Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Monster yang Lahir Saat Dunia Memilih Meninggalkannya
Langit berubah merah gelap.
Bayangan-bayangan hitam terus bermunculan di udara seperti hujan jiwa yang tersesat.
Mereka melayang tanpa suara di atas kota, wajahnya kosong, matanya hitam pekat seperti lubang tanpa dasar.
Dan semakin lama—
jumlah mereka makin banyak.
—
Orang-orang mulai berlari panik lagi.
Jeritan memenuhi jalanan.
Pasukan militer yang tadi bahkan belum sempat beristirahat langsung kembali mengangkat senjata.
Namun masalahnya—
tak ada yang tahu cara melawan sesuatu seperti itu.
—
“Apa mereka manusia?” bisik Lyra pelan.
“Bukan.”
Jawaban Veyra datang cepat.
Tatapannya masih tertuju pada Noah.
“Mereka cuma data yang dikasih bentuk.”
Deg.
Dan itu jauh lebih mengerikan.
Karena berarti Noah bukan hanya mengendalikan sistem.
Ia sudah mulai menciptakan kehidupan palsu.
—
Noah perlahan turun ke jalanan kota.
Kakinya menyentuh tanah tanpa suara.
Dan saat cahaya merah menyinari wajahnya—
Lyra langsung sadar satu hal.
Pria itu terlihat muda.
Terlalu muda.
Hampir seumuran Veyra.
Namun matanya—
tidak punya kehidupan sama sekali.
—
“Heh…”
Noah tersenyum kecil sambil menatap Veyra.
“Kamu berubah.”
Veyra membalas tatapannya dingin.
“Kamu juga.”
“Tidak.”
Matanya menyala merah terang.
“Aku cuma berhenti pura-pura jadi manusia.”
Deg.
Udara di sekitar langsung terasa lebih berat.
—
Selene mendecakkan lidah pelan.
“Oke. Aku resmi benci cowok rambut putih.”
Noah melirik sekilas ke arahnya.
Dan hanya dengan satu tatapan—
seluruh lampu mobil di sekitar Selene langsung meledak.
BOOOM!
Selene refleks mundur.
“Yup. Beneran nyebelin.”
—
Namun Noah bahkan tidak peduli pada siapa pun selain Veyra.
Karena bagi dirinya—
hanya Veyra yang mengerti apa artinya hidup sebagai eksperimen.
Sebagai senjata.
Sebagai sesuatu yang diciptakan bukan untuk dicintai… tapi untuk digunakan.
—
“Kamu harusnya ngerti aku.”
Suara Noah pelan.
Nyaris lembut.
Dan justru itu yang membuatnya terasa menyeramkan.
“Mereka nyiksa kita.”
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Mereka bikin kita jadi monster.”
Bayangan hitam di langit bergerak perlahan di belakangnya seperti pasukan kematian.
“Jadi kenapa kamu masih milih nyelametin mereka?”
Sunyi.
Karena sebagian kecil dari Veyra…
mengerti rasa marah itu.
Mengerti rasa sakit itu.
—
Namun Veyra tetap berdiri tenang.
“Karena nggak semua manusia sama.”
Noah tertawa kecil.
Tawanya kosong.
“Kalimat klasik.”
“Dan tetap benar.”
“Benar?”
Tatapannya menyipit.
“Waktu mereka ngurung kita di laboratorium?”
Langit mulai bergetar.
“Waktu mereka nonton kita kesakitan kayak eksperimen gagal?”
Bayangan hitam mulai turun lebih rendah.
“Waktu mereka mutusin siapa yang hidup dan siapa yang dibuang?”
BOOOOOOMMMM!
Tanah di sekitar Noah langsung retak.
Dan untuk sepersekian detik—
emosi manusia muncul di matanya.
Kemarahan.
Kebencian.
Kesepian.
—
“Aku inget semuanya,” bisiknya pelan.
Deg.
Dan kalimat itu…
membuat dada Veyra terasa berat.
Karena ia juga ingat.
—
Ruangan putih dingin.
Suara alarm.
Anak-anak yang tidak pernah keluar lagi dari ruang eksperimen.
Tatapan kosong para ilmuwan.
Dan Noah—
anak laki-laki yang dulu selalu duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap monitor tua.
