NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Konvoi dua mobil putih milik Baskara Group melaju membelah rute tol Jagorawi dengan kecepatan tinggi namun konstan. Pengamanan taktis tertutup diterapkan secara ketat. Satu mobil membuka jalur di depan, sementara mobil yang ditumpangi Narendra, Hani, dan Pak Gibran menjaga posisi di tengah.

Di dalam kabin baris kedua yang lapang, suasana terasa begitu hening, hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan deru halus mesin yang dipacu maksimal menuju Jakarta.

Pak Gibran berbaring setengah bersandar di jok paling belakang yang telah dilipat khusus. Seorang paramedis internal yang dibawa Narendra sedang fokus memasang infus dan membalut ulang luka tembak di bahu kanannya dengan peralatan medis portabel yang jauh lebih lengkap.

Pendarahannya perlahan mulai terkendali, dan rona merah kehidupan sedikit demi sedikit kembali ke wajah pria paruh baya yang tangguh itu.

Sementara itu, Hani duduk di baris tengah, tepat di samping Narendra Baskara. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan, tatapannya terpaku pada buku harian cokelat milik almarhum ayahnya dan kotak beludru hitam yang kini tergeletak di atas meja lipat kecil di hadapan Narendra.

Narendra baru saja selesai memasukkan kartu memori MicroSD tua dari kotak tersebut ke dalam sebuah laptop enkripsi khusus milik korporasi.

Jemarinya bergerak taktis, membuka barisan draf dokumen digital, bagan arus kas, serta memutar sebuah berkas audio berformat lama yang tersimpan di dalamnya.

Suara statis bising terdengar sejenak dari speaker laptop yang volumenya telah dikecilkan, sebelum kemudian terdengar suara berat yang sangat Hani kenali, suara almarhum ayahnya, Gunawan.

"Aku tidak akan menandatangani laporan audit bodoh ini, Surya! Ini bukan sekadar manipulasi angka, ini adalah kejahatan struktural! Kau diam-diam mendaftarkan nama putriku yang masih sekolah sebagai pemilik rekening cangkang ini untuk tameng pencucian uangmu! Dia tidak tahu apa-apa!"

Lalu, sebuah suara picik dan penuh intimidasi menyahut, suara yang membuat bulu kuduk Hani meremang seketika. Itu adalah suara Surya Adiguna delapan tahun lalu.

"Pikirkan baik-baik. Justru karena Hani masih di bawah umur dan berstatus pelajar, pihak otoritas pajak tidak akan pernah mencurigai aliran dana ke rekening atas namanya. Tanda tanganmu di atas draf ini adalah jaminan hari tua yang tenang untuk Hani. Jika kau menolak, skema saham bodong atas namanya ini akan tetap berjalan, tapi posisimu di perusahaan akan kuhancurkan sampai kau tidak punya ruang lagi untuk bernapas di Jakarta. Pilih dengan bijak."

Klik.

Narendra menutup berkas audio tersebut. Ia melepaskan kacamata bacanya, lalu memijat pangkal hidungnya dengan helaan napas yang sangat berat. Kemarahan yang tertahan begitu dalam tampak jelas dari bagaimana rahang pria nomor satu di Baskara Group itu mengeras.

"Delapan tahun..." bisik Narendra, suaranya parau namun sarat akan otoritas yang dingin. "Delapan tahun kita semua hidup di bawah bayang-bayang kebohongan yang dirajut oleh Surya Adiguna. Dia benar-benar iblis, bahkan seorang gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah pun tega dia jadikan pion tameng hukum untuk mencuci uang hasil korupsinya."

Narendra menoleh ke arah Hani, menatap wanita muda itu dengan pandangan yang melunak namun penuh rasa hormat.

"Hani, ayahmu adalah pahlawan yang sesungguhnya di perusahaan ini. Dokumen arus kas di dalam memori ini mencantumkan secara detail nomor rekening cangkang, tanggal mutasi, hingga nama-nama pejabat kementerian yang menerima aliran dana haram dari proyek jembatan selat delapan tahun lalu. Ini bukan lagi sekadar bukti pelanggaran internal korporasi, ini adalah bom waktu penjerat pasal tindak pidana pencucian uang dan korupsi skala nasional."

"Lalu, apa langkah kita selanjutnya, Pak Narendra?" tanya Hani, mencoba meneguhkan suaranya meskipun hatinya masih bergetar mendengar rekaman suara sang ayah.

"Surya Adiguna pasti sudah menyadari bahwa anak buahnya gagal. Dia tidak akan tinggal diam jika tahu kita sedang menuju Jakarta membawa semua ini."

Dari jok belakang, Pak Gibran membuka matanya perlahan. Meskipun suaranya masih terdengar lemah akibat efek obat penahan rasa sakit, ketajaman analisisnya tidak berkurang sedikit pun.

"Narendra, Surya adalah rubah yang cerdik. Begitu dia tahu komunikasi dengan tim lapangannya terputus, hal pertama yang akan dia lakukan adalah membersihkan jejak digital di server pusat Baskara Group yang terhubung dengan draf Proyek-X baru. Dia akan memosisikan dirinya sebagai korban konspirasi, persis seperti yang dia lakukan delapan tahun lalu."

Narendra mengangguk setuju, membenarkan analisis rekan lamanya. "Kamu benar, Gibran. Itulah kenapa kita tidak bisa langsung menuju kantor polisi atau kejaksaan tanpa mengunci pergerakan Surya di dalam sistem internal kita sendiri. Jika kita bergerak terburu-buru ke ranah hukum sekarang, pengacara-pengacara mahal Surya akan mencari celah formalitas untuk menyita bukti ini sebagai barang bukti yang belum tervalidasi, lalu membebaskannya dengan jaminan."

