Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Wajah asli di balik topeng.
Waktu seakan berhenti berputar. Tekanan udara di sekitar seketika berubah menjadi lebih berat dari sebelum Vito diseret pergi. Hujan di luar turun lebih deras, namun suaranya seolah tidak mencapai ruangan dimana Lea dan Angkasa kini berada. Semua bawahan Angkasa tak satupun tersisa di sana.
Keduanya ini berdiri saling berhadapan dalam jarak dekat, pandangan mereka saling terkunci, tetapi mereka terjebak dalam pikiran mereka masing-masing.
Angkasa tersenyum samar, sedikitpun tidak menunjukkan bahwa dirinya terkejut atas apa yang Lea ucapkan meski hatinya tidak selaras dengan ekspresi wajahnya.
"Kau tahu siapa aku? Lalu" alis Angkasa terangkat, tangan yang sebelumnya berada di bahu Lea saat ia menyampirkan jaket, turun perlahan.
"Semua orang juga tahu siapa aku, apa istimewanya dengan kamu yang mengatakannya? Kau menganggap dirimu istimewa?"
Lea melangkah maju, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa satu jengkal saja. Ia mendongak, mengunci netra Angkasa yang kini menunduk menatapnya.
"Aku mengatakan ..." tekanan pada suara Lea kini berubah lebih tegas. "Aku tahu wajah aslimu di balik topeng mafiamu."
"Ya, lalu?" sahut Angkasa.
Hening sejenak.
"Malam saat kau memintaku untuk membawa Vito ke hadapanmu, kau baru saja membunuh seseorang," ucap Lea tetap bertahan dengan ekspresi datarnya.
Kali ini sisi tenang Angkasa mulai goyah, tetapi secepat kilat ia tutupi dengan senyum samar.
"Apakah itu deduksimu atau sejenisnya?" tanya Angkasa, berusaha mengelak.
"Ada aroma darah, tapi tidak ada aroma mesiu di tubuhmu. Itu artinya, kau menggunakan benda tajam untuk memutus vena di leher 'orang itu'. Apakah aku salah?"
Kedua mata Angkasa melebar singkat dan kembali normal di detik berikutnya seperti biasa, tetapi sepersekian detik itu cukup bagi Lea untuk menangkap keterkejutan yang sempat ada.
"Kau berpikir sudah membersihkan darahnya. Tapi kau lupa, aku ahli racun. Aku bisa mencium berbagai aroma berbeda dalam satu waktu, dan darah bukan aroma yang mudah dihilangkan hanya menggunakan disinfektan. Perlu waktu beberapa saat sampai aroma darah benar-benar hilang."
Keheningan kembali menyelimuti. Tatapan mereka tetap terkunci.
"Yang kau katakan tidak salah," jawab Angkasa memutus keheningan. "Malam itu, aku memang membunuh seseorang satu menit sebelum kau pulang." ia menundukkan kepalanya, mengikis jarak hingga hidungnya nyaris menyentuh hidung Lea.
"Kenapa? Apakah sekarang kau takut padaku?" tanya Angkasa dengan alis terangkat.
"Sepertinya ...kamu masih belum paham dengan apa yang aku ucapkan. Haruskah aku menyebutkan data pria yang sudah kau bunuh?" Lea balas bertanya.
Angkasa diam, menunggu.
"Dia memiliki istri dan satu anak. Berencana menjual organ dalam istri serta anaknya sendiri. Dan kamu menggunakan kata 'pengkhianatan' untuk membunuhnya."
Keheningan menjadi lebih terasa setelah Lea menyelesaikan kalimatnya, namun ia tidak berniat untuk berhenti di situ saja. Daftar apa saja yang Angkasa lakukan sudah ia baca, semua detail tentang Angkasa yang kedua orang tuanya tulis.
"Dan Vito? Aku tahu kamu berniat untuk menghabisinya juga setelah kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu mau."
Angkasa masih diam.
"Alasannya?" alis Lea sedikit terangkat, tersenyum. "Dia berulang kali melakukan pelecehan pada wanita bahkan pada mereka yang masih di bawah umur."
