Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Paling Berambisi
Pria itu berjalan menjauh dengan langkah lebar yang kaku.
Shanaya membuang napas pelan. Udara di sekitarnya kembali bersih dari racun Alvian. Matanya mulai menyapu sekeliling ruangan pameran yang dipenuhi instalasi seni dan manekin.
Tatapannya mendadak berhenti di area balkon VIP lantai dua. Ruangan berkaca gelap yang dikhususkan untuk para sponsor utama pameran.
Jantungnya berdetak satu ketukan lebih lambat.
Steven Aditya berdiri di sana.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi. Ia bersandar pada pagar pembatas kaca. Tangan kanannya memegang gelas kristal, menggoyangkannya perlahan hingga es batu di dalamnya beradu menimbulkan bunyi denting yang seolah bisa terdengar sampai ke bawah.
Mata pria itu tidak menatap karya busana di panggung utama.
Mata kelam itu menatap lurus ke bawah. Mengunci pergerakan Shanaya secara absolut.
Shanaya membalas tatapan itu tanpa berkedip. Jarak mereka terbentang sangat jauh, melintasi puluhan meter dan ratusan kepala manusia. Tapi aura intimidasi pria itu menyengat kulitnya dengan sangat jelas.
Steven mengamati semuanya sejak awal. Pria itu melihat bagaimana Shanaya tertawa lepas bersama Rio. Pria itu melihat kedatangan Alvian. Dan pria itu pasti melihat bagaimana ekspresi Shanaya berubah menjadi senyum plastik saat kamera menyala.
Di kehidupan lalu, Steven selalu mencemooh drama sosialita. Pria gila kerja itu tidak pernah membuang waktu sedetik pun untuk memperhatikan urusan asmara orang lain, apalagi repot-repot menontonnya dari atas balkon.
Tapi malam ini, sang algojo media itu berdiri mematung. Diam memperhatikan interaksi Shanaya dan fotografer itu dengan intensitas yang tidak wajar.
Sebuah getaran aneh merayap di tengkuk Shanaya.
Ia tidak menundukkan pandangannya. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, menantang balik tatapan mematikan yang memancar dari lantai atas itu. Bibirnya melengkung, membentuk senyum tipis yang memprovokasi. Ia mengangkat gelas sampanyenya ke udara. Sebuah salam bisu untuk sang produser eksekutif.
Di atas sana, tangan Steven berhenti menggoyangkan gelas.
Es batu di dalam gelas minuman miliknya mencair perlahan di tengah keheningan. Rahang pria itu mengeras. Dan untuk pertama kalinya, Steven memalingkan muka lebih dulu.
-----
Mama Kesuma meletakkan koran di meja. Foto Shanaya dengan Alvian, dengan takarir yang kelewat dipaksakan.
"Pewaris Kesuma Group dan Tunangannya: Simbol Kekuatan di Tengah Badai Keluarga," Shanaya membaca judul besar itu dengan nada datar. Di sana, wajahnya tersenyum manis di samping Alvian yang merangkulnya posesif. Foto hasil bidikan Rio Pramana semalam yang sudah dimanipulasi oleh tim humas Alvian agar narasi pertunangan mereka seolah sudah resmi terjadi.
"Mama nggak ingat kita sudah menentukan tanggal," ucap Rini Kesuma. Wanita itu duduk di kursi jati ruang makan, tangannya gemetar sedikit saat memegang cangkir porselen. "Dan Mama lebih nggak ingat lagi kalau kamu setuju untuk memamerkan hubungan ini di tengah kasus Anastasia yang belum redup."
Shanaya menarik kursi di hadapan Mamanya. Ia meraih selembar roti gandum, mengolesinya dengan mentega tanpa terburu-buru. "Alvian butuh itu buat menenangkan direksi, Ma. Katanya, kalau kita kelihatan solid, spekulasi liar soal perpecahan internal bakal hilang."
"Dan kamu percaya?" Rini menatap putrinya tajam. "Shanaya, Mama sudah hidup lebih lama dari kamu. Laki-laki yang terlalu bernafsu menunjukkan kepemilikan di depan publik biasanya sedang menutupi lubang di bawah kakinya sendiri."
Shanaya berhenti mengoles roti. Ia mendongak. Ada nyeri tipis di dadanya melihat gurat kecemasan di wajah ibunya. Di kehidupan lalu, ibunya meninggal karena terlalu percaya pada Alvian, terkecoh oleh topeng ksatria pelindung yang dipakai pria itu. Kali ini, ibunya justru yang pertama kali mencium bau busuk itu.
"Aku nggak bilang aku percaya, Ma."
