NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Urusan internal OSIS nggak pake acara bikin orang nangis di belakang laboratorium, Nayaka. Mulai sekarang, jarak lo sama dia batasnya di gue." — Naren Aksara, Ketua ZENTRIX.

"Kalau dia datang ke sini... jangan pernah lihat muka dia. Biar dia tahu tempat ini bukan buat dia." — Fero Anggadyo, Ketua Black Venom.

Di SMA Garuda, Agnesa Valeria—siswi perfeksionis yang menjunjung aturan—selalu menganggap Naren Aksara sebagai pengganggu. Namun Naren tahu, di balik sikap dinginnya, Agnesa hanyalah gadis kesepian yang tertekan oleh tuntutan orang tuanya.

Saat Naren terus berusaha berada di sisi Agnesa, masalah justru bermunculan. Mahendra mulai menekan Agnesa demi kepentingan keluarganya, sementara Fero bersiap menghancurkan Naren lewat rahasia kelam yang tersembunyi di balik kamar 402 sebuah rumah sakit.

Siapa wanita yang terbaring di sana, dan mampukah Naren melindungi Agnesa sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sempurna yang retak

Rumah keluarga Anabella selalu terasa seperti museum yang dipaksakan. Dinding-dindingnya bersih, lantai marmernya memantulkan cahaya lampu gantung dengan dingin, dan hampir tidak ada debu yang berani singgah. 

Agnesa duduk di meja makan yang panjangnya lima meter, sendirian. 

Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar sangat nyaring di ruang makan yang luas. 

Ting... tak... ting...

​"Non Agnesa, mau ditambah supnya?" tanya Bu Sumi yang muncul dari balik pintu dapur.

​"Tidak, Bi. Cukup," jawab Agnesa.

 Ia memotong potongan wortel di piringnya menjadi bagian-bagian yang sangat kecil. 

Sret... sret...

​"Tadi Pak Jaka bilang, Non pulang lebih cepat. Ada masalah di sekolah?"

​"Tidak ada, Bi. Hanya lelah."

​Bu Sumi mengangguk pelan, lalu kembali ke dapur. 

Langkah kaki menjauh.

Agnesa menatap lilin yang menyala di tengah meja. Cahaya kecil itu bergetar setiap kali ada aliran udara dari AC yang bertiup pelan. 

Agnesa menarik napas, lalu embusannya membuat lidah api itu menari-nari.

 Fuuu. 

Ia memperhatikan bayangan lilin yang memanjang di dinding marmer, tampak seperti jemari yang sedang meraih sesuatu. 

Rumah ini tidak berbau masakan rumah. Tidak berbau kehidupan. Hanya berbau pembersih lantai yang tajam dan hampa. 

Agnesa memejamkan mata, mencoba mengingat bau bengkel, bau oli, dan aroma tembakau yang samar—tapi yang ia temukan hanyalah keheningan yang menyakitkan.

Kenapa aku masih memikirkannya? Naren. Nama itu seperti duri yang tersangkut di tenggorokan. 

Setiap kali aku bernapas, duri itu terasa menusuk. Kenapa dia harus menulis itu? Ubur-ubur. Sesuatu yang lunak. Sesuatu yang tak punya tulang punggung. Apakah dia sedang mengejekku? Atau dia sedang mencoba memberitahu sesuatu yang tidak bisa ia katakan? Aku tidak boleh peduli.

 Aku Agnesa Valeria Anabella. Aku harus sempurna. Aku harus tetap lurus. Tapi kenapa kakiku rasanya ingin sekali melangkah keluar? Keluar dari rumah ini, keluar dari lingkaran kehidupanku yang kaku, dan pergi ke tempat di mana suara mesin berisik dan tidak ada yang peduli tentang reputasi?

​Agnesa meraih ponselnya yang tergeletak di samping piring. 

Layar yang gelap memantulkan wajahnya yang datar. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan. Ia menekan tombol kunci, layar menyala, lalu mati lagi. 

Klik.

​"Bodoh," bisiknya pada diri sendiri.

​Ia berdiri, membawa piring kotornya ke tempat cuci piring. 

