Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Kamar Tidur Kecil
Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh kegelapan malam yang dingin di pelosok kampung. Radit melirik jam tangan militernya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, lalu menatap ayah mertuanya dengan sikap hormat.
"Bapak, karena hari sudah semakin malam, sepertinya saya dan Vina harus mohon pamit untuk kembali ke kota," ucap Radit seraya bersiap berdiri.
"Lho, kok buru-buru sekali, Nak Radit? Ini sudah malam, jalanan keluar kampung sangat gelap dan rawan," cegah sang ayah dengan raut wajah khawatir. "Menginaplah semalam di sini. Besok pagi baru kalian pulang."
Vina langsung menoleh panik ke arah Radit. "Tapi, Ayah—"
"Tidak apa-apa, Vina. Benar kata Bapak, jalanan terlalu berisiko di jam begini," potong Radit dengan tenang dan tegas. Ia kembali menatap sang ayah. "Baik, Bapak. Kami menumpang semalam. Kebetulan besok subuh-subuh sekali kami harus segera jalan karena saya ada tugas pagi di markas yang tidak bisa ditinggalkan."
"Nah, begitu kan enak. Vina, antar suamimu ke kamarmu dulu," titah sang ayah dengan senyum lega.
Vina berjalan di depan dengan langkah berat menuju sebuah pintu kayu lapuk di sudut rumah. Begitu pintu dibuka dan lampu minyak dinyalakan, rasa tidak enak hati seketika menyergap dada Vina.
Kamar masa kecilnya itu sangat kusam, dinding kayunya banyak yang berlubang, dan hanya ada sebuah ranjang kapuk kecil dengan seprei kain blacu yang sudah pudar warnanya. Benar-benar tidak layak huni untuk seorang perwira tinggi seperti Radit.
"Maaf ya, Mas... kamarku sangat kusam dan jelek," bisik Vina, menunduk dalam-dalam karena malu dan tidak enak hati. "Tempat tidurnya juga kecil sekali."
Radit melangkah masuk, meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu memperhatikan sekeliling dengan santai. "Tidak apa-apa. Aku sudah biasa tidur di hutan dan tenda darurat saat dinas. Kondisi ini jauh lebih baik."
"Tapi tetap saja..." Vina menggigit bibirnya, menatap kasur yang hanya muat untuk satu orang itu.
"Kamu tidurlah di kasur. Aku akan menggelar tikar dan tidur di lantai luar saja," ucap Radit sembari berbalik hendak mengambil kain.
"Jangan, Mas! Jangan tidur di luar!" tahan Vina cepat, dan tanpa sadar ia memegang ujung seragam Radit.
Radit menghentikan langkahnya, menatap Vina heran. "Kenapa?"
"Kalau... kalau Ayah tahu kita tidur terpisah dan Mas tidur di luar, Ayah pasti akan berpikiran macam-macam. Aku takut Ayah mengira kita sedang bertengkar atau pernikahan kita bermasalah," jelas Vina dengan wajah merona merah. Suaranya mengecil di kalimat terakhir. "Jadi... Mas tidur di sebelahku saja. Kasur ini cukup kalau kita tidak banyak bergerak."
Radit terdiam sejenak, menatap lekat mata Vina, lalu mengangguk pelan. "Baiklah."
Malam itu menjadi malam yang paling panjang bagi mereka berdua. Mereka baring bersama, berdempetan di atas kasur kapuk yang sempit dengan tubuh yang menghadap lurus ke langit-langit atap rumah yang ditenun dari rumbia.
Suasana menjadi sangat kaku dan canggung. Jantung Vina berdegup begitu kencang, hingga ia takut Radit bisa mendengarnya.
"Mas... apa tidak kesempitan?" tanya Vina memecah kesunyian, suaranya terdengar kaku dan bergetar.
"Tidak. Cukup," jawab Radit singkat. Tubuhnya tegak dan kaku seperti patung lilin.
