Rendra Wijaya (24 tahun) adalah definisi nyata dari pecundang urban. Bekerja belasan jam sehari sebagai kurir paket dengan sistem kemitraan yang mencekik, ia harus menerima kenyataan pahit: saldo m-banking yang tersisa Rp 14.500,-, cicilan motor menunggak, dan ancaman kelaparan di depan mata. Di titik terendah hidupnya saat diguyur hujan deras Jakarta, sebuah keajaiban fiksi ilmiah menghampirinya. Sebuah kecerdasan buatan misterius bernama Sistem Auto Rich mengikat jiwanya.
Mau tau kelanjutan nya yok simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mhmmad riko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Arena Singgasana Merah
Malam Jakarta dari puncak Red-Chase Tower selalu menyajikan pemandangan yang tak pernah membosankan. Kilau lampu jalanan yang padat di bawah sana tampak seperti aliran emas yang terus mengalir masuk ke dalam pundi-pundi kekayaan Rendra Wijaya. Sejak pertempuran finansial melawan Marco "The Shark" di Hotel Shangri-La berakhir dengan kemenangan mutlak, status Rendra di bursa saham dan dunia bawah tanah Jakarta telah berubah menjadi momok yang menakutkan.
Di sofa kulit mewah ruang direktur, Viona Amelinda sedang merapikan beberapa dokumen audit pasca-akuisisi. Kemeja kerja putihnya yang sempat berantakan karena "diskusi panas" mereka beberapa jam lalu kini sudah kembali rapi, meskipun rona merah di leher jenjangnya dan sisa aroma kepuasan malam masih belum sepenuhnya hilang. Setiap kali matanya berpapasan dengan Rendra, sekretaris pribadi itu akan menunduk malu dengan detak jantung yang berdegup kencang—sebuah reaksi alami yang terus memberikan pasokan uang instan ke dalam sistem Rendra.
Namun, ketenangan intim itu terpecah saat panel holografis Sistem mendadak memproyeksikan cahaya merah darah yang pekat, memotong kegelapan ruangan.
Ding!
[ PERINGATAN KRISIS: Memasuki Fase Transisi Level 3 menuju Level 4 ] [ Misi Utama Berantai Dipicu: Pertemuan Puncak Para Pemilik Sistem ]
Lokasi Eksekusi: The Crimson Room – Sebuah kasino bawah tanah eksklusif di dalam kapal pesiar mewah Gorgona, yang saat ini sedang berlabuh di perairan Teluk Jakarta.
Target Utama: Hadiri pertemuan dan eliminasi otoritas finansial dari Dua Pemilik Sistem Asing yang mencoba melakukan konsolidasi untuk membagi wilayah Indonesia.
Identitas Target:
Valerie "The Siren" (Pemilik 'Sistem Pesona Mutlak' - Level 4)
Gideon "The Iron Wall" (Pemilik 'Sistem Monopoli Industri' - Level 4)
Modal Misi Ekstrem: Rp 1.000.000.000.000,- (Satu Triliun Rupiah) dalam bentuk cip kasino digital [Dana disediakan penuh oleh Sistem].
Batas Waktu: 04 jam : 00 menit : 00 detik.
Hukuman Gagal: Kematian Biologis total melalui serangan jantung instan.
Rendra berdiri dari kursi kebesarannya, mengancingkan jas hitam besutan desainer Italia yang membungkus sempurna fisiknya yang tegap dan berotot berkat Body Reinforcement. Tatapan matanya yang tajam menyapu rentetan teks merah tersebut.
"Dua orang sekaligus? Level 4?" Rendra tersenyum dingin, memancarkan Dominance Aura yang begitu pekat hingga membuat Viona yang berada di dekatnya mendadak merinding sekaligus terangsang secara tidak sadar. "Sistem, tampaknya dunia ini mulai terasa terlalu sempit untuk para spekulan seperti mereka."
“Ding! Mengingat Tuan Muda akan menghadapi pengguna tingkat tinggi, Sistem memberikan akses darurat satu kali pada fitur baru: 'System Override' (Kemampuan mendeteksi dan mengacaukan fungsi sistem musuh dalam radius 5 meter).”