Narendra melirik jam tangannya. Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit pagi. "Kita punya waktu kurang dari enam jam sebelum bursa saham ditutup dan dewan komisaris melakukan rapat pleno kuartalan darurat yang diajukan oleh faksi Surya sore ini. Surya berencana menggunakan rapat itu untuk mengudeta posisiku dengan alasan ketidakstabilan perusahaan pasca-insiden yang menimpa Reza."

Mendengar nama Reza disebut, Hani langsung menegakkan posisi duduknya. "Pak Narendra, kita harus ke rumah sakit dulu? Bagaimana kondisi Pak Reza?"

Narendra tersenyum tipis, sebuah binar kehangatan muncul di matanya saat melihat perhatian Hani yang begitu tulus pada putranya.

"Reza dipindahkan ke ruang perawatan intensif yang dijaga ketat oleh tim sekuriti eksternal independen yang saya sewa di luar jalur Baskara Group. Sarah juga ada di sana menemaninya. Kondisinya terus membaik setelah operasi semalam. Dia aman, Hani."

Narendra menginstruksikan pengemudi SUV untuk mengubah rute perjalanan. "Kita tidak akan langsung ke gedung utama Baskara Group. Surya pasti sudah menempatkan orang-orangnya untuk mengawasi setiap lobi dan lantai eksekutif. Kita akan menuju ke gedung utilitas cadangan di kawasan Jakarta Selatan, tempat di mana server bayangan pemulihan bencana Baskara Group berada."

...****************...

Tiga puluh menit kemudian, konvoi mobil memasuki sebuah kompleks bangunan modern berpagar tinggi dengan penjagaan perimeter yang sangat ketat di daerah komersial Jakarta Selatan.

Gedung ini secara legal tercatat sebagai kantor operasional teknologi informasi biasa, namun di kalangan petinggi inti Baskara Group, tempat inilah yang menjadi jantung penyimpanan seluruh cadangan data rahasia korporasi.

Hani memapah Pak Gibran bersama sang paramedis menuju masuk ke dalam ruang kendali utama yang dipenuhi oleh deretan layar monitor raksasa dan rak-rak server yang berdesis konstan. Di dalam ruangan itu, beberapa ahli forensik digital kepercayaan Narendra sudah bersiap di depan komputer mereka.

Narendra meletakkan laptopnya dan menyerahkan kartu memori MicroSD dari kotak beludru kepada kepala tim forensik. "Suntikkan seluruh data arus kas delapan tahun lalu ini ke dalam sistem pembanding. Cocokkan dengan manifestasi draf Proyek-X terbaru yang coba diunggah oleh faksi Surya Adiguna semalam."

Hani berdiri di belakang kursi operator, mengawasi pergerakan grafik di layar monitor besar dengan perasaan waswas. Proses enkripsi dan pembandingan data mulai berjalan, menampilkan persentase kecocokan yang merangkak naik.

15%... 45%... 85%...

"Pak Narendra! Lihat ini," seru kepala tim forensik digital sambil menunjuk ke salah satu klaster data yang menyala merah. "Pola algoritma pembagian keuntungan di draf Proyek-X yang baru ternyata menggunakan struktur rekening cangkang yang persis sama dengan proyek jembatan selat tahun 2018. Surya Adiguna tidak mengubah polanya. Dia hanya mengganti nama perusahaan samarannya saja!"

Pak Gibran yang duduk bersandar di kursi sudut ruangan melepaskan tawa hambar. "Sifat serakah tidak pernah membuat orang kreatif, Narendra. Surya terlalu percaya diri bahwa skandal delapan tahun lalu sudah terkubur bersama kematian Gunawan dan hilangnya diriku, sehingga dia berani menggunakan jalur pencucian uang yang sama untuk merampok aset Proyek-X sekarang."

Narendra berdiri tegak, penampilannya yang semula lelah kini digantikan oleh aura kepemimpinan yang mutlak dan tak tergoyahkan.

Strategi skakmat dalam kepalanya telah terbentuk dengan sempurna. Perjuangan yang telah mereka rintis melewati begitu banyak air mata dan darah, kini telah berada di titik balik yang menentukan.

"Hani," panggil Narendra lembut namun penuh penekanan. "Sore ini, pukul tiga tepat, rapat pleno dewan komisaris akan dimulai di Baskara Group. Surya Adiguna akan berdiri di sana, memegang mikrofon, dan mencoba meyakinkan seluruh pemegang saham bahwa akulah yang harus bertanggung jawab atas segala kekacauan ini."

Narendra berjalan mendekati Hani, lalu menyerahkan kembali draf serta bukti penting itu ke dalam jangkauan wanita itu.

"Aku ingin kamu ikut bersamaku masuk ke dalam ruang rapat pleno itu. Kamu bukan lagi sekadar staf administrasi. Kamu adalah pemilik sah dari identitas yang selama ini disalahgunakan Surya. Kamu adalah saksi hidup yang akan meruntuhkan seluruh kebohongannya langsung di hadapan orang-orang yang dia banggakan."

Hani mendekap buku harian ayahnya erat-erat di dadanya. Rasa takut yang sempat menyergapnya kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kobaran api keadilan yang menyala-nyala di dalam jiwanya. Ia menatap Narendra dengan mata yang berbinar tegas.

"Saya siap, Pak Narendra. Demi ayah saya dan demi semua kebenaran yang telah mereka coba hancurkan."

1
Indah Callysta Annabel
ceritanya bagus banget, alurnya rapi, bahasanya menarik, semangat kak
Vimel: Terima kasih, kak 😊
total 1 replies
Indah Callysta Annabel
bagus banget ceritanya
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!