—
“Heh…”
Veyra tersenyum pahit kecil.
“Kamu masih suka nyendiri ternyata.”
Noah membeku sesaat.
Karena mungkin—
sudah terlalu lama tak ada yang bicara padanya seperti manusia biasa.
—
“Aku ingat kamu,” lanjut Veyra pelan.
“Kamu selalu bilang dunia di luar pasti lebih buruk daripada laboratorium.”
Tatapan Noah sedikit berubah.
“Kamu juga bilang…”
Senyum kecil muncul di wajah Veyra.
“…kalau suatu hari kita kabur, kamu pengen lihat laut.”
Deg.
Angin malam mendadak terasa lebih sunyi.
Karena untuk pertama kalinya—
Noah terlihat goyah.
Sangat sedikit.
Namun cukup terlihat.
—
Lyra memperhatikan semuanya tanpa bicara.
Karena ia akhirnya mengerti.
Noah bukan sekadar monster baru.
Ia adalah seseorang yang terlalu lama ditinggalkan dalam kegelapan.
Sama seperti Veyra dulu.
Bedanya—
tak ada siapa pun yang menarik Noah kembali.
—
Namun detik berikutnya—
tatapan Noah kembali dingin.
“Laut?”
Ia tertawa kecil.
“Lucu.”
Bayangan hitam di langit mulai bergerak liar lagi.
“Aku udah melewati fase mimpi bodoh kayak gitu.”
Deg.
Dan Veyra langsung tahu.
Noah sudah terlalu dalam tenggelam di dalam sistem Eclipse.
—
“Aku nggak datang buat nostalgia.”
Suara Noah berubah dingin total.
“Aku datang buat nyelesaiin apa yang gagal dilakukan sistem utama.”
Tatapannya perlahan naik ke seluruh kota.
“Dunia ini terlalu rusak buat diselametin.”
Bayangan hitam mulai turun ke jalanan.
Dan saat salah satunya menyentuh seorang pria—
tubuh pria itu langsung glitch.
Seperti datanya sedang ditulis ulang.
—
“AAAAAAKKHHH!”
Orang itu jatuh sambil menjerit kesakitan.
Kulitnya berubah hitam sebagian.
Matanya kosong.
Dan beberapa detik kemudian—
ia berdiri lagi.
Namun sekarang—
tatapannya sama kosong seperti bayangan lain.
—
Lyra langsung pucat.
“Dia… dia mengubah manusia…”
“Yup,” gumam Selene tegang.
“Dan aku rasa itu baru demo kecil.”
—
Noah mengangkat tangannya pelan.
“Kalau manusia nggak bisa berhenti nyakitin satu sama lain…”
Ribuan bayangan hitam langsung berhenti bergerak bersamaan.
“…maka aku bakal bikin dunia tanpa emosi.”
Deg.
Dan Veyra langsung sadar sesuatu yang mengerikan.
Noah bukan ingin menghancurkan dunia.
I
a ingin menghapus kemanusiaan dari dunia.
—
“Kamu gila.”
Noah menatap Veyra lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Tatapannya kosong lagi.
“Namun setidaknya dunia akhirnya akan tenang.”
BOOOOOOMMMM!
Bayangan-bayangan hitam langsung menyerbu kota.
Orang-orang berteriak panik.
Pasukan mulai menembak.
Namun peluru hanya menembus tubuh data mereka.
Tidak berguna.
—
Selene mengumpat keras.
“Oke! Sekarang kita resmi masuk mode survival!”
Lyra langsung menarik warga kecil menjauh.
Sementara Veyra—
tetap berdiri diam menatap Noah.
Karena ia tahu.
Kalau terus begini—
seluruh dunia perlahan akan berubah jadi salinan kosong tanpa perasaan.
Dan yang paling menyeramkan—
sebagian dari Noah benar-benar percaya itu adalah bentuk penyelamatan.
—
“Kamu tahu apa yang paling lucu?” kata Noah pelan.
Veyra tidak menjawab.
“Kita dulu sama-sama takut jadi monster.”
Tatapannya perlahan berubah merah terang.
“Tapi akhirnya…”
Senyumnya melebar sedikit.
“…aku berhenti takut.”
Deg.
Dan dalam sekejap—
seluruh bayangan hitam di kota bergerak menuju Veyra sekaligus.