Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Perjalanan yang tidak memakan waktu lama, Akhirnya Mobil yang dikendarai Alneo perlahan melambat dan berhenti di area parkir sebuah kompleks kontrakan.
Riani langsung menempelkan wajahnya ke kaca mobil, matanya berbinar-binar melihat deretan bangunan yang rapi di luar.
"Wow, ini kontrakannya, Kak? Seriusan?" tanya Riani tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil.
"Iya, sesuai yang tertera di sertifikat. Ayo turun," ajak Alneo dengan nada bangga.
Ia menjadi orang pertama yang membuka pintu dan melangkah keluar.
Riani menekan tombol di panel pintu sampingnya. Seketika, sabuk pengaman hologram yang melingkari tubuhnya terbuka
Secara otomatis dengan bunyi klik yang halus. Riani pun keluar dari mobil dengan langkah riang.
"Wah, kontrakan ini banyak banget, Kak! Mana lingkungannya bersih, rumah-rumahnya dirawat dengan baik lagi. Kak Alneo hebat banget bisa dapat aset kayak gini!" kata Riani terkagum-kagum, matanya menyapu bersih seluruh area.
"Siapa dulu dong, kakakmu ini kan sekarang sudah jadi pengusaha properti," sahut Alneo sambil tersenyum lebar, merapikan bajunya.
Alneo jalan masuk ke area halaman utama. Tapi, baru beberapa langkah mereka berjalan, seorang pria paruh baya berkaos oblong dengan handuk kecil di lehernya muncul dari salah satu lorong.
Pria itu menatap mereka dengan dahi berkerut.
"Ada apa, Dek? Cari siapa? Atau... mau nyari kontrakan kosong?" tanya pria itu, yang ternyata adalah pengurus kontrakan di sana.
Alneo menghentikan langkahnya. "Ah, bukan mau sewa, Pak. Saya pemilik baru kontrakan ini," kata Alneo dengan percaya diri.
Seketika, wajah ramah bapak pengurus itu langsung berubah drastis.
"Pemilik kontrakan? Yang bener lah kalau ngomong?!" cetus pengurus itu dengan suara meninggi.
"Pemilik sah tempat ini itu Pak Harto! Dan anaknya yang megang urusan ini juga saya kenal semua dari kecil. Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba datang langsung mengaku-ngaku pemilik kontrakan ini? Mau nipu ya?" tanya pengurus itu penuh kecurigaan, matanya menyipit menatap penampilan Alneo dari atas sampai bawah.
Alneo agak terkejut. "Saya beneran pemilik kontrakan ini, Pak. Baru saja selesai proses balik nama. Tolong bahasanya dijaga, ya."
"Halah! Anak muda zaman sekarang, gaya aja selangit!" ketus si pengurus.
Tanpa babibu lagi, ia langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. "Bentar, saya telepon Pak Harto langsung. Kebetulan rumahnya cuma beda dua blok dari sini. Jangan kabur kamu ya!"
Melihat situasi yang mulai memanas, nyali Riani langsung ciut. Ia mendekat ke arah Alneo, lalu menarik-narik ujung baju kakaknya dengan wajah pucat.
"Kakak... yang beneran dikit dong," bisik Riani dengan suara gemetar dan penuh was-was.
"Kalau ini ternyata bukan kontrakan kita, kita bakal malu banget, Kak! Itu bapaknya galak banget lagi, mana mukanya lokal banget kayak jawara sini," kata Riani ketakutan.
"Tenang, Riani. Kakak pegang dokumen resminya kok. Kamu tenang aja," bisik Alneo balik, mencoba menenangkan adiknya.
Tidak sampai lima menit, seorang bapak-bapak berusia sekitar 50 tahun dengan langkah tergesa-gesa datang memasuki gerbang. Wajahnya tampak tegang.
"Mana orangnya, Jo?" tanya bapak tua itu Pak Harto, kepada si pengurus kontrakan.
"Ini, Pak! Anak muda ini yang tadi ngotot bilang kalau dia pemilik tempat ini," tunjuk si pengurus bernama Jo itu dengan nada kompor.
Pak Harto melangkah maju, berdiri di depan Alneo dengan tatapan menginterogasi. "Kamu ya yang ngaku-ngaku pemilik kontrakan ini? Berani-beraninya ya kamu berbuat penipuan siang bolong begini!" kata bapak itu dengan nada tinggi.
"I-iya, Pak. Saya Alneo. Tapi saya tidak menipu. Saya memang pemilik aslinya," angguk Alneo, suaranya sedikit bergetar
"Kalau kamu memang pemilik kontrakan ini, mana buktinya? Jangan cuma modal mulut! Sini, perlihatkan dokumennya ke saya!" tantang Pak Harto sambil menadahkan tangannya.
Alneo menghela napas, ia memberi dokumen bukti kepemilikan legal, lalu menyerahkannya kepada bapak tersebut.
"Silakan diperiksa, Pak. Ini dokumen resmi," kata Alneo.
Pak Harto menerima dokumen itu dengan kasar. Ia memakai kacamata bacanya, lalu mulai membuka dan meneliti dokumen tersebut.
Ia menatap layar tablet, lalu menatap Alneo, kemudian kembali menatap layar.