Klak-klik.

​"Non, biar Bibi saja," ujar Bu Sumi yang terkejut melihat Agnesa masuk ke dapur.

​"Tidak apa-apa, Bi. Saya bisa sendiri."

​Agnesa mencuci piringnya dengan sangat teliti. Ia menggosok setiap inci porselen itu seolah-olah ada noda yang sangat membandel di sana. 

Srek... srek..

Sabun cuci piring itu licin di jemari Agnesa.

Ia membiarkan air keran mengalir deras mengenai punggung tangannya.

Byur.

Airnya sangat dingin.

Agnesa tidak menarik tangannya.

Ia justru mempererat genggamannya pada spons cuci piring.

Kulit tangannya mulai memerah karena suhu air yang rendah.

Ia menarik napas panjang, menahan sensasi dingin yang merambat sampai ke pergelangan tangannya, lalu mematikan keran dengan hentakan kecil.

Krak.

​Ia mengeringkan tangannya dengan kain lap, lalu berjalan keluar dari dapur. 

Saat ia melewati ruang tamu, ia melihat sebuah majalah yang tergeletak di atas meja kopi. Sampulnya menampilkan desain interior rumah mewah. 

Ia berhenti, menatap majalah itu selama beberapa detik.

Agnesa sering menatap benda-benda yang dianggap 'sempurna' oleh orang lain, namun tatapannya selalu kosong. Ia tidak mencari inspirasi. Ia mencari cela.

​Ia melangkah ke lantai atas, menuju kamarnya. Ia membuka pintu, masuk, dan menguncinya. 

Klik.

​Kamar itu adalah cerminan dari hidupnya: serba putih, buku-buku tersusun menurut tinggi dan warna, tidak ada satu pun barang yang tidak pada tempatnya. 

Ia berjalan ke meja belajarnya, membuka laci, dan mengeluarkan buku catatan hitam itu lagi.

​Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat kecil: Kenapa harus sekarang?

​Agnesa menutup buku itu. 

Ia duduk di kursi belajarnya, menopang dagu dengan tangan.

Besok hari Senin. Upacara. Rapat OSIS. Proker baru. Semua sudah terjadwal. Tidak ada ruang untuk gangguan. Tidak ada ruang untuk ZENTRIX. Tapi, apakah aku akan benar-benar bisa fokus? Bagaimana jika dia benar-benar datang? Bagaimana jika dia menatapku dengan mata indifferen itu dan bertanya tentang ubur-ubur lagi? Aku harus menyiapkan jawaban. 

Jawaban yang dingin. Jawaban yang membuat dia sadar bahwa dia tidak punya tempat di duniaku.

Agnesa meraih penggaris besi di atas mejanya.

Ia meletakkan penggaris itu tepat di pinggir meja.

Ia menggesernya sedikit, lalu meluruskannya kembali.

Geser. Luruskan. Geser. Luruskan.

Sret... sret...

Gerakannya ritmis, hampir seperti detak jam yang konstan.

Ia tidak sedang mengukur apa pun.

Ia hanya memastikan penggaris itu benar-benar sejajar dengan garis meja.

Jika penggaris itu bergeser satu milimeter saja, ia akan memperbaikinya dengan presisi yang obsesif.

Ia terus melakukan itu selama sepuluh menit penuh tanpa henti.

​Suara ting dari ponselnya mengejutkannya. Ia langsung menoleh.

​Pesan dari Nadiva.

Nadiva: Nes, besok berangkat bareng? Aku jemput ya?

​Agnesa membalas dengan cepat.

Agnesa: Ya. Jemput jam 6:30.

​Ia mematikan ponselnya. Ia menatap ke jendela kamar.

 Di luar, lampu jalanan terlihat redup. Kota Bandung sedang tidur, atau mungkin sedang berpura-pura tidur.

​Ia ingat sosok laki-laki yang ia lihat kemarin. Naren. Dia tidak tampak seperti penjahat yang sering dibicarakan orang-orang. 

Dia hanya tampak... lelah. Seperti seseorang yang membawa terlalu banyak beban di pundaknya, namun tidak tahu cara menurunkannya.