"Lima tewas, empat depresi, dan delapan dijual untuk dijadikan sebagai wanita panggilan. Mereka yang dijual memang sudah kamu selamatkan, tapi bagaimana dengan sisanya? Apakah menurutmu nyawa Vito cukup untuk menebus nyawa yang sudah hilang? Dan itu yang mendasari kamu untuk melenyapkan Vito."
"Itu juga yang menjadi alasanku tidak menghentikanmu."
Kalimat terakhir yang Lea ucapkan terdengar lebih lambat di telinganya, tapi terasa seperti bom atom yang baru saja meledak.
"Kamu ..." Lea kembali mengambil langkah maju, membuat Angkasa mundur selangkah tanpa diminta.
"Orang-orang menyebutmu 'pembunuh tak berhati'. Itu memang benar, karena kamu bisa membunuh tanpa ragu. Tapi, kamu hanya menghilangkan nyawa seseorang yang memang pantas untuk dihilangkan."
"Kamu bisa menghukum siapa saja yang kamu inginkan bahkan jika orang itu memiliki kedudukan tinggi dengan hukum yang kamu buat. Tapi, tak ada satupun hukum yang bisa menyentuhmu. Polisi? Mereka semua tunduk padamu, benar bukan?"
Angkasa menatap Lea dengan tatapan yang sulit diartikan. Kilatan di matanya bukan lagi dingin dan datar seperti yang biasa dia perlihatkan, tetapi tatapan predator yang siap untuk membunuh mangsa yang sudah ada di depan mata. Rahasia yang selama ini ia tutup rapat baru saja ditelanjangi oleh wanita yang baru tinggal di mansionnya dalam hitungan hari.
"Kau merasa dirimu tahu segalanya, Lea?" tanya Angkasa pelan.
"Aku tidak merasa tahu segalanya. Aku memang tahu," jawab Lea santai. "Jadi, kau tidak perlu menahan diri untuk menutupi apa yang ingin kamu lakukan."
Tangan Angkasa bergerak cepat mencengkram rahang Lea. Tidak kuat, namun memiliki tekanan mutlak. Lea tetap bertahan dengan ekspresi datarnya. Tidak menghindar, juga tidak menepis. Seolah wanita itu tahu, jika dirinya tidak akan membunuh Lea hanya karena wanita itu sudah mengetahui rahasianya.
Dan ketenangan yang Lea miliki kembali mengusik hatinya. Ia tidak bisa menyelami isi hati Lea. Wajah Angkasa kini berada tepat di depan wajah Lea, tetapi itu tidak cukup untuk membuat ketenangan wanita itu goyah.
"Selamat, Lea La Bertha," desis Angkasa. "Dengan kau mengatakan itu, jangan harap kau bisa keluar dari kandangku meski apa yang kau inginkan sudah kau dapatkan. Kau ...milikku."
Angkasa melepaskan tangannya, mundur satu langkah.
"Aku tetap memberimu kebebasan untuk menyelesaikan pendidikanmu. Biaya? Aku yang urus. Aku juga tidak melarangmu jika kau ingin mengunjungi pamanmu. Satu hal yang perlu kau ingat, pengawasanku tak akan lepas darimu."
"Kembali ke kamarmu."
Angkasa duduk di sofa usai memberikan perintah, menuang minuman favoritnya ke dalam gelas, lalu menenggaknya.
Lea masih berdiri di tempatnya, memandangi Angkasa yang tengah menenggak minuman. Entah mengapa, ia tidak merasakan takut setiap kali ia berada di dekat Angkasa. Pria yang dikenal berbahaya, ditakuti di beberapa wilayah saat malam hari, dan pria yang ditakuti banyak perusahaan lain di siang hari meski mereka tidak tahu seperti apa wajah Angkasa. Namun namanya mampu membuat mereka gemetar. Ia menghembuskan napas pelan, kemudian melangkah menjauh dari sofa.
"Lee."
Langkah Lea terhenti, ia berbalik tanpa mendekat.
"Besok pagi, kau mulai berlatih." Angkasa mengangkat wajah, membuat pandangan mereka bertemu. "Ingat kan? Aku tidak suka orang lemah. Kau perlu belajar menggunakan senjata."
. . . .
. . . .
To be continued...
depan