NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Aku menatap jam dinding yang berdetak dengan ritme yang terasa menyiksa. Masih ada waktu beberapa jam tersisa sebelum jadwal kunjungan ke butik itu tiba. Begitu punggung Abhinav menghilang di balik pintu, insting pertamaku segera mengambil alih aku mulai menggeledah setiap sudut kamar dengan jemari yang gemetar.

​Laci meja rias, di bawah tumpukan pakaian, hingga sela-sela tempat tidur kubongkar dengan terburu-buru. Namun, ponselku benar-benar raib. Benda itu seolah sengaja dihilangkan agar aku terputus sepenuhnya dari dunia luar.

​Tiba-tiba, rasa cemas yang sedari tadi kutahan untuk Aurora menyeruak ke permukaan, jauh lebih kuat dari rasa takutku pada Abhinav. Aku terdiam sejenak di tengah kamar yang berantakan, mencoba mengatur napas yang tercekat. Hanya bayangan wajahnya yang kini berkelebat di pikiranku, dan dalam hati yang paling dalam, aku terus merapalkan doa, berharap ia berada dalam keadaan yang aman dan baik-baik saja di luar sana, jauh dari jangkauan pria yang baru saja mengunci hidupku ini.

Suara ketukan yang tegas dan terukur menggema dari arah pintu kamar, memecah kesunyian yang mencekam. Aku yang masih berada dalam kecemasanku, segera menegakkan tubuh dan mencoba menetralkan napas yang tersengal.

​"Masuk," teriakku, suaraku sedikit parau namun cukup lantang untuk didengar dari luar.

​Aku memutar tubuh ke arah pintu, menunggu dengan perasaan waswas. Dalam hati, aku berharap itu adalah seseorang yang bisa kubujuk atau setidaknya memberikan informasi mengenai Aurora, meski logika berkata bahwa kemungkinan besar itu adalah G yang kembali untuk memastikan aku tidak melakukan hal yang "bodoh" seperti yang diperingatkan Abhinav tadi. Pintu kayu jati itu pun perlahan terbuka.

Pintu terbuka lebar, dan sosok G berdiri di sana dengan postur yang tak berubah sedikit pun tegak dan kaku. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut kamar yang berantakan, menatap sisa-sisa pencarianku tadi dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, seolah sudah memprediksi apa yang baru saja terjadi.

​Tanpa perlu aku bertanya, G seakan mampu membaca isi kepalaku. Ia melangkah masuk, berhenti beberapa langkah dariku dengan tatapan datar.

​"Nona tidak perlu mencari ponsel nona," ucapnya dingin, suaranya monoton namun menusuk. "Tuan Abhinav yang menyita ponsel nona, dan untuk sementara, nona tidak diperbolehkan memiliki akses komunikasi apa pun."

​Aku menahan napas, menanti kabar tentang Aurora. G menghela napas tipis, lalu melanjutkan dengan nada yang sama tanpa emosi, "Mengenai Nona Muda Aurora... dia sedang menjalani hukuman dari Tuan Abhinav. Ia dilarang keras menginjakkan kaki di negara ini. Tuan sudah memerintahkan agar dia segera dikembalikan ke negara asalnya saat ini juga, meskipun statusnya adalah adik kandung Tuan."

​Kata-kata itu menghantamku seperti bongkahan es. Kejam, mutlak, dan tidak memberikan celah bagi siapa pun untuk membela diri. Meski Aurora adalah darah daging Abhinav sendiri, pria itu bahkan tidak ragu untuk membuangnya demi kepentingannya. Kini, aku benar-benar terisolasi.

G tidak memberiku waktu untuk memproses rasa terkejut dan sesak di dadaku. Tanpa menunggu respon, ia segera berbalik ke arah pintu dan memberikan isyarat singkat dengan tangan sebuah perintah tanpa kata. Dalam hitungan detik, dua orang pembantu bergegas masuk dengan peralatan kebersihan, mulai merapikan kekacauan yang kubuat tadi dengan gerakan yang sangat efisien dan teratur.

​G kembali menatapku, tatapannya dingin dan menuntut kepatuhan. "Bersiaplah sekarang," perintahnya datar. "Kita berangkat dalam lima belas menit nona."

​Ia berdiri di ambang pintu, menjadi pengawas yang tidak kenal lelah, memastikan aku tidak memiliki kesempatan lain untuk membantah atau sekadar membuang waktu. Suasana di kamar yang kini kembali bersih justru membuatku merasa semakin terkurung seolah setiap helai kain yang dirapikan adalah bagian dari jeruji yang semakin rapat mengelilingi kebebasanku.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!