Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKUT
ANDRA
Nyatanya aku sangat takut kehilangan Armila. Tak apa dia diam selamanya, asal tak pergi dari sisiku, apalagi sampai berpaling pada pria lain, termasuk Reiga.
(Reiga itu mantanku sewaktu SMP. Tadi kami bertemu tak sengaja. Dia lelaki jail, tapi baik dan setia. Reiga itu kapten basket yang jadi idola para siswi seantero sekolah)
Whaaaat?
Bom Hiroshima sepertinya kalah dahsyat dari ledakan dalam dadaku saat ini. Rasanya aku ingin merentangkan kaki dan tangan terus berteriak lantang.
Armila begitu santai menulis keterangan itu. Bahkan tadi sempat kulihat tersenyum. Pasti karena sedang membayangkan masa lalu mereka.
Ini adalah bahaya paling besar sepanjang sejarah hubungan kami.
Hati Armila sedang benci padaku.
Kalau Reiga memberi lampu, bisa jadi dia menyambutnya. Dan, aku akan ditinggalkan.
Ini tak boleh terjadi, tidak boleh!
Aku meninggalkan wanita itu dengan membawa kedongkolan setengah mati.
Emosi ini butuh pelampiasan.
Apa, tapi apaaa?
Di tengah emosi yang memuncak, ponselku berdering. Ternyata dari Resti.
Mau apa wanita itu?
"Mas, aku mau kamu yang jemput, titik!"
"Terserah padamu. Mau pulang, mau tidak! Pergi saja kalau suka, jangan membuatku pusing!"
Sebelum Resti bicara lagi, aku Tutup ponsel.
Dasar manja, keras kepala, menyebalkan.
Kepalaku yang sedang pusing, makin pusing saja mendengar rajukannya.
Aku heran mengapa bisa menikah dengan wanita seperti itu. Napsu, napsu mengapa aku kalah darimu.
Aktivitas olah raga kuhentikan sebab penasaran dengan keramaian depan rumah. Aku menduga ada tetangga baru yang menghuni tempat kosong itu. Semoga saja tak ada pria dewasa single anggota keluarganya.
Aku tak tenang punya tetangga bujangan atau duda. Masalahnya Armila itu punya pesona yang bisa bikin laki-laki jereng matanya. Dan, pastilah aku tak rela meski hanya dipandang saja.
Oh, Armila penasaran juga rupanya. Dia sudah lebih dulu keluar. Sekarang sedang ngobrol dengan seseorang. Sepertinya penghuni barunya.
Darahku rasa naik ke ubun-ubun saat tahu siapa lelaki yang sedang ngobrol dengan Armila. Dia, Reiga, mantannya dulu.
Oh, Tuhan!
Cobaan apalagi yang menantiku di depan. Ini mengerikan. Armila akan bertetangga dengan mantannya. Bagaimana kalau cinta lama bersemi kembali. Tidaaak!
"Saya dinas di rumah sakit Bunda Ananda setahun ke depan. Saya dokter anak. Jadi kalau putra mas Andra kurang sehat bisa saya bantu. Apalagi kita tetanggaan!"
Jantungku iramanya sudah seperti halilintar. Ingin ngamuk, tapi ditahan sebab secara logika tak ada alasan marah.
Gaya bicara Reiga sangat sopan.
Tatapan bersahabat dan senyum full menghiasi bibir. Nah, kalau aku marah bisa disebut orang gila dadakan.
Gawat kalau Armila mengirimku ke rumah sakit jiwa. Dia bisa bebas menjalin cinta dengan Reiga.
Ayolah Andra, kembalikan kewarasan!
"Kalau sudah tenang, rencananya saya mau bertamu ke rumah mas Andra dan Armila. Sebagai tetangga baru, saya merasa perlu mengenal penghuni lama. Apakah boleh, Mas?"
"Tentu saja boleh, Kak. Pintu rumah kami selalu terbuka!"
Setelah menjawab, Armila melirik sekilas padaku. Ia tak berkata, tapi dari sorot matanya aku tahu dirinya tengah memaksa.
"Dengan senang hati, Mas. Saya dan istri memang senang dikunjungi tamu. Kita juga bisa tanya-tanya soal anak. Kami baru punya satu bayi, Mas!"
Aku bicara dengan menahan mual di perut ini. Andai boleh, ingin kumuntahkan apa yang ada di kantung makanan ini.
Berpura-pura ramah pada orang yang jadi ancaman adalah hal menyebalkan. Sungguh, aku benci harus masuk dalam drama ini.
Sepertinya aku tak bisa pulang ke rumah Resti untuk beberapa hari. Aku harus memantau gerak-gerik Armila dan Reiga. Harus dipastikan mereka tak saling mengembalikan rasa yang dulu pernah ada.
*
Malam ini, Reiga benar-benar datang ke rumah Mau tak mau aku harus menyambutnya.
Di depan keduanya aku harus terlihat baik hati. Tak boleh menampakkan sedikitpun kecemburuan apalagi ketakutan tak jelas.
Kutanamkan sugesti bahwa Armila masih sangat cinta pada suaminya ini. Buktinya ia tetap bertahan meski telah diduakan.
Yang lebih mendominasi pembicaraan adalah Armila dan Reiga. Aku sekedarnya saja, itupun hanya basa-basi. Jelaslah mereka 'kan teman lama. Pasti banyak yang bisa dibahas, apalagi dulu pernah punya perasaan. Untungnya sejauh ini tak ngobrol macam-macam
Karena tingkah Reiga tak menunjukkan kekurangajaran, aku sedikit lega. Minimal pria ini tak terlihat seperti playboy yang hobi menggoda wanita.
Hanya saja, kelegaanku harus diakhiri dengan terdengarnya teriakan Resti.
Aku cepat bangkit untuk menghalaunya masuk ke sini. Reiga tak boleh tahu bahwa Armila dimadu.
Apalagi sampai tahu kalau mantannya sedang dirundung duka. Itu akan jadi celah untuk bisa masuk ke hati Armila.
Tapi, terlambat, Resti sudah membuka pintu dan dia menghambur ke pelukanku.
Sudah kuduga akan bagaimana raut wajah Reiga melihat adegan.