Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Itu adalah obat perangsang.
Namun, Edward sangat memahami obat, jadi dapat mengenalinya.
Sepertinya dia tidak minum jamu tonik tadi malam.
Clara tidak menyangka nenek Keluarga Anggasta akan berbuat seperti itu.
Dia mengerutkan kening, dan sebelum dia mulai berbicara, nenek Keluarga Anggasta mendengus tidak puas, Terkadang, nggak baik punya cucu terlalu pintar. Hei, aku masih mau cicit lagi. Clara, kalau kamu punya waktu, cobalah lebih keras dengan Edward ya?"
Clara bahkan tak mau berkata-kata.
Dia tidak tahu harus jawab apa.
Meskipun Edward setuju untuk membantunya kemarin malam, dia tahu bahwa tidak ada kemungkinan baginya dan Edward untuk terus bersama.
Jadi kalau sesuatu benar-benar terjadi antara mereka tadi malam, akibatnya akan sangat mengerikan.
Mengenai punya anak lagi, itu bahkan lebih mustahil.
Saat dia tengah memikirkan hal itu, Elsa juga sudah turun.
Teringat akan kekaguman dan cinta Elsa pada Vanessa, ekspresinya sedikit meredup.
Saat sarapan, Edward masih duduk di sampingnya dengan sadar diri.
Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang berinisiatif memulai pembicaraan.
Kemarin Clara yang mengantar Elsa ke sekolah, tetapi hari ini dia meminta ayahnya untuk mengantarnya.
Edward pun setuju, "Oke."
Nenek Keluarga Anggasta melirik Clara dan berkata, "Kalau gitu, kamu antarkan Clara juga, lagian kalian sejalan..."
Clara segera menyela, "Nggak perlu, Nek. Dia punya banyak acara, jadi sering nggak ada di kantor. Aku juga bakal susah kalau nggak bawa mobil."
Tapi Nenek Keluarga Anggasta bersikeras berkata, "Kalau dia mau pergi keluar, terserah dia. Kalau kamu nggak bawa mobil, saat mau pulang kerja, kamu bisa telepon dan minta sopir menjemputmu. Benar, 'kan?"
Tanpa menunggu dia berbicara, nenek Keluarga Anggasta sudah mengambil keputusan, "Jadi sudah diputuskan ya.
Clara hanya bisa terdiam.
Dia menatap Edward.
Tapi dia pun tidak mengatakan apa-apa.
Itu artinya dia setuju.
Setelah sarapan, Clara tidak punya pilihan selain pergi bersama Elsa naik mobil Edward.
Elsa pun naik ke mobil dengan sangat handal.
Dia sebenarnya sangat gembira hari ini karena ayah dan mamanya bisa mengantarnya bersama.
Namun Clara sendiri sudah tidak dapat mengingat kapan terakhir kali dia naik mobil Edward.
Setelah Elsa masuk ke mobil, Clara hendak membuka pintu, tetapi Edward tiba-tiba berkata, "Kamu duduk di belakang."
Clara terdiam sejenak, merasa sedikit malu, tetapi dia tetap berbalik ke sisi lain dan masuk ke dalam mobil setelah sopir membantunya membukakan pintu.
Ada Elsa di antara dia dan Edward.
Edward tampaknya ada urusan, jadi dia sibuk membalas pesan di ponselnya.
Sementara Clara menatap ke depan, namun Elsa telah meringkuk dalam pelukan Edward, menjulurkan kepalanya untuk menatap ponselnya, " Ah, ini Tante Vanessa"
Mata Edward masih tertuju pada ponselnya. Mendengar itu, dia berkata "Iya" sebagai tanggapan terhadap kata -kata Elsa.
Mungkin teringat bahwa dia masih di sana, Clara menyadari Elsa diam-diam meliriknya dua kali, lalu terus menatap ponsel Edward, tetapi tidak memberi tahu tentang isi obrolan antara mereka.
Setelah beberapa saat, Elsa mungkin merasa bosan, jadi dia keluar dari pelukan Edward dan membuka kompartemen penyimpanan mobil.
Clara sebenarnya tidak bermaksud melihatnya.
Tetapi dia kebetulan melihat sekilas benda-benda di kotak penyimpanan itu dari sudut matanya.
Ada lipstik, tas tangan wanita kecil, dan ransel kecil yang pernah digunakan Elsa sebelumnya...
'Tak usah dijelaskan lagi, lipstik dan tas tangan itu pasti milik Vanessa.'
Melihat itu semua, dia akhirnya mengerti mengapa Edward tidak pernah membiarkannya duduk di sebelahnya ketika mereka masuk ke mobil tadi.
Karena Vanessa biasanya duduk di posisi itu.
Dia tidak mengizinkannya duduk disitu.