NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

BAB 28

ANTARA TETEH DAN BIBI

Apel dari Raka bertahan empat hari di meja makan.

Wiwid tidak memakannya, tetapi juga tidak membuangnya. Setiap pagi ia memindahkan buah itu agar tidak terkena matahari. Setiap malam ia berkata besok akan dibuang.

Pada hari kelima, kulit merahnya mulai kehilangan kilau.

Wiwid memasukkannya ke kulkas.

"Cuma biar nggak mengundang lalat," katanya kepada apartemen kosong.

Saat hendak menutup pintu kulkas, ia melihat pita hijau yang tadi dilepas masih tersimpan di rak bumbu. Wiwid mengambilnya, berniat membuang, lalu malah melilitkannya pada gagang keranjang buah. Benda kecil itu tidak memiliki kegunaan apa pun. Barangkali justru karena itu ia sulit mengaku mengapa masih menyimpannya.

Ponselnya tergeletak tanpa pesan baru dari Raka. Setelah ucapan Tahun Baru, pemuda itu benar-benar tidak menghubungi lagi. Tidak ada permintaan jawaban, tidak ada telepon, dan tidak ada kedatangan ke apartemen.

Ruang yang diminta Wiwid akhirnya diberikan.

Anehnya, ruang itu terasa terlalu luas.

***

Masalah muncul di Studio Widuri dua hari kemudian.

Komputer utama berhenti membaca penyimpanan jaringan saat tiga proyek harus dikirim. Seorang asisten sudah mencoba memulai ulang perangkat berkali-kali. Lampu indikator tetap merah.

"Panggil teknisi langganan," kata Wiwid.

"Lagi di luar kota, Teh. Baru bisa besok."

Wiwid menghitung tenggat di papan. Menunggu sehari berarti membayar denda dan menjelaskan keterlambatan kepada tiga klien.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Pak Herman.

`Raka kebetulan habis kuliah dekat studio. Katanya servermu bermasalah. Boleh dia lihat? Kalau kamu nggak nyaman, Akang carikan orang lain.`

Wiwid menatap kata terakhir cukup lama. Bahkan Pak Herman memberinya pilihan, tanpa tahu alasan sebenarnya.

`Suruh datang. Cuma urusan kerja.`

Raka tiba empat puluh menit kemudian dengan ransel dan laptop. Ia menyapa kru, menanyakan gejala, lalu duduk di depan rak jaringan tanpa mencoba bicara pribadi dengan Wiwid.

"Kabel ke switch longgar," katanya. "Tapi ada drive yang mulai rusak. Aku pindahkan data penting dulu."

"Berapa lama?"

"Dua jam kalau nggak ada file korup."

"Kerjakan. Gue bayar tarif teknisi."

"Nggak perlu."

"Kalau ini urusan kerja, lo dibayar."

Raka mengangkat wajah. "Baik. Kirim sesuai tarif biasa."

Ia tidak menjadikan bantuan sebagai alasan untuk tinggal lebih lama. Setelah data aman, lampu indikator kembali hijau dan pengiriman berjalan, Raka menuliskan daftar perangkat yang perlu diganti. Wiwid mentransfer biaya jasa saat itu juga.

Sebelum mematikan laptop, Raka membuat salinan cadangan terpisah dan menunjukkan kepada asisten cara memeriksa notifikasi kerusakan. Ia tidak menyentuh folder foto klien yang tidak diperlukan. Semua akses sementara ditulis di kertas, lalu kata sandinya dihapus dari perangkat pribadi setelah Wiwid menyaksikan. Sikap profesional itu membuat Wiwid sadar Raka bukan sekadar anak kampus yang kebetulan paham komputer.

"Kalau drive baru datang, teknisi mana pun bisa pasang dari catatan ini," jelasnya. "Teteh nggak perlu panggil aku."

Kalimat terakhir terdengar seperti penghormatan dan perpisahan sekaligus.

"Sudah masuk," katanya.

"Bagus."

"Aku pulang."

Wiwid yang sedang memeriksa file menoleh terlalu cepat. "Mau ke mana?"

Raka memasukkan kabel ke ransel. "Pulang ke kos. Bukannya Teteh minta aku nggak cari-cari alasan untuk dekat?"

"Iya. Bagus."

"Kalau begitu, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Pintu studio tertutup. Seorang asisten mendekati Wiwid sambil membawa kopi.

"Adiknya pintar juga, Teh."

"Bukan adik gue."

"Keponakan?"

