"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 - Hasil Yang Hilang
Hari kelima setelah pemeriksaan Prof. Hadi, Vania mengirim rekam medis.
Tidak lengkap.
Tentu saja.
Alina tahu dari Nadia, bukan dari Adrian.
Nadia menerima salinan email dari Hendra karena syarat pemeriksaan itu berkaitan dengan negosiasi perceraian. Ia meneruskan pesan dengan catatan singkat.
Nadia:
Ada gap besar. Tahun lalu sampai enam bulan terakhir hampir kosong. Prof. Hadi pasti melihat.
Alina membaca saat sedang menjahit pesanan kecil pertamanya sejak pindah. Seorang kenalan Lia meminta ia memperbaiki gaun pesta yang terlalu longgar. Bayarannya tidak besar, tapi uang itu masuk ke rekeningnya sendiri.
Ada kepuasan aneh dari pekerjaan kecil itu.
Jarum masuk, benang keluar.
Sesuatu yang longgar menjadi pas.
Alina menatap pesan Nadia, lalu membalas:
Biarkan Prof. Hadi yang menilai.
Ia meletakkan ponsel.
Tidak semua perang perlu ia hadiri langsung.
*****
Prof. Hadi menilai lebih cepat dari dugaan.
Sore itu, Adrian menerima panggilan dari klinik.
Asisten Prof. Hadi berbicara singkat. "Prof meminta pasien membawa dokumen yang hilang. Jika tidak ada, mohon surat pernyataan dari dokter sebelumnya bahwa data tersebut memang tidak pernah dibuat."
Adrian mengerutkan kening. "Dokumen apa yang hilang?"
"Riwayat terapi biologis, evaluasi respons obat, dan hasil lab serial. Ada rujukan terhadap pemeriksaan itu di dokumen lain, tapi hasilnya tidak dilampirkan."
"Mungkin tercecer."
"Prof berkata dokumen medis boleh tercecer satu, bukan satu rangkaian."
Adrian diam.
Asisten itu melanjutkan dengan nada datar, "Jika pasien tidak dapat menyediakan, Prof akan menyimpulkan berdasarkan data yang tersedia dan mencatat bahwa pasien tidak kooperatif."
Tidak kooperatif.
Kata itu berat.
Adrian menutup telepon, lalu memanggil Vania.
Vania datang dari kamar tamu, wajahnya tampak lelah. "Ada apa?"
"Prof. Hadi meminta dokumen yang hilang."
Wajah Vania menegang. "Dokumen apa lagi?"
Adrian menyebutkan.
Vania langsung menggeleng. "Aku tidak punya."
"Asistennya bilang ada rujukan di dokumen lain. Berarti pemeriksaan itu pernah dilakukan."
"Aku tidak ingat. Kamu tahu aku sering lemah, sering pusing. Aku tidak mungkin mengingat semua istilah medis."
"Kamu tidak perlu mengingat istilah. Kamu hanya perlu menghubungi dokter lamamu."
"Aku sudah."
"Siapa?"
Vania terdiam.
Adrian menatapnya. "Dokter siapa?"
"Dokter Lim."
"Nomornya?"
"Aku harus cari."
"Cari sekarang."
Nada Adrian membuat Vania pucat.
"Kenapa kamu bicara seperti ini padaku?"
"Karena aku sedang mencoba membantumu."
"Tidak. Kamu sedang mencurigaiku."
Adrian menarik napas. "Vania, kalau datanya lengkap, semua selesai."
"Tidak akan selesai. Alina akan mencari hal lain. Dia ingin membuktikan aku pembohong."
"Apakah kamu?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Adrian sempat menahannya.
Vania membeku.
Keheningan yang muncul setelahnya terlalu panjang.
Adrian merasa dadanya turun.
Vania mulai menangis. "Kamu tega menanyakan itu?"
Dulu, air mata itu akan mengakhiri percakapan.
Hari ini Adrian hanya menatapnya.
"Jawab."
"Aku sakit, Adrian."
"Aku tidak bertanya apakah kamu sakit. Aku bertanya apakah kamu berbohong."
Vania mundur satu langkah, seperti ditampar.
Ratna yang mendengar dari lorong langsung masuk. "Adrian! Apa-apaan kamu?"
Adrian tidak mengalihkan mata dari Vania.
"Mama, jangan ikut."
"Kamu membuatnya menangis."
"Setiap kali ada pertanyaan, dia menangis."
Ratna terdiam, terkejut mendengar kalimat itu dari anaknya.
Vania menatap Adrian dengan mata basah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu kalimat mana yang bisa mengembalikan pria itu ke sisinya.
*****
Malam itu, Alina menerima panggilan dari nomor Adrian.
Ia hampir tidak mengangkat. Namun jadwal Arka sudah lewat, dan ia khawatir itu soal anak.
"Ada apa?"
Suara Adrian terdengar berat. "Bukan soal Arka. Dia sudah tidur."
"Kalau bukan soal Arka atau proses hukum, kirim lewat pengacara."
"Aku hanya ingin bertanya satu hal."
Alina diam.
"Menurutmu, sejak awal Vania berbohong?"
Alina menutup mata.
Pertanyaan itu seharusnya membuatnya puas.
Adrian akhirnya bertanya.
Namun yang ia rasakan justru lelah.
