kerjanya.
"As? Apa itu Aska? Tadi suaranya terdengar mirip dengan suara Aska?" batin Carla. "Tidak! Itu tidak mungkin Aska, mungkin hanya kebetulan saja suaranya mirip." Carla menepis kecurigaannya, dia kembali ketujuan awalnya.
*****
Carla sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian OB. Dia mulai melakukan tugasnya seperti hari-hari sebelumnya, membersihkan meja karyawan yang ada di lantai 20 dan membantu mereka saat mereka membutuhkan tenaganya.
Saat jam istirahat, nampak semua karyawan sedang membicarakan perombakan yang di lakukan oleh Refan. Mereka nampak begitu senang karena akan ada kendaraan yang mengantarkan mereka saat mereka bekerja lembur.
"Kalian tahu, tadi Pak Refan menyuruh bagian umum untuk memberikan kendaraan bagi karyawan yang lembur."
"Iya, akhirnya aku tidak lagi was was saat pulang lembur nanti."
"Eh, apa kalian tahu, katanya yang melatar belakangi usulan Pak Refan karena aku dengar ada pekerja yang hampir di lecehkan saat pulang lembur tadi malam."
"Benarkah? Nampaknya kita harus berterimakasih sama orang itu yang membawa dampak positif untuk kita."
"Iya, benar."
Itulah pembicaraan beberapa karyawan yang di dengar oleh Carla.
"Dan usulan Pak Refan tadi juga di perkuat oleh Pak Aska. Dia juga meminta agar ada kendaraan untuk karyawan yang bekerja lembur." Tambah karyawan lainnya lagi.
"Aska?" batin Carla, dia kembali mengingat kejadian di tangga tadi pagi. "Suaranya memang sangat mirip dengan Aska-ku. Tapi aku yakin, pasti ini Aska yang lain." Kembali Carla menepis kecurigaannya.
"Hai, La. Boleh duduk di sini?" sapa Nara sembari duduk di bangku kosong yang ada di depan sepupunya.
"Tentu saja boleh, Ra."
"Ohya, semalam kamu lembur sampai jam berapa? Apa Aska tidak terlambat menjemputmu?" tanya Nara.
"Maksudmu?"
"Semalam Aska mengantarku pulang karena dia pikir kamu masih akan lama pulangnya," jawab Nara. "Makanya aku tanya apa dia telat menjemputmu?"
Mendengar jawaban dari sepupunya itu membuat hati Carla sedikit kesal.
"Kenapa Aska tidak bilang, kalau dia terlambat menjemputku karena mengantarkan Nara," batin Carla.
"La, kamu belum jawab pertanyaanku barusan. Apa Aska terlambat menjemputmu?" Nara mengulang pertanyaannya.
"Tentu saja tidak, dia datang tepat waktu kok," jawab Carla.
"Syukurlah kalau dia tidak terlambat menjemputmu. Aku jadi merasa lega." Nara menghela napasnya lega. "Tadinya kalau dia sampai terlambat menjemputmu. Aku pasti akan merasa bersalah."
"Jangan sungkan, Ra. Kita inikan bersaudara, jadi sudah sangat wajar kalau Aska mengantarmu pulang." Carla tersenyum. Dia bangkit dari tempat duduknya.
"Ra, aku balik ke tempat kerjaku ya. Ini sudah hampir jam satu," imbuh Carla.
"Iya, La. Aku akan kembali saat makanan ku sudah habis."
"Kalau begitu aku duluan ya, Ra," ucap Carla. Dia berjalan keluar meninggal kantin perusahaan tersebut. Namun saat baru satu langkah kakinya keluar dari kantin, tiba-tiba Carla menabrak seseorang dan membuat dirinya hampir saja terjatuh. Untungnya dengan cekatan orang itu berhasil menopang tubuh Carla.
karena aku lope lope sama karyamu kak..
sukaa banget..
walopun konflik datang silih berganti, tapi penyelesaian g bertele-tele, langsung to the point..
good job kakak.. 🥰
tetap semangat menulis karya2 lainnya ya kak.. 💪🏻
semoga sehat selalu.. 😘