Wiwid menatap layar terlalu lama. "Keluarga."

Satu kata itu tetap menjadi tempat paling aman untuk bersembunyi.

***

Hari Minggu, Wiwid datang ke rumah Pak Herman untuk mengembalikan beberapa album lama. Ia sengaja memilih jam ketika Raka biasanya berada di kampus.

Bu Imas menyambutnya dengan pisang goreng dan teh. Mereka baru duduk lima menit ketika pintu depan terbuka.

Raka pulang lebih awal karena kelas tambahan dibatalkan.

"Teh," sapanya.

"Raka."

Bu Imas tidak menangkap kekakuan itu. "Pas sekali. Tolong pindahkan kardus album dari mobil Teh Wiwid."

"Iya, Mah."

Raka mengangkat dua kardus, meletakkannya di ruang keluarga, lalu kembali ke kamar tanpa mencari kesempatan bicara. Wiwid justru mengikuti geraknya dengan mata sampai pintu kamar tertutup.

"Kalian habis berantem?" tanya Bu Imas.

Teh hangat hampir tersedak di tenggorokan Wiwid. "Siapa?"

"Kamu sama Raka. Biasanya dia nempel terus kalau kamu datang."

"Anak kuliah sudah punya kesibukan sendiri. Bagus."

Bu Imas tersenyum. "Dari kecil dia paling mengagumi kamu. Foto-fotomu saja disimpan rapi."

Wiwid meletakkan cangkir. "Foto apa?"

"Entahlah. Foto keluarga mungkin. Dia memang suka menyimpan barang lama."

Sebelum Wiwid sempat bertanya lagi, Pak Herman pulang dan percakapan berpindah ke album.

Raka keluar hanya saat diminta membantu memilih foto untuk dipindai. Ranselnya berada di samping kursi. Ketika ia mengambil laptop, satu sudut plastik bening terlihat dari sela ritsleting yang tidak tertutup rapat.

Raka cepat-cepat menutupnya.

Wiwid melihat gerakan itu, tetapi tidak melihat isinya.

***

Malamnya, Wiwid berdiri di depan cermin kamar mandi.

"Lo kangen dia atau kangen dikejar?" tanyanya kepada bayangan sendiri.

Tidak ada jawaban yang terasa baik.

Jika Raka terus datang, Wiwid merasa tertekan. Ketika ia menjaga jarak, Wiwid justru mencari suaranya. Ia ingin menjadi perempuan dewasa yang tahu batas, tetapi juga ingin kembali ke bawah pohon mangga dan mengulangi ciuman yang terlalu singkat.

Masalahnya bukan lagi darah atau hukum agama. Hal itu sudah jelas. Masalahnya adalah Pak Herman yang membesarkannya sebagai adik, Bu Imas yang percaya penuh, serta keluarga besar yang akan menyebutnya bibi yang mengambil anak keponakan sendiri.

Di pengajian dan grup keluarga, cerita bisa berubah sebelum sampai ke orang kelima. Raka akan dianggap anak muda yang dipengaruhi. Wiwid akan menjadi perempuan dewasa yang tidak tahu malu.

Ia membuka grup tiga sahabat.

`Kalau sesuatu halal tapi bikin seluruh keluarga malu, masih pantas diperjuangkan nggak?`

Lani menjawab lebih dulu.

`Pantas atau tidak bukan ditentukan orang yang tidak menjalani. Tapi jangan abaikan akibatnya.`

Wulan menyusul.

`Jangan pakai rasa utang pada keluarga untuk menghapus hidupmu sendiri. Cari cara yang paling jujur.`

Wiwid mengetik bahwa jujur bisa menghancurkan rumah Pak Herman, lalu menghapusnya. Ia tahu kedua sahabatnya tidak menyuruh berlari tanpa memikirkan siapa pun. Mereka hanya menolak membiarkannya menjadikan pengorbanan sebagai satu-satunya ukuran kebaikan.

Pesan terakhir datang dari Lani.

`Kamu sudah kasih jawaban jujur ke Raka, atau baru kasih jawaban yang paling aman?`

Wiwid mematikan layar.

Di tempat lain, Raka membuka ransel untuk mengambil charger. Sebuah foto lama jatuh dari kantong plastik bagian dalam: Wiwid di pantai bertahun-tahun lalu, tersenyum ke arah kamera dengan rambut diterbangkan angin.

Ia menyentuh tepi foto, lalu menyimpannya kembali.

Ada satu hal yang belum pernah ia tunjukkan kepada Wiwid.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!