Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
"Lalu ... Ke-kenapa kamu biasa aja?" bisik Riri. Dia memajukan tubuhnya ke arah Lylac, berbicara dengan suara yang sangat pelan karena masih penasaran dengan ketenangan sahabatnya itu.
"Enggak tahu. Malas kali," jawab Lylac sekenanya. Lylac membalik halaman buku pelajarannya dengan santai, menganggap bahwa rasa takut hanya akan membuang-buang energinya yang sudah habis untuk urusan lain.
"Hmm ... dia beneran ada di sekitar sini?" bisik Riri takut-takut. Riri merapatkan jaketnya, merasa hawa di sekitar meja mereka mendadak menjadi lebih dingin dari biasanya.
Lylac melirik ke arah Mika. "Ya. Malah dia mau kenalan sama kamu." Lylac mengangguk kecil ke arah ruang kosong di depan Riri tempat hantu itu sedang berada.
"Enggak mau. Dia takut aku," Mika bicara. Hantu cantik itu memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mengerucutkan bibirnya, merasa tersinggung karena niat baiknya untuk menyapa justru disambut dengan teriakan histeris.
"Sekarang malah ngambek karena kamu takut," imbuh Lylac. Lylac menerjemahkan ucapan Mika kepada Riri, memperjelas situasi bahwa makhluk halus di dekat mereka itu saat ini sedang merasa kesal karena ditolak.
"Benarkah?" tanya Riri penasaran meski takut. Rasa ingin tahunya perlahan-lahan mulai mengalahkan rasa ngerinya setelah mendengar bahwa hantu tersebut bisa merajuk layaknya manusia biasa. Kepala Lylac mengangguk.
"Lalu ... Lalu kenapa bisa kamu menuruti keinginan dia?" Mata Riri masih melirik kanan dan kiri. Riri masih merasa waspada dengan area kosong di sekitar meja mereka, namun dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Lylac yang tertutup mau direpotkan oleh urusan makhluk halus sampai bersedia menanggung malu di sekolah.
Mika menatap Lylac ingin tahu. Hantu cantik itu ikut memajukan wajahnya ke arah Lylac, menunggu jawaban yang keluar dari mulut cewek itu karena selama ini Lylac selalu mengomel setiap kali dimintai tolong.
"Mmm ... Aku mau buat kenangan kalau akhirnya dia tidak bisa aku lihat lagi," kata Lylac tulus. Bibirnya tersenyum. Juga karena dia sadar pendaran cahaya tubuh Mika yang semakin memudar adalah tanda perpisahan mereka.
Riri yang tadi takut, kini terdiam karena Lylac tampak bersungguh-sungguh. Riri mengurungkan niatnya untuk memprotes lagi setelah melihat sorot mata Lylac yang tampak begitu peduli dan serius dengan ucapannya tersebut.
"Hmmm ... So sweet." Mika senang. Hantu itu langsung tersenyum lebar dan menggoyangkan kedua kakinya di udara, merasa tersentuh dengan pengakuan jujur Lylac yang ternyata sangat menghargai keberadaannya selama ini.
"Meskipun sebenarnya aku benci kalau disuruh deketin Evan," imbuh Lylac juga bersungguh-sungguh. Lylac buru-buru meralat suasana haru itu dengan raut wajah kesal, mengingatkan kembali betapa tersiksanya dia harus menghadapi gosip satu sekolah akibat surat merah muda kemarin.
Mika ketawa. Suara tawa hantu itu terdengar renyah memenuhi ruang kosong di dekat mereka, merasa terhibur melihat kepasrahan Lylac yang tetap membantunya walaupun sambil terus mengeluh.
"Aku pikir harus menemuimu lagi di kelas, ternyata kamu ada di sini," ujar Angel saat melihat Lylac di koridor.
Langkah kaki Riri dan Lylac langsung memelan. Mereka bisa merasakan tatapan cewek cantik itu membawa sinyal bahaya. Angel jelas sedang ingin mencari masalah dengan mereka. Beberapa murid yang kebetulan lewat mulai memperlambat langkah, menyadari aroma keributan yang akan terjadi.
"Aku dengar kamu memberikan surat cinta pada Evan," kata Angel, langsung menusuk ke inti masalah.