"Badan Mas Radit kan besar, kalau nanti Mas tidak nyaman dan pegal bagaimana? Pagi-pagi sekali Mas sudah harus dinas," gumam Vina bersalah, mencoba menggeser tubuhnya semakin mepet ke ujung dinding agar Radit mendapat ruang lebih luas.
"Jangan terlalu ke pinggir, nanti kamu jatuh," tegur Radit datar, namun tangannya tiba-kira bergerak menahan pinggang Vina agar tidak bergeser lagi. Sentuhan itu membuat Vina menahan napas seketika. "Aku seorang tentara, Vina. Tidur berhimpitan di dalam tank atau truk militer jauh lebih sempit dari ini. Jadi, diamlah dan pejamkan matamu."
Vina menelan ludah dengan susah payah, wajahnya terasa panas. "Mas... besok tugas jam berapa?" Vina mencoba mencari topik lagi untuk meredakan detak jantungnya.
"Jam tujuh pagi harus sudah di markas," sahut Radit lempeng.
"Oh... begitu ya. Nanti subuh biar aku bangunkan untuk buat kopi hangat sebelum jalan."
"Tidak perlu. Jangan repot-repot. Kamu ikut bersiap saja besok pagi," balas Radit.
Pembicaraan mereka benar-benar buntu dan kaku setelah itu. Tak ada lagi kata yang terucap. Satu jam berlalu, dan rasa lelah setelah seharian penuh emosi akhirnya membuat napas Vina perlahan mulai teratur. Gadis itu akhirnya terlelap, masuk ke alam mimpi.
Mendengar dengkuran halus di sebelahnya, Radit perlahan menolehkan kepalanya. Di bawah temaram cahaya lampu minyak, ia memandangi wajah polos Vina yang tampak begitu damai saat tertidur. Sisa-sisa jejak air mata di pipi gadis itu masih terlihat.
Radit menatapnya lekat-lekat, dan tanpa sadar, sebuah senyuman tipis dan sangat tulus terukir di sudut bibir sang perwira yang biasanya dingin dan kaku. Ia menarik selimut tipis dan menutup tubuh Vina dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidurnya, sebelum akhirnya ikut memejamkan mata dan tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, sebelum azan subuh berkumandang, suasana di depan rumah sudah mulai sibuk. Radit dan Vina yang sudah rapi dan siap untuk pulang berdiri di halaman teras bersama sang ayah.
"Nak Radit, karena Bapak tidak punya harta apa-apa untuk dilepas sebagai oleh-oleh... Bapak hanya bisa menyiapkan ini," ucap sang ayah dengan wajah agak sungkan, menyodorkan sebuah keranjang bambu berisi dua ekor ayam kampung yang terus berkokok dan meronta. "Hanya ini yang Bapak punya. Tolong dibawa pulang ke kota ya."
Radit tertegun, menatap ayam-ayam itu. Rasa tidak enak menyergap hatinya. "Bapak, tidak usah repot-repot. Ayam-ayam ini sebaiknya untuk Bapak dan keluarga di sini saja—"
"Jangan ditolak, Nak Radit! Ini tanda terima kasih dan rasa hormat seorang ayah karena kamu sudah memuliakan putriku. Kalau tidak dibawa, Bapak akan sangat sedih," potong sang ayah dengan nada memaksa yang tulus.
Melihat kesungguhan di mata mertuanya, Radit akhirnya menerima keranjang itu. "Baik, Bapak. Terima kasih banyak. Saya terima dan akan saya rawat dengan baik."
Saat Radit dan Vina baru saja melangkah naik ke atas mobil jip militer, tiba-tiba dari arah jalan setapak kampung, seorang gadis remaja dengan seragam sekolah dan tas ransel besar berjalan mendekat. Itu adalah Mila, adik tiri Vina yang baru saja kembali dari asrama sekolahnya di kecamatan seberang.