"Aku tidak tahu sejak awal," katanya. "Aku hanya tahu setiap kali aku terluka, penyakitnya dipakai sebagai alasan. Orang yang benar-benar sakit bisa tetap salah. Orang yang hampir mati pun tidak otomatis berhak mengambil milik orang lain."
Adrian tidak menjawab.
"Jika kamu ingin tahu apakah dia berbohong soal medis, tunggu Prof. Hadi. Jika kamu ingin tahu apakah dia menggunakan sakitnya untuk memanipulasi, kamu tidak perlu dokter."
"Aku bodoh, ya?"
Pertanyaan itu pelan.
Alina membuka mata.
"Aku tidak tertarik menenangkanmu."
"Aku tidak minta ditenangkan."
"Bagus. Karena aku tidak punya tenaga."
Di seberang, Adrian tertawa kecil. Bukan tawa senang. Lebih seperti seseorang yang akhirnya menyadari pintu sudah tertutup.
"Kamu dulu selalu punya tenaga untukku."
"Ya. Itu masalahnya."
Adrian diam lama.
"Kalung itu sudah kamu pakai?"
Alina menyentuh liontin di lehernya. "Ya."
"Bagus."
Kata itu hampir terdengar tulus.
Alina tidak membalas.
Adrian berkata, "Maaf mengganggu malam-malam."
Telepon ditutup.
Alina menatap layar gelap.
Tidak ada rasa menang.
Hanya ada satu pikiran:
Betapa mahal harga sebuah kesadaran jika datang terlambat.
*****
Vania tidak tidur.
Ia membuka laptop kecilnya dan masuk ke email lama yang hampir tidak pernah ia gunakan. Di sana ada beberapa pesan dari klinik Singapura, dokter lama, dan laboratorium.
Ia mencari dokumen yang diminta Prof. Hadi.
Ada.
Lengkap.
Hasil enam bulan lalu menunjukkan respons terapi baik.
Empat bulan lalu: stabil.
Dua bulan lalu: tidak ada tanda krisis akut.
Catatan dokter: pasien perlu pemantauan, tetapi prognosis jangka pendek baik.
Prognosis jangka pendek baik.
Vania menatap kalimat itu dengan napas memburu.
Kalimat itu tidak berarti ia sehat total. Ia memang sakit. Tubuhnya memang punya masalah. Ia memang pernah takut.
Tapi ia tidak sekarat seperti cerita yang ia biarkan semua orang percaya.
Dan ia tahu.
Ia sudah tahu.
Ia menutup laptop.
Jika ia menyerahkan data itu, Adrian akan melihat semua perjalanannya selama ini dengan mata berbeda.
Jika ia menghapusnya, Prof. Hadi mungkin tetap menemukan jalan.
Ponselnya bergetar.
Bimo.
Bimo:
Aku punya orang yang bisa bantu urus dokumen medis. Mau?
Vania menatap pesan itu.
Ia tahu Bimo ceroboh.
Ia tahu Bimo bisa merusak segalanya.
Tapi ia juga tahu dirinya mulai terpojok.
Setelah beberapa detik, ia mengetik:
Besok ketemu. Jangan di rumah Adrian.
Pesan terkirim.
Di luar kamar, rumah Wicaksono sunyi.
Vania duduk dalam gelap, wajahnya tidak lagi terlihat rapuh.
Ia sakit.
Tapi ia belum kalah.
Di meja rias, ada obat-obatan yang memang harus ia minum. Vania menatap botol-botol itu dengan rasa benci yang aneh. Penyakitnya nyata, tapi tidak cukup tragis untuk membuat semua orang terus memaafkannya.
Itulah bagian yang paling membuatnya marah.
Jika ia benar-benar sekarat, mungkin semua ini lebih mudah. Tidak ada yang akan berani menuntut terlalu banyak. Adrian akan tetap menggenggam tangannya. Ratna akan tetap membelanya. Arka akan tetap percaya bahwa Tante Vania harus dijaga.
Tapi tubuhnya memilih bertahan.
Dan karena ia bertahan, ia harus terus memperpanjang bayangan kematian itu sendiri.
Vania mengambil salah satu botol obat, memutarnya di tangan, lalu meletakkannya lagi. Ia tidak ingin mati. Ia hanya ingin semua orang takut kehilangan dirinya.
Ponselnya kembali menyala. Bimo mengirim lokasi kafe di SCBD dan satu kalimat pendek.
Datang sendiri. Jangan bawa sopir rumah.
Vania menatap pesan itu sambil menggigit bibir. Bimo selalu mengira dirinya pintar karena mengenal banyak orang. Ia lupa orang yang terlalu sering memakai jalan belakang biasanya meninggalkan noda di sepatunya sendiri.
Namun Vania tidak punya banyak pilihan.
Jika Prof. Hadi membuka data aslinya di depan Adrian, semua air mata yang ia kumpulkan akan berubah menjadi bukti. Adrian mungkin masih kasihan padanya, tapi kasihan yang tercampur jijik tidak bisa dipakai untuk mempertahankan rumah orang lain.
Ia mengambil jaket tipis dari kursi.
Besok, ia harus mendapatkan cerita baru sebelum kebenaran lama selesai dibaca.
Apa pun caranya.
Perbedaannya kecil.
Tapi bagi Alina, perbedaan kecil itu bisa menghancurkan sebuah rumah.
Dan jika Alina ingin kebenaran, Vania akan memastikan kebenaran itu datang terlambat.
ternyata di luar ekspektasi