Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. ingin menjodohkan Davka.
Satu bulan setelah perceraian dengan Selvia
Sekarang Davka tinggal lagi bersama orang tuanya. Dia belum menemui Nayyara lagi di apartemen sejak malam kejadian itu, selama sebulan ini hanya menyuruh Denny dan Bibi Sumi menjaga dan melayani gadis itu dengan baik di apartemen. Davka masih bingung menentukan nasib pernikahan dia dan Nayyara seperti apa, apalagi dia belum menceritakan hal ini pada orang tua. Dia merasa percuma melanjutkan keinginan dan ambisinya punya anak, impian itu sudah hilang sama sekali.
Pernikahannya dengan Selvia selama lebih dari tujuh tahun hancur, obsesinya untuk punya anak sudah pupus. Davka berniat membebaskan Nayyara jika gadis itu ingin bebas, dia akan membayarnya satu miliar rupiah sesuai perjanjian awal, supaya Nayyara bisa hidup tenang dan bebas.
Pikirannya tercurah sepenuhnya pada urusan perceraian hingga detik ini. Seperti bola salju, masalah itu makin lama makin besar, menjadi pembicaraan hangat di lingkungan perusahaan Pakuwon Group — Perusahaan tempat Davka dan keluarganya berpengaruh mutlak, dengan kepemilikan saham hampir 80 persen.
Saat palu hakim di Pengadilan Agama diketuk menandakan sahnya perceraian, lalu Davka harus menjatuhkan talak Selvia di depan hakim pengadilan. Davka mulai perlahan belajar ikhlas dan menerima takdir. Bu Linda selalu ada di sampingnya, memberi semangat saat sidang berlangsung berkali‑kali. Dia meyakinkan masa depan masih terbuka lebar dan kebahagiaan belum tentu berakhir. Akhirnya Davka bisa bernapas lega, dua bulan sudah dia menyandang status duda, kehidupannya berubah otomatis 180 derajat.
"Loe, nggak mau liburan gitu, ke Thailand atau Korea atau ke Jepang buat mulai bisnis bakery yang loe rencanakan kapan waktu? Atau beli baju baru buat kondangan? Dua bulan lagi Marcus mau nikahan lho, loe kan disuruh jadi saksi akad," Tanya Adimas sambil meletakkan barbel dan memperhatikan teman yang sudah satu jam berlari di atas treadmill.
"Ah, gue males keluar rumah, apalagi liburan. Lemari sudah penuh baju, buat apa beli lagi? Percuma aja, semua model baju gue udah Punya" Jawab Davka sambil menyeka keringatnya.
Dimas datang berkunjung siang itu bersama Reni dan putri kecilnya yang berusia empat tahun, sengaja menemani Davka di ruang kebugaran rumahnya. Sejak pagi Davka betah di sana, seolah ingin membakar pikiran ruwetnya lewat keringat agar tubuh makin tegap dan atletis. "Loe mirip mayat hidup aja Dav. Diajak jalan‑jalan gak mau, diajak nongkrong nolak, disuruh liburan males. Lama‑lama bisa depresi loe entar, masih kepikiran mantan istri loe?"
"Cih, gak usah sok tahu. Loe tak tahu apa masalah gue?," Sahut Davka kesal. Dia meneguk air dingin, lalu melepas kaos basahnya untuk segera mandi setelah ini, dia menatap cermin besar disini, menggeleng miris pada wajah tampannya yang mengenaskan.
"Lupakan aja Selvia itu bro. Kenapa loe harus terpuruk begini? Hidup harus terus berjalan. Masih banyak wanita cantik yang mau sama loe, lihat nih gue jamin. Kalau loe mau, Tante Linda pasti siap membantu mencarikan calon istri baru."
Sebenarnya yang mengganjal di hati Davka adalah alasan Selvia minta cerai, tuduhan mandul. Itu lagi, Davka masih sulit menerimanya, sampai dia memeriksakan diri lagi ke dua rumah sakit berbeda karena takut tuduhan itu benar. Namun hasilnya tetap sama, dia normal, tak ada kelainan kesuburan dan dokter hanya menyarankan dia cukup istirahat, mengelola stres dan menjaga pola makan. Davka sampai heran, selama tujuh tahun menikah dengan Selvia.
tapi tetap tak pernah dikaruniai anak.
*
*
Forest cafe, Kemang Jakarta Selatan.
Siang hari Bu Linda akan makan siang bersama anak bungsunya, teman arisan dan adiknya. Kebetulan Anna — ibu dari Marcus — juga anggota kelompok arisan itu.
"Bu Linda, sudah ada calon baru belum buat mas Davka belum?" Tanya Bu Serly — teman arisan yang juga dosen di sekolah mode ESMOD, anaknya laki-laki berumur 20 tahun adik tingkat dari Irene di ITB Bandung, dia cukup penasaran dengan gosip pengusaha muda itu.
"Iya, lho mbak Lin. Kenapa Davka tak segera cari istri lagi? Padahal dia masih muda, mapan, dan tampan pula," Puji Anna pada keponakannya. "Tapi Abang nyebelin Tan, bawel lagi.."
"Kamu tuh yang suka jahil sama Abang kamu" Hardik Bu Linda pada Irene yang nyengir lebar.
"Kalau Davka di suruh nikah lagi cepat, belum tentu dia mau juga An. Kamu tahu sendiri, dia kadang keras kepala, lebih batu ngeyelnya daripada Irene ini," Jawab Bu Linda, Irene terkekeh lalu merangkul mommy nya.
"Betul juga. Tapi kan sekarang kan mas Davka sudah duda, lebih cepat cari pendamping lebih baik. Siapa tahu segera bisa memberi cucu buat Ibu Linda," Kata Bu Serly menimpali.
