NovelToon NovelToon
Jenderal Wanita Penguasa Dunia

Jenderal Wanita Penguasa Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: SiPemula

Song Jiao, di kehidupan pertamanya dia adalah Jenderal Wanita terkuat yang berhasil menguasai Dunia, tapi hidupnya berakhir begitu cepat karena sebuah penyakit bawaan yang belum ada obatnya.

Tetapi jiwa berdarah-darah Song Jiao tidak diterima di Surga maupun Neraka, hingga pada akhirnya dia harus menjalani kehidupan kedua sebagai Song Jiao yang lain, yaitu putri Raja yang kehilangan statusnya setelah gagal mengkudeta Kekuasaan Kaisar yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri.

Terbangun di tubuh gadis muda kurus yang lemah di akhir musim dingin, ingatan asing diterima Song Jiao begitu membuka mata, dan dari dalam ingatan itu dia tau hidupnya tinggal sebatang kara, dimana orangtuanya meninggal sebelum datangnya musim dingin, lalu para pelayan yang tersisa pergi setelah mengambil seluruh harta milik keluarga Song Jiao.

Tanpa harta, tanpa kekuatan, juga tanpa orang yang bisa diandalkan. Sanggupkah Song Jiao menjalani kehidupan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Pemilik Aslinya

Benar-benar sosok pengkhianatan yang tersembunyi sangat dalam, dan kalau saja tidak ada bukti nyata yang ditunjukkan oleh Song Jiao, besar kemungkinan kebenaran itu akan terus tersembunyi, dan tersembunyinya kebenaran itu hanya akan berdampak buruk pada pasukan.

Para prajurit yang sebelumnya ingin marah atas tindakan kejam Song Jiao, cepat mereka membuang jauh-jauh amarah yang sempat dirasakan.

Kalaupun ingin marah, sudah seharusnya mereka marah pada para pengkhianat yang sehari-hari makan, minum, dan tidur bersama mereka.

Song Jiao tersenyum kecil begitu selesai membersihkan sampai di dalam pasukan, tapi dia tidak sedikitpun melepaskan kewaspadaannya, meski sudah tidak ada lagi pengkhianat di tengah-tengah pasukan.

Mayat-mayat segera dibersihkan, tapi tidak ada pemakaman khusus untuk para pengkhianat. Setelah dibersihkan, mayat-mayat itu dikubur dalam satu lubang, dan papan kayu bertuliskan pengkhianat ditancapkan di atas gundukan tanah.

Melihat situasi sudah bisa ditenangkan, Qin Tianyu merasa jauh lebih tenang, tapi hari ini dia akhirnya begitu jelas melihat bagaimana Song Jiao tanpa ampun membunuh musuh-musuhnya.

Dengan wajah penuh ketenangan, Song Jiao dimata Qin Tianyu tampak seperti sosok Jenderal Perang yang sesungguhnya.

"Aku merasa kalau dia lebih pantas memimpin pasukan ini daripada aku!"

Qin Tianyu menatap Song Jiao yang kembali berkumpul dengan tiga prajurit wanita yang juga merupakan pelayannya. "Tiga wanita itu, mereka bukan wanita biasa, dan sepertinya sudah lama mengenal Jiao'er."

Kedekatan itu bukanlah sesuatu yang terbentuk hanya dalam hitungan hari.

Tetapi, Qin Tianyu sama sekali tidak memiliki informasi sejak kapan keponakannya itu dekat dengan mereka bertiga.

"Kedekatan mereka bukan sesuatu yang akan berdampak buruk pada siapapun. Jadi, untuk apa juga aku memikirkan hubungan diantara mereka?"

Qin Tianyu tidak akan melanjutkan mencari informasi tentang ketiga wanita yang memiliki hubungan dekat dengan Song Jiao, apalagi keponakannya itu telah memperkenalkan ketiganya sebagai pelayan pribadinya.

***

Sehari semalam kembali berlalu, dan perang besar selanjutnya sudah berada tepat di depan mata.

Kota Moyan akan menjadi medan perang selanjutnya, tapi sampai sekarang para petinggi militer di kota itu belum tau jika Kota Moyan berada dalam ancaman besar, membuat mereka tidak melakukan persiapan apapun untuk menyambut kedatangan musuh.

Begitu suara genderang perang mulai terdengar, pada saat itu semua sudah terlambat.

Bola-bola besi ditembakkan menuju benteng Kota Moyan, dan hanya dengan enam tembakan meriam sudah cukup untuk menghancurkan pintu gerbang Kota Moyan yang kokoh.

Enam tembakan belum cukup untuk menghancurkan semangat juang prajurit Xue Long yang melindungi Kota Moyan, jadi bola-bola besi kembali ditembakkan, membawa kehancuran yang jauh lebih besar.

Begitu tembakan meriam dihentikan, ribuan Kavaleri Harimau Beso merangsek masuk ke dalam Kota Moyan tanpa adanya perlawanan, termasuk seratus Kavaleri Wanita yang dipimpin oleh Song Jiao.

Kota yang semula tenang, hanya dalam kurun waktu 1 Ke (30 menit) telah menjadi medan perang paling mematikan bagi prajurit Xue Long.

"Serang dan bunuh musuh yang melawan!"

Qin Tianyu memimpin pasukannya membunuh musuh yang melakukan perlawanan.