"Sempurna. Viona, siapkan helikopter di helipad atas. Kita ke Teluk Jakarta sekarang," perintah Rendra dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.
Viona berdiri tegak, matanya berkilat penuh kepatuhan yang mutlak. "Siap, Pak CEO. Semua instruksi Anda adalah hukum bagi saya."
Selamat Datang di Kapal Pesiar Gorgona
Setengah jam kemudian, helikopter pribadi berlambang Red-Chase Group membelah langit malam Jakarta dan mendarat dengan mulus di atas helipad kapal pesiar raksasa Gorgona. Kapal mewah senilai triliunan rupiah itu bergoyang pelan di atas ombak hitam Teluk Jakarta, terisolasi dari hukum daratan dan menjadi surga tersembunyi bagi para elit global, politisi korup, dan penguasa bayangan.
Rendra turun dengan langkah mantap, didampingi oleh Viona yang mengenakan gaun malam hitam dengan belahan tinggi yang mengekspos kaki jenjangnya yang mulus, serta dua sosok Phantom Guard yang tersembunyi dengan sempurna di dalam bayang-bayang sebagai pengawal tak kasat mata.
Begitu melangkah masuk ke dalam The Crimson Room, sebuah aula kasino bawah tanah yang didominasi warna merah marun dan emas, Rendra langsung menjadi pusat perhatian. Kombinasi ketampanan alaminya, pakaian mewah, serta Dominance Aura yang aktif membuat beberapa wanita sosialita top Jakarta yang berada di sana menatapnya dengan pandangan penuh gairah.
Namun, mata Rendra langsung terkunci pada dua orang yang duduk di meja judi Texas Hold'em paling eksklusif di tengah ruangan. Di atas kepala mereka berdua, indikator sistem menyala dengan warna ungu tua yang pekat.
Pria di sebelah kiri adalah Gideon, seorang pria paruh baya bertubuh kekar dengan tatapan sedingin es. Di sampingnya, duduk seorang wanita yang sangat menawan bernama Valerie. Valerie mengenakan gaun backless merah menyala yang memeluk ketat lekuk tubuh jam pasirnya yang luar biasa sensual. Dadanya yang sintal terekspos sebagian, memancarkan daya tarik magnetis yang mampu membuat pria mana pun menyerahkan seluruh hidupnya demi satu senyuman dari bibir ranumnya.
"Ah, sang bintang baru kita telah tiba," Valerie menyapa dengan suara yang sangat lembut, mendayu-dayu, dan penuh dengan getaran hipnotis dari Sistem Pesona Mutlak miliknya.
Setiap pria di sekitar meja tersebut langsung menelan ludah, mata mereka tampak kosong, sepenuhnya terperangkap dalam pesona Valerie. Bahkan Viona di samping Rendra sempat terhuyung sejenak, merasa pusing akibat tekanan aura tersebut.
Rendra dengan sigap merangkul pinggang ramping Viona, menyalurkan energi hangat dari Body Reinforcement-nya untuk menetralisir efek hipnotis tersebut. "Bertahanlah, Viona. Wanita di depanmu ini hanyalah seekor rubah yang menggunakan trik murah," bisik Rendra dingin.
Valerie sedikit terkejut melihat Rendra sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya yang biasanya mampu membuat menteri sekalipun berlutut. Matanya menyipit, menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukan mangsa sembarangan.
"Rendra Wijaya," Gideon angkat bicara, suaranya berat seperti hantaman besi. "Kamu menghancurkan Marco dan mengambil alih SCBD seolah tempat itu milik nenek moyangmu. Tapi malam ini, di kapal ini, sistem monopoli milikku akan menelan seluruh aset Red-Chase Group sampai ke akar-akarnya."
"Silakan dicoba, Pak Tua," Rendra duduk di kursi kosong di hadapan mereka berdua, sementara Viona berdiri setia di belakangnya, meletakkan tangannya di bahu Rendra sebagai bentuk dukungan dan kepatuhan.
Permainan Tiga Sistem
Permainan judi dengan taruhan tertinggi dalam sejarah Teluk Jakarta pun dimulai. Di atas meja, cip digital bernilai ratusan miliar rupiah bertumpuk. Bandar mulai membagikan kartu dengan tangan yang gemetar, menyadari tekanan aura dari tiga pemilik sistem ini bisa meledakkan ruangan kapan saja.
