NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pertama yang Membingungkan Identitas

Asap tebal dari ledakan Dermaga Sisilia perlahan mulai terurai oleh angin malam Mediterania yang dingin. Di atas kertas, semuanya tampak sempurna. Isabella Moretti telah lenyap, armada drone miliknya hancur menjadi abu, dan yang paling penting: Bianca serta Lorenzo telah kembali ke tubuh masing-masing. Tekanan masif dari ledakan energi kristal cair tadi rupanya bertindak sebagai kejutan sensorik ekstrem yang memaksa jiwa mereka terlempar kembali ke wadah yang sah.

​Namun, dunia spiritual tidak bekerja secara linier seperti matematika Dante. Kembali ke tubuh asli tidak serta merta menghapus memori otot, sisa-sisa emosi, atau "residu spiritual" yang tertinggal setelah berbulan-bulan saling berbagi detak jantung dan isi kepala.

​Sesaat setelah Lorenzo menyatakan niatnya untuk membeli ruko di Palmerah sebagai markas tim esports Aegis, sebuah keheningan yang aneh mendadak turun di antara mereka. Keheningan yang tidak disebabkan oleh ketakutan akan musuh, melainkan oleh getaran aneh yang mendadak muncul di dada masing-masing.

Bianca menatap tangannya yang kecil dan mungil. Kulitnya halus, tidak ada lagi tato naga De Luca yang melilit pergelangan tangannya. Ini adalah tubuhnya yang asli. Tubuh mahasiswi semester akhir yang sering begadang demi tugas kuliah. Namun, ketika ia mencoba melangkah mundur, tangan kanannya melakukan gerakan tuck-in otomatis ke pinggang—refleks taktis Lorenzo saat hendak memeriksa keberadaan senjata api.

​"Lho... tangan saya kok gerak sendiri?" gumam Bianca bingung, suaranya kembali cempreng dan tinggi khas dirinya sendiri.

​Di seberangnya, Lorenzo berdiri dengan kaku. Tubuh kekarnya yang setinggi 188 sentimeter itu tampak megah di bawah cahaya bulan. Tetapi, saat ia berdehem untuk memberikan perintah selanjutnya kepada Valerio, bahunya mendadak merosot sedikit, dan ia tanpa sadar melakukan gerakan memutar rambutnya yang pendek dengan ujung jari—kebiasaan Bianca saat sedang merasa gugup atau bingung.

​Valerio yang menyadari hal itu langsung mengernyitkan dahi. "Lorenzo... kau baik-baik saja? Kenapa gerakan tubuhmu seperti... gadis remaja yang bingung memilih menu makan siang?"

​Lorenzo langsung menurunkan tangannya dengan cepat, wajahnya kembali mengeras bagai batu marmer. "Aku baik-baik saja, Valerio. Itu hanya... sisa ketegangan otot."

​"Ini bukan sekadar ketegangan otot," Dante melangkah maju, menatap layar tabletnya yang mendadak menampilkan grafik anomali baru. "Kristal Isabella tidak meledak dalam keadaan murni. Cairan kimia itu telah tercampur dengan air laut dan zat konduktif sisa pertarungan kita di Tuscany. Pembalikan jiwa kalian berhasil, tapi... jalur saraf spiritual kalian belum sepenuhnya terputus. Ada 'kabel' emosional yang masih menempel di antara kalian berdua."

​"Maksudnya gimana, Mas Dante?" tanya Bianca panik.

​"Sederhananya: jiwa kalian sudah di rumah masing-masing, tapi kunci pintunya masih tertukar. Lorenzo masih bisa merasakan sisa memori sensorik Bianca, dan Bianca masih membawa memori insting militer Lorenzo. Jika tidak diselesaikan, identitas kalian akan terus tumpang tindih secara psikologis."

Untuk menghindari kejaran otoritas Italia yang mulai menyelidiki ledakan dermaga, klan De Luca segera naik ke atas kapal pesiar pribadi milik Lorenzo yang berlabuh di pelabuhan sekunder. Kapal itu bergerak perlahan membelah laut menuju perbatasan internasional.

