Vandra dan Mia saling menyukai diam diam. Vandra cowo gaul yang tampan yang sukanya clubbing, brantem tapi atlet karate yang berprestasi. Sedangkan Mia cewe rumahan yang pintar dan manis.
cerita ini hanya perjalanan cinta anak sma yang dipenuhi intrik intrik kecil, persaingan,
rada setia kawan dan pengungkapan cinta yang manis.
Walaupun tetap ada konflik keluarga yang mengharukan. Tentang pengorbanan ibu dan anak, dan pertentangan keluarga yang sangat kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Mia
"Mia, mama telpon," kata Papa Ando saat melihat Mia datang bersama Ando. Beliau sedang mengobrol bersama istrinya.
Papa Ando lalu memberikan hpnya pada Mia.
"Makasih, Om," kata Mia excited.
"Ngomong di dalam kamar sayang," kata Mama Ando lembut. Suaranya agak tercekat seperti menahan perasaan sedih. Tapi Mia yang terlalu senang tidak memperhatikan. Dia sangat rindu dengan mamanya.
Mereka saat ini berada di salah satu kamar hotel yang sudah dibooking keluarga Ando.
"Iya Tante."
Mia langsung tersenyum senang begitu dia menatap wajah mamanya yang melakukan video call saat berjalan memasuki kamar.
"Ma, kapan pulang?" tanyanya manja.
"Anak mama cantik banget," Mama berusaha tanpak ceria.
"Ma, Mia kangen," kata Mia jadi sedih.
"Mia, mama juga kangen."
"Kalo begitu pulang Ma. Aku pengen mama cepat pulang," kata Mia menuntut.
"Iya sayang," mama menjawab lembut. "Papa gimana keadaannya?"
"Masih belum sadar Ma," jawab Mia sedih. Papa Ando baru pulang menjenguk papanya dan mengatakan papp belum.sadar. Dia ingin ikut, tapi dia tidak bisa karena bersikeras memilih ikut mamanya.
Jadi miskin pada awalnya membuatnya canggung. Tapi lebih baik dari pada harus meninggalkan mamanya seorang diri. Karena itu Mia bekerja jadi guru les piano untuk tidak merepotkan mamanya dalam uang jajannya. Mama pasti sudah cukup pusing dengan uang sekolahnya yang sangat tinggi, begitu juga dengan pengobatan papanya. Apalagi oma seenaknya memindahkan papanya ke Amerika.
"Miia sayang, kamu sayang papa kan?" tanya mama setelah menghela nafas.
"Iya, mama dan papa," tegas Mia.
"Mia sayang, karena mama ngga bisa jaga papa, kamu yang jaga ya."
"Maksud mama?" Mia mulai berdebar, seperti mamanya akan mengatakan perpisahan.
"Mia jaga papa buat mama ya."
Air mata Mia tiba tiba mengalir deras. "Tidak mau!" teriaknya dalam tangis.
"Sayang, mama mohon." Air mata mama pun mengalir deras.
"Mia ngga mau. Mia juga mau mama," isaknya. Keduanya saling menangis.
"Mama janji, kalo papa sembuh, kita kumpul lagi. Tolong Mia jaga Papa, Sayang, demi mama," suara mama terdengar tersendat. Padahal mama berusaha tegar, apalagi beliau sangat senang saat melihat wajah cantik anaknya dalam balutan pesta. Keluarga Ando benar benar memperhatikannya.
Beliau sangat mencintai anak dan suaminya. Belasan tahun mereka bertahan tetap bersama walaupun mendapat perlakuan tidak pantas dari omanya. Saat suaminya kecelakaan di tol luar kota, mama susah mengupayakan pengobatan terbaik dan menguras banyak biaya.
Rumah mewah mereka akhirnya dijual untuk pengobatan yang tidak sedikit. Mama menyerahkan perusahaan suaminya pada Papa Ando yang merupakan kakak suaminya untuk dikelola. Semua berjalan lancar hingga mama suaminya mengambil alih dan membawa suaminya ke Amerika.