"Iya benar kata Bu Serly" Sahut Bu Anna setuju. Bu Linda menghela napas, seolah impian punya cucu makin menjauh.
"Bagaimana kalau Davka kami kenalkan dengan keponakan saya, yang dulu pernah saya kirimkan fotonya? Siapa tahu mereka cocok," Usul Bu Arsya tiba-tiba dengan antusias, lalu Bu Linda mengangguk pelan.
"Nanti saya coba bicara lagi deh sama dia jeng Arsya, semoga saja mau. Saya pun ingin sekali punya menantu baru, Ingin sekali cepet gendong cucu" Jawab Bu Linda pasrah.
"Lho, itu kan Nayyara?" Seru Bu Serly saat hendak memesan makanan di kasir. Dia terkejut melihat muridnya dari ESMOD, lalu langsung melambai pada gadis yang baru saja masuk kafe hendak membeli minuman kopi.
"Nayyara!" Gadis yang sedang mencari tempat duduk itu tersenyum sopan lalu menghampiri Bu Serly yang berdiri melambai.
"Assalamualaikum, Bu. Apa kabar?" Nayyara menyapa bahkan mencium tangan Bu Serly, mereka memang cukup dekat Bu Serly sampai ingin mengambil menantu Nayyara buat anak laki-lakinya, Rehan yang masih kuliah di Bandung.
"Waalaikumsalam. Ayo duduk sini nak, gabung dengan kami. Nanti Ibu perkenalkan sama teman‑teman arisan," Ajak Bu Serly ramah. Bu Linda menoleh kaget saat melihat Nayyara mendekat bersama Bu Serly ke meja mereka.
"Lho, mbak Nayyara toh ini?" Nayyara yang tadi juga kaget karena tak menyangka langsung tersenyum ramah dan menyalami Bu Melinda juga Bu Anna. "Iya, Tante Melinda, apa kabarnya?" Nayyara juga terkejut karena pertemuan ini sungguh kebetulan sekali.
"Aduh, kok bisa kebetulan sekali kita bertemu lagi ya? Alhamdulillah kabar Tante baik sekali, kamu sendiri bagaimana, Nak?" Bu Melinda tampak sangat antusias dan senang.
"Alhamdulillah, saya baik Tante."
"Lho, Jeng Linda kenal dengan murid saya?" Bu Serly cukup kaget, melihat Bu Melinda dan Nayyara saling mengangguk.
"Iya, saya kenal, Jeng," Jawab Bu Melinda sambil menarik tangan Nayyara agar duduk di sebelahnya. Akhirnya mereka duduk bersebelahan di satu meja.
"Kebetulan saya pernah bertemu Tante Melinda sebelumnya, begitu" Tambah Nayyara. "Wah, tak disangka ya. Jeng tahu tidak, Nayyara ini murid saya yang paling pintar di kampus. Baru masuk kuliah belum lama, tapi bakatnya luar biasa lho. Nayyara juga jago melukis, pasti kelak akan jadi perancang busana yang sukses besar."
"Wah, hebat sekali! Jadi kamu masih kuliah di ESMOD, Nak?" Bu Melinda makin kagum pada gadis itu. "Iya, Tante, saya baru mulai kuliah di sana sekitar tiga bulan ini, belum lama Tan" jawab Nayyara dengan wajah tersipu malu.
"Ya sudah, kenalkan, ini adikku Anna. Dia pun hobi melukis sama sepertimu, lalu ini Irene anak bungsuku." Anna yang mendengar itu tersenyum ramah pada Nayyara.
Irene juga tak kalah ramah bersalaman dengan Nayyara. "Kak Nayyara cantik banget, aku ingin jadi temen kakak"
"Hehe makasih dek, tapi aku segan nih kalo jadi teman kamu, aku cuma orang biasa"
"Ya ampun kamu bisa aja nak, kamu cantik dan sopan, jadi menantu ku saja ya, mau? jangan cuma temenan sama anak ku?"
Bu Melinda tersenyum melihat sikap Nayyara yang sopan. "Aduh Tante saya nggak pantes jadi mantu Tante" Bu Linda tertawa geli, dia jadi malah makin semangat menjodohkan dengan Davka.
"Saya Annastasia, panggil Anna aja nak" Ujar Bu Anna. "Saya Nayyara, muridnya Bu Serly. Salam kenal, Tante Anna..." Nayyara mengangguk sopan kembali mencium tangan pada Anna sambil memperkenalkan diri.
"Mbak Linda, apakah Nayyara ini yang pernah kamu ceritakan dulu?" Bu Melinda mengangguk antusias sambil menggenggam tangan Nayyara. "Aku berhutang budi padanya. Kalau tidak ada Nayyara, mungkin waktu itu aku sudah tertabrak motor. Dia sangat baik, mau menolongku membawakan belanjaan sampai ke mobil." Cerita Bu Linda dengan antusias.
"Wah, terima kasih banyak ya, Nayyara sudah menolong kakakku. Pantas saja mbak Linda sering bercerita pernah ditolong gadis cantik di depan pasar swalayan" Ujar Anna ramah. Nayyara makin tersipu mendengar pujian mereka.
"Ya sudah, ayo kita pesan makanan sekarang saja ya. Kebetulan bisa berkumpul ramai begini apalagi Nayyara ikut bergabung," Usul Bu Serly.
"Iya, ayo. Biar aku yang traktir kalian semua ya. Nayyara ayo makan siang juga bersama kami," Seru Bu Melinda. Semua tersenyum, melihat Bu Melinda kembali bersemangat, padahal tadi dia terus mengeluh soal anak sulungnya.
****