​Di atas dek kapal yang diterangi lampu-lampu LED kuning yang temaram, Bianca berdiri di dekat pagar pembatas, memandangi buih-buih ombak yang memantulkan cahaya bintang. Ia mengenakan jaket rajut milik Dante yang kebesaran, membuatnya terlihat semakin mungil.

​Pintu dek terbuka, dan Lorenzo melangkah keluar. Ia tidak lagi mengenakan jas taktisnya, melainkan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Aura sang Capo tetap terasa kuat, namun langkah kakinya malam ini tidak seberat biasanya. Ada keraguan yang tidak biasa dari seorang Lorenzo De Luca.

​"Kau belum tidur, Bianca?" tanya Lorenzo, suaranya berat dan dalam, menggetarkan udara malam yang sunyi.

​Bianca menoleh, lalu tersenyum tipis. "Gimana mau tidur, Mas Bos. Tiap kali saya merem, yang kelihatan di otak saya malah skema pembongkaran senjata otomatis sama taktik perang gerilya di hutan Sisilia. Otak mahasiswi saya nggak kuat menampung memori perang Mas Lorenzo."

​Lorenzo berjalan mendekat, lalu bersandar di pagar pembatas di samping Bianca. Jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter. "Aku juga mengalami hal yang sama. Setiap kali aku memikirkan strategi untuk menghadapi dewan klan besok, kepalaku justru memutar lagu... apa namanya? Lagu 'Cikini ke Gondangdia' yang sering kau putar di ponselmu di Jakarta."

​Bianca langsung tertawa terbahak-bahak, suara tawa cemprengnya memecah kesunyian laut Mediterania. "Serius, Mas? Wah, bayangin Bos Mafia paling ditakuti se-Eropa lagi mikirin strategi perang sambil joget dlm hati. Itu kalau dewan klan tahu, mereka pasti langsung pensiun dini."

​Lorenzo tidak marah. Ia justru menatap Bianca yang sedang tertawa. Di bawah sinar bulan, wajah Bianca tampak begitu lepas tanpa beban. Selama berbulan-bulan terperangkap di tubuh masing-masing, Lorenzo telah melihat dunia melalui mata Bianca—sebuah dunia yang penuh dengan kesederhanaan, tawa yang tidak menyembunyikan belati, dan ketulusan yang tidak menuntut balasan kekuasaan.

​Melalui sisa koneksi batin yang masih tersolder tipis, Lorenzo bisa merasakan getaran emosi Bianca yang mendadak berubah. Rasa humor gadis itu perlahan surut, digantikan oleh rasa canggung yang mendalam saat menyadari seberapa dekat posisi mereka sekarang.

​"Bianca," panggil Lorenzo, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen militernya.

​"Ya, Mas?" Bianca mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Lorenzo yang kini memancarkan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya—sebuah ketelanjangan jiwa yang murni.

​"Saat di rumah aman di Roma kemarin... Dante sempat mengatakan tentang The Kiss of Life. Sebuah stimulasi kejutan sensorik untuk memutus sisa sirkuit yang tersolder."

​Jantung Bianca mendadak berdegup kencang. Kali ini, ia tahu pasti bahwa ini adalah detak jantung tubuhnya sendiri, bukan milik Lorenzo. "Tapi... tapi kan kita udah balik ke tubuh masing-masing, Mas. Masa masih butuh begituan?"

​"Jiwa kita memang sudah kembali, tapi identitas kita masih membingungkan," Lorenzo memperkecil jarak di antara mereka. Tubuhnya yang tinggi besar kini sepenuhnya memayungi tubuh mungil Bianca dari terpaan angin laut. "Aku tidak mau memimpin klanku dengan pikiran tentang martabak manis atau goyangan Jakarta. Dan aku... aku tidak mau kau membawa ingatan tentang mesiu dan darah di sisa hidupmu yang damai."