Langkah kaki Mila mendadak berhenti total di depan pagar. Matanya membelalak dan mulutnya menganga lebar karena sangat terkejut melihat pemandangan di depannya.
Ia menatap Vina dari ujung rambut hingga ujung kaki—kakak tirinya yang dulu selalu memakai baju kusam dan dekil, kini tampil begitu anggun, bersih, dan berkelas, mengenakan pakaian mahal kota dan menaiki sebuah mobil jip militer mewah bersama seorang perwira tampan yang gagah.
"Kak... Kak Vina?!" seru Mila dengan suara bergetar syok dan tidak percaya dengan perbedaan drastis kakak tirinya yang kini terlihat seperti nyonya besar kota.
Namun, karena waktu yang mendesak, Vina hanya sempat melambaikan tangan dan tersenyum tipis ke arah adik tirinya saat mesin jip menderu keras dan mulai melaju meninggalkan halaman kampung.
Perjalanan kembali ke kota memakan waktu beberapa jam. Begitu jip militer itu berhenti tepat di depan gerbang megah mansion Laksmana, Radit tidak mematikan mesin mobilnya. Ia menoleh ke arah Vina dengan tatapan meminta maaf.
"Vina, maaf aku tidak bisa menemanimu masuk ke dalam. Waktuku sudah sangat mepet untuk apel pagi di markas," ucap Radit sembari melirik jam tangannya.
"Iya, Mas, tidak apa-apa. Pergilah bertugas, hati-hati di jalan," jawab Vina lembut, mengulas senyum pengertian seraya turun dari mobil dan mengambil bingkisan oleh-olehnya.
Jip hijau militer itu pun langsung melesat pergi begitu pintu gerbang ditutup. Vina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya, lalu melangkah masuk melintasi pintu utama mansion yang besar.
Baru saja kakinya melewati ambang pintu, sebuah suara lantang yang sarat akan cemoohan dan nada merendahkan langsung menyambutnya dengan kasar.
"Wah, wah, lihat siapa yang baru datang!"
Vina tersentak dan menghentikan langkahnya. Di depan tangga megah, berdiri kepala pelayan senior mansion Laksmana dengan kedua tangan bersedekap dada dan senyuman sinis yang mencemooh. Di belakangnya, beberapa pelayan lain ikut menonton dan berbisik-bisik licik.
"Sombong sekali ya, Nyonya kampung kita yang satu ini! Baru merasakan jalan-jalan pakai mobil kota saja pulangnya sudah jam segini. Sengaja ya, biar dikira wanita terhormat?" cibir kepala pelayan itu dengan mata melotot dan suara meninggi, menatap sinis pakaian baru Vina dan bingkisan oleh-oleh di tangannya.
"Bukan begitu, Bi... kemarin kami kemalaman di kampung dan—"
"Halah, tidak usah banyak alasan dan pasang wajah sok suci begitu!" potong kepala pelayan itu dengan kasar, melangkah maju dan merebut bingkisan di tangan Vina lalu melemparkannya ke lantai. "Dengar ya, Vina! Jangan mimpi kamu bisa bersantai dan bertingkah seperti nyonya besar di rumah ini hanya karena Tuan Muda Radit menikahimu! Di mata kami dan keluarga ini, kamu tetaplah sampah kampung yang tidak tahu diri!"
Kepala pelayan itu menunjuk lurus ke arah koridor belakang dengan kasar. "Sekarang, lepas baju mahalmu itu! Ganti dengan seragam pelayan dan segera bersihkan seluruh toilet dan dapur di lantai bawah! Mulai hari ini, tugasmu di mansion ini adalah menjadi pelayan paling bawah, dan jangan harap ada yang akan menolongmu!"
Vina tertegun, tubuhnya bergetar hebat dan air matanya mulai menggenang di pelupuk mata saat menyadari penderitaan baru yang kejam kini sudah menantinya di mansion ini, tepat setelah kepergian Radit.