Dugaan Riri dan Lylac terbukti benar. Angel muncul hari ini pasti karena amplop merah muda itu.
Kyak menatapnya datar. "Ya."
Angel melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka. "Apa kamu belum paham juga? Aku sudah pernah bilang, jangan pernah ganggu Evan."
"Aku tidak mengganggu Evan," jawab Lylac. Suaranya terdengar tenang, tanpa ada nada takut sedikit pun.
Mendengar itu, Angel tersenyum sinis. Baginya, bantahan Lylac barusan adalah sebuah tantangan terbuka. Koridor yang tadinya ramai mendadak terasa sunyi. Hanya ada beberapa pasang mata murid lain yang kini mulai berbisik-bisik di dekat dinding.
Riri yang berdiri di samping Lylac mulai merasa tegang, meremas pelan ujung seragamnya sendiri. "Angel, kita bisa bicarakan ini baik-baik..." cicit Riri mencoba menengahi, namun suaranya langsung tenggelam.
"Heh, diam kamu! Nggak usah ikut campur!" bentak salah satu teman satu geng Angel yang berdiri di belakangnya.
Angel melipat kedua tangan di dada, menatap Lylac dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Tidak mengganggu, kamu bilang? Lalu untuk apa surat merah muda itu kalau bukan untuk menarik perhatiannya?"
"Apa menarik perhatian Evan semudah itu? Hanya dengan memberinya amplop pink?"
Pertanyaan Lylac terdengar sangat datar, namun berhasil membuat rahang Angel mengeras. Kalimat itu seperti tamparan langsung yang meremehkan pengaruh Angel di mata Evan. Murid-murid yang menonton di ujung koridor saling pandang, terkejut dengan keberanian Lylac.
"Wah, berani banget dia," bisik salah seorang siswa yang menonton.
Di sebelah Lylac, Mika si hantu ikut melayang mendekat. "Ih, mukanya serem banget kaya mau makan orang. Lawan aja, Lylac! Jangan mau kalah!" seru Mika memprovokasi, meski tahu suaranya hanya bisa didengar oleh Lylac.
Riri menahan napas. Dia tahu Lylac tidak bermaksud memancing keributan, tapi bagi orang seangkuh Angel, ucapan itu adalah penghinaan besar.
Angel maju satu langkah lagi, sorot matanya menajam. "Kamu sengaja menantangku, ya? Kamu pikir kamu siapa bisa bicara begitu?"
Lylac memilih berlalu daripada terus berdebat. Dia melepaskan diri dengan tenang dan membalikkan badan. Namun, Angel yang telanjur emosi tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dia langsung bergerak maju dan menahan lengan Lylac dengan kuat.
"Hei, aku belum selesai bicara!" sentak Angel.
Lylac menghentikan langkahnya. Dia melirik tangan Angel yang mencengkeram lengannya, lalu menatap lurus ke mata cewek itu tanpa rasa takut.
"Jam istirahat sebentar lagi habis, aku masih lapar," kata Lylac datar.
Alasan yang terlalu jujur dan terkesan masa bodoh itu membuat Angel semakin naik darah. Kerumunan kecil siswa di koridor kini bertambah beberapa orang lagi, semuanya menahan napas menanti ledakan kemarahan Angel.
"Lapar? Dia meremehkanmu, Angel! Dia bahkan nggak nganggep kamu ada!" Vanya teman se-geng Angel sengaja memanaskan suasana agar keributan menjadi lebih besar.
Ucapan itu seperti menyiram bensin ke dalam api. Angel melepaskan cengkeramannya dari lengan Lylac, tapi sedetik kemudian dia justru mendorong bahu Lylac dengan kasar hingga cewek itu mundur satu langkah.
"Kamu dengar itu? Kamu sengaja mempermainkanku, kan?!" bentak Angel, napasnya memburu karena emosi yang sudah di ubun-ubun.
Mika yang melihat itu langsung berkacak pinggang di depan wajah Angel. "Heh, nenek lampir! Berani-beraninya kamu dorong-dorong sahabatku!" teriak Mika kesal, meskipun tangannya hanya menembus tubuh Angel.