​"Jadi... Mas mau nyoba saran Mas Dante yang kemarin?" bisik Bianca, suaranya hampir hilang tertelan deru ombak.

​Lorenzo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meletakkan tangan besarnya di tengkuk Bianca, jari-jarinya yang kasar bersentuhan dengan kulit leher Bianca yang hangat, mengirimkan gelombang kejutan statis yang membuat seluruh tubuh gadis itu merinding. Lorenzo menundukkan kepalanya perlahan.

​Bibir mereka bertemu.

Ciuman itu dimulai dengan kepastian seorang Capo yang mengambil apa yang menjadi miliknya, namun dalam hitungan detik, segalanya berubah menjadi kekacauan identitas yang luar biasa membingungkan.

​Saat bibir mereka bertautan, sisa-sisa sirkuit spiritual yang tersolder di antara mereka mendadak mengalami short circuit—korsleting total. Memori sensorik mereka meledak secara bersamaan di dalam pikiran masing-masing.

​Di dalam kepala Bianca, ia tidak hanya merasakan kehangatan bibir Lorenzo, tapi ia juga mendadak bisa "merasakan" bagaimana rasanya menjadi Lorenzo yang sedang mencium dirinya sendiri. Ia merasakan perspektif Lorenzo—bagaimana rasanya memeluk tubuh yang jauh lebih kecil, bagaimana aroma parfum melati murah milik Bianca terasa begitu memabukkan di indra penciuman Lorenzo, dan bagaimana rasa posesif yang mendalam mengalir dari dada pria itu.

​Sementara di dalam kepala Lorenzo, badai yang terjadi jauh lebih dahsyat. Ia merasakan kelembutan bibir Bianca dari sudut pandang gadis itu. Ia merasakan bagaimana rasanya menjadi pihak yang dilindungi, bagaimana jantung mungil Bianca berdegup kencang seperti kepakan sayap burung yang panik, dan bagaimana rasa kagum serta cinta yang polos dari seorang gadis Jakarta meruntuhkan seluruh ego mafianya yang telah dibangun selama puluhan tahun.

​Itu adalah ciuman yang membingungkan identitas secara mutlak. Siapa yang sedang mencium siapa? Apakah Lorenzo sedang mencium Bianca, ataukah jiwa mereka sedang saling mendekap di ruang hampa tanpa peduli wadah mana yang mereka gunakan?

​Energi spiritual di sekitar mereka mendadak bergolak, menciptakan lingkaran angin kecil di atas dek kapal yang membuat ujung kemeja Lorenzo dan rambut panjang Bianca berkibar hebat. Cahaya biru dan ungu tipis sempat berputar di antara bibir mereka yang bertautan, sebelum akhirnya pecah menjadi percikan cahaya statis yang tidak berbahaya.

​BZZZTT!

​Sebuah sentakan fisik yang kuat membuat mereka berdua terlepas secara bersamaan. Keduanya melangkah mundur dua langkah, napas mereka terengah-engah seolah-olah baru saja berlari maraton melintasi Roma.

Bianca memegangi bibirnya dengan kedua tangannya, matanya membelalak lebar. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. Ia memeriksa pikirannya. Skema senapan serbu AR-15? Hilang. Strategi pengepungan dermaga Sisilia? Lenyap. Yang tersisa di otaknya kini hanyalah memori murni tentang bagaimana rasanya dicium oleh seorang pria sejati—dan sedikit rasa manis dari kopi yang diminum Lorenzo tadi.

​"Mas... Mas Lorenzo..." Bianca terbata-bata. "Pikiran perang Mas... udah nggak ada di kepala saya."

​Lorenzo berdiri tegak, napasnya perlahan kembali teratur. Ia memeriksa tangannya. Tidak ada lagi keinginan bawah sadar untuk memutar-mutar rambut dengan ujung jari. Lagu-lagu daerah Jakarta yang tadinya berputar di kepalanya kini telah digantikan oleh keheningan malam yang mutlak. Sirkuitnya telah terputus sempurna. Kunci pintunya telah kembali ke pemilik yang sah.