Mia dan mamanya tidak boleh menjenguk suaninya. Ada syaratnya. Mamanya harus menandatangani surat perceraian dan surat perjanjian menyerahkan Mia pada oma.
Mama masih berusaha bertahan dengan mengajak Mia tinggal di rumah baru mereka yang kecil. Tapi ancaman Oma yang melarang Mia menjenguk papanya membuatnya mengambil keputusan sangat berat ini.
Beliau hanya anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan dan dicintai suaminya yang anak orang sangat kaya, yang kekayaannya juga ada di luar negeri tidak bisa berbuat apa apa. Tapi keluarga suaminya selalu menekannya. Sekarang suaminya tidak bisa membelanya lagi. Beliau terbaring koma entah sampai kapan.
Hanya keluarga Ando yang sangat baik padanya dari dulu. Mamanya menitipkan Mia yang dengan senang hati menerimanya.
Mama pun ngga tega melihat Mia yang semakin kurus karena juga bekerja part time di sela sela kesibukan sekolah dan lesnya.
Walau Mia berkeras tetap bersama mamanya, beliau yang tidak tega melihat kerinduan di mata anaknya pada papanya, yang selalu berusaha disembunyikan agar dirinya tidak sedih.
Pengobatan suaminya yang sudah sangat besar menjadi semakin luar biasa dan mama sudah tidak bisa bertahan lagi. Oma pun kembali membuktikan tidak pernah membayar sedikitpun biaya pengobatan di Amerika. Padahal itu keinginannya.
Mama akhirnya terpaksa mengalah. Setelah Mia menjual piano kesayangannya, mama
mengambil keputusan berat..Sangat berat harus kehilangan dua orang yang sangat dicintainya.
Mia masih menangis, padahal telpon mamanya sudah off setengah jam yang lalu. Mia mencoba menelpon tapi ngga diangkat mamanya. Mamanya mematuhi oma untuk memutus komunikasi setelah menyerahkannya.
Hatinya hancur. Mama Ando mendekat dan memeluknya juga sambil menangis. Bagi Mama Ando, Mia adalah putrinya juga karena mama Ando tidak punya anak perempuan.
"Sabar sayang. Semoga perpisahan ini cuma sebentar," bujuk Mama Ando untuk menguatkan hatinya.
Ando menatapnya dengan sedih. Selama ini Ando yang selalu menemaninya. Mengantar jemputnya. Karena mereka sudah dekat sejak kecil.
Akhirnya Ando meninggalkan kamar dan kembali ke ballroom tempat pesta berlangsung.
"Mia mana?"
Ando menoleh saat mendengar teguran Vandra. Ando menatap lekat cowo itiu yang juga menatap tajam padanya.
"Ngapain nyari Mia?"
"Masalah buat Lo?" Vandra berdiri sambil memasukkan tangannya ke sakunya.
"Masalah kalo Lo hanya main main dengan Mia." Suara Ando sedikit mengancam.
Vandra ngga menjawab. Dia menatap Ando penuh selidik. Ngga biasanya Ando bersikap over protektif seperti ini.
"Siapa yang main main," kata Vandra akhirnya.
Ando menghela nafas panjang sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Raut mukanya jadi kesal melihat Lika berjalan menghampiri mereka.
"Tunangan Lo," kata Ando ketus dan langsung pergi tepat ketika Lika dua langkah di depan mereka.
"Dia kenapa?" tanya Lika heran menatap kepergian Ando.
"Mau ke toilet," jawab Vandra sekenanya. Ancaman papanya untuk tetap bersikap sopan pada nona yang ulang tahun ini terngiang di telinganya.
"Oo." Lika tersenyum.manis. Dia memang sangat cantik. Tapi bagi Vandra biasa saja. Kalo itu Mia baru luar biasa.