Rini meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang keras. "Terus kenapa kamu diam saja waktu jurnalis-jurnalis itu mengambil foto? Kamu bukan tipe gadis yang suka jadi pajangan."
Shanaya menyesap tehnya. Ia harus berhati-hati. Belum waktunya mengungkap seluruh rencana balas dendamnya. Ia butuh Mamanya tetap berada di zona aman, tidak ikut terseret dalam lumpur yang sedang ia aduk.
"Kadang kita harus membiarkan musuh merasa mereka menang, Ma. Biar mereka lengah." Shanaya menurunkan suaranya. "Alvian merasa dia sedang memegang kendali. Biarkan saja. Itu lebih memudahkan aku buat memantau apa yang sebenarnya dia lakukan di belakang meja kantor Ayah."
Mata Rini menyipit. Ia mengamati perubahan pada diri Shanaya. Putrinya yang dulu hanya tahu soal sketsa gaun dan pesta sosialita, kini bicara soal strategi dan musuh. "Alvian bukan musuhmu, Shanaya. Dia calon suamimu. Kalau kamu merasa dia ancaman, kenapa kamu nggak batalkan saja semuanya sekarang?"
"Karena membatalkan sekarang nggak akan menyelesaikan masalah, Ma." Shanaya meremas serbet di pangkuannya. "Alvian sudah punya akar di perusahaan. Kalau aku potong paksa tanpa bukti yang kuat, dia bakal terlihat jadi korban dan kita yang bakal dicap kejam oleh dewan direksi. Aku butuh dia tetap di dekatku sampai semua boroknya keluar sendiri."
Rini terdiam. Keheningan di ruang makan itu terasa menyesakkan, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sesuatu yang besar.
"Mama tahu ada yang kamu sembunyikan," bisik Rini. Ia menjangkau tangan Shanaya, menggenggamnya erat. Tangan ibunya terasa hangat, kontras dengan tangan Shanaya yang sedingin es. "Apa ini soal Anastasia? Apa Alvian terlibat lebih jauh dari yang kita tahu?"
Shanaya menatap mata ibunya. Ia ingin berteriak. Ingin bilang bahwa Alvian-lah yang mematikan alat pacu jantung ibunya di kehidupan lalu. Ingin bilang bahwa Alvian yang menjejalkan pil racun ke mulutnya. Tapi ia hanya bisa menelan kepahitan itu.
"Mama cukup fokus ke kesehatan Mama saja ya? Urusan kantor dan Alvian, biar aku yang tangani." Shanaya tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Aku cuma butuh Mama percaya padaku. Apa pun yang Mama lihat di berita, apa pun yang Alvian katakan nanti, jangan pernah ragukan aku."
"Shanaya, Mama cuma takut kamu hancur."
Jemari Shanaya tanpa sadar mengencang di atas serbet. Ia masih ingat suara flatline itu dengan terlalu jelas.
"Aku sudah pernah hancur, Ma," batin Shanaya. Ia menarik tangannya pelan. "Aku nggak akan kalah lagi."
Suara langkah kaki terdengar dari arah lobi. Alvian masuk dengan wajah cerah, membawa sebuket bunga lili putih kesukaan Rini. Ia tampak seperti menantu idaman sejagat raya.
"Selamat pagi, Mama Rini. Shanaya." Alvian mengecup pipi Rini, lalu berdiri di samping Shanaya, tangannya mendarat di bahu gadis itu. "Mama sudah lihat koran pagi ini? Bagus ya respons publik. Saham kita mulai stabil lho tadi jam pembukaan pasar."
Rini hanya mengangguk kaku. Ia melirik tangan Alvian di bahu Shanaya, lalu beralih menatap Shanaya yang duduk mematung dengan ekspresi yang susah dibaca.
"Shanaya bilang kalian butuh narasi baru," ucap Rini datar. "Semoga narasi ini nggak berbalik mencekik kalian sendiri nanti."
Alvian terkekeh, seolah itu hanya candaan ringan. "Mama tenang saja. Aku bakal jaga Shanaya. Semuanya terkendali."
"Terkendali ya?" Shanaya mendongak, menatap Alvian dengan senyum tipis. "Bagus deh kalau gitu, Al. Soalnya aku paling nggak suka kejutan yang nggak menyenangkan."
Alvian mengerutkan kening sedikit, tapi ia segera menutupi kebingungannya. "Oh ya, Sayang. Tadi aku dapat kabar, Rio Pramana kirim draf foto-foto semalam ke kantorku. Kenapa nggak langsung ke kamu?"
Shanaya mengangkat bahu. "Mungkin dia pikir kamu yang paling berambisi buat memamerkannya."