[ Putaran 1: Taruhan Awal Rp 200 Miliar ]
Gideon langsung mengaktifkan kemampuan sistemnya.
“Mengaktifkan Skill: Market Suppression (Penekanan Pasar). Mengunci peluang menang lawan di bawah 10%.”
Rendra merasakan sebuah energi tak kasat mata mencoba menekan keberuntungannya. Kartu di tangannya adalah sepasang angka kecil yang sangat buruk. Namun, Rendra hanya tersenyum tipis.
"Sistem, gunakan System Override pada Gideon," perintah Rendra dalam hati.
“Ding! System Override Aktif! Menolak interferensi 'Market Suppression'. Membalikkan peluang menang Gideon menjadi 0%!”
Gideon yang melihat kartu komunitas di meja mendadak meneteskan keringat dingin. Sistem di kepalanya tiba-tiba mengeluarkan suara peringatan error yang melengking. "Bagaimana mungkin? Sistemku... tidak bisa membaca kartu?!" gumamnya panik.
"Dua ratus miliar, dan saya All-In satu triliun rupiah," Rendra mendorong seluruh cip digitalnya ke tengah meja dengan gerakan yang sangat elegan dan santai.
Valerie menatap Rendra dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh gairah yang bercampur dengan rasa takut. Sebagai pemilik Sistem Pesona Mutlak, ia terbiasa menaklukkan pria lewat ranjang dan kata-kata, tapi dominasi Rendra malam ini benar-benar menghancurkan harga dirinya. Ego kewanitaannya bergejolak hebat; ia tidak ingin menghancurkan Rendra lagi, melainkan ingin merangkak di bawah kaki Rendra dan memohon untuk dijadikan miliknya.
[ Deteksi Sistem: Tingkat Ketertarikan Valerie meningkat drastis akibat serangan balik Dominance Aura Anda! Peluang Penaklukan: 75% ]
"Aku... aku Fold (mundur)," Valerie berbisik dengan suara yang berdesah pasrah, menatap Rendra dengan mata yang sayu penuh gairah erotis, mengabaikan sekutunya, Gideon.
"Valerie! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Gideon murka. Namun, taruhan sudah terkunci. Saat bandar membuka kartu terakhir, Rendra mendapatkan Royal Flush—kombinasi kartu tertinggi yang mustahil secara statistik.
Ding!
[ PERMAINAN SELESAI: Kemenangan Mutlak Tuan Muda Rendra! ] [ Menyerap Otoritas Finansial Gideon... Sukses! ]
[ Sistem Monopoli Industri Milik Gideon Dinyatakan Hancur dan Diakuisisi Penuh! ]
Gideon mendadak memuntahkan darah segar dari mulutnya. Wajahnya menua dua puluh tahun dalam sekejap akibat hukuman kegagalan sistemnya sendiri. Ia jatuh tersungkur dari kursinya, tidak lagi memiliki kekuatan atau kekayaan apa pun di dunia ini. Para penjaga kasino buru-buru menyeret tubuhnya yang tak berdaya keluar dari ruangan.
Penaklukan di Kamar Merah Sang Siren
Setelah ruangan kasino dikosongkan akibat kepanikan dari kehancuran Gideon, Valerie berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati Rendra dengan gerakan pinggul yang sangat sensual, mengabaikan keberadaan Viona yang menatapnya dengan waspada.
"Rendra... kamu benar-benar monster yang luar biasa," bisik Valerie, tangannya yang halus perlahan meraba dada bidang Rendra yang terbalut jas. "Sistemku... memberi tahu bahwa jika aku tidak menyerahkan diriku padamu malam ini, aku akan berakhir seperti Gideon. Tapi sejujurnya... tanpa perintah sistem pun, aku sudah bertekad untuk menjadi wanitamu."
Rendra mencengkeram dagu Valerie dengan kuat, memaksa wanita cantik itu menatap langsung ke matanya. "Kamu pikir setelah mencoba bersekongkol melawan saya, kamu bisa lolos begitu saja hanya dengan menjual tubuhmu, Valerie?"
