"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Karna
Karna langsung datang keesokan harinya setelah mendengar cerita Kalana tentang ari ari Kalingga, Kaelan juga sudah tahu dan sedang menunggu hukumannya selesai satu minggu lagi dan Kaelan akan mencoba membawa Kalingga pergi ke kampung Mahoni tanpa menginap dulu.
"Jadi kamu belum bisa pergi kemanapun sekarang?" tanya Karna
"Iya yah, satu minggu lagi baru Kaelan bisa pergi, Kaelan tidak mau membuat masalah untuk bapak dan ibu, dua minggu lalu ladang bapak dan ibu katanya membuat lahan warga lain kena hama, jadi dua hari lalu di pagari dan baru selesai kemarin, tapi Kaelan yakin itu karena mereka tidak mau berbagi air dengan ladang bapak" ucap Kaelan
"Jadi Jamal belum bisa ikut kita minggu depan?"
"Iya kak, kami belum bisa ikut, Maryani juga sepertinya tidak bisa pergi jauh dari kampung ini" jawab Saidah
"Maksudnya?" tanya Karna heran
"Maryani yang sudah menemukan jasad kuyang Salbiah di hutan beberapa waktu lalu, dia bilang dia akan membawa jasad Salbiah itu ke arah dalam hutan Sukun yang ada banyak binatang buasnya, tapi saat sampai di perbatasan hutan, tubuh Maryani tiba tiba terpental dan kembali ke rumah ini" jawab Kaelan
"Aneh .. bukankah ari ari Kalingga saat itu belum di temukan, harusnya Maryani bisa pergi kemanapun meskipun dia akan tetap kembali pada Kalingga" gumam Karna
"Ini sudah dua kali terjadi katanya, yang pertama adalah saat Maryani ingin ikut dengan panglima Parta mengawasi Kinanti dan yang lain saat di undang makan siang, hanya selang lima menit setelah sampai di rumah Narno, tubuh Maryani kembali tertarik ke rumah ini" ungkap Kaelan
"Kita coba pergi dengan Kalingga nanti, apa Maryani akan tetap tertarik ke sini atau tidak" ucap Karna dan semuanya setuju.
"Lihat Kalingga, dia sudah tidak demam lagi bahkan sudah bisa bermain dengan anteng" ucap Karna yang membawa susu juga beberapa minyak telon dan kayu putih untuk Kalingga.
"Iya yah, tapi sisik NYI Kalia masih ada di pusar Kalingga, Kaelan khawatir ari ari itu berhasil di temukan Malak" ucap Kaelan
"Semoga saja tidak karena kan ari ari Kalingga memang seharusnya di hanyutkan di sungai, aliran sungai hutan cadas juga mengalir ke arah air terjun hutan Sagara, jadi kalau ari ari Kalingga hanyut, otomatis itu sudah memenuhi ritual pelepasan ari ari yang di sebutkan Mbah Rumi dan Mbah Abidin" ucap Karna
"Bapak setuju dengan ayah kamu, memang seharusnya begitu supaya Kalingga nanti bisa bebas, bapak yakin belum di dapatkan Narno karena sejak pagi Narno terlihat sibuk pergi ke arah hutan cadas" ucap Jamal
"Kalingga, tunggu satu minggu lagi nak, setelah itu kita bisa tahu apakah kamu bisa keluar dari kampung ini atau tidak" ucap Kaelan mengecup kening Kalingga.
"Kinanti bagaimana kabarnya yah?" tanya Kaelan
"Apa kamu tahu apa yang terjadi pada Kinanti?" tanya Karna memastikan terlebih dahulu.
"Saat itu Kaelan merasa gelisah pas malam, lalu Kaelan memejamkan mata dan saat membuka mata lagi Kaelan ada di sebuah gubuk yang di dalamnya ada Kinanti, Narno, Malak dan Salbiah. mereka mengelilingi Kinanti dan akan membuka pakaiannya, Kaelan marah jadi Kaelan tarik Kinanti untuk keluar gubuk itu, kami berlari tanpa henti dengan Malak di belakang kami bahkan Malak bilang Kinanti harus hamil keturunannya saat itulah Kaelan lempar dia dengan batu besar dan mengenai matanya, Kinanti dan Kaelan bebas dan kami keluar dari hutan, tapi pas Kaelan tersandung di hutan tiba tiba Kaelan malah ada di rumah lagi, itu mimpi ternyata" jawab Kaelan
"Kinanti memang pingsan setelah pulang dari sini, dia baru sadar keesokan harinya dan dia bilang dia mimpi di kejar kejar mahluk berkepala kerbau, mungkin itu Malak dan Kinanti bilang kamu menolongnya" jawab Karna
"Jadi itu bukan mimpi yah?"