​Namun, meskipun kebingungan identitas itu telah berakhir, kebingungan emosional yang baru justru baru saja dimulai.

​"Dante benar," ucap Lorenzo, suaranya kembali datar dan penuh wibawa, namun ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan. "Sirkuitnya sudah putus. Kita... sudah sepenuhnya menjadi diri kita sendiri sekarang."

​Bianca menunduk, menyembunyikan wajahnya yang masih terasa panas. "Iya, Mas. Bagus deh kalau gitu. Berarti tugas saya sebagai asisten darurat udah selesai total ya?"

​Lorenzo melangkah mendekati Bianca sekali lagi. Kali ini, tanpa ada alasan sirkuit spiritual, tanpa ada alasan kristal Vatikan, dan tanpa ada paksaan taktis. Ia mengangkat dagu Bianca dengan ujung jarinya yang besar, memaksa gadis itu menatap langsung ke matanya.

​"Identitas spiritual kita memang sudah terpisah, Bianca," kata Lorenzo dengan nada yang sangat rendah namun mengikat. "Tapi jangan pernah berpikir bahwa apa yang terjadi tadi hanyalah karena alasan medis Dante. Aku menciummu sebagai Lorenzo De Luca yang seutuhnya, yang menginginkan Bianca seutuhnya. Bukan sebagai jiwa yang tertukar."

​Bianca menelan ludah, merasa bahwa pesona sang Capo kali ini jauh lebih mematikan daripada peluru kaliber apa pun yang pernah ia lihat selama di Italia. "Mas Lorenzo... ini kalau di sinetron namanya pernyataan cinta yang agresif banget lho."

​Lorenzo tersenyum tipis—senyuman khasnya yang kini terlihat sangat tampan di wajah aslinya. "Aku seorang mafia, Bianca. Kami tidak meminta izin untuk mengambil apa yang berharga. Kami menetapkannya sebagai tujuan."

Dari balik pintu kaca dek, Dante dan Valerio sejak tadi memperhatikan mereka dengan ekspresi yang sangat berbeda. Dante sibuk mencatat hasil eksperimen di tabletnya dengan senyum puas seorang ilmuwan yang berhasil, sementara Valerio hanya menggelengkan kepala sambil mengunyah permen karet.

​"Sirkuitnya sudah putus total," kata Dante saat Lorenzo dan Bianca berjalan masuk ke dalam kabin. "Grafik anomali kalian kembali ke angka nol. Selamat, kalian resmi menjadi manusia normal kembali."

​"Terima kasih atas bantuan konyolmu, Dante," sahut Lorenzo dingin, meski ia tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya yang mendadak sangat baik. "Valerio, hubungi tim di Jakarta. Pastikan ruko di Palmerah sudah siap direnovasi total menjadi markas Aegis Esports. Kita akan berangkat ke Asia minggu depan."

​Valerio memberikan hormat militer yang santai. "Siap, Capo. Ibu Kos Sukeni sudah dikondisikan. Tim kita sudah mengirimkan sepuluh kotak martabak manis ke rumahnya sebagai tanda perdamaian awal."

​Bianca hanya bisa melongo mendengar bagaimana klan mafia internasional ini mengurus administrasi kos-kosannya dengan gaya yang sangat profesional. Ia memandang ke luar jendela kabin, menatap bayangan dirinya yang terpantul di kaca.

​Petualangan pertukaran jiwa yang gila ini mungkin telah berakhir di Dermaga Sisilia dengan sebuah ciuman pertama yang membingungkan identitas. Namun, saat kapal pesiar itu melaju membelah malam menuju pelabuhan baru, Bianca tahu bahwa kehidupannya sebagai mahasiswa biasa di Jakarta tidak akan pernah sama lagi. Di sampingnya kini ada seorang penguasa Roma yang siap mengubah belantara gang senggol Palmerah menjadi arena kekuasaan barunya—dan kali ini, mereka akan menghadapinya dengan tubuh, jiwa, dan perasaan yang tidak akan pernah tertukar lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!