Valerie menggeleng perlahan, napasnya mulai memburu akibat kedekatan fisik mereka. "Aku tidak sedang bernegosiasi, Rendra. Aku sedang menyerahkan seluruh hidupku, kekayaanku, dan sistemku untuk menjadi bagian dari dinasti Red-Chase Group."
Rendra melirik Viona yang berada di belakangnya. Viona, yang telah merasakan kedahsyatan kekuatan Rendra, melangkah maju. Bukannya marah, sekretaris pribadi itu justru membantu melepaskan kancing jas Rendra, lalu menatap Valerie dengan pandangan penuh kemenangan seorang wanita utama.
"Pak CEO... kapal pesiar ini memiliki kamar VIP Suite terbaik di lantai bawah. Biarkan saya dan Valerie melayani Anda malam ini untuk merayakan kemenangan Level 4 Anda," bisik Viona dengan suara yang sangat manja dan penuh gairah yang tertahan.
Pertahanan moral Rendra runtuh di bawah godaan dua wanita tercantik di belantika bisnis kelas atas tersebut. Dengan satu gerakan kuat, Rendra merangkul pinggang Viona dan Valerie sekaligus, membawa mereka menuju kamar utama kapal pesiar Gorgona.
Di dalam kamar yang didominasi oleh dekorasi sutra merah sutra dan diterangi oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela kapal, atmosfer berubah menjadi sangat panas dan liar. Valerie, sang Siren yang biasanya menjebak pria, kini berlutut dengan sukarela di depan Rendra, melepaskan gaun merahnya yang mahal hingga mengekspos tubuh indahnya yang tanpa cela. Viona menyusul di sampingnya, melepaskan seluruh pakaian kerjanya, menyatukan keindahan dua tubuh wanita berbeda karakter tersebut di atas kasur king-size yang luas.
Stamina Rendra yang telah mencapai batas puncak Level 4 membuat malam itu menjadi neraka yang nikmat bagi kedua wanita tersebut. Desahan gairah, benturan fisik yang intens, dan aroma cinta yang pekat memenuhi ruangan di tengah deburan ombak Teluk Jakarta yang ganas.
Fajar Level 4: Awal dari Kekaisaran Global
Keesokan paginya, Rendra terbangun dengan tubuh yang memancarkan energi keemasan yang samar—tanda bahwa ia telah berhasil menembus batas tertinggi manusia biasa. Di lengan kanan dan kirinya, Viona dan Valerie mendengkur halus dengan wajah yang dipenuhi oleh kepuasan biologis yang mendalam.
Panel sistem muncul dengan perayaan kembang api digital emas yang luar biasa megah.
[ SELAMAT! ANDA TELAH MENCAPAI LEVEL 4: GLOBAL CONQUEROR (PENGUASA GLOBAL) ]
[ Hadiah Level Up Berhasil Ditransfer: ]
Konversi Baru: Rp 500.000,- per detik (
$$Rp 43.200.000.000 / hari$$
).
Aset Baru: Hak Kepemilikan Mutlak Kapal Pesiar Gorgona & Konsorsium Industri Megah milik Gideon.
Fitur Baru Terbuka: Harem Dynasty Core (Menggabungkan energi sistem dari wanita yang telah ditaklukkan untuk mempercepat ekspansi bisnis global).
Rendra perlahan bangkit dari tempat tidur, mengenakan jubah mandinya dan berjalan menuju dek kapal pesiar, menatap matahari terbit yang mulai menyinari kota Jakarta. Dengan pendapatan 43 miliar rupiah per hari, ditambah dengan penguasaan industri siber, properti, dan kini armada maritim, langkah Rendra tidak lagi terbatas di Indonesia.
"Sistem," panggil Rendra sambil menyalakan cerutu mahalnya. "Target kita berikutnya?"
“Ding! Menyiapkan Misi Level 4 Ekstrem: 'The Global Takeover'. Target pertama: Kuasai pasar finansial Singapura dan taklukkan tiga Pemilik Sistem regional Asia Tenggara dalam waktu 7 hari...”
Rendra tersenyum lebar. Permainan di Jakarta sudah selesai, dan kini saatnya Red-Chase Group menggetarkan panggung dunia.