"Iya, Kinanti di pelet si Narno dan hampir berhasil kalau Kalana tidak menyadari pelet itu"
"Pantas saat di sini Kinanti juga terlihat lembut sama si tua Narno itu, mungkin Kinanti sudah kena guna guna peletnya, dia galak kan biasanya tapi saat itu Kinanti lembut sekali pada itu aki aki" ungkap Kaelan yang justru malah membuat tiga orang yang ada di rumah itu tertawa dengan celetukan Kaelan.
"Kamu tahu tidak Kaelan, kamu itu lelaki yang polos, kamu tidak punya niat buruk pada siapapun dan sering tanpa sadar membuat seseorang tertarik dengan kamu" ungkap Karna
"Janda Salbiah juga naksir dia kak" ledek Saidah
"Ibu mau punya menantu Kuyang? cukup ibu punya menantu Panglima gaib saja dari Maryani tuh" gerutu Kaelan semakin membuat semuanya tertawa karena dia masih saja cemburu pada Parta.
"Kaelan sekarang sudah sedikit menerima kepergian Maryani, karena dia sudah menganggap Maryani sebagai teman juga adiknya sekarang" bisik Jamal
"Itu bagus, aku tahu bagaimana Kaelan begitu mencintai Maryani sejak dulu, dan cinta itu tidak akan pernah hilang, tapi aku juga berharap Kaelan bisa menemukan seseorang yang bisa mengisi hatinya lagi sama seperti Maryani dulu" bisik Karna
Karna tidak langsung pulang hari itu, dia melihat lahan Jamal yang di pagari warga, begitu terlihat sekali kalau lahan itu di kucilkan dari lahan yang lain bahkan tidak di aliri air, tapi bukan Kaelan namanya kalau dia diam saja, Kaelan malam malam menyelinap ke sana dan menggali saluran air baru langsung dari hulu sungai dan itu membuat warga terkejut.
Bahkan Kaelan mengatakan kalau mungkin leluhur kampung itu lah yang membuat saluran air itu dalam semalam, membuat warga semakin takut untuk mendekati lahan Jamal dan percaya itu bukan ulah leluhur mereka tapi ulah Maryani si Kunti.
"Melihat orang orang di sini, ayah jadi ingat orang orang kampung mahoni lima belas tahun yang lalu, kami begitu percaya leluhur kampung bahkan melakukan ritual yang menyesatkan warga, tidak percaya agama bahkan membuat keributan dengan Liam, Lintang juga Hamka yang datang untuk menjaga pohon keramat kala itu" ungkap Karna menatap hamparan kebun dan sawah yang begitu luas di tempat itu.
"Tapi sekarang kan kampung ayah sudah lebih baik, warganya juga sudah banyak berubah, kalian juga" ucap Kaelan
"Tapi ada satu akibat dari dosa masa lalu itu Kaelan, dan dia masih di anggap sebagai aib terbesar kampung mahoni" ucap Karna
"Maksud ayah Kinanti? tapi yah, banyak orang di kota juga begitu, mereka memang di kucilkan dan bahkan dapat sangsi sosial yang parah tapi anak mereka tidak di salahkan, tetap di hormati" ungkap Kaelan
"Di sini bukan kota Kaelan, cap sial itu begitu melekat pada Kinanti" jawab Karna menunduk dengan wajah terlihat kosong.
"Kinanti pasti akan menemukan lelaki yang cocok yah, usianya baru sembilan belas bahkan punya kepintaran di atas rata rata" ucap Kaelan
"Tapi siapa? apa kamu mau dengan dia? mungkin kamu juga jijik dengan Kinanti" ketus Karna
"Ayah bicara apa sih, Kaelan tidak jijik pada Kinanti Kaelan suka dia ko" ucap Kaelan membuat Karna tersenyum
"Baiklah, kamu saja yang menikah dengan dia" jawab Karna berlari ke arah kampung dengan wajah shok Kaelan yang hanya berdiri terpaku di lahan milik Jamal.
"Ayah... bukan begitu maksudnya"