Prajurit Xue Long memilih mati daripada menyerah dan menjadi budak. Oleh karena itu peperangan di Kota Moyan tidak cepat berakhir, apalagi jumlah prajurit Xue Long yang berjaga di dalam kota sama sekali tidak sedikit, tapi karena mental mereka telah jatuh ke titik terendah setelah serangan meriam, pasukan kavaleri Harimau Besi yang dipimpin oleh Qin Tianyu benar-benar menjadi mesin pembunuh.

Meski mulai mengambil alih keadaan kota, tidak ada satupun penduduk kota yang diusik oleh pasukan di bawah kepemimpinan Qin Tianyu, kecuali penduduk kota yang memilih mengangkat senjata dan melakukan perlawanan sia-sia.

Mereka yang melakukan perlawanan adalah penduduk kota yang memiliki kedekatan dengan para bangsawan dan pejabat di Kota Moyan.

Yakin mereka tidak akan lagi bebas membuka usaha yang selama ini merugikan penduduk kota yang berasal dari kalangan bawah, mereka mau tidak mau memilih melakukan perlawanan, berharap ada secercah harapan bisa mengalahkan musuh.

Tetapi hanya dengan kemampuan yang biasa-biasa saja, mereka sama sekali bukan lawan sepadan bagi pasukan terlatih yang sudah sering berada dalam situasi antara hidup mati.

Akhirnya, perlawanan yang dilakukan segelintir orang dengan mudah diselesaikan oleh Qin Tianyu, dan kini dia memimpin pasukan menuju kediaman Penguasa Kota Moyan yang dijaga ketat tidak kurang dari lima ribu prajurit Xue Long.

"Gunakan busur silang otomatis untuk menghancurkan pertahanan kediaman Penguasa Kota!"

Song Jiao memberi perintah, memimpin 100 kavaleri wanita menerobos kediaman Penguasa Kota melalui gerbang belakang.

"Bunuh yang melawan!"

Sambil memberi perintah, tubuh kecil Song Jiao bergerak lincah melompat dari kuda putihnya, dan dengan langkah kaki yang sangat ringan dia menerjang maju ke arah musuh.

Ratusan prajurit Xue Long yang menjaga gerbang belakang kediaman Penguasa Kota maju menghadang pergerakan Song Jiao dan pasukan kecilnya.

"Hanya sekelompok orang lemah ingin menghentikan aku? Harapan itu hanya ada dalam mimpi!"

Gadis itu mengayunkan tombaknya ke arah prajurit Xue Long, membuat empat prajurit tumbang, mati sebelum melakukan apa-apa selain lari kesana kemari di halaman belakang kediaman Penguasa Kota.

Song Jiao puas dengan hasil serangan pembuka yang dilakukannya. Dia menjadi semakin bersemangat, dan itu adalah mimpi buruk bagi siapapun yang menjadi lawannya.

"Mari kita bersenang-senang! Aku sudah lama tidak merasakan kesenangan seperti ini, dan aku bersumpah akan mengalahkan seluruh orang Xue Long yang menjadi lawanku!"

Ucapan Song Jiao membuat seluruh prajurit wanita yang mendengarnya semakin terbakar oleh semangat. Dalam diam mereka mengucapkan sumpah yang sama, dan sumpah itu berlaku sejak saat ini juga.

Wei Zu, Lu Li juga Cu Yun, mereka juga melakukan sumpah serupa, dan dengan masing-masing memegang pedang, mereka ikut maju bersama Song Jiao, diikuti puluhan prajurit wanita yang sama sekali tidak takut dengan kematian.

Meski mereka adalah prajurit wanita yang banyak diremehkan. Setelah apa yang mereka lakukan, siapa sekarang yang berani meremehkan mereka?

Berani meremehkan mereka, sama saja dengan mencari kematian.

Terus bergerak dengan dipimpin Song Jiao, sekelompok kecil pasukan kavaleri yang telah meninggalkan kuda tunggangan mereka sehingga menjadi kelompok prajurit yang berlari di atas tanah, mereka berhasil menyapu bersih prajurit Xue Long yang datang ke halaman belakang kediaman Penguasa Kota.

"Lebih cepat lagi! Bunuh semua musuh tanpa ampun!"

Song Jiao telah mengganti tombak menjadi pedang karena area sekitar yang semakin sempit, dimana dia terus bergerak diantara bangunan.

Udara saat ini dipenuhi bau darah dan suara pertarungan dimana-mana.

Suara jeritan sebelum datangnya kematian berkali-kali terdengar, tapi tidak sedikitpun semua itu memperlambat pergerakan Song Jiao dan pasukannya.

"Kota Moyan di masa lalu adalah bagian dari Huangtian, dan hari ini Kota ini akan kembali ke pemilik aslinya!"

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Leni Ani
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut
Leni Ani
mantap👍👍👍💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Sekar
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut
Leni Ani
mantap👍,tanjt thor yg banyak up nya👍👍👍💪💪💪💪☺️😘
Leni Ani
ketemu pelayan atau teman lama kah😅🤔
Sribundanya Gifran
lanjut
Sekar
teman lama kah?
Sekar
lanjut thor💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Sekar
double up thor
Leni Ani
lanjut thor 💪💪👍👍👍
Sribundanya Gifran
lanjut
Eka Haslinda
typo ny banyak sangat thor
Sekar
lanjut thor💪💪
Leni Ani
mantap thor,lebih mantap lagi up yg banyak☺️💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!