Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04.
...~•Happy Reading•~...
"Iya, Pa. Tadi hampir keluar dari mulutku saat Laras marah Juan. Dia bisa melihat Juan dipengaruhi Rafa. Tapi dia tidak sadar, dia juga berubah karna dipengaruhi Jarem.
"Iya, hati-hati bicara itu padanya. Nanti dia berpikir kita lebih belain Juan, karena anak bungsu atau anak laki-laki." Papa Juano mengingatkan, karena Laras sering emosi kalau dia menegur Juano dan orang tuanya tidak mendukungnya.
"Papa mandi dulu, nanti pergi terlalu malan."
"Iya. Tolong siapkan ganti. Kalau kami terlambat pulang, kalian makan malam saja..." Papa Juano menjelaskan yang akan dilakukan bersama Rafael dan Juano, agar tidak ditunggu makan malam.
~••
Beberapa waktu kemudian, mereka bertiga masuk ke ruang keamanan stasiun.
Kehadiran Papa Juano bersama Rafael membuat pihak keamanan bersikap serius menanggapi laporannya. "Pak, kami dan polisi sudah melacak, tapi belum ada hasil."
"Bukannya di kereta ada cctv? Apa tidak bisa lihat orang yang ambil ransel Rafael?" Papa Juano bertanya serius.
"Kami sudah periksa cctv, Pak. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Ini bapak bisa lihat cctv di gerbong saudara Rafael." Pihak keamanan memperlihatkan cctv kepada mereka. "Dalam gerbong sangat normal."
"Pak, orang yang pakai jaket hoodie ini bukan penumpang di samping saya..." Rafael menunjuk pria di rekaman cctv.
"Kami sudah minta polisi periksa semua penumpang, tapi alamat beberapa penumpang tidak sesuai dengan alamat di tiket..." Keamanan menjelaskan hasil penyelidikan.
"Sepertinya, ini modus operandi baru para pencuri. Mereka naik kereta dan mengincar penumpang yang lakukan perjalanan sendiri."
"Hari itu ada lima laporan kehilangan dari penumpang. Jadi kami terus melacak..." Kepala keamanan menjelaskan lagi.
Melihat Rafael sangat gusar sambil mengusap wajahnya, Papa Juano lebih aktif berbicara dengan pihak keamanan stasiun. Baginya sudah ada kepastian, Rafael dirampok di kereta.
"Pak, kalau sudah ada hasil, tolong telpon kami." Papa Juano memutuskan. "Terutama kalau menemukan dokumen Rafael..." Papa Juano meneruskan lagi, karena percuma terus tanya jawab dan berargumentasi. Mereka selalu mendapat jawaban sedang diselidiki, nanti diberi kabar.
"Iya, Pak. Tolong berikan nomor telpon yang bisa dihubungi." Kepala keamanan berusaha bersikap profesional, karena sebelumnya Rafael tidak memberikan nomor telpon.
"Ini nomor telpon saya. Tolong diusahakan, karna dia sangat membutuhkan dokumennya..." Papa Juano memberikan nomor telpon dan minta surat laporan kehilangan baru dengan mencantumkan semua dokumen Rafael yang hilang.
Setelah menerima surat laporan baru, mereka menuju tempat parkir mobil. Papa Juano menepuk pelan pundak Rafael. "Rafa, kau ingat nomor telpon temanmu?"
"Tidak, Pak. Saya tidak berusaha hafal nomor telpon lain, hanya nomor telpon saya..." Rafael menjelaskan, karena bergantung pada ponsel.
"Kalau begitu, berikan nomor telponmu. Siapa tahu bisa bicara dengan pencurinya..." Papa Juano mengeluarkan ponsel sebelum menjalankan mobil.
Namun ketika ditelpon, nomor telpon Rafael tidak aktif. "Pak, saya bisa titip pesan buat orangnya untuk mengembalikan dokumen ke alamat rumah? Yang lain tidak dikembalikan, tidak apa-apa...." Rafael meminta, sebab dia sangat membutuhkan dokumen pribadinya.
"Boleh. Ini ketik saja pesannya." Papa Juano berikan ponsel.
"Tidak usah, Pak. Saya minta ijin pakai nomor HP Juan."
"Ok. Kirim saja, siapa tahu dia hidupkan HP, bisa baca pesanmu. Juan, bantu kasih alamat rumah." Papa Juano yakin, Rafael merasa tidak enak padanya. "Jangan lupa berdoa sebelum kirim pesan." Papa Juano mengingatkan. "Iya, Pak. Terima kasih."
Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di jalan raya untuk pulang. "Kita mampir makan nasi uduk dulu."
"Aseeekkk..."Juano girang mendengar ajakan Papanya. Tetapi Rafael hanya fokus pada ponsel di tangan. Dia merangkai kata yang akan dikirim sambil berharap pesannya bisa menggugah hati pencuri untuk mengembalikan dokumennya.
Ketika tiba di warung nasi uduk, Papa Juano tersentuh melihat wajah Rafael yang gelap dan sangat sedih. "Rafa, ada tempat lain yang kau tuju selain temanmu itu?"
"Tidak ada, Pak. Saya tidak punya keluarga di sini. Saya ke sini, karena teman ajak bekerja bersamanya..." Rafael menjelaskan alasan datang ke kota itu.
"Kita makan dulu, baru bicara. Kalau porsi nasi kurang, pesan lagi." Papa Juano berpikir, Rafael belum makan.
"Terima kasih, Pak. Ini sudah cukup. Tadi saya sudah makan mie instan di rumah..." Rafael menceritakan. Papa Juano merasa bangga, putranya bisa lakukan sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh anak seusianya.
Sambil makan Papa Juano memikirkan jalan keluar yang baik bagi Rafael. "Rafa mau saya beli tiket kereta untuk pulang lagi ke kampung?" Tanya Papa Juano menawarkan setelah makan.
"Terima kasih, Pak. Apa saya bisa tunggu beberapa hari untuk tahu nasib dokumen saya?" Rafael memberanikan diri meminta, sebab merasakan kebaikan hati Juano dan Papanya.
"Baik. Kalau itu, nanti kita bicarakan di rumah dengan Mama Juan." Papa Juano tidak bisa memutuskan sendiri, sebab rumah adalah area kekuasaan istrinya.
Setelah tiba di rumah, semua sudah tidur. "Juan, langsung tidur. Besok mau sekolah."
"Iya, Pa. Apa Kak Rafa bisa tidur di kamar Juan?"
"Iya. Kalian masuk dulu. Papa ambil alas buat Kak Rafa." Papa Juano tidak bisa menolak, agar putranya bisa tidur tenang. "Iya, Pa."
"Kak Rafa, pakai lagi kaos Juan tadi."
"Iya. Terima kasih."
"Tidak usah, Juan. Sementara pakai punya Papa ini." Ucap Papa Juano yang masuk ke kamar. Rafael menerima pemberian Papa Juano dengan kedua tangan. Dia memeluk yang diberikan Papa Juano lalu menunduk hormat sebagai rasa terima kasih yang tidak bisa keluar dari tenggorokannya.
Setelah meletakan karpet di lantai, Rafael melihat Juano sedang memperhatikan yang dia lakukan. Tanpa berkata, Juan meletakan bantal ke atas karpet. Rafael makin terharu.
"Juan, tahu kantor pos terdekat di sini?"
"Tidak, Kak. Kakak mau bikin apa?"
"Mau kirim surat ke kampung..."
"Oh, Kak Rafa tulis saja, nanti titip sama Papa."
"Kalau begitu bisa minta kertas?"
"Bisa, Kak." Juan mendekati meja belajar. "Ini kertas, pena dan lem. Kak Rafa taru surat di sini saja." Ucap Juan lalu naik ke tempat tidur, karena sudah mengantuk.
~••
Ke esokan pagi ; Papa dan Mama Juano duduk di ruang makan setelah Laras berangkat kerja. "Ma, Rafa aku ajak tinggal di sini untuk beberapa ..." Papa Juano menceritakan yang terjadi di stasiun dengan Rafael.
"Aku setuju, tapi nanti Papa bicara dengan Laras, supaya dia tidak emosi atau berontak."
"Iya, nanti pulang kerja aku bicara. Juan belum bangun?"
"Tadi aku sudah bangunin. Makanya tahu Rafa ada di kamarnya. Nah, itu dia."
"Pagi, Pa. Juan minta tolong Papa kirim surat Kak Rafa ini, ya." Papa Juano mengangguk saat membaca alamat tujuan.
"Oh, iya Mama, jangan bangunin Kak Rafa, ya."
"Kenapa? Kak Rafa kan, harus sarapan." Papa Juano heran dengar permintaan putranya.
"Tadi malam Juan dengar Kak Rafa menangis dalam tidur. Kak Rafa pasti sedih dirampok dan kirim surat ini buat Ibunya...." Juano cerita permintaan Rafael untuk kirim surat ke kampung.
...~•••~...
...~•○♡○•~...