 "Dia hanya pembuat masalah," pikir Agnesa, namun tangannya secara tidak sadar meraba pinggiran buku catatan hitam itu, seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

​Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju tempat tidur yang sprainya sudah rapi tanpa satu pun kerutan.

 Ia membaringkan tubuhnya. Langit-langit kamarnya putih bersih. Tidak ada coretan, tidak ada noda.

​"Besok adalah hari Senin yang biasa," bisiknya pelan. "Tidak ada yang akan berubah."

​Namun, di dalam hatinya—atau mungkin hanya imajinasinya—ia mendengar suara mesin motor yang menderu pelan di kejauhan.

 Vroom... vroom... 

Mungkin itu hanya ilusi. Atau mungkin, itu adalah tanda bahwa ketenangan yang selama ini ia jaga dengan begitu keras akan segera terusik.

​Agnesa menutup matanya. Ia mencoba menghitung domba, mencoba memikirkan rumus matematika, mencoba menyusun agenda rapat OSIS besok. 

Tapi yang muncul di balik kelopak matanya justru gambar ubur-ubur yang melayang di air gelap. Transparan, tenang, namun punya sengatan yang mematikan jika tersentuh.

 Kenapa aku memikirkan ubur-ubur itu lagi? Bodoh sekali. Ubur-ubur tidak punya otak. Mereka cuma ikut arus. Aku bukan ubur-ubur. Aku Agnesa. Aku punya otak, aku punya rencana, aku punya kendali. Ya, aku punya kendali.

​Ia membalikkan badan ke sisi kiri. Hening.

Agnesa hendak menarik selimut sampai ke dagu.

Ia sudah memegang pinggiran selimut itu dengan tangannya.

Tiba-tiba, ia berhenti.

Ia melepaskan selimut itu begitu saja.

Ia berbaring dengan tangan terentang di samping tubuhnya, menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.

Ia merasa ada sesuatu yang tertinggal di luar sana.

Atau mungkin, ada sesuatu yang sudah masuk ke dalam sini tanpa ia sadari.

Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang terasa lebih berat dari biasanya.

Ia tidak menarik selimut itu lagi.

Ia hanya terdiam dalam gelap, membiarkan dinginnya AC menyelimuti kulitnya.

​Waktu seolah berhenti. Jam di dinding kamarnya berdetak pelan. 

Tik... tik... tik...

​Agnesa Valeria Anabella, ketua OSIS yang dibenci oleh ZENTRIX, yang ditakuti oleh murid-murid, yang selalu menjaga reputasi keluarganya—kini hanya seorang gadis yang terjebak dalam pikiran tentang seorang pemuda yang bahkan tidak pantas untuk diingat.

​Ia memiringkan kepala, menatap bayangan pohon di luar jendela yang tertangkap oleh cahaya lampu jalan. Bayangan itu bergoyang-goyang tertiup angin. 

Srek... srek...

​"Besok," bisiknya lagi, hampir tidak terdengar.

​Ia tahu besok akan menjadi hari yang panjang. Dan ia tahu, apa pun yang terjadi besok, dunianya tidak akan pernah bisa kembali ke titik yang sama seperti sebelum Naren Aksara Gavindra muncul dalam hidupnya.

​Ia akhirnya terlelap, bukan karena ia merasa tenang, tapi karena ia tidak punya pilihan lain selain menyerah pada rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya. 

Dan di dalam tidurnya, ia mungkin sedang memimpikan laut yang luas, di mana ubur-ubur melayang bebas tanpa arah, tanpa aturan, dan tanpa rasa takut.

​Besok adalah Senin. 

Senin yang akan membawa jawabannya. Senin yang akan menentukan apakah Agnesa akan tetap menjadi Agnesa yang ia kenal, atau ia akan menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih... transparan.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Sidak disiplin, ya?"

​"Ini aturan sekolah,"

​Naren Sengaja Melanggar Aturan? Simak Kelanjutan Ketegangan Gerbang Sekolah di Bab 29: Garis yang Sama

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!